Dreams Chapter 6 part 2

8
points
"

makin suntuk aja

bosaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan

"

Mimpi… adakah akhir dari mimpi… mimpi indah, mimpi buruk… mimpi berakhir ketika pemandangan malam menjadi benderang… tapi… bagaimana sekarang…

Pada akhirnya pelarianku harus berakhir. Mau tidak mau, aku harus pulang ke pertengkaran Papa dan Mama. Huh… Aku Tarik nafas dalam-dalam. Kenapa harus ada libur segala. Bandara yang ramai seolah tidak peduli dengan problemaku. Mau bagaimana lagi, Inilah abad ke-21. Semua orang hidup sendiri.

“Hai ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’!”

“Eh… Kenapa kamu ada di sini?”

Entah apa sebabnya, tapi aku merasa sedikit lega bertemu dengan Kasmir. Aku jadi malu ketika dia bicara lebih keras.

“Supaya bisa bertemu dengan Kakak dong.”

“Aku gak mau ketemu ama kamu.”

Dia tersenyum pahit.

Sebetulnya aku senang. Tapi, aku mana bisa terus terang. Tidak bisa.

“Kakak tidak usah sedih begitu.”

“Eh… kamu lihat?”

Seakan menghibur, dia menatapku dengan serius.

“Apa yang terjadi?”

“Gak ada.”

“Bohong.” Dia menatap tajam padaku.

“Gak ada apa-apa!” Aku memalingkan wajah.

“Tapi, kenapa wajah Kakak seperti mau menangis?”

Seperti mau menangis? Aku terdiam memikirkan kata-kata itu. Tidak! Aku sudah tidak peduli dengan Papa dan Mama. Tapi kenapa?

Dia terdiam memandangku lalu mengulurkan tangan dan menepuk kepalaku dengan lembut.

“Kakak lakukan saja yang ingin kakak lakukan.”

“Apa yang ingin aku lakukan…”

“Mau menangis, tertawa, terserah. Aku akan setia mendengar. Begini-begini aku ini tempat curhat yang berpengalaman lho.”

Ah… Mengapa kamu lakukan semua ini? Aku paham kalau dia ingin menghiburku.

“Kakak?”

“Papa dan Mamaku ingin bercerai.”

“Eh…?”

“Aku benci mereka berdua.”

“Kenapa?” Kasmir melihat dengan pandangan yang menyiratkan kesedihan.

“Karena aku ini orang yang lemah. Pengecut yang hanya memikirkan diri sendiri. Ya, karena aku ingin kasih sayang tapi tak ingin Meminta.”

“Ternyata Kakak picik sekali.”

“Apa?”

“Soalnya… ah, gak. Hmmm, apa kakak pernah merasakan sepi?” Katanya lirih. “Aku pernah berpikir untuk mati.”

“Hah?”

“Kakak masih mending. Punya ayah dan ibu. Aku… selalu sendiri… sedih sekali. Mengapa hanya aku yang harus mengalami? Dulu, hanya itu yang ada dalam pikiranku.”

“Eh…?”

“Ketika dokter bilang kalau umurku cuman sampai 18 tahun, akhirnya aku sadar, he…he…he… Buat apa bunuh diri. Toh nanti juga aku akan mati.” Kasmir tersenyum. Senyum sedih. “Aku sudah hidup terlalu lama. He…he…he…”

“Kapan… itu?”

“Apanya?”

“Dokter…”

“Hmmm….” Kasmir menghitung dengan jari-jarinya. “Mungkin waktu kelas dua atau tiga SMP.”

Oh, berarti waktu berumur sekitar 13 tahun. Mengapa kamu harus mengalami hal seperti itu.

“Sejak tahu tentang perselingkuhan Papa dan Mama yang mulai aneh, aku paham. Di dunia ini, untuk jadi kuat tidak boleh percaya orang lain. Lebih baik tidak punya hubungan dengan siapapun. Aku bisa tetap tenang meski orang malah Kadang menganggapku dingin.”

“Kakak, kalau selalu lari tidak ada yang akan selesai.”

“Bukan urusanmu.”

“Benarkah Kakak senang hidup sendiri?”

“Cerewet!”

“Jangan cengeng!!!” teriak Kasmir titiba. Tampak benar-enar marah. Orang yang lalu lalang di bandara sejenak memperhatikan kami. “Memangnya kamu tahu rasanya kehilangan segalanya!!?”

Aku memandangnya dengan wajah terkejut.

“Sampai kapan kamu akan lari? Kalau hanya karena sekali pengalaman buruk kamu lari, itu bukan melawan. Kalau membentur tembok, panjat tembok itu. Jangan hanya diam dan menangis.”

“Tapi…”

“Sudahlah… yang harus Kakak lakukan hanya bertahan.”

“Eh…?”

“Bertahanlah.”

***

“Maaf ya Kakak. Aku jadi ngelantur.” Seperti tersadar kembali, Kasmir mengangkat wajah.

“Gak apa-apa.” Lalu dengan agak ragu aku berkata. “Kita kerumahku yuk.”

“Eh…? Tapi aku gak bisa. Lagi sibuk.”

“Kita beli es krim dulu. Aku traktir deh.”

“Oke…” matanya berbinar begitu mendengar kata es krim.

Oh, aku belum pernah merasa begitu lega setelah bicara dengan seseorang. Perasaanku jadi nyaman. Tapi… harusnya aku tahu semua gak akan semulus itu.

“Stop!”

Semua mobil terparkir di depan rumah. Mobil Papa. Dari dalam rumah terdengar jeritan mama. Dari pintu gerbang yang terbuka tampak Papa. Begitu dekat dengan Papa dan Mama, aku memberi salam dengan tenang.

Mama yang sedang menangis segera berhenti. Udara dingin menyelimuti kami.

“Tary, ada yang perlu kita bicarakan.” Suara mama bergetar.

Kasmir yang menyadari masalah, duduk di ruang tamu. Di ruang keluarga, papa duduk dengan gelisah. Mata Mama tampak merah. Aku langsung tahu bahwa Mama baru menangis. Aku bisa menembak apa yang akan dibicarakan. Karenanya, aku jadi jengkel melihat Papa dan Mama tak bersuara.

“Cerai?”

Mendengar kata-kataku, mama mengangkat wajah. Papa menatapku lalu berkata lirih. “Benar.” Bahu Mama tampak terguncang.

“Lalu bagaimana dengan aku?” aku bertanya dengan nada agak meninggi.

“Kamu sendiri yang memutuskan.”

Ah… rasanya kehidupan manapun tidak ada hubungannya denganku. Mungkin keadaan malah lebih buruk. Tidak bisakah ini berakhir tanpa cerai.

Ah… air mataku mengalir. Setelah sekian lama kering. Benar-benar bodoh! Papa dan Mama hanya memikirkan diri sendiri. Agak lama aku tenggelam dalam sedih dan…

“Kalian berdua benar-benar menggelikan!”

“Eh…?” aku terkejut mendengar Kasmir tiba-tiba ikut campur. Sepertinya Papa dan mama juga Kaget.

“Apa kalian tahu kalau Tary begitu sedih. Makhluk menyedihkan. Teganya kalian mengorbankan kebahagiaan darah daging sendiri demi kepuasaan ego. Cih… menggelikan.” Dia berbalik dan berjalan lambat menuju pintu keluar. “Kakak, terima kasih untuk es krimnya.”

***


“Ah, Kasmir!”

“Kakak!? Ada apa?”

Begitu selesai liburan, orang pertama yang kutemui di SMU Nusa adalah dia.

“Anu Kak, soal waktu itu… Aku mau minta maaf. Entah kenapa, aku jadi emosi dan ngomong macam-macam.”

“Gak apa-apa kok.”

“Tapi…”

“Justru berkata kamu, Papa dan Mama malah gak jadi cerai.”

“Eh…?”

“Ha…ha..ha…” aku tertawa riang. Tawa lepasku semenjak beberapa bulan ini. “Nanti aku traktir es krim deh.”

“Wow! Nice.”

***

“Oke. Untuk liburan tiga hari ini, kelas kita akan mengunjungi pesta kembang api di pantai.”

Seisi kelas mengangguk tanda setuju. Liburan tiga hari yang diberikan oleh sekolah di pertengahan semester dua memang waktu yang pas. Bertepatan dengan pesta kembang api. Dan sudah kuputuskan, akan kuutarakan perasaanku padanya hari itu.

***


Aku mengenakan pakaian favoritku. Blazer berwarna pink dan rok dengan warna senada. Ku rapikan rambutku. Tekadku sudah bulat. Cintaku akan kuungkapkan hari ini. Bertepatan dengan pesta kembang api.

Aku berjalan keluar villa yang di sewa oleh kelas. Dengan lambat aku berjalan menyusuri jalan setapak. Di depanku terlihat sesosok tubuh kokoh. Yos!

“Lho, sedang apa kamu di sini?” Tanyaku heran.

“Liburan.”

“Memangnya kelasmu gak punya acara sendiri?”

“Jadi aku di larang ke sini yah?”

“Ah… gak kok.”

Ku tatap arloji yang melekat di tangan kiriku. Jarumnya menunjukkan tepat pukul 09:00. Sudah waktunya. Tadi aku telah menulis sepucuk surat padanya.

“Maaf yah. Aku ada urusan.”

Aku berlari cepat ke taman. Berlari mengejar cinta. Meski belum tentu itu yang kudapatkan.

***

Di bangku taman kulihat dia telah menunggu. Dengan baju kaos hijau dan ransel yang setia menemaninya. Aku berjalan pelan ke arahnya.

“Kakak, ada apa?”

“Ehm, gak usah panggil kakak.”

“Tapi Kak…”

“Tolong sekali ini saja.”

“Baiklah. Ada apa kamu memanggilku ke sini?”

Ku tatap wajahnya. Wajah yang begitu teduh. Kukumpulkan semua keberanian yang ada di setiap selku. Bersiap untuk menerima segala kemungkinan.

“Kasmir, aku…aku… suka kamu.”

“Eh?”

“Aku suka sama kamu.”

Mukaku memerah karena malu. Aku menunduk dalam. Tak berani menatap wajahnya. Rasanya malu sekali.

“Tary…”

“Ya?”

“Aku…”

“Gak usah dijawab sekarang.”

“Eh…?”

“Aku tunggu kamudi tepi pantai. Kalau kamu terima, datanglah sebelum pesta kembang api dimulai.”

Aku berlari kencang meninggalkan tempat itu. Bersiap dengan segala kemungkinan.

Tanpa ku ketahui, Yos keluar dari semak-semak. Dia berjalan ke arah Kasmir.

“Kamu akan datang?”

Kasmir tertunduk dalam. Dia diam.

“Kamu mengerti perasaannya bukan!”

“Tentu saja tapi…”

“Kamu…” Dengan marah Yos mencengkram kerah baju Kasmir.”Kamu tahu kalau dia itu suka sama kamu bukan…”

“Bagaimanapun, umurku Cuma sampai 18 tahun. Lagi pula, aku sudah punya…”

“Cih…”

Yos berbalik dan melangkah pergi dengan emosi.

“Seandainya kita tidak berteman sejak kecil, kamu sudah aku hajar dari tadi.”

***

Aku duduk menatap laut. Laut yang tanpa dasar dan tanpa ujung. Ombak bergulung kecil seperti berkejaran ke arahku. Kutatap garis pertemuan langit dan laut yang berwarna kelabu.

Aku menunggu… Menunggu… Dan menunggu…

Semenit…lima menit…sepuluh menit…lima belas menit…

Aku menatap tempat kembang api nantinya akan diledakkan. Lima menit lagi aku akan tahu jawabannya. Tinggal menunggu api kemerahan menoreh langit.

Kutatap arloji yang terus setia menemaniku. Akhirnya, waktunya telah tiba…

5… Kutahu dia tak akan datang

4… Mungkin aku memang tak cocok untuknya

3… Sia-sia semua perasaanku padanya

2… Tidak ada harapan lagi

1… Semuanya telah berakhir

Dan…

Aku menoleh ke arah pesta kembang api. Semestinya mereka telah menembakkan kembang api dari tadi. Tapi, entah kenapa kembang apinya masih belum meledak. Tapi itu bagus untukku. Memberiku lebih banyak harapan.

Dari kejauhan, kulihat siluet bayangan tubuh seseorang. Berjalan mendekatiku. Mungkinkah…

Makin lama, bayangan itu makin mendekat. Sesosok tubuh yang basah kuyup oleh air laut. Sesosok tubuh yang kukenal.

Bang!!!! Kembang api berwarna merah menerangi tempat itu. Menampakkan dengan jelas wajah orang itu.

“Maaf.” Yos berkata dengan sedih.

“Eh…?”

“Dia gak akan datang.”

“Ha…ha…ha…” Aku tertawa.”Ternyata memang aku lebih cocok untuk menjadi ‘Kakak Cantik Tapi Pemarah’ baginya.”

Aku terus tertawa. Menertawakan cinta pertamaku yang kandas dengan sukses.

“Sudahlah. Kalau kamu ingin menangis, silakan.”

Perkataan Yos membuatku tak sanggup menahan luapan sedih. Aku terduduk di pantai berpasir itu. Menangis sekencang-kencangnya. Melimpahkan semua sakit.

Aku terus menangis lama. Mengeluarkan semua air mata yang sempat kukumpulkan malam itu. Semuanya.

“Puas?” Yos menepuk kepalaku lembut.

“Hiks…hiks..hiks…” aku mengusap air mataku pelan. “Thanks yah.”

“Ah, bukan apa-apa kok.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa basah begitu?”

“Oh ini. Tadi aku mengacaukan pesta kembang api.”

“Hah…? Buat apa.”

“Supaya biarpun dia gak datang, kamu gak akan sedih.”

“Eh?” Perkataan Yos mau tidak mau membuat wajahku memerah.

“Sudahlah, ayo kita ke pesta…”

Yos mengulurkan tangannya. Ku sambut uluran tangan itu. Tangan yang lembut dan hangat. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi?


***

Your rating: None Average: 4 (2 votes)
dikirim addang13 6 minggu 5 hari yang lalu
Tag: