Everlasting Arms Episode 2; Chapter 3: Time Force

14
points
"

Mohon maaf kalau ceritanya makin lama makin ngawur dan tidak jelas.

Rencana aku akan melakukan editing besar-besaran untuk Episode 1, mohon bantuannya

pizz, love, n ngawur

"

Chapter 3: Time Force

21 Maret 3529. Time Force HQ

Ran berdiri di anjungan Time Force HQ. Menatap bintang-bintang dalam lamunan dalam. Sebagai pemimpin Time Force, dia memukul tanggung jawab besar. Sebuah misi yang harus berhasil.

“Ran…”

Sebuah suara memaksa Ran berbalik. Dihadapannya, berdiri seorang gadis berumur sama dengannya. Dialah Rin, adik kembarnya.

“Pikiranmu kacau sekali.” Kata Rin sambil merangkul tangan kakaknya. Bermanja-manja dibawah kilauan bintang yang menembus anjungan.

“Kamu membaca pikiranku lagi…” Ran menghela nafas lalu menatap adiknya penuh kasih sayang. Bagaimanapun, dia tidak bisa marah pada adik satu-satunya itu.

“Maafkan aku…” Rin mempererat rangkulannya. Membuat Ran tidak bisa memarahinya.

“Apakah menurutmu semua ini akan berhasil?” Tanya Ran sambil mengelus rambur merah muda Rin.

“Tentu saja. Dengan kamu yang memimpin kami, tidak ada galaksi yang tidak bisa kita jelajahi.”

“Tapi yang akan kita jelajahi bukanlah galaksi.”

“Ugh… Memang sih. Tapi sama saja kan.”

Dering alat komunikasi memaksa Rin untuk melepaskan tangan kakaknya. Dengan sigap, Ran menjawab panggilan dari salah seorang Letnan kepercayaannya, Ace.

“Ada apa?”

“Semua sudah siap komandan.”

“Bagus! Bersiap untuk memulai keberangkatan. Perintahkan Dina untuk bersiap-siap. Dan Jauhkan Rudy dari MAU itu!”

“Siap! Laksanakan!”

Gambar Ace menghilang dari alat komunikasi. Ran memasukkan alat komunikasi ke saku seragamnya lalu berbalik ke Rin.

“Waktunya untuk pergi.”

***

21 Maret 3529. Ruang Komado Time Force HQ

Para operator bertugas di dalam ruang komando yang dilengkapi dengan monitor-monitor raksasa. Monitor raksasa yang terbagi menjadi delapan bagian itu menampilkan data tentang semua hal yang berhubungan dengan misi kali ini.

“Kolonel Ran Rachet telah siap dalam MAU.” Lapor seorang operator dengan suara datar sambil menatap monitor dihadapannya.

Ada empat orang operator berjejer di hadapan monitor raksasa itu. Mereka semua prajurit pilihan dari Armada 13.

Monitor menampilkan peta galaksi terbaru. Kolonel Kathy terus mengamati gambar di monitor itu. Sebagai komandan menggantikan Ran yang akan berangkat, dia harus memastikan misi ini berhasil. Ran mengangkatnya menjadi komandan menggantikan dirinya karena kemampuannya yang tinggi. Sekecil apapun situasi aneh yang terjadi, tak pernah luput dari matanya yang tajam.

“Persiapan selesai. Modus stand by. Bersiap untuk berangkat dalam aba-aba anda komandan.” Lapor seorang operator.

“Baiklah…” Senyum tipis mengembang di bibir Kolonel Kathy. “Mulai prosedur peluncuran!”

***

21 Maret 3529. Dock 1 Time Force HQ

Terdengar suara operator meminta para pilot untuk bersiap-siap. Ran tertegun dan membuka mata. Kemudian bergerak menuju Mau-nya diikuti oleh Rin dan Rudy.

“Gate telah terbuka. MAU 01A4 dan Comet Skuadron, harap memulai pengecekan awal.”

“Letnan Dina Lancelot, Letnan Ace D. Fabeno, Letnan Kris Carmaine, Letnan Anette Kelly dan Letnan Musashi Khisimoto, harap segera menaiki kokpit. Persiapan akhir telah selesai.”

Ran dan pilot lainnya bergantian memberikan laporan. Begitu gate terbuka, tampaklah luar angkasa yang tak bertepi.

“Operation Count Down. Sepuluh, Sembilan, delapan, tujuh…”

Operator dalam ruang komando mulai menghitung mundur. Mesin MFU Comet Skuadron mengeluarkan api bersama dengan suara yang semakin meninggi.

“Comet Skuadron, shoot!”

***

Sektor Quadrantids

“Operation normal.”

“Control, siap!”

Ran melaporkan Semuanya dengan tenang. MAU yang dia gunakan memang MAU kuno dari 20 tahun lalu. Berbeda dengan Comet Skuadron yang menggunakan MFU terbaru Armada 13.

“TF-1, bersiap. TF-2, Schedule misi tidak ada perubahan.”

Kolonel Kathy mengangkat wajahnya tanpa ekspresi sambil berkata seperti sedang bergumam, “Siapkan peluncuran Neutron Jammer.”

“TF-1, persiapan peluncuran Neutron Jammer! Arm Master, set arms!” Petugas kontrol memberi instruksi lebih lanjut.

“TF-1, arm set!” Rudy menjawab perintah petugas kontrol.

MAU Ran melesat dengan kecepatan tinggi. Dia mengendalikan MFU dengan dingin. Tidak terlihat bahwa dia sudah dua tahun duduk di belakang meja.

“Target dalam jarak tembak!” Lapor Rin. Dihadapan MAU itu tampak sebuah wormhole.

“Neutron Jammer diluncurkan dalam 15 detik.” Kata Rudy sambil menekan beberapa tombol di hadapannya.

Alat indikator target yang ada pada target display turun. Ran terus memandangi indikator itu sampai symbol target tepat berada di tengah-tengah indikator.

“Delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua…”

Rin menghitung mundur dengan perasaan gugup. Ketika dia menyebut angka terakhir, Ran menekan tombol peluncuran Neutron Jammer.

“Neutron Jammer, fire!” teriak Ran.

Penopang peluru Neutron Jammer memisahkan diri dengan badan MAU dan meluncur menuju sasaran. Meluncur menuju wormhole di hadapan mereka.

Bersamaan dengan itu, Ran menarik tuas kendali MAU. Berbelok menjauh dari wormhole diikuti oleh Comet Skuadron.

“Lima detik hingga peledakan! Lima, empat, tiga, dua, satu.”

‘DUARRRR’

Sebuah ledakan besar terjadi tepat di sebelah wormhole. Menciptakan sebuah wormhole lain.

“Fase pertama selesai!” Lapor operator yang bertugas mengontrol misi pada Kolonel Kathy.

Kolonel Kathy memeriksa data untuk memastikan laporan operator itu. Kemudian dia menghela nafas sambil berkata dengan tenang, “Lanjutkan Fase kedua!”

“TF-1 dan TF-2, lanjutkan ke Fase kedua!” Operator kembali memberi petunjuk.

“Roger!” Jawab Ran dan anggota Comet Skuadron dari alat komunikasi.

Ran menarik tuas kendali. MAU-nya menukik menuju wormhole dalam kecepatan tinggi.

“Rudy, bersiap untuk fase kedua!” Perintah Ran sambil mengarahkan MAU-nya.

“Oke komandan.”

Rudy memainkan panel kontrol dihadapannya. Di layar kecil sebelah kirinya terlihat gambar wormhole sedang berbenturan. Menciptakan sebuah worm hole lain.

“Komandan, semua normal.” Rudy menekan sebuah tombol di sebelah kirinya. “Kita siap masuk kapan saja.”

Ran tersenyum begitu mendengar laporan Rudy. Dia membuka kalung pemberian ibunya lalu mengikatnya di tuas kendali. “Sebentar lagi... Sebentar lagi… Ibu, sebentar lagi…” Kata Ran dalam hati.

“Comet Skuad, mulai fase kedua!” Teriak Ran pada alat komunikasi.

“Roger!”

***

Ruang Komado Time Force HQ

“Gawat, ada Aconite dari sektor Leonids!” Lapor seorang operator dengan wajah gugup.

“Ugh…” Kolonel Kathy menggigit bibirnya. Dia sudah menduga bahwa Semuanya tidak akan berjalan dengan mudah. “Perintahkan semua fighter untuk melindungi TF-1 dan 2!”

“Siap laksanakan!”

Semua orang di Time Force HQ langsung sibuk. Di ruang komando, Kolonel Kathy mengamati titik merah yang dengan mendekati mereka. Dilihatnya angka yang tertera di sudut layar raksasa itu, 155. Itulah jumlah Aconite Destroyer yang sedang mengincar mereka.

“Komandan, semua fighter telah bersiap di posisi!” Lapor operator di hadapan Kolonel Kathy.

“Bagus…” Kolonel Kathy memikirkan Seribu tindakan yang harus dia ambil. Setelah berpikir beberapa saat, dia mendongakkan kepala lalu memberi perintah. “Siagakan semua senjata kita. Kita akan ikut bertempur!”

“Siap! Semua senjata online.”

“Bagus, maju dengan kecepatan penuh! Kita harus memberi Kolonel Ran waktu untuk masuk ke Wormhole…”

***

Sektor Quadrantids

“Kolonel, ada aconite destroyer di arah jam lima.” Lapor Rudy dengan sedikit panik.

“Berapa jumlah mereka?”

“20 eh… tunggu dulu, 30… bukan, 35… jumlah mereka terus bertambah.”

“Sial!!!” Ran memukul target display di hadapannya dengan emosi. “Bersiap untuk mundur menghadapi mereka!”

“Negatif kolonel!” Terdengar suara Kolonel Kathy dari alat komunikasi.

“Apa maksudmu Kathy? Kalian tidak akan bisa menghadapi mereka semua tanpa bantuan kami.”

“Kolonel, fokus pada misi!” Bentak Kathy. “Ingat tujuan kita!”

Ran dan seluruh anggota Comet Skuadron terdiam. Mereka memang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kolonel Kathy. Hasil akhir dari perang ini bergantung pada mereka.

“Tapi…” Ran bergumam sembari mencoba mencari jalan keluar.

“Kolonel…” Suara Kolonel Kathy terdengar lebih lembut. Di layar komunikasi terlihat dia sedang tersenyum. Senyum yang jarang dia tampakkan. “Serahkan semua Aconite itu pada kami. Kalian harus tetap berangkat.”

“Tapi…”

Ran menatap wanita di layar komunikasi dengan agak khawatir. Kathy membalas tatapan khawatir Ran dengan senyum manis.

“Ran… Kau harus pergi… Demi aku juga.” Kata Kathy sambil memutuskan hubungan komunikasi.

Ran hanya bisa terdiam. Layar komunikasi tiba-tiba berkedip dan menampakkan gambar tiga orang anggota comet skuadron, Musashi, Kris, dan Anette.

“Biar kami yang membantu Kolonel Kathy.”

“Serahkan saja pada kami.”

“Tiga orang sudah cukup untuk meremukkan aconite itu.”

Ran makin diam mendengar kata-kata anggota comet skuadron. Ran menghela nafas panjang lalu memberi perintah.

“Kalian bertiga, bantu Kolonel Kathy. Yang lain, masuk ke dalam wormhole!”

“Siap!”

***

Your rating: None Average: 4.7 (3 votes)
dikirim addang13 6 minggu 5 hari yang lalu
Tag: