Hunt : The Prologue Chapter 02 "Scar From The Past"

30
points

Ryan terbangun dengan mata terpejam. matanya begitu berat untuk dia buka. Ia masih sulit bernafas. Untuk beberapa saat ia merasa dunia ini miring,- dan kemudian sedikit berputar ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia membuka matanya dengan perlahan, dan dilihatnya seorang laki-laki duduk di samping tempat tidurnya, mengamatinya. Dan tiba-tiba gambaran tentang kamar ini menjadi jelas. Sebuah kamar sempit dengan gambar band-band rock menghiasinya. sebuah meja belajar dengan penerangan yang minim namun masih bersih, seperti jarang dipakai. Benar, ternyata ini kamarnya sendiri. ia bangkit dan menyandarkan dirinya di tepi tempat tidur. Masih dirasakannya bau tidak sedap seperti bau comberan yang bercampur dengan bau korek api kertas yang dibakar.
"baiklah, aku tahu apa yang kulihat itu nyata. sekarang apa maumu?" tanyanya pada pria cina yang dilihatnya tadi. Ia masih menunggunya.
"semua itu tergantung. Apa yang kau inginkan akan menjadi kenyataan jikau kau percaya kau mampu melakukannya." jawab pria cina itu bijak.
"apa maksudnya?"
"tidak...hanya mencoba untuk berbicara keren." ia bangkit dari tempat duduknya dengan letih. Sepertinya ia tidak tidur semalaman. "kau bisa berdiri?"
Ryan mencoba bangkit.....tidak bisa. seluruh badannya sakit. Seperti baru digebuki. memang ia pernah digebuki sewaktu SD, tapi yang ini lebih sakit dari itu. Otot-ototnya serasa beku.
"tidak usah saja deh." pria cina itu berjalan ke sudut ruangan dimana ada meja-meja dan perabotan makan. Ia menuangkan air putih dari ketel minum yang kelihatannya masih panas. lalu meminumnya. Ryan memperhatikannya dengan sedikit kagum, tapi wajahnya terlihat meringis ngeri.
"bagaimana kau....melakukannya?" tanyanya. ia masih penasaran akan apa yang terjadi kemarin. Baginya itu adalah hal luar biasa yang tidak akan pernah dinalar manusia. bagaimana bisa dinalar bila kau melihat sesosok monster mengerikan yang tingginya hampir delapan kaki, menggeram, dan BUAS?
"bukankah tidak sopan bila kau menanyakan tentang apa yang dilakukan seseorang sebalum kau menanyakan siapa namanya?" Ryan meringis. Pria ini begitu....formal. ampun, deh...
"baiklah..." Ryan menghembuskan nafasnya sedikit. "apakah saya bisa tahu siapakah anda ini?" pria cina itu terdiam sejenak. lalu kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Dan tentu saja...itu membuat Ryan semakin bingung. apa'sih mau nya?
"maaf, aku tak mengira kalau kau benar-benar akan melakukan apa yang kuharapkan. kau ini orangnya penurut juga ya..." ucapnya senang. Ryan ikut terdiam. Di dalam hatinya, ia berkata..

ORANG INI MENYEBALKAN SEKALI, SIH!!!

"namaku Ling Yao, penerus keluarga Yao, generasi ke sebelas dari keluargaku. asalku dari desa kecil di sebuah provinsi kecil di Cina. pekerjaan keluarga kami secara turun temurun adalah...." tiba-tiba gelas yang masih terisi air itu terbakar, menghabiskan air yang tersisa itu. "pemburu hantu." lampu yang menerangi ruangan itu tiba-tiba mati,- dan kemudian ruangan itu menjadi gelap. Yang tersisa hanyalah cahaya dari gelas yang terbakar yang sedang dipegang oleh Ling. Ryan terpana. baru kali ini ia melihat hal macam itu. mengejutkan sekali bahwa ternyata pemburu hantu itu ada.
"a...aaaa...apaa....apa yang..." Ryan kehabisan kata-kata. Ling tersenyum cahaya api yang bergoyang membuat bayangannya yang ada di dinding menjadi terasa bergerak menjauhi dirinya. seperti bergerak sendiri.

***

Ryan keluar dari rumahnya dengan mengenakan pakaian t-shirt kesukaannya. hari ini ia akan berjalan-jalan di taman. namun ternyata Ling sudah menunggunya di depan.
"mau kemana? ikut dong."

***

mereka berdua telah tiba di taman. taman kota yang luas namun sepi pengunjung. malahan lebih tampak seperti perkuburan meskipun saat siang.
"jadi...apa yang membuatmu kesini?" tanya Ryan pada Ling, mengawali pembicaraan.
"kau bertanya padaku?"
"iya, dasar bodoh."
"kau bilang aku ini bodoh? tidak sopan lho. aku kan lebih tua darimu."
"kau mau mengajak berkelahi ya?"
"sudah, sudah....sebenarnya aku ini dulu pernah ditolong oleh ayahmu, sewaktu aku sedang memburu suatu makhluk, namun makhluk yang kuburu itu berhasil kabur..."
"lalu?"
"lalu aku mendengar bahwa kedua orangtuamu meninggal. makanya aku kesini. sebenarnya mereka tidak meninggal karena kecelakaan, kan?"
"apa maksudmu?"
"kau tidak menyadarinya ya?"
"apa?" Ryan menghentikan langkahnya.
"mahluk yang kuburu itu lari ke sini, kota ini, memburu ayahmu, yang telah mengganggunya membunuhku. kau tidak membaca hasil otopsinya?"
"aku sudah membacanya...dan mereka bilang..."
"mereka bilang kedua orangtuamu mati diserang binatang buas, kan?"
"bagaimana kau bisa tahu?"
"tidak ada hal yang mustahil jika kau menyuap dokter untuk memberikan keterangan. yah, lebih tempatnya dibantu dokter, soalnya dokter itu juga kebetulan adalah mantan klienku."
"Jadi maksudmu..." Ryan mengepalkan tangannya tanda ia sedang kesal. Ling memperhatikannya. "...kaulah yang menyebabkan kedua orangtuaku meninggal?"
suasana menegang. Ling dan Ryan saling bertatapan dengan sinis sambil tetap pada posisi mereka masing-masing. angin berhembus kencang, meniup rambut keras ber-gel milik Ling dan melayangkan secarik kertas melewati mereka berdua.
"kau BRENGSEK..." ucap Ryan kesal.
"apa yang akan kau lakukan?" tanya Ling memancing kemarahan Ryan. dan itu memang tujuannya.

~TO BE CONTINUED~

Your rating: None Average: 6 (5 votes)
dikirim hirokakkuen 11 minggu 16 jam yang lalu
Tag: