Bingung dengan istilah yang ada??... ?_?
Mungkin wikipedia bisa membantu!.. ^_^
"Dengan cepat Oist langsung menghabisi musuh mereka sebelum sempat menembaki posisi mereka.
Kolonel Wilkinson bersama tiga Sersan Pelatih lainnya, mengangguk puas melihat aksi pertempuran Stradivarius yang sudah mulai semakin kompak dan tajam.
“Enam sasaran berhasil mereka lumpuhkan, belum ada dari mereka yang tertembak, tinggal empat sasaran yang ada di bunker.” Ujar Sersan Pelatih Halutz yang mendengar sensor sasaran tembak keenam menyala.
“Mereka semakin tangguh, tetangga mereka saja sudah mulai kegerahan.” Ujar Sersan Pelatih Johanson sembari menunjuk para prajurit SOLDR yang sedang menyimak latihan Stradivarius bersama pelatih mereka masing-masing.
Suara rentetan senapan pecah dari dalam bunker, keempat sasaran tembak berhasil Oist dan Ames lumpuhkan dengan cepat, tanpa ada yang terkena tembakan musuh.
“Aman!” teriak Oist.
“Aman!” jawab Ames sembari memperhatikan sasaran tembak mereka yang tak bergerak lagi.
Alaram tanda latihan selesai pun dipencet, “—Luar biasa, Strads!.. Sekarang senjata dalam posisi terkunci.—“ sambut Sersan Pelatih McLahan.
Tak Cuma dari pihak pelatih, bahkan tetangga mereka juga terpana melihat kemampuan mereka yang semakin berkembang pesat dan menggigit.
“Luar biasa, kemampuan berlatih mereka benar-benar cepat meningkat.” Ujar Letnan Satu Jamie Cox.
“Ya, mereka memang benar-benar patut diperhitungkan!” jawab Kapten Billy McKnight, Komandan Kompi-E Satuan SOLDR yang akan memimpin pleton-1 dalam latihan ini.
Kapten McKnight langsung memasangkan helm MICH-nya ke atas kepalanya dengan potongan rambut 2-1 itu, dan bersiap-siap untuk berlatih.
“Ayo kita tunjukkan kalau kita lebih tangguh dari empat orang itu!” ujar Lettu Cox.
“HOO-AH!!” jawab para bawahannya lantang dan kompak.
Stradivarius yang baru saja keluar dengan suka cita itu, bertemu muka dengan Pleton-1.
“Kerja bagus, kawan!” puji Kapten McKnight kepada Stradivarius.
“Terima kasih.” Balas Ames.
Namun, sepertinya sikap kesatria McKnight tidak semuanya dibarengi oleh para bawahannya, sang wakil, Lettu Cox memandangi Ames dan yang lainnya dengan tatapan kesal dan penuh dengki.
“Cuh!” Lettu Cox membuang ludah.
“Sialan!..” umpat Oist yang mencoba menghampiri Cox, namun dicegah tangan Ames.
Oist yang naik darah itu memandangi Ames yang menggelengkan kepalanya yang gondrong itu sebagai tanda jangan, Oist menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya.
Persaingan antara Stradivarius dengan SOLDR mulai menyala setelah latihan itu.
DOR! DOR! DOR!
“Oke, pasang pengaman dan sarungkan pistolmu.” Ujar Sersan Pelatih Johanson sembari menghampiri sasaran tembak pertama.
Ames mengunci dan menyarungkan pistol M1911A3-nya, ia menghampiri rekan-rekannya yang berada beberapa meter dari area menembak.
Sersan Pelatih Johanson sedang memeriksa rangkaian-rangkaian tembakan yang menembus sasaran-saran tembak yang ditembak oleh Ames, sedangkan anggota Strad yang lainnya, sedang memandangi sang instruktur menanti hasil dari tembak reaksi Ames.
“Tembakan yang bagus, Ames!” puji Lamoreux.
Ames tersenyum lebar kepada Lamoreux, walau akhirnya ia memandangi Sersan Pelatih Johanson yang masih sibuk memeriksa sasaran tembaknya dengan harap-harap cemas.
Sedangkan dari kejauhan, Kapten McKnight sedang memperhatikan kemampuan menembak Ames.
“Orang itu hebat juga.” Gumam Kapten McKnight kagum.
“Tapi dia masih gagal, satu sasaran tak berhasil ia habisi.” Jawab Letnan Cox yang juga memandangi Unit Stradivarius yang berlatih beberapa meter dari area menembak Pleton-1.
“Tapi dari beberapa hari ini, aku bisa melihat mereka benar-benar bisa berimprovisasi dengan baik hanya dalam hitungan hari.” Ujar Kapten McKnight.
Letnan Cox tahu itu, ia juga mengakui Stradivarius memiliki kemampuan memperbaiki teknik-teknik tempur mereka lebih baik hanya dalam tempo satu hari, kemampuan yang jarang dimiliki oleh seorang prajurit biasa, dan kemampuan yang dicemburui oleh Letnan Cox.
“Tapi kalau itu di medan perang, itu namanya kesalahan fatal!”
“Tapi sayangnya, ini medan latihan, Letnan.” Jawab Kapten McKnight yang sedang bersiap-siap untuk mendapatkan giliran latihan tembak reaksi.
Letnan Cox hanya bisa tersenyum pahit ketika mendengar sang komandan membela saingan mereka itu.
Memang apa yang dikatakan oleh sang kapten benar adanya, begitu juga dengan dirinya sendiri, kemampuan mereka semakin berkembang pesat seiring berjalannya waktu hingga mulai menyeimbangi kemampuan beregu yang merupakan ciri khas Unit SOLDR yang terkenal kompak dan mengagumkan.
Namun, pikirannya sudah dipengaruhi rasa tidak sukanya terhadap anggota-anggota Stradivarius yang bersikap tidak simpatik di depan mereka, pikirannya yang sebenarnya mengakui dan mengagumi kemampuan Unit Stradivarius mulai dikuasai dengan pikiran bagaimana caranya kalau kesatuan kebanggaannya itu bisa menjatuhkan unit kecil tak terkenal itu.
Ia memandangi sang kapten yang sedang bersiap-siap menunggu aba-aba dari sang pelatih dengan tangan kanan yang sudah bersiap untuk meraih pistol M93F yang bersarung di paha kanannya.
Sedangkan para prajurit SOLDR yang lainnya sudah tak sabar melihat aksi prajurit yang terkenal paling cepat dan tepat di seluruh satuan khusus yang ada di Angkatan Bersenjata itu.
Senyuman lebar penuh pengertian tersungging di bibirnya, Letnan Cox mengetahui caranya.
“Dua minggu lagi, dua minggu lagi kita akan keluar dari neraka sialan ini!” seloroh Oist sembari menegak segelas besar bir ketiga yang ia pesan.
“Oy, Oist. Kau sudah terlalu banyak minum!” ujar Lamoreux.
“Biar!.. Sekarang aku sedang bersemangat!” jawab Oist dengan wajah yang mulai memerah.
Ames tak peduli akan anakbuahnya yang berkacamata itu mulai bicara tak karuan, ia sedang sibuk memperhatikan televisi yang ada di dekat bar.
Pemirsa,
Setelah satu minggu pendaratan pertama pasukan Republik Rune-Midgard yang tergabung dalam MEU-I ke Hadaraniah, keadaan di sekitar perbatasan semakin memanas.
Menurut laporan koresponden kami di lapangan, aktivitas patroli perbatasan yang dilakukan oleh kekuatan militer Blok Fasis semakin intensif seiring dengan pidato-pidato provokatif Perdana Mentri Kekaisaran Galbadia, Carl Manstein, yang mendesak MEU-I untuk segera pergi dari Hadraniah dan mendiskreditkan pemerintahan Presiden Alan Xavier yang dianggap terlibat dalam insiden pembunuhan Jendral von Lierben dan tindakan mata-mata di perbatasan, walaupun belum ada bukti-bukti yang menguatkan tuduhannya itu.
Sedangkan dari pihak Republik Rune-Midgard sendiri, dalam pidato peresmian kilang minyak Costa De La Sol IV, Presiden Alan Xavier tetap memerintahkan kepada para prajurit yang tergabung dalam MEU-I untuk tetap bersiaga penuh di seluruh wilayah Hadraniah.
Presiden Alan Xavier mengancam, akan langsung mengirimkan kekuatan gelombang kedua dan ketiga yang tergabung dalam MEU-II dan MEU-III apabila pihak Blok Fasis benar-benar akan menyerang Hadraniah.
“Hadraniah semakin memanas.” gumam Ames.
“Ya, beberapa saat lagi semakin membara!” timpal Oist yang tak sabar untuk menanti gelas keempatnya.
“Apakah iya perang di Hazrabiah akan terjadi?” tanya Lamoreux khawatir.
“Kalau kejadian yang ada di dalam televisi itu diibaratkan dengan jam dinding, perang sudah tinggal hitungan detik, Lamo!” jawab Oist.
“Selama masih ada orang-orang seperti Vincent Deling dan Carl Manstein, pertumpahan darah akan terus semakin bertambah banyak.” gumam Ames.
“Dan itulah tugas kita sebagai seorang Stradivarius.” Collosus menimpali.
Beberapa meja dari meja dimana Stradivarius berkumpul, Kapten McKnight sedang bersantai dengan Letnan Cox dan yang lainnya.
Letnan Cox terus memandangi Stradivarius sembari mengunyah kacang yang menjadi teman dekatnya saat menikmati bir.
“Hey, Kapt.” Panggil Letnan Cox.
Kapten McKnight berpaling ke arah Letnan Cox yang masih sibuk mengunyah kacang.
“Ada apa?” tanya Kapten McKnight.
“Orang itu..” tunjuk Letnan Cox ke arah Ames yang sedang asyik menaikkan kedua kakinya di atas meja bar itu, “ Yang berambut hitam gondrong itu.”
“Ya, memangnya kenapa?” tanya Kapten McKnight heran.
“Dia adalah orang yang paling tangguh diantara keempat orang-orang itu.” Jawab Letnan Cox.
Kapten McKnight masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Letnan Cox, namun ia masih terus mendengar apa yang dikatakan oleh wakilnya.
“Lalu?”
“Aku mendengar dari para pelatih, kalau, dia berhasil menyamakan rekor tercepatmu dalam latihan tembak reaksi.”
Kapten McKight terdiam beberapa saat ketika mendengar apa yang dikatakan Letnan Cox, Letnan Cox sepertinya bisa melihat komandan kompinya sudah mulai gerah dengan unit tak dikenal itu.
“Lima menit pas! Hanya beda lima detik darimu.” Ujar Letnan Cox memanas-manasi.
Tag:












