Pusara Cinta

10
points

Semua harapanku pupus. Tubuhku gemetar menahan perasaanku yang bergejolak melebihi ombak yang paling dasyat sekalipun. Aku ingin menangis dan berteriak sekuat-kuatnya. Ingin kucaci – maki dan kutunjuk-tunjuk muka Farhan yang tampak pucat karena rahasia busuknya selama ini akhirnya kuketahui juga.
Sebulan yang lalu ia telah mendatangi kedua orang tuaku untuk melamar dan menentukan tanggal pernikahan kami.Tapi, bagai petir yang menyambarkku disiang hari! Farhan ternyata telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Seorang mahasiswi. Hamil! Parahnya lagi kandungan itu mereka gugurkan karena hendak menutupi aib akibat perbuatan terkutuk itu!
Hatiku hancur. Dunia terasa kiamat bagiku. Waktu yang kulalui berjalan begitu lambat seakan meratapi tangis dan lukaku yang begitu dalam. Diatas sajadah usang yang setia menemaniku. Aku bersujud mengadukan segalanya kepada Allah yang selama ini kulupakan. Aku tidak tahu apakah Ia akan mendengarku.
“Ampuni aku yaa Allah! Maafkan aku bila apa yang menimpaku ini adalah akibat lalai dan kesombonganku yang tak menghiraukanMu. Kepada siapa aku mengadukan keluh kesahku jika bukan kepadaMu. Tolong aku wahai Allah! Tolong aku……”
Air mataku deras mengalir bagai hujan. Isakku tak mampu lagi kutahan. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku hanyut. Jiwaku terbang melintasi batas ruang dan waktu. Aku terkulai tak sadar. Entah berapa lama. Aku hanya tahu saat aku terjaga azan shubuh itulah yang membangunkanku,
Assholaatu khoirum minan nauum!
Assholaatu khoirum minan nauum!
Air wudhu yang membasuh mukaku kurasakan begitu sejuk. Ada sedikit kelapangan dan ketenangan yang menguatkanku.
“ Kiranya Engkau menjabah rindu dan harapku yaa Allah…” aku berdoa
Khusyuk kutunaikan sholat shubuh. Dzikir sesudahnya mencurahkan kembali airmataku. Tapi bukan airmata kesedihan dan keputusasaan. Airmata ini adalah air mata kedamaian.
Sementara pagi kian tersibak matahari yang seakan tak sabar menyapa bumi. Hari-hariku kuhabiskan dirumah bersama Umi dan Abah. Sementara saudara-saudaraku semuanya telah berkeluarga dan menetap di Jakarta. Aku berhenti bekerja setelah kejadian itu dan menjadi gadis rumahan. Aku ingin melupakan semuanya dan menata hidupku kembali.
Setidaknya sekarang aku mempunyai kegiatan mengajar anak-anak mengaji bersama kedua sahabatku, Nabila dan Putri. Keduanya santriwati dipondok pesantren peninggalan kakek buyutku. Abah yang meneruskannya. Tapi walaupun demikian, aku tetaplah gadis biasa. Aku tidak merasa sebagai seorang yang istimewa karena sampai saat inipun aku hanya mengenakan jilbab bila ada acara dan kegiatan keagamaan saja. Sedapat mungkin aku jalankan yang kubisa. Aku mungkin terlalu lemah. Aku tidak tahu. Aku hanya berharap semoga Allah tetap sayang kepadaku dengan segala kekurangan dan kebodohanku.
Ba’da magrib.
Anak-anak telah berdatangan dan berkumpul dalam masjid. Nabila dan Putri telah mengambil tempat masing-masing untuk menyimak bacaan anak-anak secara bergantian.
Disatu sudut pandanganku tertumbuk sesosok gadis kecil berusia delapan tahun yang tampak murung. Aisyah namanya. Wajahnya begitu cantik dengan jilbab biru tua yang dikenakannya. Matanya tampak berkaca-kaca.
Kuhampiri ia.
“Aisyah kenapa? Sakit ya?” sapaku seraya memegang kedua tangannya.
Ia diam. Kepalanya teranguk-angguk menahan isak yang sepertinya akan meledak. Sesaat kemudian tangisnya pecah. Kupeluk ia. Kesedihannya terasa mengiris hatiku. Sungguh aku tak tahan melihat orang menangis terlebih melihat anak kecil seperti Aisyah yang semestinya tertawa dan ceria.
“Aisyah kenapa? Cerita dong sama Mbak. Siapa tahu Mbak bisa Bantu?”
“Aisyah rindu sama abi…” tangisnya makin menjadi.
Yaa Allah! Aku menghela nafas panjang.
“Ya sudah. Aisyah harus sabar ya? Aisyah berdoa saja semoga nanti Abinya datang dan bisa bertemu dengan Aisyah. Aisyah harus percaya kalau Allah pasti akan mengabulkan doa Aisyah”
Kuusap airmatanya. Punggungnya kuelus dengan harapan ia bisa tenang.
Ia tersenyum. Tampaknya ia terhibur.
“Mmm,ayo kita mulai mengaji.Bacaan Aisyah sudah sampai Juz berapa?”
Aisyah membuka Al qurannya. Ada sebatang lidi yang diselipkan sebagai batas bacaannya sekaligus penunjuk huruf.
“Masuk juz 28 mbak.”
“Wah, sebentar lagi khatam dong?”
“Amiinn..” sahutnya sambil tersenyum
***
Ba’da Isya
Mataku terasa berat sekali. Kubaringkan tubuhku. Jam dinding telah menunjukkan pukul 20.15 . Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Sebuah pesan masuk.Tapi aku begitu malas membukanya. Kuambil Al quran sakuku. Kubaca terus sampai kantuk menyergapku. Dan aku tertidur sementara mushaf itu tertelungkup didadaku.
Alarm handphoneku memekik-mekik. Aku terjaga pukul 03.30. Kuletakkan Al Quran diatas meja. Kumatikan alarm yang masih berbunyi. Sebuah pesan masuk tadi malam ternyata belum kubuka. Penasaran sms itu kubaca.
“Assalamualaikum, pa kabar? Lagi ngapain? Sibuk ya?”
Sebuah nomor yang tidak kukenal.
“Ah, paling juga orang iseng.” Pikirku.
Tak kupedulikan pesan itu. Bergegas aku kekamar mandi. Gosok gigi dan berwudhu. Sholat malam telah menjadi rutinitasku sehari-hari. Alhamdulillah, sejauh ini aku begitu menikmatinya. Sesudahnya aku biasa tilawah Al quran atau sekedar menghafal beberapa ayat yang kusuka.
***
Seminggu berlalu.
Ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk membuka kembali sms itu dan membalasnya.
“Maaf ini siapa? Tahu darimana nomor saya?” sebuah pesan kukirim.
Tidak beberapa lama kemudian sebuah sms balasan kuterima.
“Wah, maaf, ini mas apa mbak ya? Saya salah kirim. Sekali lagi maaf ya?”
“Ya nggak apa-apa.” Aku singkat membalasnya.
Tidak beberapa lama kemudian handphoneku berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak kukenal itu. Ragu aku menerimanya walaupun akhirnya kuangkat juga.
“Assalamualaikum” Suara seorang lelaki mengucapkan salam. Berat tapi terdengar bersahabat.
“Walaikum salam” aku membalasnya
“Maaf mbak. Saya Thoriq. Mengenai sms yang pernah saya kirim dahulu benar-benar saya salah nomor. Saya jadi merasa bersalah nih…:
Aku menahan geli. Kok bisa ya? Aku membatin.
“Mmm, ya nggak usah terlalu dipersoalkan mas. Aku juga nggak merasa dirugikan kok.”
“Oia, kalau boleh saya tahu, sekarang ini mbak di Jakarta ya?”
“Bukan. Aku di Jokja!”
“Ooo, kirain di Jakarta.”
“Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Teman yang hendak saya hubungi itu di Jakarta”
“Ooo..” Jawabku pendek.
Dan selanjutnya percakapan kami terus mengalir begitu saja. Sepertinya Thoriq orangnya baik. Atau mungkin aku yang terlalu polos? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, hari-hari berikutnya ia sering menghubungiku atau sekedar mengirim sms menanyakan kadaanku. Setelah sekian lama aku mengenalnya walau hanya lewat telepon saja kuketahui Thoriq seorang duda. Ia bercerai dari istrinya dua tahun yang lalu. Ia seorang penulis lepas yang biasa menjual tulisannya kebeberapa penerbit. Hanya itu yang kuketahui. Sejauh ini hubungan pertemanan kami baik-baik saja. Ada beberapa foto yang ia kirim kepadaku. Saat pertama kali kulihat, entah mengapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap hatiku. Aku merasa dekat dan seperti pernah melihatnya, tapi entah kapan dan dimana?
“Assalamualaikum?” Salam Thoriq tedengar jelas menyapa di telepon gengamku. Terus terang aku sangat senang karena sudah tiga hari ini ia hanya mengirim sms.
“Walaikum salam. Mas apa kabar?” aku mendahului menanyakan kabarnya
“Alhamdulillah baik. Dila juga apa kabar?”
“Baik. Bagaimana tulisannya? Sudah selesai?”
“Sudah.Tapi belum diedit. Oia, besok lusa aku rencananya mau berangkat ke Jokja ada pertemuan para penulis.”
“Kejokja?” Tak sadar aku berteriak. Terdengar bodoh sekali.
“Lho!Kok kaget sih?”
“E, mm, nggak! Nggak apa-apa kok..”
“Nanti aku mampir kerumahnya Dila ya. Sekalian silaturahmi sama Abah dan Umi.”
“Iya deh..Dila tunggu ya,…”
“Iya.assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
Sama sekali diluar yang kubayangkang. Saat Thoriq benar-benar datang kerumahku. Sosok dan sikapnya terus terang kuakui telah memikat hatiku. Terlebih sambutan kedua orang tuaku juga baik dan tampak senang dengan sopan santunnya. Pertemuan yang hanya beberapa jam itu ternyata menjadi awal yang baik. Setelah kepulangan Thoriq, orang tuaku menanyakan tentang hubungan kami. Tapi, aku sunguh tak mampu menjawab apa-apa, kecuali hanya teman, walaupun aku mengharapkan lebih dari itu. Tapi sebagai seorang wanita aku merasa tak mungkin untuk mendahului, terlebih trauma masa lalu yang membuatku sangat terpukul dan sampai sekarangpun terkadang bayangan itu datang menghantuiku. Aku hanya berharap Allah memudahkan dan memberikan keajaiban bila benar Thoriq adalah jodohku yang terbaik.
Dan, sunguh keajaiban itu memang ada. Setidaknya ia datang kepadaku. Pun, dihari ini. Thoriq menelponku. Diawal pembicaraan semuanya berjalan seperti biasa sampai akhirnya ia mengutarakan keinginannya untuk menjadikan aku istrinya. Tubuhku berkeringat dingin. Aku gemetar dan suarakupun bergetar. Antara percaya dan tidak. Setitik keraguanpun muncul dari dalam hatiku. Aku terdiam. Fikiran dan perasaanku berkecamuk.
“Halo? Dil? Dila?” suara Thoriq di handphone menyentakku.
“E,iya? Maaf! E..” Aku gugup
“Dila kenapa? Marah ya? Maaf bila aku terlalu cepat mengutarakan keinginanku”
“Enggak apa-apa kok, mas. Aku hanya kaget. Aku..”
“Yaa aku tahu, kok…” Thoriq menyelaku, “Aku juga tidak minta jawaban Dila sekarang. Dila boleh berfikir dulu kok. Aku juga enggak mau nanti dibelakang hari semuanya jadi penyesalan. Karena bagaimanpun juga aku sadar kok dengan statusku sekarang ini dan enggak mudah bagi orang untuk menerimanya, apalagi mau menjadikan aku sebagai suami..”
“Mas jangan ngomong kayak gitu dong. Kan mas sendiri yang bilang kita jangan suudzan.Aku hanya perlu membicarakannya kepada abah dan Umi. Itu saja kok. Insya Allah ya mas, kalau sudah jodoh tak akan kemana. Dan aku yakin kalau memang mas menjadi suami aku, itulah yang terbaik yang Allah berikan untuk aku.”
“Terimakasih Dila. Aku tak menyangka akan bertemu perempuan sebaik kamu. Semoga saja Allah redho dan memberikan kemudahan untuk kita ya”
“Amin..”
Beberapa hari kemudian. Setelah berbicara dengan kedua orang tuaku yang ternyata tidak keberatan dengan pilihanku. Aku menelpon Thoriq menyatakan kesediaanku menjadi istrinya.
“Terimakasih Dila. Aku bahagia sekali. Alhamdulillah, Allah datangkan juga gadis terbaik untukku.”
“Amin. Tapi sepertinya kita harus lebih berhati-hati ya mas. Masa-masa seperti ini adalah masa-masa yang rawan. Kita harus lebih bisa menjaga hati supaya niat kita tetap bersih karena Allah.”
“Insya Allah. Semuanya akan baik-baik saja. Aku juga akan secepatnya melamar ke Abah dan Umi. Dila yang sabar ya. Mas juga sekarang lagi mempersiapkan segala sesuatu nya.”
“Iya deh. Mas juga hati-hati ya.”
“Iya, Insya Allah.”
Dan itulah adalah pembicaraann kami yang terakhir. Dua hari sesudahnya Thoriq mengirim sebuah sms.
“Dila yang baik. Apa Kabar? Semoga baik-baik ya. Mmm, maaf aku baru sempat sms sekarang, maklum sibuk sih. Jaga diri baik-baik ya!”
Ada perasaan haru yang tiba-tiba menyelimutiku. Aku merasa Allah begitu sayang padaku. Bagaimanapun juga ia tetap memperhatikanku dan senantiasa membahagiakanku, walau terkadang aku juga mengeluh dan menangis mengadu.
“Alhamdulillah baik. Mas juga baik kan? Ya, aku ngerti kok. Mas juga jaga diri baik-baik ya.” Aku membalas smsnya.
Akan tetapi, hari-hari sesudahnya berjalan sepi. Aku terjerat kesendirian yang menyiksa bathinku, karena Thoriq tak lagi menghubungiku dan setiap aku mencoba menghubungi handphonenya yang ada hanyalah jawaban dari operator yang menyatakan nomor sibuk atau diluar jangkauan. Segala fikiran dan syak wasangka menghantuiku. Aku tak mampu lagi berfikir jernih. Aku murung dan lebih banyak mengurung diri dikamar. Hanya Mushaf kecil itu yang sedikit banyak menghiburku. Sedapat mungkin aku bertahan dan aku tak mau terjerat bisikan Iblis yang menggoncang hatiku seakan Allah telah meninggalkanku. Yaa, Robbi….tolong aku!
Kulihat sosok Thoriq dikejauhan. Wajahnya begitu indah dan senyumnya manis sekali. Ia mendekatiku. Sebuah bungkusan ia berikan kepadaku.
“Terimalah ini sebagai tanda cintaku kepadamu Dila. Selamanya aku mencintaimu dan jadilah Bidadariku bila saatnya tiba dan kita berbahagia di surganya Allah. Maafkan aku Dila, karena aku tidak dapat memenuhi janjiku sekarang. Tapi, aku akan menungumu selamanya disini. Tetaplah dijalan yang telah kita lalui bersama agar engkau dapat menemuiku. Selamat tinggal, sayang!”
Sosok Thoriq menjauh. Cahayanya hilang bersama kabut putih dan harumnya yang juga pergi dibawa angin yang tiba-tiba bertiup kencang sekali. Aku berteriak. Aku menangis. Kupanggil ia tapi suaraku hanya berputar-putar.
“Masss! Mas Thoriq! Jangan tinggalkan aku masss! Yaa Allah! Apa yang sesungguhnya terjadi?!” Aku menjerit histeris. Aku berontak tapi apa dayaku karena Thoriq juga tak kulihat lagi.
“Dil! Dila! Bangun nak! Bangun!” umi yang panik menggoncangkan tubuhku. Aku terbangun sambil terus menangis . Kupeluk Umi. Mimpi itu terlalu nyata bagiku.
“Sabar!Istighfar nak!Istighfar!”
“Astghfirullah! Astghfirullahalazhim!” aku beristghfar berulang-ulang.
***

Tiga hari kemudian.
Handphoneku berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari nomor Thoriq. Aku yang menanti setelah sekian lama seolah mendapat karunia dari surga. Kuangkat hpku.
“Assalamualaikum?” Suara seorang lelaki mengucapkan salam. Tapi jelas itu bukan Thoriq.
“Walaikum salam!” aku membalas salam itu penuh tanda tanya. Hatiku tiba-tiba bedebar.
“Ini benar Dila?”
“I,iya? I..ini siapa?” aku semakin gugup
“Maaf, saya Ahmad. Saudaranya Thoriq.Mmm.., Dila yang sabar ya?”
Aku tersentak. Jantungku berdegup kencang. Perasaanku tidak enak. Keringat dingin mengucur dikeningku. Tiba-tiba aku begitu sedih dan merasa kehilangan. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis. Yaa Allah! Allahumma ya Robbi! Apa yang terjadi?
“Thoriq telah tiada. Maaf, aku baru tahu kalau ia telah mempunyai Dila sebagai calon istrinya.” Bergetar suara Ahmad mengatakan itu.
Aku mendekap mulutku. Handphoneku terlepas. Aku tertunduk. Semua persendianku lemas dan tenagaku hilang. Sesak menyesak nafas di dadaku. Disudut kamar airmataku tumpah bagai air bah. Hatiku hancur. Langit seakan runtuh bagiku. Aku diguncang badai yang meluluh lantakan jiwaku.
Abah dan Umi berusaha menghiburku. Tapi duka dan luka kehilangan ini begitu dalam menghujam hatiku. Entah berapa lama aku dalam keadaan seperti itu. Semangat hidupku sirna. Aku hanya dapat menangis dan terus menangis.
Tak ada lagi matahari dan bulan bagiku. Tak ada lagi semangat dan cahaya kehidupan pada dirku. Waktu seakan berhenti menyiksaku . Aku bahkan tidak peduli kepada abah dan umi yang terus dan sabar mendampingiku.
***
Disamping tanah merah yang kutaburi bunga. Didalamnya terbujur lelaki yang membuatku bagai jasad tanpa nyawa. Ditemani Abah, Umi dan Ahmad aku berdoa untuknya. Untuk Thoriq yang tak tergantikan. Ia yang menjadi karunia tapi begitu cepat ia pergi. Aku tak mampu memanahan airmataku. Aku kembali menangis untuk yang kesekian kalinya.
“Yaa Allah! Dengan apa lagi kuutarakan kesedihanku? Engkau lebih tahu betapa luka dan dukanya hatiku. Tolonglah aku wahai Allah! Terimalah hambaMu yang kucintai ini disisimu dan kuatkanlah hatiku atas takdirMu yang tak mampu kuhindari ini. Biarkan Engkau saja yang menjadi tambatan dan harapanku didunia ini wahai Allah! Sampai tiba janjiku dan Engkau pertemukan aku dengan ia yang telah mendahuluiku…” Tangisku kian menjadi. Aku tak bisa lagi mengadukan segala perasaaku. Dunia Tiba-tiba berputar. Pandanganku gelap. Pendengaranku terasa tuli. Aku pingsan.
Diatas dipan di kamar Thoriq aku terbaring. Abah dan Umi masih menungguiku. Pun Ahmad dan beberapa orang kerabat dekatnya.
Aku mencoba bersandar dengan bantal yang mengganjal pungungku.
“Syukurlah engkau sudah sadar, anakku” Umi memegang tangan dan mencium wajahku. “Sabar ya nak! Sabar! Jangan terus seperti ini. Dila harus percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.”
Mataku terasa panas dan airmataku menggenang.
“Dila.” Ahmad berkata, “Ini ada titipan dari Thoriq . Aku tidak tahu apa isinya karena tak ada satupun dari kami yang berani membukanya.”
Bungkusan itu kuterima. Didalamnya, sebuah jilbab berwarna putih terlipat rapi. Ada sebuah surat yang ditulis Thoriq dan sebuah foto yang membuatku sangat terkejut dan tak percaya. Foto Aisyah. Gadis kecil yang begitu dekat dihatiku dan selalu murung bila ia teringat ayahnya yang entah dimana. Yaa Allah!
“ Assalamualaikum….” Surat itu kubaca, “Dila, saat kau baca surat ini aku harap engkau tetap baik-baik saja dan jangan menangis ya sayang, walau aku telah pergi tanpa sempat pamit kepadamu. Aku mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi sebenarnya penyakit jantung ini telah lama menderaku.
Dil, walaupun pada akhirnya kita tidak dapat menjadi suami istri, tapi jangan bersedih ya? Yakinlah inilah yang terbaik untuk kita semua. Dila harus tetap istiqomah dan percaya sampai Allah mempertemukan kita nantinya. Tetap dijalan yang kita lalui bersama ya Dil, dan jaga diri baik-baik. Semoga Jilbab yang aku berikan dapat menjaga kehormatan Dila sebagai muslimah yang seutuhnya.
Dila, ini adalah foto anakku. Aku tidak tahu ia berada dimana. Bila suatu saat kau menemukannya. Tolong jaga ia demi aku ya? Dan sampaikan salam dan maafku. Katakan aku sangat sayang dan mencintainya.
Maaf ya Dil, bila semuanya harus berakhir seperti ini. Tapi percayalah inilah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita.
Selamat tinggal sayang! Baik-baik ya. Assalamualaikum…
Yang selalu mencintaimu..
Thoriq…”
Dan pandanganku kosong. Aku beku dalam takdirku. Yang kulihat hanyalah wajahku yang pucat membiru. Sementara aku terbang melintas diantara tangis yang semakin lama semakin sayup kudengar.
Beban ini terlalu berat bagiku.

_______________________________________

Your rating: None Average: 3.3 (3 votes)
dikirim arrahman_kemudi... 6 minggu 5 hari yang lalu
Tag: