maaf belum maksimal
mungkin ada beberapa bagian yang kurang masuk akal
nanti saya edit/perbaiki lagi di bagian ini atau cerita selanjutnya.
"Dimas
------------
Aku bingung hari ini, apa sih yang sebenarnya ia lihat dariku?
Coba kau tanya pada beberapa siswi, dari kelas mana saja terserah, jawaban mereka pasti sama; "Dimas itu anak CUPU!"
Aneh, dunia memang benar benar aneh!
Bisakah kau bayangkan, bagaimana seorang Clara yang pandai, cerdas, supel, dan (yang terpenting) bunga sekolah, bisa jatuh hati padaku?
Entahlah, tapi untukku sulit sekali mempercayainya.
"Gue sayang sama lo" Clara berkata.
Aku melongo beberapa saat, tak bisa lagi berkata apa apa.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah tanah, seakan ingin membagi perasaannya dengan sang bumi.
"Lo serius?" Tanyaku akhirnya.
Ia mengangguk tanpa sekalipun mengangkat pandangannya.
"Kenapa gue Clara? kan banyak cowok ganteng,pinter,kay-"
"Jangan tanya masalah itu Dim, gue sendiri nggak tau kenapa bisa suka sama lo"
Aku terdiam begitu pula ia.
Aku ingin menggambarkan kesunyian sekejap ini sebagai saat yang dramatis.
Aku mengambil nafas dalam dalam.
"Maaf Clara, gue gak bisa nerima lo"
Ia tetap tak mengangkat pandangnya.
"Maaf, sedalam dalamnya Clara" Aku berkata sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Saat tubuhku menghilang dibalik pagar taman, barulah tangisnya meledak.
.....................................................
Aku coba mengenyahkan perasaan ini dari pikiranku, tapi tetap saja pikiran ini muncul terus menerus, menerorku seperti gagak yang menemukan bangkai.
"Sial!" makiku, saat menyadari tidak berbelok pada tikungan terakhir tadi.
Aku berhenti di tepi jalan, menunggu laju kendaraan sedikit mereda.
Perasaan terus menyeruak di benakku, menggerogoti kesabaranku.
Akhirnya tanpa pikir panjang, ku putar arah motorku.
Dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil sedan perak yang melaju dengan kecepatan sedang.
Tumbukan terjadi, aku terlontar kebagian belakang mobil sedang mobil itu sendiri masih melaju beberapa meter sambil menyeret motorku hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.
Aku dapat merasakan perih dibeberapa bagian tubuhku, tapi yang paling parah adalah, saat tumbukan terjadi, kata kata pernyataan cinta Clara padaku-lah yang terbesit.
Aku hampir berfikir bahwa aku akan mati, dan saat kegelapan yang dingin memelukku, aku menerimanya dengan sepenuh hati.
.........................................................
Aku berusaha keras untuk membuka mataku. Entah mengapa serasa encok kelopak mataku ini.
Aku terbaring di sebuah ruangan ber-cat biru laut dengan beberapa tirai putih.
Aku langsung dapat menebak dimana aku saat ini. Rumah sakit.
Aku langsung tahu dari bau karbol dan antiseptic yang menguar hebat di udara.
Tidak ada seorangpun disana, hanya aku.
Aku mengalihkan pandang ke sebuah meja kecil tepat disebelahku, dimana beberapa buah buahan, kue kecil, serta rangkaian bunga segar terletak.
Aku masih ingat betul tentang tabrakan yang terjadi waktu itu, tapi selebihnya......
Ku pikir aku butuh istirahat lebih lama, kepalaku mulai pening lagi.
..........................................................
Aku membuka mata, kali ini lebih ringan rasanya.
Tidak ada lagi rasa pening yang menyengat.
"Dimas sudah bangun pak, Dimas sudah bangun!" Sebuah suara disebelahku. Ibuku.
"Dim? Kamu udah ngerasa baikkan?" Ayahku tergopoh gopoh menyeruak dari balik tirai.
"Pak cepet panggil dokternya!"
Ayahku (dengan tanpa kusadari dapat bergerak sebegitu cepatnya) pergi keluar menerobos tirai.
Ibuku, hanya duduk sambil memegangi tanganku erat erat.
Sepertinya ia tak dapat memutuskan apakah ingin menangis atau tertawa.
Dokter datang disusul ayahku.
"Sudah merasa baikkan Dim?" Si dokter bertanya
Aku tak menjawabnya (juga enggan).
Ia menyalakan senter kecil yang diarahkannya langsung pada mataku.
"Keadaannya sudah sangat jauh lebih baik" Kata si dokter pada kedua orangtuaku "Kepulihannya jauh lebih cepat dari yang saya kira, dan saya pikir ia sudah dapat dibawa pulang 2 hari lagi"
Kata kata sang dokter, mengundang hujan terimakasih dari kedua orangtuaku.
"Ia hanya mengalami gegar otak ringan" Sang dokter memandangku sejenak, lalu menggiring ayahku keluar, menerobos tirai.
Aku merasa tak ada yang aneh pada diriku. Hanya saja, sepertinya ada yang kurang, ada yang hilang.
Tapi siapa atau apa itu, aku tak tahu.
..........................................................
Seminggu kemudian, aku sudah dapat masuk sekolah seperti biasa.
Keadaan jadi jauh lebih baik sekarang.
Banyak siswa siswi sekelas ku yang bersikap lebih baik padaku. Kemungkinan besar karena keadaanku saat ini dan aku bersyukur karenanya (bukannya aku senang akan keadaanku sekarang, tentu saja).
Hanya saja, aku masih merasa ada yang hilang, ada yang kurang!
Aku mengingat hampir semua siswa di sekolah (yang sudah kukenal sebelumnya tentunya), semua guru, bahkan beberapa kejadian yang pernah terjadi, tapi tetap ada yang kurang.
Semua siswa siswi dikelasku merubah sikapnya terhadapku, tapi yang paling ekstrim adalah Clara.
Suatu siang sepulang sekolah, ia menyeretku ke taman belakang, lalu menyemburkan permintaan maaf sambil tersedu sedu.
permintaan maaf yang aku sendiri tak begitu paham untuk apa.
Tapi kalau kalian merasa itu sudah cukup aneh, kalian salah besar.
Dalam perjalanan pulang, aku mengambil jalan pintas melewati jalan kecil tanpa aspal yang melalui sebuah kuburan kecil.
Seingatku, selama aku melewati daerah ini sebelumnya, tak pernah aku melihat atau merasakan sesuatu yang aneh. Meskipun kabarnya kuburan itu adalah kuburan angker.
Kuburan di bagian tengah pekuburan itu (dan yang terbesar) adalah milik seorang kaya bernama Usman yang begitu disegani.
Aku selalu memandangi kuburan itu jika melewati jalan ini.
Masih merasakan aura wibawa yang dimiliki pak Usman.
Aku memandangi kuburan itu seperti biasa. Dan segera terpaku pada sosok mungil yang duduk diam diatas kuburan Pak Usman.
Sosok itu hitam berbulu, sepasang sayap mungil mirip sayap kelelawar berada di punggungnya.
Aku tak dapat melihat wajahnya, karena ia memunggungiku.
Hari masih siang, kupikir mustahil kalau sosok kecil itu adalah hantu.
Aku mengumpulkan keberanianku. Menyandarkan motorku di belakang tanaman rambat yang merambati dinding pembatas pekuburan, dan melangkah masuk.
Aku berdoa dalam hati (bukan perbuatan yang sering kulakukan memang).
Aku terus mendekat, perlahan lahan.
Saat jarak kami hanya sekitar beberapa meter, ia menoleh.
Aku terkesiap ngeri, tapi juga tak mampu bergerak pergi.
Wajahnya, benar benar mengerikan!
Matanya merah darah, dengan lingkaran kuning kecil di bagian tengahnya,
mulutnya lebar dengan sebuah taring mencuat dari sisi kiri, selebihnya, ia tampak seperti anak kecil botak dengan warna dan struktur kulit yang aneh.
Kami berpandangan beberapa saat sampai akhirnya ia mengalihkan pandangannya dariku dan melanjutkan memaki. Entah memaki apa atau dalam bahasa apa.
Aku yang masih terpaku, malah merasakan sedikit keberanian (mungkin lebih didorong rasa penasaran).
Aku melangkah menghadapnya, mencari tempat yang tepat agar dapat menatap wajahnya lagi.
Ia menatapku sekali lagi saat aku berada sangat dekat dengannya.
"Kamu siapa? Dan kenapa ada disini?" Aku bertanya, bahkan merasakan suaraku yang bergetar.
Roman wajahnya berubah seketika (antara melongo dan terkejut).
"Bagaimana kamu bisa melihatku?" katanya sambil menunjukku dengan jarinya yang kurus dan panjang seperti batang bambu "kamu benar benar bisa melihatku?"
Aku merasakan ketakutan luar biasa menyiram tubuhku, tapi entah mengapa rasa takut itu terkalahkan oleh rasa penasaran.
Aku merenggutkan wajahku, mencoba menunjukkan padanya kalau aku kebingungan.
"Lo, anak mana?" Tanyaku lagi sambil mencoba menyentuh sayapnya.
"Demi Baphometh, jawab pertanyaanku!" Katanya seketika merubah roman wajahnya menjadi bengis "Apa kau, manusia, benar benar dapat melihatku?"
Aku mengangguk, ia melongo. Berfikir sepertinya.
"Ngapain disini?" tanyaku.
Ia meloncat berdiri, tertawa panjang dan melengking.
"Aku, Gerok, imp tingkat tinggi" Katanya sambil bertolak pinggang "Aku pernah berbicara dengan Sulaiman dan Ramsses. Dan sekarang kuperintahkan kau untuk memberitahuku namamu!"
"Dimas" kataku sambil memperhatikan pakaian compang camping yang dikenakannya.
"Apa kau Shaman, Dukun, atau penyihir?" Tanyanya sambil kembali menudingku dengan jari.
"Lo ngomong apaan sih?" Rasa takutku sudah mulai datang kembali. Aku sudah bersiap siap kabur jika diperlukan.
Aku curiga kalau anak nyentrik ini bukanlah manusia.
"Jawab pertanyaanku hai manusia!" teriaknya, menunjukan padaku lidahnya yang merah.
Aku merasakan tubuhku gemetar, sesaat sebelum berlari pergi, aku mengambil Hp-ku dan memotretnya.
Aku pergi secepat yang kubisa dari sana.
Ia tak mengejar atau terlihat ingin mengejarku.
Aku hanya melihatnya tersenyum. Senyum yang membuat perasaanku benar benar tak enak.
Itulah awal pertemuanku dengan Gerok.
Itulah awal dari perjalanan dan bencana yang menimpaku.
Rasa penasaranku yang keterlaluan membawaku dalam kenyataan yang orang lain belum pernah melihatnya.
Kuberitahu satu hal.
Aku, Dimas Septian, mengatakan ini dengan kesadaran penuh.
Kadang menjadi manusia yang terlalu berani-pun, dapat berakibat fatal daripada menjadi penakut.
Itulah yang kuketahui sekarang. Meski terlambat.
........................................................
Tag:









