Possesed

21
points
"

Ini cerita modifikasian mimpi gue, commentnya ya pleasee.. thanks

"

POSSESSED
Malam yang pekat. Cuma satu bintang dan satu bulan yang bersinar. Sementara angin bertiup menderu – deru dengan rasa yang membekukan tulang. Membuat pohon - pohon rindang yang membentuk bayangan – bayangan raksasa hitam di sekelilingku menari – nari seperti ritual suku kanibal sebelum berpesta daging manusia.
Lalu, aku berdiri di sini, di lapangan gelap yang menakutkan ini, seorang diri, hanya berbekal sebuah senter yang kuambil dari kamarku sebelum pergi. Untuk apa? Harusnya tengah malam begini aku sudah terlelap di balik selimut yang hangat di kamarku yang nyaman. Mengapa aku malah hang out di tempat persembunyian penjahat sakit jiwa itu?
Seluruh tubuhku gemetaran. Takut, rasa takutku menusuk sampai ke ulu hati. Sebagai seorang perempuan berusia dua puluh empat yang benar – benar buta daerah ini, aku sangat takut. Tapi, pandangan anak perempuan itu, yang tadi siang kutemui, dengan rok terusan compang camping berwarna pink, dan menggenggam sebuah boneka beruang sobek yang sudah usang, tak bisa kulupakan begitu saja. Apalagi ketika tiba – tiba, sepasang tangan kekar berwarna cokelat terbakar matahari mencengkram lehernya lalu membawanya pergi.
Aku menghela nafas, menelan ludah lalu mulai melangkah. Gila, kakiku serasa seribu ton beratnya.
Kanan kiriku gelap dengan pohon – pohon sebagai dindingnya. Aku hanya mengikuti instingku sedari tadi berjalan keluar rumah. Beberapa tanda seperti robekan kain pink bekas rok anak itu kutemukan tak jauh dari sini, dan entah aku memang sudah gila, atau benar – benar aku melihat anak itu, dia berlari seperti bayangan berkelebatan di hadapanku yang akhirnya menuntunku ke tempat ini.
Satu..., dua..., tiga..., empat..., ibu guruku dulu selalu menyuruhku berhitung setiap kali aku gugup, dan itu selalu berhasil. Aku jadi bisa berjalan menembus lapangan gelap ini. Perlahan aku teringat bagaimana aku pindah kemarin. Perasaanku sebenarnya sudah tidak enak ketika Amanda temanku itu menunjukkan rumah ini. Rumahnya cukup bagus dengan halaman kecil di depan dan kamar – kamar yang berukuran sedang. Cukup untuk aku dan adik – adikku. Tapi entah kenapa, ketika aku melihat ke sekeliling rumah itu, aku merasa ada yang salah dengan neighbourhood ini. Daerahnya cukup terpencil dan tampaknya penduduknya pun sedikit. Seperti sebuah desa yang dikutuk. Namun akhirnya, karena terburu – buru waktu dan paksaan orang tuaku, kami pindah.
Tadi pagi, aku mendengar cerita mengerikan dari dua orang ibu – ibu yang melintas di depan pagar rumahku. Aku menyapa mereka dengan harapan akan mendapat tetangga yang bisa di ajak ngobrol tapi malah cerita kejam yang aku dengar. Ternyata ada seorang pesakitan di daerah itu yang gemar menculik anak – anak lalu memotong – motong mereka seperti ayam. Kemudian meletakkan potongan – potongan tubuhnya di tengah lapangan. Tersusun seperti tubuh manusia hanya saja terpisah – pisah.
Sudah ada empat anak yang menjadi korban, tapi tak satu pun petunjuk yang menguntungkan aparat yang ditemukan. Tidak ada sidik jari yang ditemukan, potongan – potongan tubuh korbannya pun rapi, seperti dilakukan oleh orang yang berpengalaman. Aparat sudah pernah menyisir area ini dan sekitarnya tapi tak satupun tersangka ditemukan.
Cerita ibu – ibu itu terhenti ketika orang – orang mulai berlarian di sekitar kami. Mereka berseru – seru ada sesuatu di lapangan. Kami pun segera berlari kesana. Dibalik punggung – punggung orang – orang dihadapanku, aku melihatnya. Mayat seorang anak laki – laki tanpa pakaian dengan mata tertutup, tergeletak, terpotong – potong membentuk pose anak terlentang.
Dengan jantung berdegup kencang, aku melangkah ke depan, melihat mayat itu dengan lebih jelas. Ada sesuatu di perutnya, sebuah sayatan yang menyerupai tulisan. Bukan, itu bukan tulisan, itu sebuah angka, V, angka 5 romawi.
Tiba- tiba seseorang menabrakku darei belakang. Seorang ibu muda dengan rambut acak – acakan dan berurai air mata berlutut di hadapan mayat itu. Dia menjerit sejadi – jadinya lalu mendekap kepala anak itu. Tak lama, Pak RT pun datang dengan beberapa aparat polisi membawa ibu itu pergi, membubarkan masyarakat yang berkerumun lalu membersihkan mayat tadi dari lapangan.
Gila, monster macam apa yang tega memotong – motong anak – anak seperti tukang jagal begini? Daerah ini tidak aman, memang tidak ada anak kecil di rumahku, tapi maniak itu bisa saja tiba – tiba ganti sasaran lalu mulai membunuhi orang sembarangan. Mungkin aku harus segera pindah sebelum hal itu terjadi.
Aku berbalik pulang, tapi tiba tiba aku merasa seseorang memperhatikanku. Aku menengok ke kanan, ternyata seorang anak kecil. Seorang anak perempuan berambut panjang dengan baju compang – camping berwarna pink melihat ke arahku tanpa berkedip dan tersenyum. Dia lalu menghilang dibalik kerumunan orang.
Sorenya, dan sialnya, aku harus keluar rumah untuk membeli sabun mandi yang ternyata habis. Padahal hari itu sebenarnya aku tidak ingin keluar rumah selangkah pun, tapi aku juga paling tidak tahan kalau tidak mandi, jadi mau tidak mau aku pergi.
Ketika aku membuka pintu, setengah mati aku dibuat kaget, anak perempuan itu sudah berada di depan pagarku. Kaget memang, namun aku tetap mendekatinya. Tiba – tiba sekelilingku menjadi sangat sepi, entah kenapa. Ketika aku mendekati pagar rumahku, anak perempuan itu menyerahkan sesuatu. Sebuah foto bergambar sebuah rumah kayu ditengah sebuah ladang. Aku membalik lembaran foto itu, ada tulisan berwarna merah.
VI1200
Tak mengerti aku hendak bertanya pada anak itu. Tapi, tiba – tiba, sepasang tangan kekar berwarna hitam muncul, mencengkram leher anak itu dan membawanya pergi. Kejadian itu berlangsung sangat-sangat-sangat cepat! Aku bahkan tak sempat melihat siapa pemilik tangan tadi. Jantungku berdegup sangat cepat. Aku bisa merasakan seluruh adrenalin di tubuhku mengalir, membanjiri setiap jengkal saraf yang aku punya dan meledak! Aku berlari masuk kedalam rumahku lalu bersembunyi di kamar dan terduduk disamping tempat tidur. Aku hanya merasa takut setengah mati!
Setelah beberapa lama, dalam perasaan kalut aku mulai mereka – reka apa yang baru saja terjadi. Mungkinkah tangan itu adalah tangan penculik yang selama ini dicari – cari? Jika iya, berarti ... anak perempuan itu dalam bahaya!
Aku melihat foto di genggamanku. Aku belum pernah melihat rumah itu, tapi mungkin ada di sekitar sini. Lalu apa arti tulisan ini? IV1200? Tahun? Nomer rumah? Nomer telepon? Nomer kuburan maybe, panjang bener sih. Aahh .. tau ah. Jam berapa sih sekarang? Jam tujuh, tidak terasa sudah jam ... hei! Mungkinkan itu angka ... jam! 1200 berarti jam 12! Tapi IV ini?!
Tiba – tiba aku teringat sayatan di tubuh anak laki – laki tadi siang, sayatan yang membentuk angka 5 romawi. Mungkinkah IV adalah korban ke enam dari penculik gila itu? Hanya ada satu cara mencari tahu kebenarannya, aku harus mencari anak itu.
Dan sampailah aku disini. Walaupun aku sudah mengunjungi Pak RT memohon bantuannya, dia hanya bercerita bahwa ada hutan kecil di bagian utara daerah ini. Di bagian dalam hutan itu pernah ada sebuah rumah kayu seperti ini, tapi seingatnya itu sudah diruntuhkan. Pak RT juga tidak percaya ketika kuceritakan kejadian sore tadi. Akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri. Pak RT menatapku dengan pandangan aneh dan menyuruhku membatalkan niatku. Tapi tekadku sudah bulat. I dont know what drives me this insane tapi aku yakin bahwa rumah itu benar benar ADA!
Dan ternyata aku benar. Rumah itu tidak hancur malahan tampak seperti monster yang siap menelanku hidup – hidup! Di balik jendelanya aku melihat ada cahaya remang – remang. Berarti ... ada orang didalam!
Perlahan pintunya terbuka. Samar – samar, terlihat sosok anak perempuan membawa boneka beruang kemudian menghilang. Aku terdiam sebentar sambil mengira – ngira apa yang akan segera keluar dari balik pintu itu. Enam puluh dua ... enam puluh tiga ... tidak ada apapun yang keluar ... aku melangkah masuk.
Rumah itu kosong, tidak ada siapa - siapa. Tidak ada yang aneh. Aku melangkah lagi menyusuri ruangan berikutnya. Barang – barang di ruangan itu tertata rapi, bahkan teralu rapih untuk rumah yang tidak berpenghuni.
Aku membuka pintu di ujung ruangan. Tampaknya ruangan besar ini adalah sebuah kamar tidur. Ada sebuah tempat tidur merapat ke tembok dan sederetan rak kayu dengan toples – toples kecil diatasnya. Aneh, bagian tengah ruangan itu kosong dan bersih sekali, isi ruangan itu hanya tempat tidur dan rak – rak tadi. Aku mendekati rak itu, dan melihat lebih dekat toples – toples itu, ternyata ... isinya ... isinya ... potongan jari, telinga, lidah, hidung, bola mata, dan seerpihan kulit manusia! Its MAD! What kind of ... freakin monster ... is ... this?!
Bukan hanya itu, di dindingnya ada potongan – potongan berita dari koran berisi berita anak – anak yang hilang. Tampaknya ... aku berada di rumah yang benar ...
Tiba – tiba aku merasakan sesuatu lewat di belakangku, sesuatu yang mencekam, mengerikan dan begitu dingin merayapi punggung dan tengkukku. Aku berbalik ke belakang, tidak ada siapa – siapa disana. Perlahan, aku menghampiri pintu kamar yang terbuka dan ...
Sesuatu menghantam kepalaku dengan keras hingga aku jatuh terjembap ke belakang. Aku tersungkur, darah muncrat keluar dari mulutku. Sepasang kaki besar melewati tubuhku lalu dengan lengannya mencengkram kerah bajuku dan menyeretku ke tengah.
Tapi tiba – tiba dia berhenti berjalan. Perlahan, dengan rasa sakit di sekujur tubuhku aku melihat siapa yang menyeretku. Seorang pria besar berbaju overall berwarna biru luntur dengan kemeja kotak – kotak dan wajah ditutupi topeng spiderman, wait, spiderman?! Dengan sepotong pemukul base ball di tangan kanannya. Pria besar itu mengayunkan lagi pemukul itu dan memukulku dengan sangat keras. Damn, it hurts like hell! I think I’m going to die now!
Tiba – tiba terdengar suara nyanyian. Si spiderman berhenti. Dia melihat ke depan. Disana, diatas tempat tidur anak perempuan itu duduk dengan kepala tertunduk. Perlahan dia menegakkan kepalanya lalu mulai bernyanyi dalam bahasa yang aneh. Masih dengan kepala tertunduk dan rambut yang tergerai menutupi wajahnya anak itu berdiri. Nyanyiannya jadi lebih keras namun masih dalam bahasa yang tidak kukenal. Si spiderman berjalan ke arah rak, membuka lacinya dan mengeluarkan sebilah cleaver yang mengkilat.
Aku merintih dengan maksud untuk menyuruh anak itu lari tapi hanya muncratan darah dan erangan pahit yang keluar dari mulutku. Pria itu menjatuhkan tongkat kayunya tanpa mengalihkan pandangannya dari anak perempuan itu.
Anak perempuan itu perlahan melayang di tengah ruangan. Nyanyiannya semakin keras dan perlahan dia menegakkan kepalanya. Matanya .... matanya ... putih ... menatap tajam kearah si spiderman. Seperti terhipnotis spiderman berjalan ke arah anak perempuan yang kini melayang lebih tinggi dari si spiderman itu. GILA! dia memberikan cleavernya pada si anak perempuan itu.
Lagi – lagi aku mengerang – payah – padahal aku ingin sekali bangkit berdiri dan membawa anak itu pergi tapi, tubuhku serasa tidak punya tulang apalagi energi untuk bangkit.
Anak perempuan itu menjerit, melengking, nyanyiannya berubah menjadi jeritan memekakkan telinga. Lalu suasana berubah hening dan dengan tangannya dia mengambil cleaver itu. Dia menusukkan cleaver itu ke kepala spiderman! Darah muncrat keluar dari kepalanya. Anak itu menusukkan cleaver itu berkali – kali hingga darah yang muncrat berhamburan keluar membentuk kolam kecil berwarna merah di hadapan si spiderman.
Si spiderman berteriak kesakitan lalu jatuh berlutut di hadapan kolam darahnya sendiri. Tapi rupanya anak perempuan itu belum selesai. Masih dengan cleaver yang sama dia menusuk punggung si spiderman berkali – kali, menyayat – nyayatnya sampai si spiderman tersungkur tak mampu bangun lagi. Baru dia menjatuhkan cleaver itu.
Apakah ini mimpi? Bukan ini teralu nyata! Tubuhku benar – benar sakit. Dan anak perempuan itu benar – benar melayang ke arahku sekarang. Nafasku terengah – engah kalau dia mau membunuhku matilah aku pastinya. Jantungku berdegup keras dan kencang apalagi ketika anak itu menghampiriku, berdiri disebelahku lalu membalikkan tubuhku. Good Lord, rasanya seperti terjatuh dari gedung berlantai dua puluh, tulangku remuk semua.
Masih dengan matanya yang putih dia menatapku lalu tersenyum. Dia menempelkan kedua tangannya di pipiku. Aku mencoba menggerakkan tanganku yang tidak teralu sakit lalu menggenggam lengan anak itu. Di telapak tangannya ... ada sayatan angka 6 romawi.
Kepalaku serasa berputar – putar, aku terbaring terlentang, dan samar – samar, aku melihat anak itu bejalan menghampiri si spiderman. Sambil membawa boneka beruang di tangan kirinya dia melihat ke arah spiderman yang sudah tak bergerak lagi. Perlahan spiderman melayang, terus ... tinggi ... dan di langit – langit ruangan itu, si spiderman tergantung dengan muncratan darah berjatuhan ke wajahku. Tiba – tiba semuanya jadi gelap.
***
Ketika aku terbangun aku berada di ruangan yang sepertinya sebuah kamar rawat rumah sakit. Lengan kananku digips, dan seluruh tubuhku serasa hancur lebur. Bernafas saja sakit. Disebelahku, berdiri Pak RT yang menatapku sedih.
“Penculik itu ... tewas, mengerikan ... “
Aku menggumamkan anak perempuan berbaju pink itu, dan wajah Pak RT itu bertambah sedih.
“Tiga hari yang lalu ada sebuah surat tergeletak di depan rumah saya yang rupanya dari si penculik itu. Dia hanya akan berhenti menculik setelah korban ke enam, yang harus seorang anak perempuan, berambut htiam - panjang. Setelah korban ke lima kemarin ... kami benar – benar putus asa ... kami tak mampu menangkap penculik itu, dia benar – benar setan! Jadi ... akhirnya ... “
Aku menatap si Pak RT dengan pandangan pahit.
“Di balik suratnya ada sebuah foto, saya tahu rumah itu, harusnya rumah itu kosong, dan fotonya ... entah bagaimana kamu mendapat foto itu ...”
Pak RT terisak, dia menunjukkan berapa foto padaku. Gambar pentagram berdarah, baju – baju anak kecil, potongan – potongan jari, lidah, kaki, bola mata,dan sebuah boneka beruang usang.
“Ini ditemukan di lantai dua rumah kayu itu.”
Lagi, aku menggumamkan anak perempuan itu.
“Dia ... anak saya, dia sejak hilang kemarin, dan saya tahu ... dia pasti korban selanjutnya, seorang anak perempuan ... berambut hitam panjang ...”
Pa RT meratap.
“Sebelum dia menghilang, dia bermain membawa boneka beruang hadiah dari kakeknya yang sudah meninggal lima tahun yang lalu. Dia ... selalu membawa boneka beruang itu kemana – mana,“ ujar Pak RT sedih sambil menatap foto boneka beruang di tangannya.
Pak RT bangkit berdiri sambil mengusap air matanya, lalu berkata,
“Saya tahu ... bukan kamu yang membunuh penculik itu. “
Dia lalu pergi.
Setelah semua yang terjadi, aku memutuskan untuk pergi. Adik – adikku tetap tinggal disana tapi aku memilih untuk pindah. Belakangan diketahui si penculik ternyata adalah seorang asisten dokter jiwa yang jadi gila. Dan anak perempuan itu ... tidak ditemukan dimana – mana. Samar – samar, aku membalikkan telapak tanganku, di punggungnya ada goresan luka memberntuk angka 6 romawi.

The End
Joe 060707

Your rating: None Average: 5.3 (4 votes)
dikirim joejoe 6 minggu 4 hari yang lalu
Tag: