Bingung dengan istilah yang ada??.. ?_?
Mungkin wikipedia bisa membantu!.. ^_^
"Selama satu hari, Stradivarius benar-benar digembleng enam kuriulum sekaligus untuk mengefektifkan masa pendidikan dan pelatihan yang biasanya memakan waktu enam bulan bahkan lebih.
“Huah!!... Awal latihan yang melelahkan!..” keluh Oist sembari melepaskan sepatu botnya.
“Biasakanlah, prajurit.. Biasakanlah..” gumam Ames sembari memejamkan matanya yang sudah tak kuat lagi untuk segera ditutup.
Selama satu bulan pertama, mereka akan digembleng habis-habisan sampai batas kemampuan fisik seorang manusia normal. Latihan fisik, menembak regu, CQB dan MOUT, perang hutan-gurun-kutub, dan SERE.
Akhir dari minggu pertama pun datang, itu yang ditunggu-tunggu oleh Unit Stradivarius yang enam hari selama delapanbelas jam berlatih habis-habisan.
Mereka melepaskan penat ke salah satu blok dari Area-49 yang sering disebut “Blok Hiburan”.
Dimana mereka bisa menonton televisi, minum-minum di bar bersama orang-orang yang bertugas disana, segala hiburan dipersiapkan untuk merenggangkan urat syaraf keempat prajurit andalan Komandan Piccard.
Sedangkan untuk sang pelatih, mereka berkumpul untuk mengevaluasi hasil dari mereka melatih Ames, Oistrakh, Lamoreux, dan Collosus di ruang rapat.
“Saya sudah menyusun konsep four-man-patrol untuk mereka. Oistrakh berada di deretan paling depan, Ames sebagai komandan unit berada di deretan kedua, Collosus di deretan ketiga, dan yang dibelakang adalah Lamoreux.” Papar Sersan Pelatih Isaac Mendez dalam rapat jajak pendapat itu.
“Dari pelatihan selama enam hari berturut-turut, saya merekomendasikan Oistrakh dan Ames menjadi rifleman, Collosus menjadi operator senapan mesin atau grenadier, dan Lamoreux menjadi DM.” Giliran Sersan Pelatih Johansen mengusulkan.
“Mereka berempat bisa cepat memahami teori dasar CQB dan MOUT dasar, namun yang paling menonjol adalah Ames, ada kemungkinan ia mempunyai pengalaman dalam hal ini.” Ujar Sersan Pelatih Halutz.
“Dalam pelajaran teori dasar perang hutan-gurun-kutub, Prajurit Collosus dan Lamoreux paling menonjol dalam perang hutan, sedangkan di gurun adalah Oistrakh, ada kemungkinan mereka mempunyai pengalaman tempur di masing-masing lokasi.” Ujar Sersan Pelatih Cove.
“Kemampuan memahami teori koordinasi seperti komunikasi radio dan isyarat tangan mereka sangat baik, mereka hanya butuh latihan lebih banyak dan lebih intensif lagi, Kolonel.” Ujar Sersan Pelatih McLahan.
“Seperti yang dikatakan oleh rekan Cove dan McLahan, kemampuan mereka dalam teori SERE pun tidak mengecewakan juga seperti mereka belajar teori dasar yang lainnya.” Tutup Sersan Pelatih Dove.
Kolonel Wilkinson mengangguk paham, kesimpulan pun berhasil dikumpulkan dan ditarik garis besarnya.
“Bagus, kalau begitu, mereka ternyata bisa menyelesaikan target yang kita beri lebih cepat dari yang kita susun. Mereka benar-benar orang berkemampuan khusus, tak banyak prajurit yang mempunyai kemampuan memahami secepat ini.
Kita bisa memberikan kurikulum pelatihan dan pendidikan yang ada lebih cepat dari yang dijadwalkan sedikit-sedikit.
Dalam dua bulan, mereka harus menjadi unit kecil yang tangguh dan bisa dibanggakan oleh satuan tugas mereka.” Putus Kolonel Wilkinson.
Minggu kedua, Stradivarius sedang menyimak penjelasan dari Sersan Pelatih Dan Halutz, Instruktur CQB dan MOUT beregu dasar.
Senin ini, mereka akan belajar menerobos pintu secara beregu lebih lanjut. Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah diajari teori taktik dasar dalam menerobos pintu, dan praktik tanpa menggunakan senjata asli.
Kali ini mereka melakukan praktek menggunakan senjata asli, lengkap dengan rompi anti-peluru IBA, dengan sebuah granat flashbang menggantung di dada, dan menenteng senapan serbu M4RIS di tangan masing-masing.
“Ingat, sekarang kita serius berlatih, kita menggunakan granat flashbang asli dan senjata asli, walaupun memakai BFA dan LMTS. Tetap perlakukan seperti senjata asli, apalagi dengan granatnya. Mengerti?”
Stradivarius mengangguk, ”Siap, mengerti!” jawab Stradivarius kompak.
Sersan Pelatih bernama lengkap Dan Halutz itu, mengangguk mantap, “Oke, kita mulai!”
Keempat Stradivarius sudah siap untuk melakukan latihan penerobosan pintu, menyandar dan menunggu perintah sang pelatih.
Ketika semuanya sudah berada dalam kondisi siaga, Sersan Pelatih Halutz menyiapkan aba-aba.
“Hhh.. Akhirnya kita menggunakan barang asli.” Desis Oist tak sabar.
“Yak!”
Dengan cepat Ames langsung bergerak maju ke arah pintu yang tertutup, dengan sekuat tenaga ia menendang keras pintu itu sampai terbuka paksa dan melemparkan granat flashbang ke dalam ruangan.
Sial bagi mereka, Oist sudah keburu nafsu, ia langsung merangsek masuk tanpa menunggu granat flashbang meledak terlebih dahulu.
“Oist! Jangan!” cegah Ames sia-sia.
DARRR!!
Granat yang merusak telinga dan mata itu akhirnya memakan tuannya sendiri, “Aaargh!!..” erang Oist.
Sersan Pelatih Halutz menghela napas kecewa, untung saja flashbang yang dipakai latihan tidak “sekeras” granat flashbang yang dipakai di medan perang nyata.
Dalam waktu seperempat detik, ia bisa melihat Ames berkacak pinggang dan mendengar kata, “Tolol.” Dari sang komandan unit.
“Maaf, maaf...” gumam Oist malu-malu.
“Oist!.. Konsentrasi, jangan biarkan dirimu terbawa emosi!..” ujar Sersan Pelatih Halutz mengingatkan. “Baik, kita mulai lagi latihannya!”
Latihan menerobos pun kembali dimulai, ini baru salahsatu dari berbagai macam gaya penerobosan yang dikenal dalam dunia militer yang akan dipelajari oleh Stradivarius.
Bubuk tepung putih beterbangan mengenai tubuh keempat Stradivarius yang sedang melakukan penyusupan di tengah hutan tropis simulasi.
Ames dan yang lainnya memandangi tajam Oist yang tak sadar menginjak tali jebakan ranjau claymore-claymore-an yang dipasang oleh Sersan Pelatih Cove.
“Lagi-lagi...” gerutu Ames yang sedang menepuk-nepuk seragamnya yang penuh dengan tepung.
“Ya ampun, Oist.” Erang Lamoreux dengan wajah kecewanya.
“Tolol.” Kutuk Collosus.
Ketiga temannya terdiam ketika Collosus mengutuk kecerobohan Oist yang baru belajar menjadi seorang pointman itu.
Collosus terdiam sembari memandangi ketiga temannya yang terpana itu, “Apa?” tanya Collosus dengan suara robotnya.
“Kawan, kau sudah dua kali melakukan kesalahan!..” keluh Ames.
“Yeah, yang pertama membahayakan dirimu sendiri dan yang paling fatal, membahayakan kita semua.” Ujar Lamoreux menimpali.
Hanya Collosus yang tidak ikut menyalahkannya, tapi dari tatapannya yang tidak simpatik itu, Oist bisa menerjemahkannya dengan—Kau adalah prajurit yang paling dungu yang pernah aku kenal!
“Yeah, yeah, yeah, aku janji tak akan mengulanginya lagi. Sekarang mari kita tidur.” Seloroh Oistrakh sembari meringkuk di atas felbed-nya.
Semuanya lelap dalam tidurnya, namun Oist selalu memikirkan kesalahannya tadi siang, ia bisa membayangkan bagaimana kalau itu benar-benar terjadi di medan perang yang nyata, yang akan ia hadapi nanti.
“Cih!.. Sial!” kutuk Oist resah kepada dirinya sebelum ia terlelap dalam tidurnya.
Collosus memandangi dengan jelas bagian-bagian dari senapan M4RIS yang sengaja dipreteli hingga ke bagian yang kecil-kecil tergeletak di atas meja oleh Sersan Pelatih Johansen.
Mereka sekarang sedang belajar merakit senjata, dengan menghapal setiap bagian-bagian dari senjata, pelajar ini sangat penting apabila mereka akan dalam misi penyusupan, menyelundupkan senjata mereka dalam serpihan kecil adalah strategi telak dalam misi yang dituntut untuk tidak dikenali oleh lawan.
“Mulai!”
Collosus langsung menyambar setiap bagian-bagian, ia harus bisa merakit sebuah senapan serbu M4RIS dalam waktu kurang dari lima menit, dan tanpa tertinggal satu bagian sedikit pun!
Ketiga rekannya menonton kepiawaian Collosus dalam merakit senjata sembari menahan napas, sedangkan Sersan Pelatih Johanson terus mengawasi Collosus dengan stopwatch di tangan kanannya.
Satu peluru diselipkan ke dalam chamber, dikokang, dan.
DARR!!
Collosus berhasil melepaskan tembakan tunggal dari senapan M4RIS yang berhasil ia rakit dengan sempurna ke arah papan sasaran tembak.
“Berapa, Sersan?” tanya Ames kepada Sersan Pelatih Johanson sembari menahan napas.
Sersan Pelatih Johanson tersenyum lebar, “ Empat menit satu detik.” Jawab sang pelatih bangga sembari menunjukkan stopwatch-nya.
“Uwoooooooo!!” sorak Unit Stradivarius merayakan kehebatan Collosus.
“Aku hebat, kan?” tanya Collosus datar sembari mengacungkan tanda victory.
“Luar biasa, kawan!! Luar biasa!!” jawab Oist penuh semangat.
Collosus melepaskan tembakan penekan bersama Lamoreux, senapan mesin ringan Minimi modifikasi khusus Mk.48 Mod 0, ia tekan terus picunya dengan jeda dua detik, untuk menekan sasaran musuh yang ada di balik bunker.
“Strad-Leader, monitor!” panggil Lamoreux.
Beberapa meter dari posisi Collosus dan Lamoreux, Oist dan Ames sedang melakukan penikungan terhadap posisi musuh yang sedang sibuk berlindung di dalam bunker yang tak jauh dari posisi mereka.
“Disini Strad-Leader, sepuluh meter dari posisi musuh.” Jawab Ames sembari mengawasi sekitarnya dari balik tembok.
Tiba-tiba, dari apartemen sebelah muncul musuh yang mencoba menyergap mereka berdua.
dikirim AkangYamato 11 minggu 4 hari yang laluTag:












