2nd...2nd... ^__^
pernah kirim ini ke kompas tapi ditolak hikshikss
tapi tetep smangatt dong,,dong,,dong,,
temen" yg baikkkk... dibaca yahh...
diterima saran, kritik, pesan, kesan, apapun itu namanya..
:D
trimssss
:P:D:D
MOKO DAN NOTO
Namanya Moko. Begitulah ia dinamai ketika dilahirkan. Di desa. yang suasananya tenang dan udaranya sejuk. Tapi lama kelamaan panas juga. Mungkin pengaruh pemanasan global yang sedang marak dibicarakan orang kota.
Ratna, Ibunya si Moko yang memberi nama itu. Aku tidak tahu alasannya sampai akhirnya aku gusar juga karena penasaran dan bertanya pula padanya, perihal nama itu. Moko.
“Supaya selalu ingat Noto,” jawabya diakhiri dengan senyum lembut nan manis ciri khasnya.
“Untuk apa? Kau kan sakit hati padanya,” kukerutkan alisku.
“Tapi kan yang akan kuingat kenangan indah bersamanya. Bukan luka yang ditinggalkan kepergiannya.”
Huh!
Jika ingat Noto aku malah ingin meninjunya. Memarahinya habis-habisan lalu menangis tersedu-sedu. Entah di mana dia sekarang. Matikah? Di mana kuburnya? Hidup, lalu di mana batang hidungnya? Masih segar dalam ingatanku. Noto, teman selahir, tumbuh di kampung ini bersamaku. Kami pernah sama-sama bergerilya pada masa perang kemerdekaan. Semangatnya begitu menggebu-gebu dan hasratnya murni. Perawakannya begitu bagus untuk menarik hati perempuan di seluruh kampung termasuk Ratna. Bersanding di pelaminan memang akhirnya Noto dan Ratna. Begitu serasi dan enak dipandang mata. Meski diam-diam aku juga mencintai Ratna. Memujanya setiap malam dalam tidurku, agar aku dapat menggandeng tangannya. Meski cuma mimpi. Dan tidak pernah juga terjadi dalam mimpiku. Tapi aku tidak pernah marah pada Noto, cemburu padanya. Aku bahagia ketika mereka akhirnya memutuskan menikah. Aku orang pertama yang diberitahu. Aku sahabat Noto. Lalu menjadi sahabat Ratna pula.
Jika akhirnya aku marah dan menyesali pernikahan mereka, kurasa wajar. Bagiku. Setelah menikah Noto hanya tinggal beberapa bulan saja dengan Ratna. Dia kemudian minta ijin untuk ke kota. Tempat yang tidak pernah dikunjunginya sama sekali.
“Di kota banyak yang bisa dilakukan. Aku akan dapat pekerjaan yang bagus di sana, dapat banyak duit,” kata Noto padaku.
“Kata siapa? Kau kan belum pernah menginjak kota,” sahutku.
“Itu, itu. Si Bara, dia kan dari kota. Aku akan ikut dia ke kota. Kau lihat kan dia, tiba-tiba saja jadi punya sawah, punya kerbau lima ekor, punya istri juga.”
“Jangan-jangan di kota ada juga istriya,” kutatap Noto dengan tatapan menggodanya.
“Ah, kau. Kalau istri cukuplah satu. Hahaha…”
Begitulah si Noto akhirnya pergi juga ke kota. Si Ratna yang lagi bunting tiga minggu hanya bisa ikhlas ditinggal pergi suaminya dengan janji-janji manis suaminya itu.
“Nanti hanya beberapa bulan aku akan pulang melihatmu dan calon anak kita ini,” kata Noto sambil mengelus perut si Ratna, “Di kota banyak baju bagus-bagus. Aku akan belikan,” katanya lagi.
“Pulanglah dengan selamat. Itu saja sudah cukup,” sahut Ratna. Sepertinya dia sudah benar pasrah dan siap mengahadapi hari-hari sepi ditinggal suaminya, walaupun mereka masih tinggal di rumah orang tua si Noto, bersama orang tuanya yang masih lengkap.
Selang beberapa bulan ketika perut si Ratna makin besar, si Noto pulang. Tapi Noto yang pulang ke kampong ini bukan Noto yang dulu. Parasnya memang masih sama, hanya pakaiannya dan gayanya yang berbeda. Apa itu adat yang ada di kota? Pikirku. Belum sempat berbincang dengannya, pada malam pertama kepulangannya, ketika lewat depan rumahnya, kudengar Ibunya si Noto menjerit-jerit. Ada juga suara orang teriak. Kudekati lagi sampai melongok dari pintu depan yang terbuka lebar dan melihat Ratna dengan mertuanya duduk bertiga di bangku kayu jati. Satu-satunya bangku panjang yang ada di rumah itu. Di sebelahnya bangku kayu jati ukuran bisaa, untuk satu orang.
“Ada apa?” tanyaku langsung. Si Ratna mendongak. Matanya sudah basah dan bengkak, namun yang sebelah kiri bengkaknya beda dengan yang sebelah kanan. Dia habis dijotos!
“Mas Noto…” katanya, belum lagi melanjutkan kata-katanya dia sudah menangis lagi.
Noto muncul dari dalam dan agak kaget melihatku. Ia diam sebentar. Akupun termangu. Bingung.
“Hei, kawan, apa kabar?” kata si Noto meremas lengan tangan kananku.
“Apa yang terjadi, No?” tanyaku.
“Ah, bisaa. Mereka tidak suka aku bawa uang banyak dari kota.”
“Mereka siapa? Orang tuamu? Ratna? Apanya yang bisaa? Mereka tidak bisaa ketakutan padamu!” sahutku. Agak keras suaraku.
“Kaupun tidak senang aku pulang,” Noto memandangku tajam. Seperti ada nyala api dalam matanya. Tak pernah aku merinding sampai saat ini karena tatapannya. Ini bukan Noto, kataku dalam hati.
“Memang, kau iri melihatku,” katanya lagi.
“Apa maksudmu?” tanyaku, tersinggung. Apa yang kuiri darinya? Tak ada. Hanya satu. Ratna. Itupun tidak ada yang tau, tidak juga Noto.
“Aaahhh.... pergi sana. Bukan urusanmu, urusanku!” Noto medorongku sampai keluar pintu. Lalu dia membanting pintu depan rumah itu. Mengunci keluarganya didalamnya.
Aku tidak dapat berbuat apapun. Memang bukan urusanku urusan keluarganya. Selanjutnya aku sering melihat Noto bertingkah layaknya preman pasar. Perangainya kasar dan tak dapat diduga. Sebentar dia muncul di warung Beo sambil makan gorengan dan minum kopi lalu tiba-tiba dia sudah mengobrol dengan perempuan di ujung pasar. Lalu sampai di rumah keluar lagi sambil marah-marah. Terlihat olehku jika aku melewati rumahnya dan si Ratna berdiri di ujung pintu menatap hampa kepergian Noto. Dibelakangnya berdiri Ibunya si Noto, menunduk.
Lalu kudengar kabar si Noto sudah pergi lagi ke kota. Uang yang dibawanya dia juga yang menghabiskannya karena orangtuanya tidak mau memakai uang yang dikatakan haram itu. Begitupun Ratna. Di masa kehamilannya dia membantu mertuanya mengurus sepetak sawah milik mertuanya itu. Tidak pernah dipakainya baju bagus dari Noto yang dibeli di kota. Tapi baju itu disimpan baik-baik. Ketika kutanyakan kenapa tidak diterima uang dari si Noto dan kenapa bajunya tidak dipakai, Ratna terlihat cemas. Akhirnya dia mengatakan juga padaku kalau si Noto di kota hanya jadi gigolo. Simpanan wanita kaya di kota. Aku kaget benar-benar kaget.
“Mas Noto bilang wanita itu baik mau memberi apa saja yang dia mau,” kata Ratna. Kesedihan masih nampak di matanya.
“Dia mengaku jadi gigolo? Jadi simpanan?” tanyaku masih penasaran saja.
“Ya. Dia minta aku bisa mengerti, Bapak dan Ibu juga. Tapi tidak ada yang mau mengerti. Aku tidak mau. Biar hidup begini, sudah cukup. Hatiku bahagia jika saja mas Noto tidak usah bawa uang banyak dari wanita kaya itu. Tidak usah bawa apa-apa, asalkan tidak jadi simpanan wanita kaya,” lalu air mata menetes dan mengalir tenang dari kedua matanya.
Aku tertegun.
“Wan, jangan bilang siapa-siapa. Jangan singgung-singgung juga jika bicara dengan Bapak dan Ibu,” katanya sambil melap air mata, “Aku mengatakan ini padamu saja. Tidak ada yang lain. Tidak ada yang bisa dipercaya. Semua hanya akan menertawakan dan menyindir-nyindir. Lihat saja sebentar lagi bahkan kemarin sudah terdengar kabar burung tidak enak tentang mas Noto. Tapi sudahlah. Biarlah mereka bicara apa aku tidak peduli. Bapak dan Ibupun sudah bersiap tidak mendengarkan kata mereka.” Matanya tajam menatapku. Lalu kemudian mengendur lagi dan disunggingkannya senyumnya. Senyum yang sampai saat ini membuatku bungkam.
“Aku hanya ingin hidup untuk anakku saja,” dielus lembut perutnya yang besar itu.
Ah, seandainya saja aku yang menjadi suamimu. Seandainya saja itu anakku. Anakku. Dan kau istriku. Mengapa bukan aku saja. Karena hatiku terasa pedih dan hancur, aku minta diri dan segera berlari. Menjauh darinya. Dari Ratna.
Tak lama kemudian si Moko pun terlahirlah. Aku jadi merasa ingin melindungi anak itu dan Ibunya. Entah apa maksud hatiku sebenarnya. Aku jadi sering ke rumah mertuanya si Ratna untuk melihat keadaannya dan anaknya itu, Moko. Mertua Ratna pun tak pernah keberatan tentang kedatanganku yang setiap hari bahkan dalam sehari bisa sampai dua tiga kali aku datang dan lama pula. Memang sedari kecil aku bisaa main ke rumah itu, ke rumah Noto. Dan sekarang meski Noto tidak ada aku tetap ke sana untuk Ratna dan anaknya.
Kutemukan suatu saat isi hatiku. Entah harus bersyukur atau tidak atas kepergian Noto tapi kurasa ini kesempatan untukku, untuk mendekati Ratna. Aku juga telah sayang pada anaknya itu. Suatu ketika aku merasa sangat kurang ajar seolah menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Berbahagia di atas penderitaan orang lain. Bagaimana jika Noto ternyata menderita? Meski dulu aku juga menderita sendiri tanpa ada yang tau. Tapi perasaan ini memang murni dari dasar hatiku. Aku tak mampu memungkirinya tapi juga tak sanggup menerima kenyataan jika ternyata Ratna menolakku. Akhirnya suatu hari aku menjumpai Ratna seperti bisaa di rumah mertuanya. Dengan maksud mengutarakan isi hatiku. Bahwa selama ini aku mencintainya. Bahwa aku mencintainya sebelum Noto mencintainya dan sebelum Ratna bahkan mengenalku. Ratna tertegun melihatku. Ia menunduk lalu menatapku lagi. Lalu tersenyum.
“Lalu, apa yang kau inginkan?” Tanya Ratna. Membuatku bingung. Bingung harus bilang apa. Haruskah aku mengatakan aku ingin menikahinya? Ingin ia menjadi istriku? Aku ingin memperistri dia. Itu yang kuinginkan!
“Apakah kau menerima cintaku?” tanyaku.
Ratna tersenyum, “aku selalu menerima cinta siapapun. Tidak terkecuali kau, Wan. Aku menyayangimu. Seperti saudaraku.”
Hancur. Hatiku remuk mendengar Ratna mengatakan “seperti saudaku”. Mungkin memang hanya itu bagianku di dalam hatinya.
Lalu Ratna mengatakan lagi,” Maafkan aku, Wan. Di hatiku tidak pernah ada laki-laki selain Noto. Sampai selamanya begitu. Aku tidak bisa mengubahnya.” Ratna menyentuh tanganku. Tangannya terasa lembut dan hangat.
Sejak itu aku tidak pernah menyinggung soal perasaanku lagi pada Ratna. Semua berjalan sebagaimana bisaa. Aku tidak pernah absent mengunjungi Ratna dan anaknya. Orang tua Noto pun senang dengan kedatanganku. Mereka beberapa kali menyingung tentang usiaku, maksudnya untuk menikah. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya. Kemudian Ratna juga menanyakannya padaku. Aku pun hanya tersenyum saja.
Hanya beberapa lama saja rasanya, si Moko sudah bisa merangkak, berjalan, berkata-kata, berlari dan menjadi anak yang berbahagia. Aku menyaksikan semua yang terjadi padanya sejak masa bayinya. Lalu dia masuk sekolah. Pulang sekolah dia akan berganti baju, makan, mengerjakan tugas sekolahnya kemudian main layangan dengan teman sebayanya. Jika tidak ada angin dia akan main gundu atau perang-perangan dan masih banyak yang dia mainkan. Aku tidak tau apa namanya satu persatu.
Jika akan tidur si Ratna akan menceritakan tentang si Noko, Ayahnya si Moko pada anak itu. Aku pernah mendengarnya dari ruang depan ketika Ratna berada di dalam kamar si Moko untuk menemaninya.
“Bu, ayo ceritakan lagi Ayah, Ayah bagaimana, bu?” kata si Moko. Bersemangat sekali kedengarannya.
“Hmm.. Ayahmu namanya Noto. Pagi hari dia akan bangun, lalu ke sawah membantu Kakek menanam padi dan sayur. Lalu dia akan memberi makan kambing…”
Dapat kudengar Ratna tertawa kecil dan kulihat si Moko tersenyum mendengar cerita Ibunya.
Beberapa kali aku mendengar Ratna menceritakan tentang Noko. Tidak sekalipun dia menyinggung tentang kelakuan terakhir Noko. Tidak sekalipun ia mengatakan tentang kepergian Noto ke kota dan kepulangannya lalu kepergiannya lagi. Setiap kali si Moko menanyakan kemana Ayahnya kini, maka Ibunya mengatakan Ayahnya pergi mengurus beberapa hal namun tidak ada kabarnya lagi. Ratna tidak pernah bilang Noto sudah mati. Karena memang tidak terbukti dan dia tidak berdusta pada anaknya.
Suatu hari kulihat si Moko berdiri di depan pintu. Menyandar pada ujungnya. Matanya menatap hampa ke luar.
“Ada apa, Mo? Apa yang kau tunggu?” tanyaku. Jongkok di hadapannya sehingga aku lebih rendah darinya.
“Ayah.”
Aku mengikuti arah matanya. Yang tak berarah. Tak berujung.
“Mungkin Ayah pulang hari ini,” Moko menatapku dan tersenyum. Senyuman ini, belum pernah kusadari sampai saat ini. Ia begitu mirip dengan Noto. Aku merasa sedang melihat Noto di masa kecilku.
Aku tidak pernah tau rasanya merindukan kehadiran seorang Ayah. Aku tidak pernah tau yang dirasakan Moko. Betapa hancurnya hati anak ini karena menginginkan Ayahnya. Karena itu aku selalu berusaha untuk meluangkan waktuku bersamanya. Mencurahkan kasih sayang padanya. Aku sungguh manyayanginya. Dan aku tau dia dapat merasakannya. Meskipun dia tetap merindukan Ayahnya dan aku tidak pernah bisa menggantikan Ayahnya. Moko pernah mendatangiku dan bertanya apakah aku mau menjadi Ayahnya. Usianya sepuluh tahun ketika itu. Ia tersenyum malu-malu. Mungkin ia menyesal mengatakan itu padaku.
Kakek dan Neneknya mendengar hal itu. Ratna juga. Mereka hanya diam.
Aku tersenyum dan mendudukkannya di pangkuanku. “Ayah Moko namanya Noto. Sampai selamanya namanya Noto. Paman Moko namanya Narwan. Sampai selamanya begitu,” kataku. Moko memelukku.
Ratna tersenyum padaku. Matanya seolah mengatakan, “terimakasih, kau telah mengatakan hal yang benar”. Begitu pun orang tua Noto. Dalam lubuk hati mereka aku tahu mereka tetap menyayangi Noto dan masih mengharapkan kepulangannya. Kuyakin Ratna pun demikian.
Tak pernah terasa begitu lama dan si Moko sudah menjadi pemuda. Tampan, pintar dan menyenangkan. Ratna berusaha keras agar Moko bisa sekolah dan masuk perguruan tinggi. Aku turut membantu apa saja yang dapat kulakukan. Dia telah kuanggap seperti putraku sendiri. Dan dia juga bersikap seorang anak padaku. Dia akan menceritakan apa-apa yang terjadi di kampusnya ketika dia pulang saat lIburan. Ibunya tersenyum bangga ketika akhirnya si Moko menerima gelar keserjanaannya. Menjadi sarjana hukum. Padahal sebenarnya si Moko ingin menjadi TNI tapi Ibunya tidak mengijinkannya. “Mo, kau satu-satunya milik Ibu,” kata Ratna dan Moko langsung memutuskan untuk menjadi pengacara. Hanya beberapa waktu setelah Moko menjadi sarjana, Ibunya sakit-sakitan. Lalu hanya beberapa minggu saja, dia menghembuskan napas terakhirnya. “ Ingat, Mo. Bagaimana pun Ayahmu, terimalah dia.” Ucapan terakhir Ratna membuatku merasa seolah Noto akan kembali lagi.
Lalu aku melihat Moko bersama seorang wanita yang waktu itu bersama si Noto. Di pasar. Aneh. Karena wanita itu tidak bertambah tua sedikitpun. Dan si Moko begitu mirip dengan si Noto. Memang dia sangat mirip dengan Ayahnya, tapi tidak semirip ini. Ketika kuikuti, kulihat lagi dia bersikap seperti Ayahnya dulu. Marah dan pergi. Aku takut. Aku sangat takut terjadi sesuatu pada Moko. Aku takut kehilangannya seperti aku kehilangan Noto. Tapi dia terus menjauh dan aku tidak dapat menggapainya. Suaraku tidak keluar meski kupaksakan dan kerongkonganku terasa kering. Kudengar sesuatu dari seberang. Bukan dari tempat ini, pikirku. Sebuah ketukan di pintu. Dan aku terjaga. Kubasuh mukaku dengan air dan kudengar lagi pintu diketuk. Kuhampiri, kubuka dan melihat Moko berdiri di hadapanku. Aku terkejut. Dia kembali. Moko telah kembali. Aku ingat kini. Moko pergi ke kota untuk bekerja dan baru ini dia kembali lagi.
Moko menyunggingkan senyum kecilnya dan memelukku. Tubuhnya begitu tegap dan kuat. Dia menjinjing tas hitam. Tas kerjanya.
“Paman tau? Aku baru saja menyelesaikan satu kasus dan aku gagal mencegahnya masuk penjara,” kata Moko ketika duduk di bangku kayu jati di dalam rumahku.
Aku tersenyum dan pergi ke dapur. Lalu kembali membawakan dua cangkir teh manis.
“Tapi aku sangat puas. Aku tidak menyesal,” kata Moko seraya menerima secangkir teh manis dari tanganku.
“Tidak apa-apa. Itu baru permulaan,” sahutku.
“Bukan itu. Memang dia pantas menerima hukumannya. Orang bersalah memang harus dihukum. Ya, kan?” lalu tatapannya menjadi tajam. Dikeluarkannya selembar dari tas hitamnya.
“Ini,” Moko menyerahkan lembaran itu. “Itu fotonya.”
Kuamati lembar foto di tanganku. Seperti… Astaga!
“Aku menerimanya, seperti yang dibilang Ibu. Tapi aku tidak bisa membantunya lepas dari hukumannya,” Moko tersenyum pahit.
“Apa dia mengenalimu?”
“Pada perjumpaan pertama dia langsung menangis melihatku. Selanjutnya dia menceritakan semua yang dilakukannya,” Moko menatap kosong. Aku melihat mata Ratna dan air matanya mengalir. Kutepuk bahunya. Lalu ia tersenyum, seperti Ibunya dulu.
Karawaci, 23 April 2008
dikirim Marlinang 10 minggu 6 hari yang laluTag:













