Lelaki mimpiku

87
points

Namaku Anita. Umur 22 tahun. Baru saja menyelesaikan S1, di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan aku telah diterima menjadi karyawan di sebuah Bank Swasta. Aku berencana menikah 6 bulan lagi. Calonku? Dia seorang laki-laki berusia 25 tahun. Saat ini ia bekerja di salah satu BUMN. Ia sarjana Teknik Kimia dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Aku mengenalnya dalam sebuah acara seminar mengenai bisnis. Kami duduk berdekatan. Mengobrol sebelum acara dimulai. Lalu khusyuk mengikuti serangkaian acara seminar. Dan sebelum berpisah, saling bertukar nomor handphone.

Setelah itu, aku lupa pernah mengenalnya. Hingga sekitar dua bulan kemudian, ada sebuah SMS dari nomor yang tidak kukenal.

“Ass. Anita, masih ingat saya?”

Kuacuhkan saja SMS itu. Aku yakin SMS itu dari salah seorang teman lamaku. Toh sebentar lagi pasti akan mengSMS kembali menyebutkan identitasnya. Yah benar, handphoneku menukik. Satu SMS baru masuk.

“Anita, ini sy Andrian. Masih ingat? Seminar bisnis.”

Aku tersenyum kala itu. Terbayang bahwa memang sempat muncul ketertarikan di hatiku saat berbincang-bincang dengannya. Ia lelaki cerdas dengan pengetahuan yang luas. Kubalas SMSnya sebiasa mungkin.

“Iya, aku ingat.”

Hanya SMS sederhana itu yang kukirimkan. Tidak ada pertanyaan yang perlu ia balas. Kenapa? Terkesan terlalu jual mahal. Masak sih?

Tidak lama, Andrian kembali mengSMS. Menanyakan macam-macam. Mulai dari kabar, kuliah, kesibukan. Segala macam. Setelah itu kami pun sering berSMSan. Lalu ia mulai berani menelponku. Hingga akhirnya ia mengajakku jalan bareng. Bukan, bukan nonton bioskop atau dinner, tapi mengikuti sebuah workshop. Hehe

Semenjak itu, kami semakin akrab. Sering SMSan, telpon, jalan bareng. Dan setelah sebulan, kami akhirnya jadian. Itu terjadi tiga tahun lalu. Ya sudah tiga tahun kami berpacaran. Dan kini akan menikah. Sederhana.

Tetapi ada satu hal yang mengganjal. Kau ingin tau? Entahlah mengapa hatiku masih ragu memilih Andrian. Keraguan yang sulit dijelaskan. Tanpa alasan. Ah, entahlah.

Keraguanku semakin menjadi-jadi karena sudah beberapa malam ini, aku selalu memimpikan seorang laki-laki. Bukan Andrian.

Dalam mimpiku, aku mengenakan pakaian pengantin berwarna putih yang sangat anggun. Lelaki itu pula menggunakan celana panjang putih, jas putih dan dasi berwarna keperak-perakan. Aku menggandengnya dengan mesra. Siapakah dia?

Keraguanku ditambah mimpi akan lelaki itu telah menyita pemikiranku. Aku sering melamun, memikirkan makna-makna yang kuyakin ada artinya. Seperti kali ini, aku sedang melamun di dalam sebuah lift. Sendirian. Pintu lift terbuka dan dalam tundukku aku melihat sepatu pria melangkah. Tapi aku tidak berniat untuk menatap wajahnya. Hingga ketika mencapai lantai 16, lantai tujuanku, aku mendongak. Seketika itu tubuhku lemas. Kakiku gemetar. Untung saja aku masih dapat bertahan. Dia lelaki dalam mimpiku!

Tak mampu sepatah kata kuucap. Perlahan, tubuhku dengan sendirinya mundur keluar dari lift. Pintu lift tertutup kembali. Oh tidak, tunggu! Aku menjerit keras, namun jeritan itu hanya berkecamuk di dalam hati. Kepalaku pusing. Perasaanku campur aduk. Dan, aku pingsan.

Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di sofa ruang kerjaku. Teman-temanku kelihatan lega saat aku telah siuman. Seseorang menyodorkan segelas air. Langsung kutegak sampai habis karena aku benar-benar kehausan.

“Kamu gak sarapan ya Nit?” tanya salah seorang temanku.
Aku menggeleng. Aku masih shock dan mencoba mengingat-ingat saat-saat sebelum aku pingsan. Oh, lelaki itu. Lelaki dalam mimpiku. Aku segera beranjak seperti orang kesetanan. Teman-temanku reflek mencegah dan memintaku tenang. Aku sadar mereka menatapku dengan penuh keheranan. Mungkin ada diantara mereka yang berpikir aku kerasukan.

“Sebaiknya kamu pulang Nit” kata beberapa orang diantara teman-temanku. Kelihatannya itu memang jalan terbaik.

Keesokannya aku sudah tidak sabar lagi untuk menemukan lelaki mimpiku. Aku harus menemukannya. Begitu sampai di kantor, aku segera menjelajahi setiap lantai. Bertanya pada setiap receptionis. Menyebutkan ciri-ciri lelaki mimpiku. Sia-sia. Hingga di lantai teratas, tak kudapatkan dirinya. Mungkinkah ia tidak bekerja di gedung ini? Mungkinkah ia hanya bertamu ke gedung ini? Mungkinkah? Ah, aku bisa gila memikirkan seribu kemungkinan.

Aku terduduk tak berdaya di ruang kerjaku. Kutatap ke luar jendela. Hanya ada gedung-gedung tinggi yang tak bernyawa. Aku bangkit dari duduk. Pelan-pelan aku berjalan menuju ke arah jendela. Kutatap ke bawah. Lelaki mimpiku ada di luar gedung. Aku yakin itu dia! Segera aku keluar dari ruang kerjaku. Menuju lift.

Aku berlari ke luar gedung dengan sangat kencang hingga nafasku ngos-ngosan. Kemana lelaki mimpiku? Aku menyapukan tatapan ke sekitar. Dimana ia? Itu dia! Ia sudah berada di seberang jalan. Tanpa berpikir panjang, segera aku menyeberang jalan untuk mengejarnya. Tanpa melihat ke kanan-kiri.

“Braaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk” suara benturan keras memekakan alam siang itu. Kaca-kaca berterbangan seperti bongkahan-bongkahan es. Lalu berserakan di jalanan. Menyeret sebuah raga. Mengoyaknya hingga darah membanjir dan menggenang. Meninggalkannya di aspal yang panas.

Aku merasa kesakitan yang luar biasa. Seolah seluruh organ dalam tubuhku ditarik paksa sekuat-kuatnya. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Baru kali ini aku merasakan kesakitan yang sedemikian dahsyat. Perlahan rasa sakit itu meredam sendiri. Lalu samar-samar kulihat pendar cahaya serta langkah-langkah yang sepertinya mendekatiku. Aku mendongak dan mendapati lelaki mimpiku yang kukejar-kejar tadi siang lah yang berjalan ke arahku. Ia mengenakan celana panjang putih, jas putih, dan dasi keperak-perakan. Persis seperti mimpiku. Lalu ia berlutut di hadapanku. Senyumnya begitu rupawan.

“Aku tau engkau lah jodohku” hanya itu kata-kata yang kuucapkan.

Your rating: None Average: 7.3 (12 votes)
dikirim rinitrihadiyati 10 minggu 5 hari yang lalu
Tag: