"diantara karangan bunga yang bertebaran di pemakaman pada hari yang diguyur hujan duka cita itu...ada seorang anak. ia menangis...memangis menangisi orang tuanya. benar. mereka sudah meninggal. kini ia sebatang kara. orang-orang berpakaian hitam tanda dukacita memperhatikannya dengan tatapan kosong. dibalik hujan yang terkadang gerimis ini...dia memangis dengan kerasnya, tidak rela orang yang paling ia kasihi direnggut bagai rumput liar yang dibabat habis. tak tersisa. seseorang menariknya keluar dari makam dan menaruhnya di sebuah tempat yang teduh. ia tak pernah berhenti menangis.
hujan waktu itu masih saja deras.....
Ryan terbangun dari lelap tidurnya. badannya basah kuyup oleh keringat dingin yang ternyata semenjak ia bermimpi tadi sudah membasahi tubuhnya yang gemetaran. pikirannya melayang jauh. digosoknya wajah pucatnya dua kali, lalu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke depan cermin yang menggantung di dinding kamarnya yang gelap. ia berkaca. dilapnya keringat yang membasahi wajahnya sembari menghembuskan nafasnya yang berat.
"sialan" ucapnya pelan.
***
"aku suka gayanya Deny, dia seperti artis saja, iih, kereeen!!" teriak seorang gadis remaja berpakaian seragam biru-putih SMP berjalan keluar bersama dengan kawan-kawannya.
"oh iya? keren, ya!! aku jadi pengen liat..." ucap seorang lainnya.
"oh iya...aku pernah lihat Danang dan Yuri mojok di belakang sekolah lho! sepertinya mereka sudah jadian..." ucap seorang lagi dari mereka yang paling centil.
"masa siiih!!" semuanya menyahut ucapan gadis centil tadi. diantara mereka yang senang menggosip itu, ada seorang gadis manis yang dari tadi diam saja mendengarkan ocehan kawan-kawannya. namanya Vivian. seorang gadis manis yang biasa-biasa saja. ia tidak memikirkan apa yang dikatakan teman-temannya. ia tidak ingin menggosip. entah kenapa ia tidak berniat melakukan hal tidak berguna macam itu. ada yang lebih penting baginya, yaitu berlajar. ia hanya berteman saja dengan teman-teman penggosipnya ini, dan juga berusaha untuk berteman dengan siapa saja. termasuk teman-teman "cupu" nya. mereka berjalan melewati gerbang sekolah dan kemudian berjalan lurus menuju sebuah gang yang sepi. tawa dan candaan mereka terhenti saat mendengar suara gaduh di sebuah lorong kecil di gang sempit itu.
"apaan tuh?" tanya seorang dari mereka yang memakai jaket ungu.
"nggak tau...sepertinya orang yang sedang berkelahi..." balas salah satu dari mereka yang berpita biru. Vivian mendekat untuk mendengar lebih jelas.
"Vi...jangan dekat-dekat!" ucap teman-temannya. namun Vivian tidak ingin mendengarkan mereka. di kelompoknya, hanya ia yang paling berani menghadapi situasi macam ini. hand phone sudah ditangan. bila terjadi sesuatu, tinggal panggil polisi saja.
***
Vivian mengintip melalui celah lorong. dilihatnya sekelebat bayangan saling tumpang tindih karena cahaya yang minim di dalam sana. ia berjalan mendekat, memberanikan dirinya untuk mendekat. namun langkahnya terhenti,- bahkan ia mundur beberapa langkah....ketika ia melihat seseorang terlempar ke dinding dari sudut lorong yang lainnya. ia menyumbat mulutnya dengan kedua tangannya, supaya orang tadi tidak mendengar. sepertinya orang itu preman,- seorang pria yang bertato kelinci tertusuk jarum, dan tubuh yang kekar dan tinggi. siapa yang bisa melemparnya?
"UWOOOOOOO......!!!!!" seseorang tiba-tiba melompat dan melakukan pukulan stunt ala ong-bak ke arah preman itu.
telak di kepala.
preman itu tidak bisa bangkit berdiri lagi. ia terjatuh, dan kemudian pingsan. Vivian memperhatikan pria yang membuat preman itu pingsan. pria yang umurnya mungkin sama dengannya, berpakaian SMP, dan tubuh yang penuh luka. di belakangnya muncul seorang gadis- dengan pakaian seragam SMP yang sudah lusuh dan lecet. dia menangis. jangan-jangan...
"kamu mau macam-macam sama gadis itu ya!" bentak Vivian. ia tidak takut terhadap apa yang akan terjadi. yang dia tahu hanyalah pria ini brengsek. dan ia akan melawannya bagaimanapun juga.
"pergi kesana." ucap pria itu sambil menunjuk jalan keluar. gadis itu berlari ke arah Vivian dan langsung memeluknya.
"hiii..." Vivian memeluk gadis itu sambil berharap bisa meredam tangisnya. lalu ia menoleh ke arah pria yang terluka itu.
"kamu...."
"hehe...sepertinya dia terluka. preman ini mau macam -macam dengannya, jadi aku beri dia pelajaran." Vivian terkesan. baru kali ini dia melihat ada pria yang seperti ini. menolong orang lain hingga dirinya terluka! pria itu berjalan keluar dengan cara jalan yang seperti orang pincang sedikit, karena kakinya juga luka. Vivian menarik tangannya sebelum ia jauh.
"tunggu dulu..." ucap Vivian. pria itu menoleh. wajahnya tidak begitu jahat. hanya wajah seorang anak SMP biasa yang penuh luka. "kamu sudah terluka...sebaiknya obati dulu. ini..." Vivian mengeluarkan selembar saputangan dari dalam saku bajunya. pria itu mengambilnya dan tanpa ragu mengelap luka-lukanya.
"makasih..." ucapnya pelan
-to be continued-
dikirim hirokakkuen 7 minggu 1 hari yang laluTag:









