Read more (974 words) Pagi pertama kuinjakkan kaki di SMP-7 itu kami awali dengan acara bersih-bersih (apalagi kelasku adalah kelas yang baru saja dibangun - Kelas 1D). Selesai bersih-bersih, aku dan teman-teman baruku ngobrol ngalur-ngidul diteras kelas yang berhadapan langsung dengan kebun ketela, tapi posisiku saat itu sedang berdiri menghadap ke kelas. Setengah obrolan, kudapati cowok cakep berkulit putih bersih berjalan tapi matanya tak melihat jalan, melainkan jalan sambil memandang ke arahku, dan berhubung aku tkut salah sangka, kutolehkan kepalaku ke belakangku, tapi tak kudapati seorangpun dibelakangku. Kutantang cowok itu dengan pertanyaan, "Apa??? aku tah???". Dan ternyata dugaanku tak salah, dia membalas pertanyaanku dengan senyuman manis dan melambaikan tangan. Dia adalah kakak kelasku yang baru naik ke kelas 2. Tapi kejadian pagi itu tak terlalu bikin aku pusing, aku mah cuek aja.
Tapi pas jam istirahat siang, aku kembali dikejutkan dengan cowok itu lagi, dan kali ini lebih berani. Kami terlibat pembicaraan bertemakan perkenalan antara kakak dan adik kelas.
"Hai, nama kamu siapa???" tanya cowok itu langsung.
Dengan lugunya ku jawab pertanyaannya "Namaku Nila, kalau kamu??" balik kutanya dia.
"Kalau pengen tau namaku, jadi pacarku dulu!!! Gimana???"
("Iiihhh PD banget neh cowok!!! tapi cakep juga sih, rugi banget kalau sampai kulewatin nih rejeki")pikirku berkata. Dan dengan tegas kujawab "OK, aku mau jadi pacarmu. Dan siapa namamu???" kutagih dia tuk sebutkan namanya.
"Erik Hindartok, panggil aja Erik!! OK, sekrang kita pacaran kan???" dia langsung menjulurkan tangannya mengajakku berjabatan tangan, dan kusambut tangannya (wah hari pertamaku yang indah, langsung dapat pacar!!!! Rekor nih...)
Hubunganku dan Erik berjalan selama tiga tahun, dimana kami sudah tak tinggal dalam satu sekolah lagi. Aku di SMU yang dari awal memang kuinginkan karena sejalan dengan rumah Erik (Alhamdulillah do'a-ku terkabul) sedangkan dia sekolah di STM negeri. Dan di awal-awal kumasuk sekolah SMU, cerita barupun terulang lagi, tapi kali ini cerita buruk, tanpa adanya angin, dan tanpa hujan dia memutuskan hubungan tiga tahun kami tanpa alasan yang tepat, dan dia menjalin kasih dengan teman satu kelasnya di kelas 3 SMP dulu yang bernama Rima murid SMU Muhammadiyah.
Selepas kisah itu, aku menjalin hubungan baru dengan gonta-ganti cowok, putus dapat, putus lagi dapat lagi, begitu seterusnya sampai aku kerja sekarang. Tapi rasa sayang itu masih saja berada di ujung hatiku, tak bisa tergantikan dengan siapapun juga. Dan karena hal itu juga aku selalu ada untuk dia. Dia minta tolongpun aku selalu mengusahakan tuk bisa menolongnya. Dia kini adalah pengangguran yang runtang-runtung ga tahu arah. Dan aku makin kasihan pada keadaannya.
Selama tujuh tahun aku tak tahu isi hatinya terhadapku, dan aku selalu berusaha mencari tahu, tapi hasilnya selalu NOL. Hingga suatu hari di bulan Desember tepatnya empat tahun lalu, kurelakan hal yang seharusnya kujaga hanya tuk menjadikan dia lebih menyayangiku, yaitu dalam bahsa jepangnya "Mizuage". Tapi ternyata, hal itupun tak merubah apa yang sudah kami jalin selama sebelas tahun lalu. Dia masih tetap menyayangi dirinya. Aku telah mengambil langkah salah, SEUMUR HIDUPKU!!!
*
Kujalani hidup ini dengan sisa bagian yang aku punya tanpa Mizuage itu, dan masih tetap menjalin hubungan baik dengan Erik, hubungan yang sangat biasa. Ku awali hubungan kasihku yang beru dengan pengakuan, dan aku pun pasrah atas keputusannya nanti, tapi ternyata pria yang mencintaiku menerimaku dengan apa adanya diriku.
"Aku ingin mengajakmu berjalan dengan tujuan PERNIKAHAN. Dan satu lagi, tentang masa lalumu, aku ga ingin bahas lagi, kita tutup semua itu dan kita lihat kedepan aja, OK???" ucapnya dengan menggenggam jemariku.
Tapi ternyata niatanku tuk membangun keluarga dengan pria bernama Dwi Kristiawan Margi Santoso, seorang dosen di Surabaya, dan terpaut usia 4thn lebih tua dariku tak seperti yang kami harapkan. Orang tuanya tak menyetujui hubungan kami dan diapun mengundurkan diri tuk lebih memilih orang tuanya, sekalipun dia masih mencintaiku.
*
Ku terus berjalan dengan sisa luka yang masih perih di hati karena penghinaan orang tuanya (orang tua Margi), dan kali ini aku bener-bener trauma tuk jalin kasih lagi.
Sebulan kemudian, pas Lebaran tahun 2007 aku mendapatkan hadiah dari Tuhan. Seorang pria yang tak kusangka-sangka menghubungiku, dan dalam hitungan jam, tak lebih dari sehari, dia menitipkan hatinya padaku dengan segala konsekuensi yang harus kuhadapi (bila aku bersedia), dan tanpa pikir panjang, mulutku langsung menerima pria itu dan bersedia jalani hubungan sekali lagi.
Dan lagi-lagi, kuawali hubungan baru ini dengan pengakuan. Dan Alhamdulillah dia menerima dan tak mempermasalahkan hal itu.
"Memang hal itu adalah penting, tapi bagiku hal itu tak lebih penting dari urusan hati. Sudahlah, itu adalah masa lalu, dan aku sekarang jalani hidup ini dimasa sekrang dan sampai nanti" ucapnya menenangkan hatiku
Malam itu kuterharu karena ternyata masih ada pria yang bersedia mencintaiku apa adanya diriku. "Terima kasih ya Allah!!! Emapat tahun yang lalu aku membuat sebuah dosa, dan sekrang InsyaAllah akan kujalani dengan sebaik mungkin"
Sembilan bulan hubungan ini berjalan, masalahpun muncul dengan lebih serius. Erik menghubungiku lagi. Awalnya sih hanya menanyakan kabarku dan aku sekarang jalan sama siapa. Setelah kuceritakan sedetailnya, dia malah marah-marah dan berjanji tuk menungguku karena sebenarnya dia masih mencintaiku, sedari dulu. Berkali-kali dia menghubungiku dan menanyakan hal yang sama, dan lagi-lagi dia berkata "Ayolah kamu putus saja dengan polisi itu!! dan kembalilah padaku, aku ingin menikah dengan mu"
"Aku ga bisa Rik. Aku menikah bukan hanya untuk kebahagiaanku saja, tapi kebahagiaan orang tuaku juga." jawabku.
"ternyata kamu lebih memilih masmu daripada aku!! aku ga suka itu."
"Sudahlah kamu ga usah menunggu aku, kan masih ada Rima"
"Ga ah, dia udah punya anak dengan suaminya yang dulu. Aku ga mau nikah dengan cewek yang udah punya anak. Cita-citaku dari dulu cuman pengen nikah denganmu."
Obrolan itu terus kan berlangsung tentang permohonannya tuk menyuruhku putus dari masku. Dan Ternyata sekrang diujung hatiku telah tergantikan dengan sosok seorang Wawan.
Dan aku hanya tinggal menunggu Tuhan menurunkan restunya tuk menyatukan kami berdua. Karena restu dari orang tua kedua belah pihak telah kami kantongin. Sekali lagi kuucapkan Alhamdulillah!!!!!!!
Be the first person to continue this post
apa yang salah ya dengan cerita ini....tapi menurutku, ok, meskipun datar...bgt. lam kenal ya!