Hayya...hayya
"Ia tahu pernikahannya sangat tidak bahagia. Wajar saja, ini bukan pernikahan yang ia inginkan. Ia terpaksa.
Ia ingat, betapa kacaunya ia saat Maria, wanita yang luar biasa dicintai, meninggal dunia. Dunia seolah jatuh menimpanya. Ia tidak bisa mempercayai itu. Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ia stres. Mungkin nyaris gila. Tapi bagaimanamungkin untuk mempercayainya, Maria yang kemarin masih mengatakan “sayang” padanya tiba-tiba di suatu pagi dikabarkan telah meninggal dunia. Bagaimanamungkin memepercayai sesuatu yang sedemikian cepat berubah?
Keluarganya sangat mengkhawatirkan dirinya. Berbagai jenis perempuan, mereka kenalkan. Itu membuatnya jengah hingga akhirnya marah besar, dan minggat dari rumah. Akhirnya ia pulang setelah mendapat kabar penyakit jantung ibunya kambuh lagi. Ia merasa berdosa sekali pada saat itu.
Keluarganya mendesak ia untuk menikah. Mereka bilang ibunya akan membaik jika ia menikah. Ia tetap mengelak. Maria adalah cintanya. Ia tidak bisa mencintai perempuan lain.
“Jadi kamu mau ibu mati”, kata Kakak perempuannya, Ina, dengan ketus.
Ah dunia jahanam. Mengapa ia yang harus disalahkan untuk semua ini. Ia ingin marah. Berontak. Tetapi akal sehatnya mencegah itu. Jika sesuatu terjadi pada ibunya, maka seumur hidup ia tidak akan bisa memaafkan dirinya.
Tak ada pilihan. Ia dinikahkan.
Ia bahkan tidak pernah mengenal perempuan itu sebelum hari lamaran.
Untuk pertama kalinya ia melihat calon istrinya di acara lamaran. Tetapi hanya ada Maria di pelupuk matanya. Maria yang murka dan berteriak lantang, “TEGA KAMU DAN. TEGA!”. Saat itu tubuhnya panas dingin, ia ketakutan. Takut bahwa pernikahannya benar-benar telah menyakiti Maria di alam sana. Ia tidak ingin wanita yang sangat dicintainya itu terluka sekalipun ia tidak bisa melihat luka itu.
“Dan…Dan” sikutan Ayahnya menyadarkan ia dimana ia saat ini dan apa yang tengah berlangsung.
“Dan saatnya memasangkan cincin” pelan suara Ayahnya. Kelihatannya Tuan Rahmat, Ayah Dani, sangat menyadari perasaan putranya.
Dani tersentak. Dikeluarkannya kotak perhiasan yang berisi cincin pertunangan. Calon istrinya mendekat. Ssst, untuk pertama kalinya mereka bertatapan. Dani tidak merasa apa-apa. Lagi-lagi hanya Maria yang ada di pikirannya. Sedang perempuan itu kelihatan tersipu malu.
Acara lamaran selesai. Keesokannya langsung dilanjutkan dengan acara akad nikah.
Tak ada kata yang lebih berat diucapkan Dani kecuali akad nikah. Ia merasa tak rela mengatakan kata-kata yang seharusnya hanya untuk Marianya saja.
“Sa…Sayy Sayya terima…”. Berkali-kali akad nikah harus diulang karena Dani tak kian lancar mengucapkannya. Bahkan akad nikah ditunda hingga sepuluh menit demi menenangkan Dani.
“Yah maklum saja gugup, gugup saking senangnya” kata Ibunda Dani, Nyonya Rahmat , untuk melegakan hati undangannya terutama pihak keluarga besan.
Akhirnya walau tak begitu lancar, akad nikah itu dianggap syah.
***
Ini adalah malam pertamanya dengan status baru: menjadi suami seorang perempuan bernama Eva. Perempuan itu mendekat. Menyuguhkan sebuah senyum untuknya. Dani membalas tipis. Ia tidak ingin menyentuh perempuan itu malam ini. Bukan karena ia terlalu letih tetapi ia belum ingin melakukannya. Entahlah sampai kapan. Mungkin hingga pertahanannya sebagai lelaki normal kandas.
Saat hari masih begitu shubuh. Gelap masih sempurna menyelimuti bumi. Di dapatinya Eva tengah mengaji. Suaranya yang mendayu-dayu seolah merayu pagi. Sungguh khidmat didengarkan. Dani terlena, mengikuti tiap lantunan ayat dari istinya. Air matanya meleleh.
Eva memasak pagi ini. Ia mencium wangi bawang goreng dari dapur. Perutnya yang keroncongan semakin berisik. Tak berapa lama, Eva muncul di ambang pintu.
“Mas, sarapannya sudah siap.”
“He-eh” kata Dani pura-pura enggan.
Dani melangkah ke meja makan. Eva menarik sebuah kursi, mempersilahkan suaminya duduk.
“Tidak perlu begitu. Aku bisa lakukan sendiri” suara Dani sedikit ketus. Ia tahu mungkin itu menyakiti Eva. Tetapi satu sisi dalam hatinya mengatakan bahwa Eva telah menyakiti Maria. Karena itu, ia tak boleh mencintai Eva.
Dani mencegah Maria yang ingin menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
“Aku bisa lakukan sendiri” suara Dani setengah membentak. Dengan mata samping, ia bisa melihat wajah Eva yang ketakutan. Hati Dani menjadi Iba.
Maaf Eva, aku hanya tak ingin Maria cemburu jika aku memperlakukanmu dengan lembut.
Dani tak bisa membohongi betapa lezatnya nasi goreng buatan Eva. Buatan ibunya pun kalah.
“Gimana Mas, enak?” tanya Eva hati-hati.
Dani belum menjawab. Hanya mulutnya yang terdengar ribut mengunyah-ngunyah nasi goreng, “Yah lumayan lah” kata Dani akhirnya.
Pernikahan mereka memasuki bulan kedua. Tak ada yang berubah. Suasana tetap beku. Aura tetap lah mencekam.
Dani berusaha mencintai Eva. Tetapi bayang Maria yang murka selalu menghantuinya. Lagipula ia sangat ingin menyiksa keluarganya yang telah memaksanya menikahi Eva. Biar keluarganya tahu bahwa paksaan mereka hanya berbuah penderitaan perempuan yang tidak berdosa.
Dani sadar Eva tidak pantas disiksa begini. Eva hanyalah seorang perempuan desa yang sederhana. Lulusan SMA. Baik hati dan akhlaknya juga baik. Tapi, ah Maria akan marah jika aku memperlakukannya dengan indah.
Tiga bulan kemudian
Sudah lima bulan mereka menikah. Tak ada yang berubah. Suasana tetap beku. Aura tetap lah mencekam. Walau Dani mulai tidak sekasar dulu memperlakukan Eva. Kelembutan tutur kata dan tingkah laku Eva cukup untuk meluluhkan hatinya. Tetapi, ia tetap tak mampu mencintai Eva.
Hari ini hari mingu, Dani hanya nonton tivi sambil membaca koran yang dibelikan Eva di pasar saat ia belanja. Di dapur, Eva sedang asik memasak. Sesekali istrinya itu mendendangkan lagu. Lagu kesukaannya adalah lagu-lagu Melayu yang dinyanyikan Siti Nurhaliza. Dani hanya tersenyum-senyum sendiri mendengar istrinya bernyanyi.
Selesai masak, Eva mendekat ke arahnya. Lalu duduk disebelahnya. Sekilas, Eva menatap suaminya seolah ingin meminta sesuatu yang lama ia idamkan. Lalu wanita itu meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Awalnya Dani diam saja tetapi ketika kemurkaan Maria terlukis di pelupuk matanya, ia segera bangkit.
“Aku mandi dulu ah” kata Dani beranjak meninggalkan Eva.
Keadaan berubah drastis pada suatu hari, seminggu kemudian. Di sebuah cafe yang sering didatangi Dani sepulang kerja, ia bertemu seorang perempuan yang sangat mirip dengan Maria. Darahnya seperti berhenti mengalir. Maria telah kembali.
Dani mendekati wanita itu dengan takut-takut. Ketika semakin melihat wanita itu dari dekat, semakin Dani merasa ia mirip Maria. Tidak hanya wajahnya bahkan auranya.
“Boleh berkenalan?” Dani mengulurkan tangan.
Wanita itu mentapnya heran dan mengulum senyum. Tetapi tak lama mengulurkan tangannya pula. Dani duduk di dekat wanita itu. Memulai pembicaraan. Dan Dani makin takjub saat ia merasakan seolah ia sedang berbicara dengan Maria.
Kata-kata yang dicapkan wanita itu. Nada suaranya. Isi perkataanya. Semuanya adalah milik Maria. Tuhan, apa maksudnya ini semua?
Dani tak mampu tenang lagi setelah itu. Ini adalah kesempatan kedua dalam hidupnya yang diberikan Tuhan. Ia yakin itu.
Sebulan mengenal Riana, Dani sudah yakin jalan apa yang akan ia ambil. Ya, menceraikan Eva.
Ia berusaha membuat Eva tidak hamil dengan teknik-teknik alami saat mereka berhubungan. Ia tidak mengharapkan anak dari perempuan itu.
Ia telah yakin mencintai Riana, meski ia belum mengutarakan isi hatinya pada Riana. Riana barulah menjadi teman curhatnya. Tempat ia menceritakan betapa tidak harmonisnya kehidupan rumah tangganya. Tetapi ia yakin Riana juga mencintainya.
Ia perlu waktu untuk mengatakan perpisahan pada Eva. Bagaimanapun juga wanita itu telah merawatnya dengan baik. Memasakannya makanan-makanan terlezat yang pernah ia santap. Memperlakukannya dengan penuh hormat.
Dani merasa saat untuk jujur dengan Eva telah tiba, maka secara sengaja dimasukkannya foto Riana di saku celananya.
“Foto siapa ini Mas?” tanya Eva dengan raut sedih walau terlihat tetap tenang.
Seperti rencananya, Dani beranjak. Membiarkan Eva untuk mencernanya secara dewasa hingga akhirnya wanita itu sadar bahwa cintanya bukanlah untuk dia.
Eva tertegun. Ada kesedihan luar biasa melandanya. Ada kemarahan yang berusaha diredamnya.
Pagi hari, Dani sudah berencana bolos kantor. Hari ini adalah penyelesaian. Ia akan jujur pada Eva. Tak perduli kejujurannya akan membunuh perasaan perempuan itu. Dani merasa sudah saatnya ia berhak bahagia. Mungkin sudah saatnya pula, Eva berhak terlepas dari penderitaan untuk menemukan kebahagiaan lain.
“Eva…perempuan di foto itu adalah wanita yang aku cintai”
Eva terdiam. Seolah kata-kata suaminya barusan adalah sabda Tuhan untuk mencabut nyawanya. Sekuat tenaga, ia bertahan untuk tidak menangis. Tetapi air mata itu meleleh begitu saja. Ia beranjak. Merasa tak perlu ada kata-kata yang ingin di dengarnya lagi.
Ia berlari masuk ke kamar. Dikuncinya pintu. Lalu terduduk lemas di belakang daun pintu. Hatinya hancur. Inikah balasan kesabarannya selama ini? Ia tahu Mas Dani terpaksa menikahinya. Ia tahu bahwa cinta Mas Dani hanya untuk Maria. Tetapi ia mau mencoba untuk membuat suaminya mencintainya. Nyatanya Mas dani meninggalkannya untuk wanita lain.
Tidak berlama-lama menangis, Eva segera berkemas pergi. Dani pun tidak mencegahnya karena ia tahu semua ini adalah salahnya.
Kini hanyalah tersisa seorang Dani di rumah yang sepi. Tak ada lagi masakan enak Eva. Tak ada lagi senandung lagu Melayu Eva. Tak ada lagi apa-apa selain sunyi.
Dani bergegas. Ditelponnya Riana.
“Riana, Eva telah pergi.”
“Oh ya. Lalu kamu lega?”
“Iya. Bagaimana dengan kita?”
“Kita?” Ada kebingungan yang Dani tangkap dari nada suara Riana.
“Ya, kita. Aku meninggalkan Eva demi kamu.”
Keadaan hening. Telpon di seberang langsung ditutup.
Kini tak ada yang tersisa. Benar-benar tak ada. Sekalipun sunyi.
dikirim rinitrihadiyati 10 minggu 5 hari yang laluTag:












