The Last Defense, the first terror

21
points
"

Sedikit bereksperimen nih...

Berkhayal bagaimana jika suatu saat bumi dikuasai makhluk mengerikan yang asalnya gak tahu dimana dan kita hanya bisa berlindung dan bertahan hidup.

"

Tahun 2022, New York Sebuah pesawat penumpang melintasi angkasa kota yang megah ini. Membelah langit siang. Di dalam pesawat terlihat begitu tenang menunggu sampa tujuan. Di antara para penumpang, di sebuah kursi terdapat dua orang yang terlihat sangat gelisah. Raut wajahnya begitu lemas, bibirnya membiru dan sekujur tubuhnya menggigil.

“Kita tidak punya pilihan,” tiba-tiba seoran pemuda yang duduk di belakan mereka menepuk kursi mereka.

“Tapi..., ini sama dengan melarikan diri. Kita sebenarnya mengetahui hal ini! Tapi mengapa kita hanya bisa...,” seorang pemuda yang menggigil itu angkat bicara.

“Jangan khawatir, mungkin saat ini kita hanya bisa melarikan diri,” ucapnya. “Wawan, semoga kau selamat,” dia mengatakan itu sambil melihat keluar jendela pesawat.

30 menit yang lalu, di Pontianak Raungan bunyi sirene memecahkan kesunyian di kota Kakap, semua warga tanpa buang waktu segera berlarian memasuki sebuah gedung yang besar di tengah kota. Mereka berbondong-bondong masuk ke sana sebagai tempat perlindungan terhadap sesuatu masalah yang mengerikan. Di bawah gedung itu terdapat bunker bawah tanah yang besar dan kokoh.

“Yuliana, segera kau masuk ke bunker, cepat!” perintah seorang pria muda dengan tegasnya.

“Kau mau kemana, Wawan?” tanya Yuliana, istrinya.

“Aku harus melakukan sesuatu....,” katanya pelan lalu beranjak pergi.

“Wawan...,”

“Jangan bertele-tele! Ayo masuk ke bunker!” teriaknya lagi.

Wanita itu menangis lalu berlari ke arah pintu menuju ke bunker bawah tanah. Keadaan pada saat itu sangat tak terkendali. Keadaa markas itu bak kapal pecah. Riuh rendah. Para pasukan bergegas masuk ke Mecha mereka masing-masing, termasuk pula dengan Wawan.

Para kru dengan sigap menyiapkan landasan lalu diperintahkan menjadi auto lalu mereka semua bergegas masuk ke dalam bunker.

Pasukan Perdamaian, telah siap dengan takdir mengerikan yang akan menanti mereka.

Satu per satu Mecha mereka keluar dari landasan. Terdapat sekitar 50 buah Mecha yang ada.

Suara deru yang mengerikan sudah terdengar mendekat. Pintu markas itu akan segera tertutup. Tapi diluar masih ada seseorang yang rakus berusaha menjarah apa yang ia temui saat akan ke bunker. Tinggal selangkah lagi, akan tetapi “sesuatu” itu lebih cepat menyambarnya dengan cepat.

Ceceran darah tersiram di depan pintu bunker yang telah tertutup rapat. Kepalanya terlempar ke tanah dan bergelinding bebas hingga “sesuatu” itu tak sengaja menginjaknya hingga hancur berleburan.

Para Mecha sudah berhasil take off dengan selamat. Tapi tiga di antaranya sudah terlanjur dimangsa oleh “sesuatu” itu saat mereka masih di atas 30 meter.

“Kepada seluruh pasukan! Ini Kapten Wawan Harianto, untuk semuanya jangan repot-repot menghabiskan amunisi kalian dengan menembaki makhluk-makhluk itu yang tidak habis-habis jumlahnya. Segera ke tempat markas lainnya guna mencari solusi. Laksanakan segera!” perintahnya lewat komunikator.

Seluruh Mecha berpencar ke berbagai penjuru. “Semoga kalian bisa bertahan,” kata Wawan membatin sambil melihat ke arah markas itu lalu beranjak pergi.

Sekarang, New York “Kepada seluruh penumpang, agar menggunakan sabuk pengaman, karena kita akan segera mendarat,” sebuah pengumuman yang tidak asing lagi.

Kedua pemuda itu tambah gemetar. “Faridan, bagaimana ini? Mereka mau mendarat,” keluh temannya.

“Kalau kita mendarat, maka habislah kita,” tambah yang satu lagi.

“Jangan khawatir, aku akan memberitahu pilot itu,” pemuda itu beranjak ke kokpit. Susah baginya masuk ke sana karena dilarang oleh pramugari. Hingga akhirnya ia berhasil jua.

“Pak! Jangan mendaratkan pesawat ini!” perintah Faridan.

“Hey, apa wewenangmu sehingga kau memerintahkanku seperti itu, hah?” tanya sang pilot.

“Lebih baik kau dengarkan saja apa kataku ini kalau kalian mau selamat!” teriak Faridan.

Pilot itu tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Faridan. Ia terus saja berkonsentrasi terhadap pesawatnya. Faridan tetap tak bisa terima, ia dikekang oleh beberapa orang. Tiba-tiba sang pilot kembali menoleh ke arahnya dan berkata, “Tidak ada tanggapan dari pihak bandara,” ucapnya.

“Tentu saja,” tiba-tiba Faridan angkat bicara. “Karena mereka semua, sudah menghilang!”

Keadaan hening sesaat. Perlahan-lahan pesawat itu merendah. Sang pilot tak percaya apa yang ia lihat lewat kokpitnya. Kota-kota hancur berantakan. Asap dan api berkoba dimana-mana. Sungguh tak terbayangkan. Padahal mereka baru saja mengudara beberapa menit.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” ucap sang pilot pelan.

“Pak pilot! Apakah bahan bakarnya masih cukup?” tanya Faridan.

Pilot itu menggeleng. “Kita akan kehabisan bahan bakar 30 menit lagi,” jawab sang pilot.

Faridan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba dari belakang seseorang yang memiliki perawakan khas tentara datang dan menanyakan apa yang terjadi.

“Dari tadi ribut tersu, sebenarnya apa yang kau lakukan, hah?” tanya orang itu.

“Apakah kau seorang tentara Amerika?” tanya Faridan tiba-tiba.

Orang itu berkerut. “Kalau iya, mengapa?”

“Apakah di dekat sini ada pangkalan militer?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Jawab saja!”

“Iya! Karena kita akan mendarat di sini, kalau terbang dengan pesawat paling-paling hanya 30 menit,”

“Di mana itu?”

“Di Feretroit,”

“Pilot!”

“Apa maksudmu kita akan mendarat di sana?” tanya pilot.

“Iya!”

“Hey! Apa maksudmu, hah? Lalu kenapa kita harus mendarat di pangkalan militer?” tanya orang itu.

Faridan menatap orang itu. “Ceritanya panjang,” katanya singkat.

“Hey, Nak! Apa kita bisa mendarat di landasan militer itu?” tanya Co-pilot.

“Tentu saja. Karena tidak ada seorang pun yang akan melarang kita,” jawab Faridan.

“Why?”

“Karena orang yang berada di muka bumi kini, telah menghilang. Semuanya,” kata Faridan datar.

Keadaan kokpit hening sejenak. Sang pilot dan co-pilot saling bertatapan, sedangkan marinir itu seolah tak percaya.

“Sebaiknya..., kita mendarat di pangkalan militer. Karena kita akan membutuhkan senjata,” kata Faridan seraya kembali ke tempat duduknya.

Marinir itu masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan Faridan. Ia mencegatnya. “Kau sepertinya sudah tahu kalau ini akan terjadi, sebenarnya..., apa yang sedang terjadi?”

“Makhluk Ya'juj telah keluar, Tuan! Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berlindung sebaik mungkin hingga mereka lenyap,” jawab Faridan.

“Makhluk Ya'juj? Makhluk apa itu?”

“Kau akan tahu setibanya kita di pangkalan militermu itu...,”

Marinir itu terdiam. “Lalu..., apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

“Mencari sukarelawan perang,” jawab Faridan.

“What's your mean?”

Faridan menoleh ke arah marinir itu. “Karena kita akan berperang,”

***

Pesawat berkapasitas 112 penumpang itu kini bannya sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di landasan militer Amerika yang sepi melompong. Jack, marinir itu tak habis pikir kenapa bisa begini. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Walaupun waktu menunjukkan pukul 12 siang.

Di belakangnya sudah ada beberapa orang sukarelawan yang akan segera turun dan mengambil senjata di gudang senjata. Lima diantaranya adalah tentara Amerika, dua orang keturunan Arab, dan lima orang keturunan Asia Tenggara.

Ancang-ancang telah melekat di kaki para sukarelawan ini. Sebagian akan mengambil mobil pengisi bahan bakar dan lainnya mengambil senjata.

Mereka semua dan yang ada di dalam pesawat berdebar-debar. Pesawat sudah mendarat di landasan namun masih berkecapatan tinggi. Saat ban menyentuh aspal, terdengar suara raungan yang menakutkan saling sahut menyahut di tengah kota. Sedikit rasa gentar menyeruak hati para sukarelawan, tapi ini adalah ujian bagi mereka sebagai seorang pejuang.

Kecepatan pesawat mulai berkurang, Jack segera memerintahkan pilot untuk membuka pintunya. Ke dua belas orang itu langsung turun dari pasawat yang masih berjalan. Faridan, yang juga ikut mengingatkan untuk menutup kembali pintu dan jendela dan jangan membukanya sampai mereka semua kembali.

Kedua belas pria ini segera berlari menuju ke arah pangkalan yang jaraknya kira-kira 200 meter dari pesawat. Cukup jauh bagi mereka, apalagi saat mereka berlari, suara raungan itu makin sering terdengar.

“Let's move, let's move! We don't have any times here,” seru Jack kepada anak buahnya.

“Subhanallah, sebenarnya apa yang terjadi,” seru orang keturunan Arab sambil berlari kencang.
Sedikit lagi mereka sampai ke pangkalan. Keadaan di dalam pesawat begitu hening tanpa suara. Penumpang pesawat hanya bisa berselimut dan meringkuk di kursi mereka tanpa berani membuka jendela.

“Krosak...,” terdengar sebuah suara dari luar pesawat.

Teman Faridan yang tinggal di pesawat tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.

***

Kedua belas pria itu sudah berada di pangkalan, tiga orang lainnya bergegas menuju mobil pengisi bahan bakar, dan sisanya segera dengan cepat mengambil senjata sebanyak-banyaknya.

“Is it enough?” tanya seorang tentara.

Jack melihat bawaan temannya. “Ambil apa yang bisa kau ambil, Ronald! Ambil Jeep di sana, itu akan sangat membantu,”

“Okay, Sir!”

Faridan dengan sigapnya mengemaskan senjata-senjata berat itu ke dalam peti dan memindahkannya ke mobil Jeep terbuka itu.

“Apa mereka sudah membawa pergi mobil bahan bakar?” tanya Faridan.

“Sepertinya iya,” jawab seseorang.

“Ayo kita pergi sekarang!”

Faridan yang semenjak tadi mengepak senjata-senjata, tak sepucuk senjata pun yang ia selipkan di bajunya. Yang ia bawa hanya sebilah pedang yang ia temukan di gudang dan sebilah samurai “aneh” yang ia temukan tergeletak di sebuah koper.

“Ayo..., cepat pergi...!!!”

Saat mobil Jeep mereka keluar dari pangkalan, tiba-tiba segerombolan “makhluk” itu keluar dan langsung menyerbu mereka.

“Subhanallah...!!!” teriak seseorang.

Mereka kini mengendarai tiga mobil Jeep terbuka yang dipenuhi oleh senjata. Mobil pengisi bahan bakar sudah sampai ke pesawat dan kini tengah mengisi tangki yang kosong.

Makhluk-makhluk mengerikan itu terus mengejar ketiga mobil Jeep itu. Bentuknya menyeramkan dan berlendir.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya seseorang.

“Yeah, what should we do?” tanya seorang tentara.
“Habisi sebisamu,” jawab Faridan. “Tapi jangan sampai terlalu banyak, karena amunisi itu akan sangat berharga,”

“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya Jack.

“Kalian..., habisi bila terdesak. Aku akan berusaha mengurangi jumlah mereka,” jawab Faridan.

“What's?”

Makhluk-makhluk yang mengejar kian lama kian banyak. Jika begini terus, mereka tak akan sempat masuk ke pesawat. Faridan menghunuskan ke dua bilah pedangnya dan memegangnya dengan mantap.

“Aku harap aku masih bisa melakukannya,” kata Faridan membatin. “Putaran Pedang Angin...!!!” teriak Faridan. Tubuhnya langsung berputar di udara dan sebuah angin topan kecil tercipta dari pedangnya dan menghantam gerombolam makhluk itu hingga berkeping-keping.

“Oh, my God!” ucap seorang tentara.

“Subhanallah,”

Faridan menoleh ke arah mereka. “Teror masih belum berakhir, kita harus membantu teman-teman kita yang sedang mengisi bahan bakar,” kata Faridan seraya menunjuk beberapa orang yang berada di bawah pesawat.

Dari kejauhan pilot dapat melihat mereka dengan jelas dan memberikan tanda untuk membuak pintu. Sesampainya di depan pintu, lima orang pria bergegas memasukan berbagai senjata. Beberapa di antaranya menghimbau kepada penumpang untuk membuang barang-barang yang tak berguna.

Faridan dan beberapa teman senegaranya bersiaga di sekitar pesawat sambil menenteng senjatanya masing-masing.

“A yo..., cepat sedikit,” seru temannya.

“Perasaanku tidak enak...,” desah Faridan. “Cepat selesaikan...,”

“Groaaaa...!!!” tiba-tiba makhluk mengerikan lainnya muncul. Bentuknya lebih besar lagi, sebesar mobil truk yang kini mengejar ke arah mereka.

“Sial...!!!”

“Pesawat mana bisa take off...!!!” seru sang pilot.

“Bleeedaaarrrr...!!!” tiba-tiba makhluk itu hancur berkeping-keping.

Dari udara terlihat sesosok makhluk besi dengan senapan raksasa di tangannya.

“Perlu bantuan?” tanya seseorang yang berada di dalam kokpit yang tak lain dan tak bukan adalah Wawan.

“Kau..., kenapa kau hancurkan yang tadi, hah?” bentak Faridan.

“Memangnya kenapa?” tanya Wawan.

“Itu jatahku, bodoh!” teriak Faridan.

Orang-orang yang berada di pesawat tertegun.

To be Continued...!

Your rating: None Average: 5.3 (4 votes)
dikirim Endy Tatsuke 6 minggu 6 hari yang lalu
Tag: