Villian

34
points

Geneva 7 juli 2007

"Cih penakut. Peluru tak pernah jadi begitu mengerikan saat masih dalam logam mentah. Kau hanya membiarkan mimpi itu mentah. Harapan kosong tambah rentanya dunia, dan itu milikmu."

Aku tersenyum miris, "Lalu... apa maumu?"

Parjo mengamit rokok sebelum menyalakannya, "Bangun. Darah yang berceceran itu bukan alasan untuk mengakhiri semuanya, konspirasi ini."

Lelaki kekar itu mendekat, ia menunduk. Aksinya tidak lagi secanggung dulu. "Cukup lama aku tak menyulutkan api untukmu. Mungkin tujuh tahun."

Tanpa ragu, ia memindahkan sebatang rokok di bibirnya ke tanganku yang penuh lumuran darah, darah korban tertolol dalam permainan nama.

"Cukup rumit juga mencari orang yang pernah memecahkan kasus bersamaku. Kau jitu." Parjo bergetar.

"Kenapa? Kenapa kau hanya membidik lenganku."

Ia tersenyum, tawanya retak, "Aku hanya ingin menangkap, bukan membunuh. Aku tak peduli kalau bagimu semuanya harus sampai mati."

Tangan ini terasa nyeri saat mengarahkan batangan rokok di tangan. Parjo juga tahu kalau tandon robek yang bergerak adalah sumber sakit tanpa bayangan.

Hembusan asap muncul setelah hisapan panjang, "Untuk apa kau menangkap aku?"

"Keadilan."

Aku meludah cepat. Asin. Mungkin darahku sudah tidak lagi berbeda dengan ludah. Kekehanku sengaja kukeraskan, "Apa keadilan membutuhkan semua ini?"

Parjo meletakkan pistol ke lantai. Ia meniru posisiku, menyadar lemas di diding kering. Ia sengaja memilih sisi kanan, sisi pavoritnya.

"Aku tak pernah tahu kalau keadilan membutuhkan ini semua." Ia meringis.

Satu aliran kurasa kembali, kali ini dari dahi, "Oh, darahku sepertinya akan habis dalam hitungan menit. Teman-temanmu berhasil menembuskan lima pelurunya ke tubuhku, mungkin lebih. Kau kalah. Kau hanya melempar satu peluru, itupun di lengan."

Parjo menitikkan air mata, "Tangan balas tangan. Pistol di lantai itu, arahkan ke lengan kananku."

"Bad joke! Tolong sejenak biarkan aku mendengar sirene untuk terakhir kalinya. Jangan bicarakan keadilan sekarang."

Lelaki besar diam, jemarinya menyeka titik air mata, "Kau Charles I yang aku kenal. Mati karena tafsir kebaikan. Bodoh! Kenapa harus percaya pada apa yang tidak dipercayai orang lain."

Aku tersungut, "Di situlah romans bergerak."

Parjo diam sesaat, "Kenapa aku dulu tidak membakar semua koleksi roman di kamar itu. Sial! Seharusnya aku tahu lebih awal tentang semuanya."

Nafasku tak bisa di tarik, makin berat. Sirene ambulan yang mendekat mengecil. Ada kabut keputihan menghalangi pandangan. Kilasan tatapan di akhir kurekam ekspresi Parjo nanar, ia seperti berteriak, tapi aku tak mendengar.

Cairo, 23 Juli 2008

Your rating: None Average: 5.7 (6 votes)
dikirim azura7 10 minggu 5 hari yang lalu
Tag: