Menjulang ke langit

69
points
"

Dalam pertemuan sastrawan nasional di Jambi awal Juli lalu, Hamsad Rangkuti mengungkapkan adanya gejala menyajikan tulisan dengan menggunakan bahasa secara akrobatik. Penulisan sastra dengan permainan bahasa secara akrobat malah menggeser tema yang diusung. Kemiskinan tema hendak dipoles lewat akrobat bahasa.

Padahal tema tentu sangatlah menjadi penting dalam tulisan – juga dalam sastra. Bukan melulu menyajikan akrobat bahasa. Sehingga menjadikan sastra sulit dipahami. Kecuali oleh si penulisnya sendiri. Sehingga tulisan telah kehilangan makna. Kecuali bagi penulisnya sendiri. Tulisan –apa pun itu- tentu tak hidup terlepas dari kehidupan sehari-hari –yang tentu perlu bermakna.

"

langkahnya sepanjang trotoar menggerus sol sepatu
hanya mengikuti kata naluri: Berburu ketidakpastian
di bawah bayang-bayang gedung pencakar yang mencabik
dirinya: Menjulang ke langit.

map berisi salinan ijazah beralih tangan ke penerima tamu
puluhan berkas lainnya masih tersusun rapih dalam tas
di bawah bayang-bayang wajah kedua orangtua yang menaruh
impian: Menjulang ke langit.

di dalam lift, mata dan telinga berjaga tentang:

mereka yang tampak jengah
mereka yang tampak tak jengah, juga
mereka yang tak tampak apa-apa.

percakapan yang dimengerti
percakapan yang tidak dimengerti, juga
percakapan yang tidak berkata apa-apa.

masih perlukah segala omong kosong:
menjulang ke langit!

malang, 15.07.08

Your rating: None Average: 7.7 (9 votes)
dikirim avian dewanto 11 minggu 4 hari yang lalu
Tag: