A Love Poem

48
points
"

ini cerita gue bikin pas kuliah, n gue suka banget ama puisi - puisinya. entah gimana gue bisa bikin tuh puisi... comment ya, please and thanks banget!

"

A LOVE POEM


“ Aku mencintaimu apa adanya,
sejauh mataku dapat memandang,
dan selebar pikiranku mampu mengembara,
seperti air sungai merindukan laut,
seperti jiwa merindukan nirwana,
aku merindukanmu setiap saat,
aku mengejarmu dalam setiap mimpiku,
namun,
seperti buih dibuai ombak,
sejauh matahari mengatasi bumi,
dirimu dan diriku tidak bisa bersatu”

Walaupun dibaca berulang – ulang, tidak satu pun kata yang dapat dimengertinya. Padahal laporan semacam ini bukanlah barang baru buat Anie, sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan periklanan yang berkembang pesat, laporan bulanan kru nya adalah daily bread-nya. Tapi kok kali ini rasanya seperti membaca laporan dalam bahasa sansekerta, tak satu pun kata dimengertinya.
“ Ran, tolong gua, dong, ke sini bentar ya, please?” Katanya setelah memijit tombol angka 2 dan call di pesawat teleponnya.
“ Oke, oke, bos, “ jawab Rani. Tak lama kemudian, Rani sudah nongol di hadapan Anie di kantornya.
“ Gua ga bisa baca Ran, kayaknya gua perlu balik ke SD lagi deh,”
Rani mengambil sebuah folder dari beberapa tumpuk folder di meja Anie. Sambil mendengus, dia tersenyum,
“ Ampun ni, inikan cuma laporan pertemuan Gema sama PT.Insan minggu kemaren, lu ga bisa baca? “ Rani meletakkan kembali folder itu di meja, “ gua rasa lu cuma butuh 2 hal, satu, asisten, kedua, hmmm... I think Vincent, “
“ Hhhh… butuh asisten? okay, ngerangkap sekertaris kayanya, butuh Vincent?! He is gone forever, girl! “
“ Anie, putus kan bukan berarti kalian ga jadi teman? “
“ Putus ya PUTUS! Lagian … gua juga udah ga tahan, udah fed up banget pokoknya! Eh, ngomong – ngomong soal asisten, gimana bekas asistennya si Darius itu? “
“ Oh iya, gua lupa ngomong, kalau lu mau dia udah officially brenti dari Darius,bisa start kapan aja,”
” Besok?”
“ Yaah, kalau lu mau. Bisa gua telepon sekarang, tapi tolong jangan jadiin dia pelampiasan emosi lu ya? “
“ Iya, iya, lu kan tahu gua professional, “
Rani tersenyum mengejek sambil keluar dari kantor Anie. Besok, perubahan dalam hidupnya akan segera dimulai.
Tepat jam delapan tigapuluh pagi, pria itu sudah muncul dihadapan Anie. Tampangnya lumayan, agak ada darah keturunan kayaknya, tubuhnya tinggi tegap sepertinya terjaga dengan baik, rambutnya hitam kecoklatan agak ikal dipotong pendek rapih, wah, penampilannya cukup berkualitas juga.
“ Daniel Subandi, rekomendasian kamu bagus juga, kamu siap bekerja berat tak kenal lelah dan kadang – kadang tak kenal waktu juga? “
Rani langsung memelototi Anie perihal bombardiran pertanyaannya itu.
Diluar dugaan, pria itu tersenyum dan berkata dengan suara bariton yang khas,
“ Saya bersedia, kapan saja anda perlukan, “
Senyum berikut perkataanya barusan cukup memukau kedua wanita di hadapannya.
“ Okay, kamu bisa mulai sekarang dengan membereskan laporan – laporan ini, meja kamu tepat di depan kantor saya biar kalau ada tamu tidak diundang kamu bisa mengusirnya, “ Anie berkata sambil menyerahkan beberpa tumpukan folder dari mejanya. “ itu adalah salah satu alasan saya menyewa asisten laki - laki, “
“ Aniee...,” Rani memelototinya lagi.
“ Tenang aja Ran, kita bakal baik – baik aja kok, okay, lets start our day,”
Hari itu berlangsung seperti biasa, rapat para manajer yang sebagian besarnya membicarakan kinerja para staff, proyek – proyek masa depan, serta tidak pernah terlewatkan, bonus tender yang persentasinya dipertanyakan, juga kenaikan gaji. Bagi Anie, rapat kali ini tidak lebih seperti menonton drama shakespeare yang kata – katanya saking indahnya sampai tidak bisa dimengerti.
Setelah jam makan siang, rapat berakhir. Ada tender baru yang berarti rapat berkepanjangan bagi Anie dan staffnya besok pagi dalam rangka membicarakan bagaimana melobi klien supaya jatuh hati pada perusahaan ini. Sekilas ditengoknya asisten barunya itu pada waktu Anie melewati kantornya sebelum pergi makan siang. Ternyata dia membawa bekal sendiri dan tampak menikmati sekali makan dari seperangkat tupperwarenya itu. Anie tersenyum, mandiri sekaligus hemat, hebat juga.
Tiga hari berlalu, Anie dan staffnya berhasil memenangkan hati kliennya dan diapun setuju untuk mengirim wakilnya yang akan mengawasi semua proses kerjasama mereka. Sesuai jadwal, wakil perusahaan itu akan datang hari ini, tepat pukul sebelas tiga puluh untuk makan siang bersama Anie.
“ Gimana asisten barumu itu? Cukup membantu? “ Rani dan Anie rupanya sedang ngobrol di telepon, mencuri waktu di sela kesibukan mereka yang menghimpit.
“ He’s soo ... cool, kemarin sore gua kasih kunci kantor cadangan kalau – kalau gua ada tugas keluar, eh tadi pagi pas gua masuk kantor, meja gua bersih kayak baru beli, rapih banget lagi,”
“ beruntung, ya nie, Ester sampai kapan pun gak akan bisa gitu, “
Tiba – tiba Daniel membuka pintu perlahan,
“ Wakil WCC sudah datang, Bu, “
“ Oh, suruh dia masuk,udah dulu ya, Ran, the big kahuna is here,”
“ Ok deh, bye, “
Anie menutup teleponnya dan seorang pria bersetelan jas biru masuk lalu berdiri dihadapan Anie dan tersenyum,
“ Selamat siang, apa kabar, Anie?”
Suara itu hampir membuat jantungnya copot lantaran kaget,
“ Vic?”
Suara itu berasal dari orang yang sudah membuatnya setengah sadar setiap pergi ke kantor selama lima bulan setelah keputusan besar tercetus, yaitu mereka putus.
“ lu ... wakil ...”
Dengan penuh percaya diri, pria itu duduk di kursi tamu di hadapan Anie yang masih bengong campur Bete setengah hidup.
“ Aku melihatmu di ruang tamu perusahaanku kemarin, lalu kudengar bosku membutuhkan seorang wakil untuk mengawasi kerjasama WCC dengan perusahaanmu, lalu...yaah..aku mengajukan diri,”
” Perjanjian seperti ini tidak membutuhkan pengawasan seorang anggota dewan direksi, cukup staff marketing saja, jadi, buat apa kamu ada disini?”
Vincent tertawa kecil, lalu menjawab,
“Pertama, sebagai SALAH SATU ANGGOTA Dewan Direksi, aku menganggap perjanjian ini penting karena melibatkan jumlah uang yang tidak sedikit, kedua, “ Vincent terdiam sebentar,
“ aku ingin bertemu manajer marketingnya dan setidaknya berbicara baik – baik dengannya, “
“ Vic, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, “
” Oke, gimana kalau kesempatan baru untuk memulai semuanya, “
“ Sorry, Vic, affair tidak ada dalam job description hubungan kita dulu, yang ada loyalty yang jadi sebuah hal yang sangat penting buatku dan kamu sudah merusaknya dengan sukses, “
Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat, mencoba mengendalikan dan memendam semua hasrat untuk meledak yang ada dalam diri masing – masing.
“ Daniel, tolong kesini sebentar, “ panggil Anie melalui pesawat teleponnya.
“ Ya, bu? “
“ Ini surat perjanjian WCC dan perusahaan kita, kamu simpan dan pelajari lalu setelah nanti sore kamu beri laporan singkat pada saya, “
“ Baik,bu,” Daniel pun kembali ke mejanya.
“ Hubungan kita kali ini hanyalah rekanan bisnis, Vic, aku jamin pembicaraan kita tidak akan pernah diluar konteks itu, “
“ Setidaknya kita punya janji makan siang, “ ujar Vic dengan suara yang terdengar seperti memendam sesuatu.
“ Daniel temani Tuan De Larea makan siang, “
“ Tidak! Kita makan siang atau tidak ada perjanjian sama sekali,”
Anie menghela nafasnya, lalu kembali menekan tombol call + 1 di telepon mejanya,
“ Daniel, tolong bilang sama Iin siapin makan siang buat enam ... eh, kamu bawa staff berapa, Vic?”
” Dua,” Vincent menjawab dengan suara berat.
“ jadi delapan orang, kita makan bareng di ruang rapat, oh iya, bilang Fe, Ina, ama Die kita makan bareng, okay, Vic, I’ll see you in the meeting room then,”
“ Fine, “ Vincent berdiri dilengkapi dengan wajah yang cukup bete. Mereka berdua kemudian saling berpandangan untuk beberapa saat sambil menyelami diri mereka masing – masing untuk mencari penyebab semua ini. Kenapa bisa jadi begini? Dulu semuanya begitu indah, hingga peristiwa itu terjadi, di hotel, di sebuah suitroom.... dan mereka pun menemukan peti usang berisi alasan – alasan mereka berpisah.
Vincent mengambil tasnya lalu beranjak pergi.

Kutanyakan kepada bulan,dimanakah kekasihku berada,
di hutan bintang, jawabnya,
dengan mengendarai waktu aku mencarinya disana,
dan aku menemukan kekasihku,
bersimpuh diantara ribuan bintang yang mengelilinginya,
lalu aku menghampirinya hendak menyentuh jiwanya,
dan aku pun terbakar.
☻☻☻
Baru kali ini Daniel melihat bosnya benar – benar bete. Dia sempat melihat melalui sebuah celah diantara pintu dengan tembok, bosnya begitu sedih dan kecewa. Tapi, sebelum melihat banyak, si wakil WCC itu keburu keluar. Pria itu cukup gagah, cukup memenuhi kriteria seorang lajang yang di kejar – kejar banyak wanita. Jangan – jangan bosnya pernah menjadi salah satu dari wanita – wanita itu, pikirnya, ah tidak mungkin, dia pasti bukan wanita seperti itu.
Setelah makan siang dengan wakil – wakil WCC yang menyebalkan dan rapat panjang dengan staff marketing lainnya, Daniel pun pulang. Sekarang dia berada di sebuah kafe bergaya eropa dan sedang duduk di salah satu kursinya berhadapan dengan seorang gadis berambut cokelat terang yang parasnya nyaris tanpa cacat. Mereka berdua bertampang seperti Anie dan Vincent tadi siang.
“ Aku rasa kita harus pisah sekarang, “ ucap gadis perlahan itu dengan kepala tertunduk ke arah meja.
Daniel hanya terdiam. Hatinya penuh dengan larutan emosi yang saking banyaknya sudah tidak jelas lagi apa bentuknya sehingga yang dia rasa cuma mual.
“ Kenapa kamu hanya diam? Kamu tidak setuju? “ gadis itu mulai menegakkan kepalanya dan memandang Daniel. Lagi lagi Daniel hanya diam.
“ Kamu selalu saja begini, diam, diam, dan diam, sampai aku seling-“
“ Tidak perlu diteruskan, aku rasa juga hubungan ini cukup sampai di sini saja, “
Kini keduanya terdiam.
Tiba – tiba, handphone gadis itu memanggil – manggil pemiliknya.
“ Kamu sudah datang? Ya sudah, aku keluar sekarang, “ gadis itu menyimpan kembali handphone-nya ke dalam tas lalu berkata, “ aku harus pergi, selamat tinggal, Daniel,” dia pun beranjak pergi lalu menghilang dibalik pintu.
Untuk sekitaran sepuluh menit Daniel hanya terdiam termangu di kursinya. Teringat kembali masa – masa dimana bidadari itu menyemarakan hari – harinya. Meskipun Daniel tidak pernah menemukan cinta disana, hidupnya cukup nyaman. Dan sekarang, dia baru saja kehilangan semua itu. Sudahlah, mungkin ini yang terbaik...
Daniel keluar dari kursinya, membayar tagihannya, lalu pergi. Sayangnya, begitu dia keluar dari kafe tersebut, hujan turun tanpa permisi. Bahkan bumi pun menangisi bidadarinya yang telah pergi. Dan pada suatu kesempatan yang sangat langka, sebuah mobil sedan biru tua berhenti di hadapannya. Jendela bagian supir terbuka dan...
“ Lagi hujan – hujanan?”
Ternyata bosnya yang seharian ini bertampang seperti prajurit kalah perang.
“ Eh..nggak juga sih, “
“ Ayo cepat masuk, nanti kamu sakit,”
“ Eh...nggak apa – apa nih?”
“ Aahh, kamu kan teman saya juga, ayo cepat,”
Tak lama kemudian, mobil itu sudah melaju pergi.
“ Kamu udah makan?” tanya Anie.
“ Ehm, tadinya sih mau, tapi nggak jadi,”
Sebenarnya Anie ingin sekali menanyakan kenapa, tapi melihat tampang Daniel yang kusam sekaligus agak pucat begitu, dia mengurungkan niatnya.
“ Aku traktir makan ya, di dekat sini ada tempat makan langgananku pas SMA dulu,“
Wah pasti mahal deh, pikir Daniel.
“ Tenang aja, tempatnya sederhana dan nyaman kok, “
Daniel jadi malu, bosnya baru saja membaca pikirannya dengan tepat.
Mobil sedan itu berhenti di depan sebuah restoran ayam goreng yang sederhana.
Seorang pelayan berpakaian hitam putih langsung menghampiri mereka ketika keduanya sudah duduk di meja di dalam restoran tersebut.
“ Mau pesan apa , bu?” tanya pelayan itu sopan.
“ Pa Gondi masih masak di sini?” tanya Anie.
“ Masih bu, ibu kenal ya sama mas Gondi?”
“ Iya, dulu sering makan di sini sih, bilang sama pa Gondi, Anie mau pesan ayam super dua porsi, dada atau paha, Daniel?”
Seperti baru tersadar dari mimpi, Daniel gelagapan. Sedari tadi dia sibuk terpesona pada bosnya yang begitu “membumi”.
“ Eh, paha saja deh,”
“ Ya sudah, paha ayam dua, dibakar ya, “
Pelayan itu segera berlalu sambil tidak lupa tersenyum.
“ Ayam super?” tanya Daniel penasaran.
“ Oh, itu cuma istilah kami berdua saja, bumbu ayam dan sambelnya di tambah dari porsi biasa,”
Daniel tersenyum, tampaknya bosnya sudah agak baikan.
“ Kamu...ada masalah ya, niel?”
“ Aku baru saja putus,”
Waduh, curhat ke bos? Ini kali pertama buat Daniel, tapi dia merasa begitu nyaman hingga
kalimat itu terucap begitu saja.
” Ouch, its gotta be hurt,”
“ Yaah, iya sih, tapi, aku nggak pernah bener – bener juga sih sama dia, “
“ Gila juga ya kamu, jadian tanpa ada rasa sama sekali? Aku gak percaya tuh,”
“ Mamaku suka sekali padanya, gimana ya, dia memang cantik, baik, dari keluarga berada lagi, “
“ Kamu nggak apa – apa?” tanya Anie khawatir.
Daniel tersenyum, ternyata bosnya perhatian juga.
“ Aku rasa ini yang terbaik buat kita berdua, sepertinya kita memang nggak sejalan,”
“ Aku juga pernah ngerasain yang namanya putus, pertamanya memang berat, tapi lama – lama juga biasa kok, “ padahal selama setengah tahun sejak putus Anie seperti orang linglung, seperti anak ayam kehilangan bapaknya.
“ Eh, wakil WCC tadi...itu...”
Anie tertawa kecil,
“ Kamu cepat nangkap juga yah, iya, iya, dia mantan pacarku, kita putus hampir setahun yang lalu, nggak nyangka aja dia yang ngewakilin perusahaannya, “
Ayam pesanan mereka datang, bahkan diantar langsung oleh kokinya yang bertubuh agak tambun dan mengenakan kopeah di kepalanya. Kehadirannya langsung disambut dengan salaman yang ramah dari Anie. Mereka pun kemudian larut dalam suasana makan malam yang penuh kehangatan. Kedua manusia yang hatinya sedang terluka itu bisa sedikit melarikan diri dari hari yang berat ini.

Mengapa Tuhan menempatkan pelangi setelah hujan?
Karena di ujung setiap badai, selalu ada keindahan yang menanti.

☻☻☻

Hari hari berikutnya, berbagai kejutan terjadi. Dari bekal makan siang khusus dibuatkan oleh Daniel untuk Anie sampai permen – permen rahasia di antar folder – folder laporan. Rupanya diam-diam Daniel dan bosnya saling mengagumi. Dan Vincent menangkap betul hal ini. Dalam setiap rapatnya, folder Anie selalu ketinggalan dan asistennya selalu mengantarkannya. Tetapi, bukan permen – permen rahasia itu yang paling penting, perubahan raut wajah Anie yang begitu jelas bahagia setiap kali asistennya datang dan tatapan asistennya yang penuh arti itulah yang bagi Vincent sangat – sangat mencurigakan.

Aku ingin merengkuhmu,
Dan menyembunyikanmu dalam lengan – lengan manusiaku,
Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu,
Tetapi lihatlah hai kekasihku,
Sejauh apapun aku melesat, sepanjang apapun kurentangkan lenganku,
Tidak pernah cukup bahkan untuk menggapaimu.
Dan kini,
Aku melihatnya,
Dia yang tak perlu melesat dan merentang,
Dia yang menabur bunga – bunga emas di dalam hatimu,
Dia yang memeluk kekasihku.

Malam itu Anie janji makan malam di rumah Daniel. Rupanya Daniel tinggal di sebuah ruangan yang besar sekali di atas sebuah tempat parkir indoor yang cukup luas. Gedung berlantai dua ini dulunya kantor berita, tapi karena bangkrut pemiliknya mejadikannya garasi sewaan saja. Karena lantai duanya masih bagus, pemiliknya merasa sayang untuk menjadikannya garasi juga, jadi diputuskanlah untuk meminjamkannya pada Daniel, yang ternyata adalah keponakan pemilik gedung tersebut. Amanat pamannya cuman satu, supaya Daniel menjaga dan merawat ruangan tersebut dengan baik.
Ruangan yang luas tersebut telah berubah menjadi lebih mirip studio melukis dari pada sebuah rumah tinggal. Tidak ada tembok tembok pemisah antar ruangan, kecuali kamar mandi, semuanya menyatu jadi satu. Di ujung sebelah kanan ruangan terdapat sebuah jendela mozaik besar berbentuk setengah lingkaran yang didepannya diletakkan sebuah spring bed. Di ujung satunya, di balik kamar mandi, dibuat seperti dapur sederhana dan di depannya ada sebuah meja makan bundar dengan empat buah kursi. Ditengah ruangan terdapat sebuah sofa berwarna putih, sebuah televisi 25 inch dan sebuah CD player. Diantara semuanya tadi, terdapat lemari buku besar, satu set komputer dan penyangga kanfas yang terbuat dari kayu untuk melukis.
Kesan pertama Anie begitu memasuki ruangan tersebut adalah bahwa ruangan tersebut begitu indah dan artistik. Hampir di setiap dindingnya terdapat lukisan. Dari lukisan pemandangan sebuah gunung yang membuat setiap orang yang melihatnya serasa berada di pedesaan di kaki sebuah gunung, lukisan setangkai mawar berwarna merah yang lebih mirip darah daripada warna bunga normal, sampai lukisan seorang wanita setengah baya yang begitu berwibawa. Semua lukisan itu memiliki satu kesamaan, semuanya indah.
“ Ini semua...lukisan buatanmu?” ucapnya penuh rasa kagum.
“ Iya, dari dulu aku selalu ingin menjadi seorang pelukis, tapi papa lebih suka aku belajar bisnis dari pada seni lukis, “
“ yah, sayang ya, padahal kamu sepertinya berbakat sekali,”
Daniel tertawa,
“ Terima kasih, “
Anie berjalan mendekati kanfas yang masih terletak di kayu penyangganya dan tertutup sebuah kain berwarna putih.
“ Ini lukisan apa?”
Daniel yang sedang sibuk melepas sepatunya tiba – tiba berkata agak keras,
“ JANGAN!”
Anie tampak kaget. Dia langsung merasa sangat canggung lantaran telah melanggar batas privasi orang.
Daniel buru – buru menghampirinya.
“ Ma – maaf, maksudku ini masih sketsa, masih jelek gitu, aku rasa orang lebih baik lihat jadinya saja dari pada sketsanya, maaf, bukan maksudnya menyinggung,”
” Ah, nggak apa – apa kok, setiap orang punya hak untuk privasinya masing – masing, “
Daniel tersenyum, satu hal yang dia benar – benar sukai dari bosnya adalah penghargaan yang diberikannya pada orang lain. Selain dari pengertian dan perhatiannya.
“ Eh, tunggu sebentar ya, aku siapkan makan malamnya, “
“ Iya, iya, perlu dibantu?”
“ Nggak usah, lagipula, anda kan tamu,”
“ Daniel, Daniel, sudah berapa kali sih dibilangin, kalau diluar kantor panggil aku Anie aja, lagian ternyata kita nggak terlau jauh beda umur,”
Daniel tersenyum lagi sambil motong – motong sayur di dapur mininya,
“ Iya , iya deh, kalau Ana gimana? Biar beda dari yang lain,”
“ Boleh juga tuh, eh, kamu suka lukis pemandangan ya? “
” Aku melukis apa yang indah, jadi apa saja yang menurutku bagus, aku gambar,”
“ Kalau orang? Seseorang yang kamu cintai misalnya?”
Daniel terdiam sejenak,
“ Aku pernah melukis mama, itu yang kugantung di atas PC,”
“ Cantik ya, mirip kamu,”
Tanpa sengaja Anie melihat sebuah frame foto yang tergeletak di kolong meja. Dia kemudian mengambilnya dan ketika dibalik ternyata foto Daniel bersama seorang gadis berambut cokelat terang. Anie memandangi foto itu untuk beberapa saat baru berkata,
“ Ini...pasti...”
Daniel melihat ke arahnya lalu mengangguk perlahan.
“ She’s gorgeous, you know, kamu gak lukis dia?”
“ Pernah, tapi gagal, gak tau kenapa jadinya gak pernah bagus,”
Beberapa saat kemudian masakannya sudah jadi. Telur orak arik dan sup jagung ayam. Dari wanginya tercium rasanya yang seratus persen menyenangkan lidah.
“ Kita toast dulu, “ Ujar Anie, “ untuk masa lalu kita yang sudah berlalu dan masa datang yang akan datang,”
“ Setuju, “
Sesudah makan, mereka duduk di sofa sambil melihat lihat sebuah album foto. Norah Jones bernyanyi Dont know why melalui CD player mengiringi petualangan masa lalu mereka.
“ Aku putus gara – gara Vincent selingkuh, aku menemukan dia bersama seorang gadis di sebuah suit hotel,”
” Waduh, parah tuh,”
Anie tertawa kecil,
“ Ironisnya, waktu itu dia seharusnya menjemputku di hotel lain, karena kebetulan kita lagi tugas di kota yang sama,”
“ Selingkuh..., mantanku juga dulu begitu, tapi aku biarkan saja, soalnya aku juga merasa itu gara – gara aku yang sudah nggak gitu perhatian lagi padanya, waktu itu aku sempat berhenti kuliah selama dua tahun, baru kemudian sekolah bisnis,”
“ Sebelumnya kamu kuliah apa? “
“ Diam – diam aku belajar melukis tapi ketahuan oleh ayahku yang langsung menyuruhku pulang ke rumah.
“ Ah, sudahlah kita lupakan saja,”
“ Yup! Kita simpan di sebuah kotak karatan lalu buang ke laut,”
Mereka berdua tertawa lepas, seperti ada beban yang selama ini mengganjal yang lepas begitu saja. Mereka berdua merasa begitu nyaman, seperti sudah mengenal satu sama lain selama ratusan tahun tapi baru sekarang ini saling menemukan.
Mereka saling berpandangan dan tanpa sadar, bibir mereka saling bersentuhan, lalu selama beberapa menit kemudian, larut dalam sebuah ciuman yang lembut.
Sayangnya kelembutan itu harus berakhir seperti sebuah mimpi dibangunkan fajar. Mereka saling berpandangan tak percaya.
“ I’m sorry..” ucap Daniel pertama kali , gosh, I kiss my boss!
“Sepertinya aku harus pulang, “ ujar Anie pelan.
Anie beranjak dari sofa itu lalu segera mengambil jaketnya. Ingin rasanya Daniel menggengam lengannya dan memohonnya untuk tinggal lebih lama lagi, tapi, rasa segan dalam dirinya mengalahkan semua keinginannya yang menggebu itu. Dia hanya mampu membukakan pintu flatnya serta menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
“ Nggak usah, niel, “
“ Aku benar – benar minta maaf kalau itu membuatmu ...”
Anie menahan kata – katanya dengan menyentuh bibir Daniel dengan jari manisnya,
“ It was beautiful, Daniel,”
Keduanya tersenyum. Malam itu pun berakhir dengan meninggalkan sejuta kenangan dalam diri mereka masing masing.

Jikalau ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku,
Jika bukan, maka aku tidak pernah lagi ingin bermimpi

☻☻☻

“ Gua perhatiin, lu gak pernah makan siang di luar lagi, ya nie?” tanya Rani suatu hari hampir sebulan sejak hari – hari penuh kejutan itu.
Sambil menyupiri mobilnya Anie tersenyum lebar dan maniiiieezzz....sekali. Mereka berangkat ke kantor barengan hari itu lantaran mobil Rani lagi berobat di bengkel.
“ Kayaknya gua kenal deh senyum lu yang model itu, model JC 12, jatuh cintrong dua belas kali,”
“ Lu bisa aja, Ran, emang senyum gua ada berapa model?”
“ Nggak banyak, jadi gua cepet hapalnya, “
Anie mencibir.
“ Satu lagi yang gua perhatiin, saban hari lu pasti balik berdua ama asisten elu,”
“ Yah itu kan gara – gara kita perlu ngebahas iklannya WCC yang udah makin mendekati launching-nya, rapatnya aja tinggal dua kali lagi, “
“ Ngebahas iklan ya? Oke bisa gua terima, terus coba jelasin kenapa bisa permen apel ini pada jatoh dari folder rapat lu kemaren?”
Anie tersenyum lebar dan maniiieeezzz... lagi.
Mereka tiba di kantor. Daniel sudah stand by di mejanya dengan beberapa tumpuk folder buat rapat nanti. Seminggu berlalu sejak insiden kissing itu. Sebuah insiden yang telah berubah menjadi sebuah rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.
“ Aha, speaking of the devil, ati – ati yah Nie, kali dia cuman ngincer duit atau jabatan lu, “
Anie cuma tertawa mendengar komentar Rani yang sinis begitu.
“ Pagi Daniel,”
Daniel menatap Anie dan tersenyum,
“ Pagi,”
“ Oh you give that look again,”
“ What look?”
“ That shining look!” Anie tertawa kecil, “ laporannya sudah siap?”
“ Sudah, Bu, nanti saya antar lagi,”
“ Eh, kali ini saya bawa sendiri saja,” , “ O iya, saya punya berita bagus buat kamu, kemarin malam teman saya bilang dia lagi nyari pelukis muda berbakat yang karyanya mau dipamerkan di galerinya, lalu kuceritakan tentang kamu dan dia sangat tertarik sampai sampai dia mau ke rumahmu nanti malam,”
Daniel tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia hanya bisa tersenyum lebar.
“ Wow, beneran nih?”
“ Iya, jadi siapin aja karya terbaik kamu, siapa tahu dia ngundang kamu pameran di Paris?”
Benar – benar awal yang fantastik untuk sebuah hari senin.

☻☻☻

Jam yang ditunggu – tunggu itu pun tiba. Sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh menit, seorang laki – laki bule separuh baya tiba di depan pintu flat Daniel. Dia mengenalkan dirinya sebagai Peter Vought.
“ Lho, Anie tidak ikut?”
Peter menangkap sinyal kecewa dari nada bicara Daniel, dia tersenyum ramah,
“ Banyak kerjaan katanya, tadi saya telepon masih di kantor, ada rapat tambahan bersama staffnya,”
“ Oh, begitu,”
” So,where are they?”
Daniel membawa Peter berkeliling kamarnya. Peter nampak kagum. Mereka tiba di sebuah lukisan yang dulu ketika di lihat Anie masih tertutup kain puith.
“ Sepertinya saya mengenali wajah ini,”
“ O, ya? “
Peter tersenyum,
“ Are you gonna give it to her?”
Daniel tersenyum agak malu,
“ Mungkin, tapi nanti, jadi tolong jangan bilang apa – apa dulu padanya,”
Peter tertawa lepas, lalu berkata,
“ Sure, jadi Mr.Subandi, anda berminat untuk memamerkan karya anda di galeri saya di Paris? Nanti jika banyak peminatnya, anda akan menjadi pelukis tetap galeri saya di sana, “
“ A – apa?”
“ Haha, jangan khawatir masalah biaya, saya akan urus semua biaya tranportasi anda, lalu anda bisa menginap di rumah saya beberapa hari,”
” Thank you very much, Mr.Vought,”
“ You welcome,Mr.Subandi, now, mintalah izin pada bosmu itu untuk empat hari, besok saya jemput kamu pukul delapan pagi tepat,”
“ Iya, iya, pasti,”
“ kalau perlu, jemput saja dia di kantornya, pasti dia senang,”
Daniel hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Menit – menit berikutnya Daniel terlibat dalam sebuah pertempuran batin yang sungguh membingungkannya. Manakah yang paling baik, meneleponnya atau menjemputnya? Ingin sih menjemputnya, tapi...apakah itu tidak teralu berlebihan? Tapi kalau cuma telepon, rasanya ada yang kurang...
Akhirnya pertempuran dimenangkan oleh telepon.
“ Halo? Anie? AKU JADI KE PARIS!”
“ Wah! Selamat ya, “
” Kamu dimana? Kok lemes sih?”
“ Masih di kantor, baru mau pulang,”
“ Hah? Jam segini?”
“ Iya, tadi rapat staff terakhir sebelum gladi bersih, jadi lebih lama, cape banget, eh, gimana itu ke Parisnya, kapan?”
“ Oh iya, Peter bilang besok, jam delapan, tapi aku butuh ijin kamu, buat sekitar empat harian,”
“ Empat hari? Jadi kamu balik hari sabtu yah?”
“ I-iya, aku bakal absen rapat terakhir sama launching productnya, tapi laporan pasti aku buat kok,”
“ Nggak usah biar gua aja, lagian hari ini kamu nggak ikut rapat sampe habis, udahlah, pergi aja nggak usah khawatir,”
Daniel terdiam sebentar, ada rasa nggak enak juga takut dikira memanfaatkan hubungan “baik” – nya dengan bos untuk kepentingannya sendiri.
“ Kenapa niel? Nggak usah mikir yang macem macem tentang ijin gua, itu murni ijin dari seorang bos sekaligus temen deket yang ...”
Waduh, lagi – lagi Anie membaca pikirannya dengan tepat, tapi kalimatnya belum selesai.
“ Yang apa?” tanya Daniel.
Anie terdiam untuk beberapa saat, ragu untuk mejawab apa pertanyaan Daniel tadi.
“ Yang...ikut seneng kalau kamu juga seneng,”
“ Oh, itukan berkat kamu juga, thanks ya, ana, I really appreciate them all,”
Sebenernya ada sesuatu yang terpendam dalam hatinya yang benar – benar ingin disampaikan oleh Daniel, tapi, mungkin ini bukan saat yang tepat...pikirnya.
“ Ya udah sekali lagi selamat ya, Daniel, aku mau pulang sekarang, “
” O iya, iya , kamu...mau ... ehm, aku jemput?”
Terdengar suara Anie tertawa di seberang sana,
“ Manis banget niel, tapi nggak usah deh, aku bawa mobil yang nggak bisa ditinggal, see you later yaa,”
“ Ok deh, hati hati ya, bye,”
Mereka berdua mematikan handphone masing – masing secara bersamaan. Tampaknya empat hari kedepan akan menjadi lebih berat dari biasanya, sebab jarak akan memisahkan mereka jauuuhhh... sekali.
Keesokan harinya, Anie pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya dan sudah di sambut oleh omongan sarkastik Rani perihal kepergian Daniel.
“ Becareful girl,, gimana kalau dia memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri? Kalian kan bukan sekedar bos dan asisten aja, “
” Apaan sih ran, kok lu sarkastik gitu, Daniel itu orang baik, dia nggak mungkin ngelakuin hal macam itu, lagian perlu berapa puluh kali dijelasin sih, kalau kita nih cuman temen deket aja, apa salahnya sih bos temenan deket ama asistennya?”
“ Sorry,nie, gua cuman nggak mau lu sakit hati lagi,” Rani lalu berlalu masuk ke dalam kantornya.
Anie menghela nafas, udah cape duluan mengingat rapat hari ini yang pasti se-lama kemaren, tambah lagi harus ketemu Vincent yang sepanjang rapat hobinya memandangnya sinis, memperhatikan gerak – geriknya sambil sesekali berbisik pada asistennya. Tak lama kemudian, si asisten, yang kelihatannya naksir berat sama bosnya itu, langsung menembakkan pertanyaan – pertanyaan terhadap ide yang Anie keluarkan. Untung saja rapat ini hanya seminggu dua kali, rapat model begini setiap hari sama saja dengan minum baygon dalam bir yang kadarnya ditambah setiap hari.
Ketika Anie membuka pintu kantornya, dia menemukan sebuah bungkusan kecil berwarna biru tua di mejanya. Bungkusan bertali putih itu bertuliskan Ana. Ditariknya pitanya untuk kemudian menemukan permen – permen apel kesukaanya di dalam bungkusan manis tersebut. Anie tersenyum sendiri, pasti Daniel, pikirnya. Perhatian kecil tersebut cukup untuk menembakkan semangat baru dalam menghadapi harinya kali ini.
Keluar dari biasanya, pada rapat kali ini Vincent lebih tenang. Dia lebih banyak diam dan asistennya pun berlaku hal yang sama. Mungkin mereka merasa cukup puas dengan iklan yang sudah dibuat Anie dan timnya minggu kemarin. Rapat kali ini yang lebih banyak membicarakan tentang proses launching besok pun berjalan dengan lancar karena setiap orang yang terlibat sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Lalu tibalah saatnya membicarakan mengenai afterparty sesudah launching.
“ Mengenai after party kami putuskan untuk diadakan di Marmalade Club,pada hari Sabtu mulai pukul 8 malam, “ ujar Mirna, salah satu dari wakil WCC yang juga adalah asisten Vincent.
Anie tersenyum sebal, ini pasti akal – akalannya Vincent, pikirnya, soalnya, Marmalade Club adalah tempat mereka pertama bertemu dulu. Anie melirik Vincent, yang ternyata juga tersenyum kecil sambil melihat ke arahnya.
What the hell is in your head Vic?

Aku dipanggil yang terhebat, aku disebut yang terkuat,
Dan dengan segenap kekuatanku aku akan melesat,
Aku akan bertempur dengan hatimu sebagai pialanya,
Aku akan melakukan apa saja, apa saja,
Aku akan berikan segalanya,
Asal kudapat jiwamu
Dalam genggaman tanganku.

☻☻☻

Hari itu akhirnya berlalu, buat Anie rasanya sama seperti sudah melewati perang hari pertama. Besok, tinggal memastikan semua perangkat launching berfungsi sebagaimana mestinya. Sempat terlintas dalam pikirannya, apakah Daniel akan meneleponnya malam ini. Tapi, buru – buru di buangnya pikiran itu jauh – jauh, sekarang ini mungkin malahan Daniel sedang jetlag.
Anie melangkah pelan memasuki rumahnya. Sebuah rumah sederhana warisan ibunya yang masih terjaga baik semenjak Anie bayi sampai sekarang. Ketika semua eksekutif muda memborong apartemen mewah, Anie lebih memilih berdiam di kediaman cinta keluarganya. Penuh kasih dan nostalgia, hal – hal yang tidak akan pernah didapatnya dari apartemen atau hotel mewah manapun.
Seperti biasa, setiap pulang kerja, Anie selalu menyetel lagu – lagu slow jazz bangsa Norah Jones atau Kenny G untuk menemaninya berendam dan mandi. Namun sayangnya, suara – suara indah tersebut, serta musik yang dihasilkan showernya, telah meredam suara telepon yang diharapkannya berdering. Sayangnya, telepon itu menolak untuk berdering justru ketika Anie sedang mencoba mengheningkan suasana lebih dari biasanya. Sampai – sampai dia ketiduran di sofa.
Tiba tiba, telepon berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali dan ...
“ Halo?”
“ Ana? Ini Daniel, wow, disini bagus banget, an! Eh, kamu belum tidur kan?”
“ Huh? Sudah tidur belom? Sudah, aku sudah tidur,”
” Waa..sorry kalau begitu, gimana hari ini?”
” Yah begitu aja, aku beryukur itu sudah berlalu, kamu sendiri gimana?”
“ Aku menikmati banget semuanya, Peter bersikap baik sekali, tadi kita beres – beres buat pameran besok, galerinya juga bagus, pemandangannya apa lagi, wah awesome banget, sayangnya ada yang kurang, “
“ Hah? Apa yang kurang?”
Daniel terdiam sebentar, lalu berdeham,
“ Aku cuma berharap kamu ada disini, na,”
Anie cukup dibuat kaget dengan pernyataan barusan, sekarang dia benar – benar bangun dari tidurnya,
“ Aa..sudah dulu deh ya, aku ada janji makan sama Peter,”
Anie masih belum bisa ngomong,
“ na? Anie? Kamu ketiduran lagi ya?”
“ Oh nggak , nggak, cuma tadi ada acara TV baru yang pengen aku lihat, sorry,
eh...aku juga ...pasti ...seneng banget kalau bisa nemenin kamu disana, ya udah, may you have a great day tomorrow,”
“ Bye, Ana, sweet dream,”
Telepon ditutup. Pembicaraan selama kurang lebih lima menit itu lebih dari cukup untuk membuat harinya jadi lebih indah besok.

Kubisikkan harapanku pada bintang,
Tolong sampaikan padanya,
Aku merindukannya,
Lebih dari gurun merindukan hujan,
Lebih dari bunga merindukan musim semi,
Aku sungguh merindukannya.

☻☻☻

LAUNCHING DAY ONE
Mulai jam delapan malam berarti datang maksimal jam tujuh tigapuluh.
Semuanya tampak baik – baik saja, Rani sedang sibuk memberi wejangan pada para pergawati yang akan memperagakan produk nantinya. Wejangan itu essential, kata Rani, seperti jimat keberuntungan supaya produknya laku.
Vic dan sekertarisnya yang centil datang lima menit sebelum launching dimulai.
Launching mulai on time.
Mau nggak mau Anie harus duduk berdekatan dengan Vic, mereka dipisahkan oleh sekertaris Vic dan dua orang kru Anie (yang dengan sengaja diperintahkan untuk duduk disitu).
Jam sembilan Daniel menelepon.
Anie terbang keluar kafe.
Vic bisa mengenali kedua sayap yang tiba – tiba terkembang di punggung Anie,
Sayap orang jatuh cinta.
☻☻☻

LAUNCHING DAY TWO

Mulai jam sembilan pagi.
Karena hari ini pameran, acara berlangsung seharian.
Anie hanya datang untuk membuka acara.
Sepintas Vic tampak sedang kesal, dia diam saja.
Jam sepuluh Vic pulang, sekertaris dan seorang krunya yang tinggal.
Anie tinggal sampai waktu makan siang lalu kembali ke kantor.
Rani tampak bahagia dikelilingi bidadari – bidadari SPG.
Jam sepuluh malam Daniel telepon.
“ Aku berhasil, nie!”
“ Maksudnya?”
“ Peter mau aku melukis buat galerinya! Dia mau aku tinggal di Paris, nie!”
“ Wah, selamat ya, “
“ Memang masih percobaan sih, katanya mereka suka lukisanku, jadi Peter menawarkanku untuk masa percobaan selama tiga bulan, kayak penjara aja ya? Nie? Halo? Kamu masih disana kan?”
♪ Lagu Norah Jones “ Feeling the same” ♪
“ Anie? “
“ Eh, iya, iya, sorry, aku lagi nonton berita, sekali lagi selamat ya, you’ve got your dream job,”
“ Itu juga karena kamu, nie, I owe you a lot,”
“ Trus, kapan balik?”
“ Aku usahain pas after party aku udah nyampe, janji deh,”
” ya udah, hati – hati ya, “
“ Eh..., “
” Knapa?”
“ kamu tahu... I think I miss you, “
“ Hahaha...iya iya, lucu,”
“ Eh... iya, lucu ya? Okay, see you later then,”
“ bye,”
♪ Lagu Norah Jones habis. Anie membenamkan kepalanya di bawah bantal lalu menjerit keras – keras.
☻☻☻

Sehembus angin melintas di hadapanku,
Menuntunku terbang ke sebuah taman,
Taman dengan ribuan bunga bakung.
Disana ada sebuah danau berwarna keemasan,
Aku tahu kau ada disana,
menungguku.
Sampai matahari terbenam di barat,
dan burung berhenti bernyanyi,
sampai nyawaku berada di batas hidup,
dan siap untuk mati,
akan kucari taman itu.

Sesampainya di kantor, Anie menulis barisan puisi itu. Dia punya sebuah buku tempatnya menulis semua curahan hatinya, ketika kata – kata yang bersuara gagal menyuarakan isi hatinya, atau semua makhluk sedang sibuk menjalankan tugasnya, buku itu selalu berhasil menjadi sahabatnya. Tidak ada yang tahu mengenai buku itu, buku yang bersampul kertas transparan berwarna cokelat yang terlihat sudah tua, namun isinya adalah peta kehidupan Anie mulai dari SMP sampai sekarang.
Judul puisi itu: Taman Bunga Bakung. Anie meletakkan pensilnya lalu beranjak ke jendela. Hari itu mendung, kenapa setiap jumat pasti mendung? Pikirnya, atau langit sedang turut berdukacita untuknya?
Tiba – tiba pintu kantornya dibuka, Rani meyembul dari sana.
“ An, lu mau ke pameran ga?”
“ Kayaknya engga deh, gua mesti ngumpul ama Fe dan kawan – kawan buat ngebicarain after party besok,”
“ Yah, oke deh, lu knapa sih, muka lu pucet tau ga? Sakit?”
“ Enggak, cuma kurang tidur sama paling – paling juga kecapean, “
“ heh, serius luh, tampang lu yang kayak gitu tuh gua kenal,”
” Apaan?”
” Tampang patah hati, entar kita makan siang bareng ya, gua jemput jam dua belasan,”
” Ya udah,”
Rani menutup pintu. Kalau sudah ngajak begitu, Rani tidak bisa menerima kata tidak, apalagi gimana nanti, sama sekali ga sopan katanya.
Anie kembali terbenam dalam bukunya, tapi jarinya kelu, tidak bisa menulis, sama seperti hatinya yang rasanya seperti minum bir campur sambel alias ga karuan rasanya. Di satu sisi, dia senang Daniel berhasil mendapatkan pekerjaan yang selalu dia impikan, di lain sisi, dia sedih kalau harus kehilangan Daniel.
“ POKOKNYA GAK KARUAN DEH!” akunya pada Rani saat makan siang tiba. Kalimat tersebut muncul setelah penjelasan panjang lebar mengenai proses keberhasilan Daniel. Panjangnya bukan lantaran prosesnya, tapi lebih karena Anie kehilangan semua kata – kata yang sudah dipelajarinya sejak lahir.
“ Nie, lu suka ya ama si Daniel itu?”
“ Ga tau deh, kali,”
“ Gimana tadi rapat ama staff lu, mood lu lagi ancur begini pasti bawaannya ga enak,”
“ Enggak juga, cuma gua sempat marahin manajer kafenya gara – gara ngasih pejelasan yang berbelit – belit, intinya sih, go go dancernya mungkin berkurang,”
“ terus?”
” Ya gua ga mau tahu, jadi dibayar pake Djnya di kasih yang lebih bagus,”
“ Sedih donk Daniel mau pindah, gimana kalo surat pengunduran dirinya gak lu setujui aja, dia pasti gak bakalan bisa pindah,”
“ Itu gak adil, dia selalu pengen jadi pelukis, biarin aja deh dia pergi, demi dia juga kan?”
“ Ciieehh... sejak kapan lu mau berkorban demi makhluk yang namanya cowok hah? Lu udah mulai jatuh cinta rupanya?”
“ Eh Ran, menurut lu cinta itu apa sih?”
“ Buat gua cinta itu cuman sekumpulan energi yang gak jelas tapi bisa bikin orang waras jadi gila, jadi kalau bisa energi itu ga usah dipake, malahan kudunya sih dibuang,”
Anie cuma bengong campur bete. Temennya yang satu ini memang gak jelas dari planet mana.
“ Kalo kata gua, cinta tuh... ya gitu lah, kayak morfin, kalo gak minum nagih, jadi sebelum kecanduan mendingan jangan dimakan lagi,”
Keduanya terpana, kesimpulan dari percakapan mereka cuma satu, cinta memang gila.
Anie berusaha menyibukkan diri dengan rapat staff, ngecek Marmalade Cafe lalu belanja baju buat after party besok. Belanja itu bisa jadi obat patah hati yang mahal tapi mujarab.
☻☻☻

AFTER PARTY
Semua sudah berkumpul. Pesta dijadwalkan mulai jam sembilan tapi jam setengah sembilan hampir semua undangan sudah datang. Rani dan krunya sudah lengkap, Vic berikut asistennya juga sudah datang. Dia sedang duduk sendirian di meja bar. Rani menyapanya, wajah Vic agak kemerahan, sepertinya dia sedikit mabuk. Vic menanyakan Anie, dan Rani memberi tahunya kalau Anie belum datang. Dengan beralasan harus melayani para tamu, Rani beranjak pergi dari hadapan Vic.

♫ Dj memainkan lagu BT – Simply Being Loved. ♫

Seorang wanita berjalan memasuki kafe Marmalade. Dia mengenakan celana panjang cut brai berbahan kulit berwarna hitam dengan sepasang boots berwarna hitam yang berhak tinggi disambung dengan baju tanpa lengan bermodel pakaian dalam orang cina jaman dulu sementara punggungnya hanya ditutupi dua utas tali dari bagian bawah lengan kanan dan kirinya yang saling mengikat. Rambutnya yang panjang diikat satu ditengah sementara bahu dan sebagian kecil punggungnya bertaburan glitter – glitter indah. Make-upnya simple, tapi membuatnya lebih cantik dari biasanya.
“ WOW, Anie, how goregous, “ seru Rani ketika melihat Anie datang.
“ Thanks, kalo lagi bete gua selalu dandan, lu tahu kan Ran?”
“ Iya, tapi kali ini ... lu cantik banget nie, kalo gua jadi Daniel lu minta apa aja pasti gua kasih, deh, “
“ hahaha... very funny, mana si bos, gua kudu nemuin dia dulu,”
Untuk beberapa waktu mereka berdua sibuk bersalaman dengan sekolompok orang di meja yang paling ramai di kafe itu. Tinggal satu orang terakhir yang belum di beri selamat, perwakilan dari WCC. Rani menunjuk Vic yang masih berada di meja bar. Kali ini dia tidak sendirian. Seorang wanita berambut cokelat terang duduk disebelahnya. Semakin dekat Anie berjalan ke arah mereka, semakin jelas kalau wajah wanita itu tampak kecewa. Apalagi ketika Anie tiba.
“ Vincent, selamat ya, promosi produkmu berlangsung sangat baik,”
Vic berbalik, dia terpana melihat Anie.
“ A...anie?”
” Gosh Vic, you’re drunk,” Anie tampak seperti mengenali wajah wanita ini, tapi dia lupa dimana. Tiba – tiba handphone Anie berbunyi.
“ Permisi, Vic, and enjoy the party,” Anie dan Rani berlalu.
“ Wait, Anie..”

Dont you leave, my preety fairy,
I love you too much to let you walk away from me
Please come back to me, my baby,
Do you know my life is empty without you beside me

Anie semakin menjauh, ditelan kerumunan orang. Tapi dia tampak bahagia, sesuatu sudah membuatnya melupakan Vic.

I once your every blood and pulse,
Now I am nothing but falling leaves burned by the fire
You are once have been my curse,
In my heart today you always there on the corner

Lalu dia datang dari balik pintu. Anie menyambutnya dengan bahagia. Matanya berbinar – binar, keduanya saling berpelukan, melepas rindu. Dia memuji Anie cantik, lebih cantik dari biasanya. Anie tersenyum senang, membuatnya lebih cantik lagi. Dia menggenggam tangan Anie, dan Anie membiarkannya! Anie juga menggenggam tangannya.

Please dont take her away from me,
She is my love
Please tell me she will be back next to me
She is my life

Vic mengambil langkah maju. Dia tidak menghiraukan kata – kata menenangkan yang diberikan oleh wanita cantik disebelahnya. Dia berjalan menuju Anie, berniat mengambilnya dan membawanya pergi, sejauh mungkin dari sini. Vic sudah tidak tahan melihat Daniel yang dengan perlahan menuntun Anie menjauh darinya.
“ Hei!” seru Vic sambil memegang lengan Anie, “ wait! “
Daniel tidak tinggal diam melihat hal itu terjadi. Dia memegang tangan Daniel dengan penuh ancaman,
“ Tolong lepaskan, “ serunya pelan.
“ Mau ngomong apa lagi, Vic? Its over,” seru Anie.
Vic menatap Daniel penuh dendam, seperti menatap seorang kriminal kelas berat.

Jika saja bisa, ingin kutarik jiwamu dan kuhempaskan ke neraka,
tapi didalam tanganmu tergenggam hatinya, dia yang kucinta,
jika kusakiti nyawamu, dia akan menderita,
dan terkutuklah diriku selama – lamanya.

“ Vincent! Kenapa-“ wanita cantik yang sedari tadi menemani Vic menyembul keluar, wajahnya tampak panik, terlebih lagi ketika dia melihat Daniel. “ Daniel?” gumamnya.
“ Sylvia?” tanya Daniel keheranan.
“ Kamu kenal dia rupanya? Oh, kayaknya aku ingat, dia yang di frame-...” Anie mulai menangkap apa yang terjadi.
“ Hahaha...hebat kan, Daniel? Wanita yang dulunya pacarmu ini selingkuh denganku, dan aku berselingkuh DARI wanita yang sekarang kamu cintai, LUCU KAN?” Vincent tertawa keras – keras, sementara Daniel menatapnya penuh amarah.
“ I dont love your woman today, I love the woman from your past,” ucap Daniel dengan penuh keyakinan.
Anie sangat terkejut mendengarnya, rasanya seperti baru menelan sushi rasa cokelat, lalu minum sake berguci - guci. Mabok.
Vic balas menatap Daniel penuh kebencian, sementara Sylvia hanya menatap Daniel hampa sambil meneteskan air mata.
“ You son-of-a-bitch, I’ll kill you!” Vic berniat memukul Daniel tapi keburu dicegah Anie.
“ VINCENT! SADAR COBA! Kamu akan menghancurkan semua yang sudah kamu bangun bertahun – tahun cuma dengan berkelahi gara – gara sebab yang gak jelas kayak gini, ingat karir kamu, “
“ Nggak jelas gimana, honey, I love you, I ALWAYS DO! I WONT LET HIM TAKE YOU AWAY FROM ME!”
Sylvia makin hebat nangisnya, ternyata selama ini, Vincent tidak pernah benar –benar menjadi miliknya.
Daniel menggenggam lengan Vincent yang mencoba memukulnya, sekarang mereka sudah menjadi tontonan. Rani ikut menengahi pertikaian antar rival cinta ini.
“ Sudah hentikan, lebih baik kalian selesaikan ini di luar, jangan buat malu perusahaan kalian masing – masing,”
Kedua belah pihak tampak setuju, Anie lebih dulu keluar bersama Daniel.
Di luar angin bertiup cukup kencang, Anie merapatkan jaket bulu hitamnya. Daniel menggenggam tangannya. Mereka berhenti beberapa meter disamping cafe, lalu Anie melepaskan genggaman tangan Daniel, yang membuatnya tampak sedikit keheranan.
“ Kenapa? “ Anie bertanya sambil memunggungi Daniel.
“ Kenapa apanya?”
“ Kenapa kamu katakan itu?”
Daniel menghela nafasnya lalu dengan suara agak berat dia berkata,
“ Because...I love my boss, “
Anie berbalik lalu memberondong Daniel,
“ Kamu mau tahu apa yang sedang kamu rasakan? Kamu sedang sangat bahagia karena pada akhirnya kamu mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan, dengan aku sebagai hero-nya, jadi, kamu merasa berutang budi dan berusaha meyakinkan dirimu sendiri, berikut aku, bahwa kamu mencintai aku, dengan begitu, kamu tidak punya hutang apa – apa, iya kan?”
“ Kenapa kamu berpikir seperti itu? A...aku tidak pernah merasa seperti itu,”
“ Kamu cuman belum yakin dengan apa yang kamu rasakan, semuanya campur aduk jadi tidak karuan lagi,”
“ Bukan begitu! Aku tahu apa yang aku rasakan! Aku cinta kamu, apa itu salah?”
“ Kamu yakin itu cinta?”
“ Yang aku tahu itu bukan perasan yang campur aduk dan tidak karuan rasanya, memang itu membuatku kacau balau, tapi aku tahu kalau aku memang mencintai kamu!”
Mereka saling bertatapan,
“ Kamu tahu apa soal cinta, Daniel? Kalau kamu mau, kamu bisa ambil kembali wanita yang pernah kamu cintai di dalam sana, “
“ Kenapa jadi seperti ini sih? Aku minta maaf kalau aku sudah menyinggungmu dengan semua yang aku katakan, tapi itu kebenarannya, Anie, aku tidak bermaksud membuatmu kesal, “
Keduanya terdiam,
“ Mulanya aku tidak mau mengatakannya, tapi ... aku tidak ingin siapa pun menyakitimu, atau menjauhkanmu dari...”
“ Sudahlah, Daniel, kamu cari tahu saja dulu kebenaran apapun yang kamu rasakan saat ini, aku mau pulang,”
Daniel tampak kecewa sekali,
“ Oh aku tahu, ini pasti masalah ego antara atasan dan bawahan, iya kan?” tiba – tiba Daniel berujar dengan kesal.
“ Hah? Maksud kamu apa sih?”
“ Kau mengganggap aku lebih rendah, iya kan?”
“ Apa?!”
” You’re the boss! I’m just a damn assistant, we’re not equal, right?”
“ Terserah deh,” Anie beranjak pergi dengan marah.
“ Mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku!”
“ Terserah kamu, Daniel, kamu mau berpikir yang eggak – enggak kek, atau KAMU MAU PERGI KE PARIS KEK, TERSERAH!”
Anie berlalu, dia baru saja melewati Vincent yang menyembul dari dalam pintu cafe. Dia tersenyum licik gaya orang mabuk,
“ Hahaha, kasihan kamu, tampaknya dia tidak akan jadi milikmu juga, ya Daniel?”
Daniel memandangnya dengan sebal, lalu berjalan menjauh.
“ Daniel, tunggu!” Sylvia memanggilnya dari belakang, Daniel berhenti berjalan. Tanpa membalikkan badan dia mendengar Sylvia berkata,
“ Maafkan aku, Daniel,”
Tanpa membalikkan badan juga Daniel berkata,
“ Maaf untuk apa?”
“ Untuk semuanya,”
“ Tidak ada yang perlu dimaafkan,” Daniel berbalik, tersenyum sebentar, lalu berlalu.

Kekasih, cintaku kah yang salah?
Ataukah kakiku melangkah ke tempat yang tidak seharusnya?
Maafkan seruan hatiku yang menyakitkanmu,
Percayakah kamu, kekasih?
Kalau setitik sentuhanmu sudah cukup untuk membanjiriku dengan cinta,
Sekecil apapun embun dari air matamu sudah cukup untuk membuatku sekarat,
Percayakah kamu, kekasih?
Aku memang mencintaimu.

☻☻☻

♪ Puddle of Mud – Blurry ♪
Anie
Tiba di rumah, Anie langsung mandi. Berendam air hangat dengan ditaburi bunga kering adalah obat paling manjur mengusir stress. Dia bingung, maksudnya Daniel apa sih? Mungkinkah dia benar – benar mencintai Anie? Tidak pernah terpikirkan sedikitpun Daniel akan merasakan itu, bagi Anie, semua perhatian yang diberikannya selama ini hanya masuk kategori ‘kekaguman’ , bukan ‘cinta’. “ Nggak mungkin, dia masih teralu muda, masih buta soal cinta, iya kan? Mantan kekasihnya saja tidak dapat cintanya, lalu kenapa harus aku?” Lagian, kalau bukan gara – gara mantannya itu, Vincent tidak akan selingkuh, tapi... tanpa perselingkuhan itu... aku tidak akan merasakan semua perhatian kecil yang selama ini aku inginkan... aku tidak akan merasakan jatuh cinta yang sebenarnya... dihargai seperti adanya... bukan karena aku seorang manajer... bukan karena aku seorang wanita yang independen... aku dicintai sebagai Anie... Anie yang slebor... yang sering lupa janjinya... Anie yang tidak bisa masak... Anie yang tidak sekuat kelihatannya...
Anie menenggelamkan kepalanya dalam bathtub.

Daniel
Dengan kemeja yang tiga kancing atasnya terbuka, Daniel duduk diatas sebuah bangku bulat sambil memandangi sebuah lukisan dihadapannya. Tampangnya masih kucel, belum mandi. Disentuhnya lukisan itu. Lukisan seorang wanita berambut cokelat tua yang terurai indah. Dia tersenyum. Dia itu Anie. “ Kenapa kamu nggak percaya? Teralu mudakah aku untuk memiliki cintamu? Aku tahu apa yang aku rasakan, aku tahu apa artinya cinta, kita tinggal di dunia yang sama, bos, kita sama – sama pernah dicurangi orang, kita sama – sama pernah payah gara – gara cinta, karena itukah kamu tidak percaya, bos? Karena kamu tidak mau disakiti lagi?”
☻☻☻

Besoknya minggu, dan seperti biasa, setiap hari minggu Anie selalu jogging keliling taman kota. Olah raga adalah cara lain yang sangat ampuh untuk mengusir stress. Sambil ditemani musik yang terus bernyanyi melalui discmannya, Anie berlari kecil dengan tatapan agak kosong. Saking kosongnya,dia tidak menyadari kalau dia baru saja melewati Daniel yang sedang duduk di bangku taman.

♪ Coldplay – yellow ♪

Daniel menggenggam selembar kertas. Dia memandang semu kertas itu dan juga Anie, ketika wanita yang dicintainya itu melewatinya begitu saja. Rasanya hilang sudah satu –satunya alasan mengapa dia tidak harus pindah. Padahal, kalau saja, kalau saja, Anie minta dia untuk tinggal, dia akan buang surat itu beserta semua mimpinya untuk menjadi seorang pelukis yang hidup dari melukis, dan kemudian bersedia menjadi seorang sekertaris seumur hidupnya selama dia masih bisa berdekatan dengan bosnya. Tapi bagaimana bisa, apabila bosnya sendiri tidak mempercayainya, bahkan untuk hal yang baginya sangat nyata sekalipun, hanya sebuah bentuk imaji yang semu bagi Anie, bosnya, dan orang yang dicintainya.
Daniel beranjak pergi, surat itu diselipkan dalam kantongnya.
Aku ingin jadi orang pertama yang menggenggammu,
Ketika dirimu dalam derita,
Aku ingin jadi orang pertama yang membalut lukamu,
Ketika dirimu terluka,
Aku ingin jadi orang yang paling terakhir bersamamu,
Ketika yang lain menyerah dan berlalu
Aku ingin jadi orang yang paling terakhir berjanji padamu,
Aku tidak pernah ingin menyakitimu.

☻☻☻
Sabtu dan minggu berlalu dalam kemurungan dan hari senin pun memaksa untuk datang. Seperti biasanya sehabis weekend, kantor bernuansa agak kelabu. Anie datang dengan setelan jas putih untuk menolak segala bentuk mantera malas bekerja hari itu, karena putih adalah warna yang paling disukainya. Ketika dia datang, Daniel sudah ada di mejanya seperti biasa sedang merinci segala janji yang Anie punya hari itu.
“ Pagi, Daniel, “
Dengan wajah yang tampak kelelahan, Daniel tersenyum,
“ Pagi, bu, “
Seperti yang terjadi setiap hari pada jaman – jaman keajaiban sejak Daniel datang, Anie selalu terpesona dengan senyuman itu, tapi hari senin itu, hatinya sedikit perih.
“ Ada pesan untukku?”
“ Ada, Madamoiselle Edna telepon, mau buat janji untuk ketemu makan siang, beliau bilang ada proyek buat perusahaan kita, belum ada janji yang lain, tapi ada ini,” Daniel mengeluarkan sesuatu dari bawah mejanya, sebuah buket bunga mawar pink yang indah, “ ini dari tuan De Larea, diantar sendiri lima belas menit yang lalu, “
Anie memandangi bunga itu, kalau Daniel benar – benar mencintainya, pastilah dia sebal karena harus menerima bunga itu langsung dari tangan rival terbesarnya. Anie mengambil bunga itu lalu,
“ RAANN...” Rani menegok ke arahnya, “ ada bunga buat kamu, kalau nggak mau buang saja, “ Anie meletakkan bunga itu di meja Daniel lalu masuk kedalam kantornya. Rani mendengus kemudian menyusul Anie ke dalam.
“ An, dia udah datang dengan niat baik pagi – pagi minta maaf dan lu mau buang itu begitu aja?”
“ Biarin, gua gak peduli,”
” Nggak peduli?!”
” Dia juga gak peduli bikin malu gua pas jumat, itu pesta gua Ran, harusnya dia hargai dong,“
Rani menengok sebentar kebelakang, lalu mencondongkan tubuhnya diatas meja kerja Anie.
“ Lu kesel sama Vincent apa sama asisten lu yang mau cabut, an?”
Anie memandangi Rani sebal.
“ Ta’u ah, gua bingung, gak tahu mesti gimana, en gua lebih milih konsentrasi kerja aja dulu deh, “
“ Yaahh...gua sih percaya aja lu bisa milih – milih yang mana yang paling penting, tapi ati – ati aja ya, the bridge you burn today maybe needed in the future, lu cinta dia?”
Anie terdiam sejenak, semua pertimbangan ketika dia berendam pada malam minggu itu muncul kembali ke permukaan.
“ Jawab yang jujur, an,”
“Kayanya sih,..., iya,”
“ Udah gua kira sih, kalau memang lu sayang ama dia, kenapa ga minta dia tinggal aja?”
“ Ga bisa, ran, gua pengen dia berhasil, jangan gagal cuma gara – gara bosnya cinta ama dia, gua ga seberharga itu,”
Rani menghampiri Anie lalu memeluk bahunya,
“ Kamu pantas dapat yang terbaik, an, mungkin dengan membiarkannya pergi, kalian bisa uji lagi perasaan kalian, kalau memang cinta itu benar- benar ada diantara kalian, pasti itu gak akan hilang, kok, meski dipisahkan jarak dan dimakan oleh waktu,”
“ Thanks, girl,” Anie tersenyum, biarpun nggak jelas dari planet mana, sahabatnya yang satu ini memang yang paling hebat.
☻☻☻
Rani keluar dari kantor Anie, diikuti dengan pandangan Daniel yang ingin tahu apakah Anie baik – baik saja, masalahnya ada yang ingin dibicarakannya, dan mungkin itu akan menghancurkan semua mood baik yang sudah dibangun bosnya hari itu. Dicobanya untuk mengintip bosnya melalui celah pintu, dan tampak Anie sedang sibuk mencari – cari sesuatu, wajahnya tampak normal – normal saja. Tapi, Daniel mengurungkan niatnya.
Jam demi jam berlalu, tiba waktunya untuk Anie makan siang dengan janda ningrat blasteran perancis-jawa yang selalu ingin dipanggil madamoiselle padahal umurnya sudah kepala tiga dan punya anak dua. Sebelum masuk lift, Anie melirik Daniel yang sedang makan siang dimejanya, dia baru saja membuka bekalnya, Anie baru ingat, hari itu Daniel tidak membawakannya makan siang. Anie yakin, bahwa nantinya dia akan sangat merindukan makan siang itu.
Hari itu hampir berlalu. Anie sedang bersantai di sofanya ketika tiba – tiba bel rumahnya berbunyi. Ternyata Daniel yang datang. Dia mengenakan celana jins biru tua bermodel pipa dan sweater abu terang. Wajahnya tampak masih lesu, tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum.
“ Malem, maaf , kalau tidak mengganggu, ada yang ingin saya bicarakan,”
Anie agak terkesima sebenarnya dengan tamunya malam itu, masalahnya, pria di hadapannya itu adalah satu – satunya benda yang ada di kepalanya hari itu.
“ Oh, enggak, enggak ganggu kok, silahkan masuk, nggak usah formal gitu deh, kita udah nggak di kantor lagi, kan?”
Daniel tersenyum agak malu, dia melangkah masuk. Anie menutup pintu dan mempersilahkannya duduk, tapi Daniel menolak, dia tampak gugup.
“ Ini...” Daniel mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, sebuah surat.
“ Biar kutebak, kamu mengundurkan diri kan?”
Terkadang Daniel benci ketika bosnya menebak pikirannya, kenapa bukan pikirannya yang mengatakan kalau bosnya minta dia jangan pergi dia bersumpah tidak akan melangkahkan kaki kemana – mana dari meja di depan kantor bosnya, yang ditebak oleh Anie dengan benar?
“ Iya, kalau anda mengijinkan...”
“ Kejarlah apa yang kamu inginkan, Daniel, aku tidak akan menghalangimu pergi, “
” Jadi, anda akan membiarkan saya pergi,bu?”

♪ Dido – Here With Me ♪

“ Sudah jangan sok formal deh, “ Anie tertawa kecil, “ aku tahu kamu pengen pekerjaan itu dari dulu, jadi mana tega aku nahan kamu disini,”
Di luar dugaannya, Daniel justru terlihat agak sedih, Anie jadi mulai nangkap pikiran Daniel yang lain, yang sedari dua hari yang lalu ingin ditebak dengan jitu oleh Anie. Anie mengambil sebotol anggur dari dalam lemari es, lalu menuangkannya kedalam dua buah gelas. Dia kemudian memberikan salah satunya pada Daniel.
“ Cheers! Untuk masa lalu yang sudah berlalu dan masa datang yang akan datang, “
Daniel tersenyum, apa ini tanda bosnya ini memang baik, atau cintanya benar – benar ditolak?
“ Kamu seorang asisten yang baik, Daniel, pasti sulit kehilangan kamu dan harus cari pengganti yang baru, lagian... bagiku... kamu... memang lebih dari sekedar seorang... asisten,“
Dari wajah yang mulai terpancar sebuah sinar harapan, Daniel menatap Anie penuh arti,
“ tapi, entah sebagai rekan kerja atau teman yang baik, aku nggak mungkin nahan kamu terus disini sementara impianmu itu sudah didepan mata, aku nggak bisa, niel, aku lebih suka melihat kamu berhasil di bidang yang kamu sukai dari pada melakukan sesuatu dengan terpaksa, “
” Aku tidak pernah merasa terpaksa melakukan apapun untukmu, Anie, “
“ Eiss.. tenang dulu, aku tahu kamu cukup menikmati pekerjaanmu, tapi jangan tipu hati nuranimu kalau kamu pengen banget jadi pelukis, impian masa kecil yang masih dan akan terus hidup sampai kapanpun, “
” Anie...”
” Aku lebih suka, suatu saat nanti, melihat lukisanmu dipamerkan di galeri dan ditawar orang jutaan dolar, dari pada mengikatmu di sampingku hanya demi ambisi pribadiku sendiri...itu namanya egois... dan egois bukan cinta, “
Mereka saling bertatapan, dan untuk sesaat terbawa emosi masing – masing. Hampir semua pertanyaan sudah terjawab, tinggal menyisakan beberapa yang vital tapi tersembunyi. Daniel memeluk Anie, dia tahu ini adalah kali terakhir dia mampu melakukan ini, ini juga mungkin kali terakhir, dia bisa memohon cintanya.
“ Anie, ikutlah bersamaku,”
Anie benar – benar terkejut, dia tidak pernah menyangka Daniel akan menanyakan hal gila itu, mungkinkah...dia benar – benar mencintaiku?
“ Daniel...kamu tahu aku nggak bisa,”
“ Peter sudah menyediakan sebuah flat untukku, kamu bisa tinggal disana,”
“ I’d love to, but ...Sorry, Daniel...”
“ Please Anie... I ... I ... love you...”
“ Daniel..aku....tidak bisa....”
Jawaban itu sudah final. Jauh di lubuk hatinya Anie memang ingin pergi bersamanya, pergi jauh dari dunianya saat ini dan menjalani hidup baru, bersama orang yang mencintainya dengan sungguh – sungguh, bukan orang yang sekedar mempermainkan perasaannya. Daniel juga sepertinya sudah mengerti jawaban akhir bosnya itu, pekerjaan bosnya bukanlah pekerjaan yang bisa ditinggal begitu saja, kini gilirannya untuk mengerti.
“ Then let me hold you just for a while,”
Anie mencoba untuk menahan air matanya, paling tidak sampai Daniel pulang, supaya dia tidak tahu, supaya Daniel tidak berhasil menebak, kalau Anie juga mencintainya.
☻☻☻
Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun mengalir. Beberapa minggu pertama memang sangat berat, kehilangan asisten yang begitu disayangi. Sampai – sampai Anie tidak bisa memperoleh asisten yang baru lantaran fokusnya cuman sama Daniel, terpaksa Rani turun tangan. Tanpa terasa, tiga tahun berlalu.
Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah galeri-cafe di pojok kota Paris, Anie duduk di bar sambil mengenakan mantel panjang berwarna cokelat. Bulan Desember memang sangat dingin disana, jadi Anie sudah siap dengan mengenakan sepatu boots plus sarung tangan. Di dinding cafe itu banyak sekali lukisan, salah satu lukisannya bahkan sangat mirip dengannya dulu, ketika rambutnya masih panjang. Sekarang rambutnya sudah dipangkas pendek sebahu, dan saat ini ditutupi sebagian dengan sebuat topi berwarna hitam.
Tiba – tiba pintu cafe berdering, tandanya ada yang masuk,
“ For the love of God, Anie! I thought you wont come! “ Peter menyerbu Anie. Dia belum berubah, masih tetap Peter yang gembul dan botak.
“ Well, aku disini sekarang, “
“ You look preetier, sweet-child, tunggu sampai dia lihat kamu yah, “
“ Dia?”
” Iya, dia, apa kamu tidak kenal lukisan ini?” Peter menunjuk lukisan yang menyerupai Anie tadi. Anie menatap lukisan itu lagi, mungkinkah ini lukisan yang dulu masih ditutupi kain itu? Yang aku tidak boleh lihat?
Tiba – tiba pintu berdering kembali. Dan dari sana menyembul seseorang yang sudah lama tidak dijumpainya, seseorang yang sudah menawan hatinya begitu lama. Dia juga tidak berubah, masih tegap namun berambut agak gondrong. Orang itu tersenyum lebar ketika dia melihat Anie, walau nafasnya masih terengah – engah lantaran habis lari jauh.
Anie membalas senyuman itu dengan senyuman manis lainnya,
“ Hello, Daniel, gimana kabar mu?”
Daniel cuman bisa tertawa, dia lalu buru – buru menghampiri Anie dan menggenggam tangannya,
“ Masih belum berubah, masih milikmu, bos,”
Anie tertawa lepas,
“ Aku juga nggak berubah, hanya saja, aku sudah berhenti kerja, jadi jangan panggil aku bos lagi ya, “
“ Berhenti?”
“ Iya, dan aku lagi cari tempat tinggal nih,”
“ Say it to her today, Daniel , or you’ll regret it forever,”
“ Apa? Ada apa sih?” Anie tampak kebingungan sementara wajah Daniel memerah.
Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah peti kecil berwarna biru tua yang ketika dibuka, isinya adalah sebuah cincin.
“ Anie...bosku sayang, will you marry me?”
Anie benar – benar terkejut, tapi bahagia,
“ Offcourse I will, asistenku sayang, asal kamu nanti yang masak makan siang yah, coz I miss it so much!”
Mereka berpelukan, diiringi tepukan pengunjung cafe yang turut merasakan kebahagiaan mereka.
“ There goes the new couple...” kata Peter “ Daniel langsung membeli cincin itu ketika dia dengar kamu akan datang, an, “
“ O ya?”
Wajah Daniel bersemu merah,
“ Iya, aku nggak mau kehilangan kamu lagi, anie,”
“ Well, till death do us part, then...”
“ Till death do us part...”

THE END
☻☻☻

Your rating: None Average: 6.9 (7 votes)
dikirim joejoe 6 minggu 4 hari yang lalu
Tag: