Sarjana di Batu Nisan

29
points

Aku sendiri tidak tahu penyebabnya. Tiba-tiba motor yang aku kendarai dengan kecepatan 110 km/jam oleng dan "Brakkkk!!!!" kemudian aku tidak sadarkan diri. Ketika aku terbangun, aku kaget dan tersentak, UGD klinik Syahid UIN Jakarta. Di sampingku duduk seorang wanita, aku dapat mengenalinya, dia kekasihku, Sukma. Saat melihatku sadar, wajahnya berseri-seri seperti mendapatkan hadiah kuis 2 miliyar.
"Kenapa, kok Sukma senyum-senyum sendiri dan menangis?" tanyaku dengan nada sedikit aneh.
"Ah…tidak, aku hanya bahagia, sebab sudah dua hari kamu tidak sadarkan diri." Jawabnya sambil memelukku erat sekali.
"Dua hari?" tanyakku terkaget-kaget.
"Ya, dua hari, kamu mengalami kecelakaan, tapi kata dokter kamu tidak apa-apa. "
Kemudian aku ngobrol agak lama, hingga melakukan adegan dewasa karena merasa aman dan tidak ada yang melihat. Jujur, ini adalah ciuman terhangat dari yang telah ia berikan. Setelah itu ia pamit pulang, sebab katanya, ia belum pulang sejak aku di UGD.
Setelah Sukma meninggalkanku, tiba-tiba suasana menjadi agak aneh, ruang UGD yang ber-AC terasa seperti sedang hujan salju, dingin sekali. Kemudian lampu yang tadinya tenang tiba-tiba berkedip-kedip. Malam apa ini, kok aneh sekali. Tanyaku dalam hati. Beruntunglah, di ruangan ini ada kalender dan tertera tanggal 2 Maret Jum'at kliwon 2005. "Sial!" Pikirku, mana sepi, sendirian lagi, kenapa tidak aku tahan saja Sukma agar menemaniku sampai pagi.
Kemudian wangi-wangian merebak dan memenuhi seluruh ruang, sampai tiba-tiba munculah sosok yang agak aneh. Sebetulnya aku ingin lari, tapi apa daya, aku belum bisa bergerak dan malahan menjadi tidak bisa bergerak sama sekali karena terkesima. Akhirnya sosok itu menampakkan diri. Dengan pura-pura berani, aku mengajaknya berdialog, kemudian ia pun langsung becerita mengenai perihal kenapa ia kemari dan sebab-sebab kematiannya.
Tanpa berpikir panjang, aku hajar saja orang itu dengan sebuah balok yang kebetulan tidak begitu jauh dariku. Dan sumpah. Aku tidak tahu kalau balok itu ada pakunya. Ketika balok itu tepat menghantam punggung orang itu, darahnya memuncrat di wajahku. Dan ini sumpahku yang kedua, aku tidak tahu kalau ia membawa senapan. Secara bersamaan dengan darah yang memuncrat berhamburan ke wajahku, peluru pun bersarang tepat di dada sebelah kiri di bawah tulang iga ke lima. Dan setelah itu aku lupa apa yang terjadi hingga aku tersadar kembali.
Namun benar-benar di luar dugaan. Ketika aku terbangun, aku berada di tempat lain, padahal aku cuma merasa tertidur sebentar. Aku telah berada di ruangan yang serba putih. Alamak…mati aku, pikirku. Tapi ini agak aneh, kalau di film-film, orang bangun dari mati biasanya berpakaian seperti pakaian haji, tapi aku tidak, aku hanya mengekan piyama warna putih. Aku makin kaget ketika seseorang masuk ke dalam ruanganku dan bertanya kepadaku.
"Tuan Anton, anda sudah sadar?" katanya lembut sekali, sebab ia seorang wanita. Pikiranku langsung berjalan, Malaikat kok wanita? Dan sejak kapan namaku jadi Anton. Seingatku beberapa menit yang lalu namaku masih Parman.
"Anton? Siapa anton? Namaku Parman!" Jawabku tegas.
"Tuan Anton, anda baru saja mengalami kecelakaan, wajar kalau anda lupa nama." Katanya lagi.
"Kamu jangan bercanda nona, nama saya Anton? Saya Parman, saya yakin, saya tidak lupa." Aku semakin kasar.
Kemudian ia berkata-kata lagi, tapi tak aku dengarkan, sebab ia masih memanggilku Anton. Hingga tanpa aku sadari aku sebegitu marahnya. Dan tanpa aku bisa terka, gantungan infusan yang berdiri di sampingku sudah menancap di belahan dada wanita itu. Ya, tepat di tengah-tengahnya, setelah sebelumnya aku sempat memperkosanya terlebih dahulu.
Kenapa tidak, aku dalam keadaan marah karena dituduh bernama Anton, dan wanita itu, dadanya agak terbuka, hingga belahan ketepel yang indah membuat birahiku naik, apa lagi postur tubuhnya yang bahenol dan montok, ditambah pakiannya yang tipis dengan jelas memberi tahuku kalau ia tidak mengenakan BH dan celana dalam. Aku pikir wajar saja bial aku tergoda, dan ku anggap itu bukan kesalahanku.
Dalam terkesima aku berdiam diri, sampai sampai botol obat obatan yang pecah oleh perlawanan wanita itu ketika kurenggut kegadisannya, tepat menancap di ubun-ubunku. Ya, dia masih gadis, jika tidak percaya tanyakan saja padanya, sebab sebentar lagi dia akan datang lewat sini.
Papar Parman kepadaku, kemudian ia melanjutkan ceritanya.
Malam ini, adalah malam ketujuh, tanggal tujuh safar jum'at kliwon aku belum tenang. Aku masih harus bolak balik klinik-kuburan setiap malam. Cape. Aku sudah cape. Tetapi jika tidak begini, segalanya belum bisa diproses. Di tempatku yang baru, belum didatangi siapapun, kecuali hari pertama, ketika ada yang memerintahkan aku untuk kembali ke klinik. Aku bingun, kenapa aku harus kembali, lalu ia berkata, "Darahmu belum bersih, masih ada yang tertinggal di klinik". Begitu juga dengan wanita itu, darahnya masih tertinggal dan belum bersih. Jadi itulah sebabnya wanita itu masih suka datang kemari.
Namaku adalah Parman, umurku baru 23 tahun. Pekerjaanku adalah pengukir di salah satu furniture di wilayah ciputat. Waktu itu aku sedang kebagian piket jaga malam. Kebetulan aku baru saja pulang beli kopi, dan ketika tiba di tempatku bekerja, aku melihat sosok yang mencurigakan. Dan benar saja, setelah aku perhatikan beberapa saat, kecurigaanku terbukti, orang itu sedang membongkar pintu furniture. Karena saat itu di tempantku baru saja mendapat kiriman ukiran dari kayu cendana yang hargannya 7 triliyun.
Tanpa pikir panjang, aku mengambil balok dan ku hajar saja orang itu. Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau dia tidak sendirian. Nah, temannya ini, yang menghajar wajahku sampai tak dikenali, hingga suster yang aku perkosa memanggilku dengan nama Anton karena KTP maling yang bernama Anton itu terjatuh dan KTPku saat itu sedang tidak bersamaku.
Bangsat. Malang benar nasibku. Sudah di hari ketujuh ini, hampir setiap orang yang aku datangi untuk di minta tolong, selalu saja lari terbirit birit seperti melihat hantu bermuka hancur. Padahal aku tidak ada niat jahat, aku hanya ingin minta tolong, agar darahku yang tidak tercuci dibersihkan dan disiramkan di atas kuburanku, begitu juga dengan wanita itu, aku menjadi kasihan karena kelakuannku. Jadi, mau tidak mau, aku juga harus menolongnya agar bisa dia tenang di alam kubur, dan tidak mengejarku terus terusan dengan amarah, meski belakangan dia mulai menyukaiku, sebab aku selalu menemaninya sampai pagi tiba.
Kemudian Parman mengajakku ke tempat di mana darahnya dan darah wanita itu masih menempel. Aku yang tadi tidak bisa bergerak tiba tiba seperti mendapat kekuatan, hingga aku bisa turun dari tempat tidurku. Setelah Parman menunjukan tempatnya, ternyata darahnya masih ada, dan sama sekali masih belum kering. Darahnya menempel di bawah ranjang tempatku dirawat. Begitu juga dengan darah wanita itu, ada di situ juga sebelah kanan dari darah Parman. Anehnya, darah wanita itu menyurupai hurup dan dengan jelas aku bisa membacanya. Parman. Ya, darah itu menuliskan nama Parman yang telah memerkosannya.
Seperti yang Parman katakan, bahwa wanita itu sebentar lagi datang, dan benar wanita itu benar benar datang. Aku di perkenalkan kepadanya. Namanya Laras, Laras Wirahadi. Ia Mahasiwi kedokteran yang sedang praktek akhir untuk mendapatkan gelar sarjana kesehatan. Namun ternyata, nasibnya berkahir di tempat praktek dan mendapat gelarnya hanya di batu nisan. Wajahnya cantik sekali. Seandainya ia tidak meninggal, aku siap banting tulang untuk menghidupinya siang malam, sekalipun usiaku terpaut lebih muda dua tahun darinya.
Setelah darah keduanya aku bersihkan. Mereka pamin undur diri dan minta pulang. Untung saja tidak minta di antar malam itu. Pesannya cuma minta di antarkan darahnya ke kuburan meraka berdua, Parman di Yogyakarta, dan Laras di Bandung. Mereka memberitahuku lengkap dengan alamatnya sebelum mereka pergi. Dan terakhir Parman bertanya soal perihal malam malam sebelumnya. Kenapa setiap orang yang ia minta bantuan selalu kabur dan lari terbirit birit ketakutan. Aku pun memberi tahunya dengan berat hati.
"Lihat saja di kaca." Begitu kataku. Kemudian Parman menolehkan wajahnya ke arah kaca. Hanya per sekian detik, Parman menjerit keras sekali. Aku pikir wajar, sebab wajahnya memang hancur berantakan, sekalipun ia selamat, para dokter bedah ahli permak wajah akan menghabiskan dua tahun untuk membuat wajah parman kembali ke asalnya.

___________***___________

Begitu kira-kira perjumpaan pertamaku dengan Parman dua tahun yang silam saat aku masuk klinik Syahid dan dirawat selama tujuh hari. Perjumpaan yang aneh sekaligus mengesankan. Sebab baru sekali seumur hidupku, aku bertemu dengan hantu dan berdialog dengan tenang sekali, seperti halnya kita berdialog saat ini.
Beberapa bulan kemudian, setelah aku mengantarkan darah meraka berdua ke kuburannya masing-masing. Aku bertemu dengan meraka dalam mimpi. Dengan seorang anak gadis yang imut, cantik, dan persis seperti Laras. Mereka nampak bahagia, dan ketika aku bertanya mereka mau kemana, mereka menjawabnya. "Hanya ingin mengenang dan berkunjung ketempat bersejarah buat kami."
Selain itu mereka menceritakan perihal mereka. Kenapa Laras mau hidup dengan Parman dan beranak pinang. Tenyata, Laras memaafkan kelakuan Parman waktu itu dan menerimannya dengan ikhlas sebagai musibah dari yang Maha Kuasa, adapun insiden pembunuhannya hanya efek atas dasar kekhilafan karena merasa teraniyaya, begitu juga dengan Parman kenapa membunuh Laras karena takut dilaporkan.
Wajar memang ketika Laras menerima Parman. Sebab ketika aku berkunjung ke kuburannya, foto yang terpampang di nisannya gagah sekali, ganteng dan sedang memakai toga, bertuliskan Raden Suparman Hadikusumo bin Raden Waryono Hadikusumo. Ia adalah lulusan terbaik ITB 2005 jurusan seni rupa. Setelah mimpi itu aku jarang sekali berjumpa dengan keduanya. Sekalipun dalam mimpi. Entahlah meraka pergi kemana, tak ada yang memberi tahuku, angin malam, dan purnama di setiap bulan pun tak pernah beri kabar.

____________***______________

Aku sendiri bernama Yusuf, lengkapnya Yusuf Faturahman. Asal Sukabumi. Lahir malam kamis pahing tanggal 14 April 1983. Kuliah di UIN Jakarta Jurusan Sastra Arab 2001. Malam ini tanggal 9 maret 2007, malam jum'at kliwon adalah malam ketujuh setelah aku mengalami kecelakaan selepas berkunjung ke kuburan Laras di Bandung dan Parman di Yogyakarta.
Entah siapa yang salah, kendaraanku yang sedang melaju dengan kecepatan 60 km/jam di hantam sebuah truk kontainer di jalan kampung utan depan Makro, dan tubuhku terpental hingga tersangkut di pagar sorum Kawasaki, setelah sebelumnya terbentur tiang baligho dan tergilas motor bebek 70 yang sedang dikendarai seorang kakek kakek kira kira berumur 70 tahun yang membuat tanganku patah dan terakhrir kepalaku membetur ujung seng warung kecil pinggir jalan.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Seingatku, ketika aku terbangun, aku tidak berada pada tubuhku sendiri, dan aku tidak mengenal tubuhku sendiri. Sudah berkali kali aku mencoba untuk masuk kembali namun sia sia. Ada beberapa organ yang tidak pas. Kepalaku pecah, kaki dan tanganku tidak terpasang baik.
Aku menangis tersedu, sebab aku sadar aku telah mati. Dan sudah tujuh malam, belum ada orang yang mau menolongku, untuk membersihkan darah yang menempel di pagar pada besi jari jari ketiga -yang pada saat itu ada tai manusi yang berak sembarangan- dari arah Situ Gintung, di bawah batu bertumpuk tiga. Juga darahku yang masih menempel pada bagian bawah jok sebelah kiri dekat baut yang sudah karatan dan dol salah satu mobil ambulan klinik Sahid.
Aku benasib sial seperti Laras, mendapat gelar sarjana di batu nisan. Yusuf Faturahman S.S (alm) bin H. Rabin Sobirin (alm). Sebab dua hari sebelum aku meninggal, aku baru saja melesaikan sidang akhir di bangku kuliah, dengan nilai A untuk Skripsiku. Dan kunjunganku ke tempat Laras dan juda Parman mau melaporkan kalau aku sudah selesai kuliah. Sial-sial...
Sudah hampir pagi...belum juga ada yang mau menolong, semuannya selalu lari dan kabur ketakutan. Ya sudahlah...aku akan menunggu sampai malam keempat puluh.
"O...ya, tolong, cerita ini di forwad kepada siapa yang masuk UGD syahid. Saya mau pulang dulu. Selamat pagi."

______________***_____________
Selesai
Sanggar altar, 25 Maret 2007, (jam 05.15 WIB).

Your rating: None Average: 5.8 (5 votes)
dikirim Angin Peuting 11 minggu 3 hari yang lalu
Tag: