Hunt : The Prologue Chapter 01 "who are you, Ryan?"

27
points

Ryan sekarang sedang berada di depan kedua orang tuanya. meskipun ini hanya sebuah makam, tidak membuat rasa hormatnya hilang. Ryan tetap berdiri menghadapi kenyataan yang tak bisa diterimanya selama bertahun-tahun. dan sekarang ia berdiri di depan makam dua orang yang paling disayanginya.
"ma..pa.." ucapnya pelan, namun datar dan tidak bergetar mengikuti raut wajahnya yang terlihat sedih. "aku sudah melaksanakan perintah kalian berdua...aku sudah melindungi yang lemah, dan aku sudah menolong yang terluka." lanjutnya. lalu kemudian angin berhembus pelan, mengibarkan rambutnya yang hitam legam. acak-acakan, namun tidak kusut. malah terlihat lembut dan berkilau. Ryan terdiam sejenak. ia menunggu sesuatu. menunggu kedua orang tuanya menjawabnya. namun harapannya sirna. meskipun ia tahu kedua orang tuanya sudah meninggal, namun hatinya tak bisa terima. hatinya sakit. jiwanya telah terhujam tombak keputus asaan untuk hidup lagi. terbayang wajah kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi. "kenapa kalian tidak menjawabku? kenapa?" lanjutnya lirih. namun ia tidak menangis. ia menaruh seikat bunga melati. bunga yang terlempar jatuh saat kedua orang tuanya meninggal. kata kakeknya yang selama ini mengasuhnya, bunga itulah yang mengantarkan kedua orang tuanya pada kematian, maka bunga itulah yang akan menenteramkan mereka. bunga itu bersih. jangan salahkan dirimu sendiri, jangan salahkan nasib, tidak ada yang pernah salah di dunia ini. kata-kata itu yang sering diucapkan kakeknya kepadanya. namun itu saja tidaklah cukup untuk membendung rasa bersalahnya. jika saja ia berada di sana waktu itu, jika saja ia tidak pergi, mungkin kedua orang tuanya tidak akan meninggal. ia berlutut, dan kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. tapi ia tidak juga menangis. air matanya sudah habis untuk menangis di pemakaman. 'jangan menangis...' kata kakeknya di pemakaman. 'tangismu hanya akan membawamu ke jurang penderitaan dan kamu akan hancur. jangan menangis...' maka dari itu, Ryan tidak menangis.

***

"hari yang indah."
Ryan terkejut mendengarnya. ada seseorang di belakangnya. Ryan berbalik. dilihatnya pria yang sepertinya sudah ada disana dari tadi. pria itu seperti pria tionghoa pada umumnya, membawa tas ransel, berbaju kaos berkancing kotak-kotak orange. rambutnya jabrik diatas, dan tersisir rapi dibawah. potongan harajuku. pria itu mendekati Ryan.
"apa maumu?" ucap Ryan tenang.
"tenang saja, aku tak akan mengganggu ritualmu, kok. aku kenal dengan orang tuamu." ucap pria timur itu.
"kau kenal dengan kedua orang tuaku?"
"tepatnya ayahmu. kami bekerja di bidang yang sama." pria timur itu mengeluarkan sebuah benda,- dari dalam tasnya. bentuknya seperti sebuah kompas, namun arah jarumnya berbeda dengan arah yang ditunjukkan kompas pada umumnya. di pinggiran kompas itu terukir gambar 12 shio. tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, ajing, babi. jarum kompasnya selalu berputar tidak tentu arah.
"apa itu?" tanya Ryan penasaran.
"ini? oh...ini namanya kompas 12 bintang, kompas yang menghitung kekuatan roh. jadi dimana aku mau bertemu dengan roh, maka aku akan menggunakan kompas ini.
"apa yang akan kau lakukan dengan kompas rohmu itu?" Ryan tersenyum mengejek tanda ia tak percaya. namun pria timur itu membalas senyuman sinis Ryan dengan senyuman yang lebih sinis sehingga membuat Ryan terdiam.
"aku akan berbicara dengan ayahmu."
pria timur itu berjalan perlahan menuju makam ayah Ryan.
"tunggu, apa kau gila? ayahku sudah lama meninggal!" pria timur itu menoleh kepada Ryan sambil tersenyum kecil.
"rohnya tidak hilang, kan?"
pria timur itu menaruh kompasnya diatas makam ayah Ryan, lalu bertepuk tangan dua kali. lalu ia menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai membaca mantera yang tidak jelas. Ryan tertawa sendiri melihatnya. mungkin pria ini sudah gila, pikirnya.
"keluarlah, roh penunggu tubuh ini!!" tiba-tiba kompasnya terangkat ke angkasa dan meledak menjadi partikel-partikel cahaya yang kecil lalu berputar mengikuti arah angin yang mengelilingi tubuh pria cina itu. Ryan terkejut, lalu ia membungkuk guna menghindari bola-bola cahaya padat yang berterbangan.
"gyaaaa.....apa ini??" teriak Ryan. namun dengan keadaan yang seperti ini, pria timur itu tak bergeming. ia membuka matanya perlahan, mengamati sosok yang keluar dari dalam makam ayah Ryan. sebuah sosok mengerikan, dengan tubuh yang besar dan topeng tengkorak, tangan raksasa yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tajam, dan suara yang lebih mirip suara erangan dan rintihan daripada suara geraman. Ryan tersentak kaget. saking kagetnya, ia hampir terjatuh dari ketinggian karena makam ayah dan ibunya berada di puncak tertinggi dari pemakaman ini. kepalanya terantuk pagar pembatas, dan ia pingsan seketika.
"lama tak bertemu, ya...Richard..." Richard adalah nama ayah Ryan. mahluk itu merintih seperti orang kesakitan dan lalu kemudian menyerang pria cina itu dengan cepatnya sehingga bagi orang biasa tidak akan sanggup menghindar. namun pria timur itu bisa. ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sakunya. kertas mantera. ia menggigit jempolnya sendiri lalu mengoleskan darahnya ke kertas-kertas itu. ia mendarat dengan kaki kanan terlebih dahulu, sehingga ia bisa mengambil ancang-ancang untuk melemparkan kertas manteranya.
"SEGEL API!" teriaknya. kertas-kertas itu ia lempar seperti melempar pisau kunai bagaikan seorang ninja terlatih. kertas-kertas itu melesat bagaikan sekeras besi, lalu menusuk tubuh mahluk itu. ketika sudah menusuk tubuh mahluk itu, kertas itu berubah menjadi kertas biasa, lalu terbakar dengan sendirinya.
"MELEDAK!!" teriak pria timur itu lagi. kertas-kertas itu meledak hebat dan membakar mahluk raksasa itu. mahluk itu mengerang dengan dahsyat, lalu menghilang ditelan panasnya api mantera. serpihan-serpihan mahluk itu berubah menjadi debu belerang yang berwarna merah-hitam-oranye menyala. pria timur itu mengibaskan tangannya yang terluka, lalu berjalan mengambil tasnya dan kompasnya dari atas makam ayah dan ibu Ryan. ia berjalan sambil mengipas-ngipas wajahnya yang terkena debu belerang, baunya sangat menyengat. bukan bau belerang, namun bau busuk. seperti bau seonggok daging yang sudah membusuk dan bercampur dengan bau selokan. pria timur itu menghampiri Ryan yang telah pingsan akibat benturan tadi. ia menatapnya dengan seksama. memang mirip dengan ayahnya ya...sayang ayahnya sudah menjadi roh jahat.
"Ryan Pratama....kau akan kujadikan seorang hunter."

~TO BE CONTINUED~

Your rating: None Average: 5.4 (5 votes)
dikirim hirokakkuen 7 minggu 1 hari yang lalu
Tag: