Dalam pertemuan sastrawan nasional di Jambi awal Juli lalu, Hamsad Rangkuti mengungkapkan adanya gejala menyajikan tulisan dengan menggunakan bahasa secara akrobatik. Penulisan sastra dengan permainan bahasa secara akrobat malah menggeser tema yang diusung. Kemiskinan tema hendak dipoles lewat akrobat bahasa.
Padahal tema tentu sangatlah menjadi penting dalam tulisan – juga dalam sastra. Bukan melulu menyajikan akrobat bahasa. Sehingga menjadikan sastra sulit dipahami. Kecuali oleh si penulisnya sendiri. Sehingga tulisan telah kehilangan makna. Kecuali bagi penulisnya sendiri. Tulisan –apa pun itu- tentu tak hidup terlepas dari kehidupan sehari-hari –yang tentu perlu bermakna.
"semalam tuntas sudah seluruh cinta diserahkan
tak ada sisa kecuali sebercak darah di seprai putih
semua telah melayang ke negeri sulit diterka
beterbangan berikut sejuta angan dan janji.
sejak semalam, dua malam, tiga malam, dan
malam berikut pun cinta kian ditumpahkan
menegaskan tiap sapaan. Menghidupkan tiap pertemuan.
mewarnai seprai putih yang sudah gading.
cinta membangun angan memenuhi hari-hari
dan ketika menggelembung menagih janji:
“Oh, bulan pun tak lagi datang.
sedang Abang kian jarang datang”
sejuta bintang hinggap di kepala
kapan cinta akan menjemput
kalau pun bukan cinta Abang?
Ttak apalah.
Malang, 13.07.08
dikirim avian dewanto 5 weeks 4 days yang laluTag:











