masih ada yang kurang nih sepertinya, mohon bantuannya ya
maklum cerita panjang (seri) pertamaku

Dimas
................
Malam itu aku tak dapat memejamkan mata.
Bayangan sosok kecil yang siang tadi berada di pekuburan terus saja membayangiku.
Dari foto yang kudapat di Hp-ku, menunjukkan kalau ia memang bukanlah manusia. Karena ia sama sekali tidak ada di foto!
Aku sebenarnya telah menceritakan pertemuanku dengan sosok kecil itu pada kedua orangtuaku, tapi tanpa bukti dan dibantu keadaanku yang bisa dibilang "labil", mereka tak percaya.
Aku menaikkan selimut sampai batas dagu, lalu berubah pikiran dan kembali memeriksa foto di Hp-ku.
Tidak ada.., tetap tidak ada!
Aku melemparkan Hp itu ke laci kecil disebelahku lalu mematikan lampu tidur.
"Ingat padaku?" sebuah suara berbisik lirih di telingaku
Aku bangkit dari tempat tidurku dan bergegas menuju pintu dan mendapati sepasang mata merah dan kuning kecil dibagian tengah, menatapku.
Aku berhasil mundur beberapa langkah dan menyalakan lampu meja.
"Ingat padaku, heh manusia?" Sosok itu berkata.
Ia duduk bersila didepan pintu kamar.
Aku menatapnya, tak mampu berkata apa apa.
"Baik, maafkan aku telah membuatmu terkejut tadi siang" Katanya.
Ia mengepakkan sayap kecilnya dan melayang menujuku.
Ia tidak menghampiriku, melainkan duduk di tempat tidurku.
"Si..siapa kau?"
Ia menghela nafas dalam.
"Baik, mari singkirkan omong kosong yang tak perlu" katanya "Kujelaskau kau beberapa hal yang penting dan patut kau ketahui"
Ia menegakkan tubuhnya.
"Namaku Gerok, aku imp, aku terjebak di duniamu karena seorang shaman telah mengikatku untuk menjaga dan mengusir semua orang yang berniat tak baik pada makamnya"
Ia mencondongkan tubuhnya padaku
"Aku bosan, terlebih lagi kuburan itu penuh dengan hawa tanah yang menusuk! Membuat rohku sakit jika terlalu lama berdekatan dengannya kau tahu?
Aku tak mampu menjawab apa apa, hanya mematung di sudut ruangan sambil menyandar pada tembok.
"Oh, ya'ampun, berhentilah bertingkah seperti itu" Katanya berlagak bosan "Aku sudah terlalu banyak melihat manusia bertingkah seperti itu"
"Apa ma..maumu?" tanyaku sedikit lebih keras daripada bisikan.
Ia tersenyum.
"Ingin langsung ke inti masalah ya? Baik, ini yang ku inginkan darimu" Ia ber-dehem "Aku ingin kau,ehm, siapa namamu?"
"Dimas"
"Dimas, ok" Ia kembali berdehem "Aku ingin kau, Dimas, manusia, menolongku membebaskan ikatan yang mengikatku disini"
Aku bingung harus melakukan apa atau bagaimana.
"Ikatan apa? Shaman apa? kau ini apa? aku tak mengerti sama sekali apa yang kau bicarakan!!" Aku mulai histeris saat itu.
Ia menghela nafas lagi.
"Kupikir, kau harus diberi waktu beberapa lama, aku akan mampir kesini lain kali" Ia terbang menghampiriku, bahkan menyentuh hidungku "dan lain kali, jika aku datang, aku ingin kau menghilangkan tingkahmu yang menjijikkan itu!"
Tubuhnya mulai samar, lalu menghilang sama sekali.
Aku diam beberapa lama disana, sampai keberanianku kembali terkumpul lalu berlari keluar.
.........................................................
Gerok
.......................
Menyebalkan!!!
Manusia memang memuakkan.
Tapi aku bisa apa lagi, selama berada (dalam kasus ini TERJEBAK) disini, hanya dia manusia yang dapat melihatku.
Hanya ia-lah harapanku agar dapat kembali ke duniaku.
"Kupikir kau masih terkena kutuk disini Gerok?" Suara itu lagi (menyebalkan).
"heh, masih berkeliaran disini ya?" kataku.
"Begitulah" katanya
"Beberapa orang akan datang lagi nanti malam, aku harus siap siap nih, pergi sana!"
Ia terbang menjauh tapi tidak pergi.
"berhentilah menakut nakuti mereka Gerok, mereka takkan mendapat apa apa disini"
"Hei, aku kena kutuk disini, ingat?" Aku membiarkan sayapku merenggang sedikit "aku harus melakukan ini atau rohku akan terbakar nanti"
Ia diam beberapa saat.
"maaf kalau begitu"
Aku menghela nafas panjang
"Sudahlah, pergi sana, aku butuh konsentrasi" Kataku. Ia pergi dan menghilang.
Barusan tadi itu adalah arwah penasaran seorang gadis yang meninggal entah kapan. Ia tak dapat menemukan jalan menuju dunia lain dan dengan bodohnya bergentayangan di plane pertama ini (dunia nyata).
Ok, manusia bodoh pertama datang, aku harus mempersiapkan wujudku yang paling menakutkan.
hmmm, bagaimana kalau menjadi hantu tanpa kepala, atau sesosok perempuan dengan balutan jubah putih bernoda darah?
Hehe, malam ini kuharap lebih menyenangkan dari malam kemarin.
..........................................................
Kemarin malam kurang seru, si manusia ternyata shaman (disini mereka menyebutnya dukun), yang memiliki tameng berupa sesosok foliot!
Sial!
Mungkin malam berikutnya akan lebih beruntung.
oh, ngomong ngomong, aku ada janji siang ini dengan si manusia, Dimas itu.
Tanpa buang waktu, aku segera meluncur kesana.
Aku muncul dikamar anak itu. Kamarnya telah berubah total sejak malam kemarin.
Mulai dari pintu sampai jendela, diberi berbagai benda yang sejak zaman Nuh, terkenal akan keampuhannya mengusir mahkluk halus.
Sebut saja; Ada tanda salib, tulisan arab berbagai bentuk, bawang putih, berbagai bunga dengan berbagai aroma menyengat yang memabukkan, dan masih banyak lagi pernak pernik seperti itu disini. Sedang anak itu sendiri hanya duduk disudut kamar, selimut sampai batas hidung, dan memperhatikanku saat muncul dengan seksama.
"Kau pikir dapat mengusirku dengan benda benda macam ini?" Aku tertawa mengejek.
"Mau lo apa sih? jangan ganggu gue kenapa!" Ia memohon.
"Hei, dengar, bahasamu terlalu aneh kau tahu?" Aku terbang menghampirinya "gunakanlah bahasa yang kita berdua dapat mengerti!"
"Pergi!! Jangan ganggu gue lagi!" Katanya sambil menyodorkan bawang putih padaku.
"Apa yang kau harap kulakukan dengan benda ini?" kataku sambil merebut bawang putih itu dari tangannya.
Ia hampir menjerit, karena takut dan aku bertindak cepat untuk mencegahnya (menyumpal mulutnya dengan bawang)
"Hör mir mal gefährlich zu" kataku "oder hast du keine lust zum leben?"
Ia mengerutkan kening (tanda kebodohan yang utama. Dasar manusia!)
"Kau tak mengerti yang barusan kukatakan?"
Ia menggeleng
"Tadi itu bahasa Germania, maka bicaralah bahasa yang kita berdua dapat mengerti!" Ia mengangguk "Ok, berjanjilah, jika sumpalmu kubuka kita dapat bicara"
Ia mengangguk lagi. Aku mengeluarkan bawang dari mulutnya.
Ia beberapa kali terbatuk dan meludah.
"Bisa kita bicara sekarang heh?"
Ia mengangguk
"Bagaimana dengan penawaranku tempo hari?"
"A...aku tak mengerti apa itu" Katanya
"Aku tak mengerti, mengapa tuhan menciptakan mahkluk bebal seperti dirimu?"
Ia mengertukan keningnya lagi.
"Aku bahkan tak tahu, kau itu apa atau siapa dan apa niatmu sebenarnya padaku"
Aku terpaksa harus bersabar dan menjelaskan.
"Aku, jelaskan sekali lagi dan untuk yang terakhir kalinya" Aku mengusap dagu "Namaku Gerok. Aku imp. Aku terjebak disini karena seorang shaman mengikatku untuk menjaga kuburannya dari para pengganggu. Hei, jangan pasang tampang bodoh begitu didepanku, tanya saja jika kau ingim bertanya!"
Ia membuka-tutup mulutnya seperti ikan beberapa saat.
"Kamu imp?"
"kupikir sudah lebih jelas daripada siang"
"Apa itu imp?"
"Imp sejenis demon, tingkat rendah" Kataku sedikit malu.
Jawabanku ini sepertinya mamberinya sedikit keberanian.
"Demon? maksudmu seperti iblis atau setan?"
"kalau memungkinkan. Tapi kami berbeda dari arwah atau hantu, meski kita sama sama memiliki roh"
Ia tampak lebih tenang sekarang, bahkan sudah mulai berani menyentuhku (terutama sayap dan taringku)
"Sebentar, kau bilang demon tingkat rendah? Maksudnya apa?" Anak ini terlalu banyak ingin tahu rupanya. OK, kesarabanku diuji saat ini.
"Ada yang tingkatannya lebih tinggi dari padaku" Aku mulai muak "Jadi, apa kau mau membantuku heh?"
Ia mengerutkan keningnya lagi.
"membantu apa?"
"Mencarikan jalan agar aku dapat kembali ke duniaku!!"
"Ta..tapi, bagaimana caranya?"
Hmmm, pertanyaan bagus. Selama ini aku adalah demon yang dipanggil, jadi urusan pemanggilan hanya para shaman, dukun, atau penyihir yang memanggil-lah yang tahu.
"Kurasa kita harus mencari jawaban pertanyaanmu bersama sama nak" Jawabku sambil nyengir.
Ia kembali megerutkan keningnya lagi (sudah jadi kebiasaannya sepertinya).
Aku merasakan sensasi mulas di perutku. Perasaan yang selalu hadir jika tugas memanggil.
"Kenapa?" anak ini bertanya.
"Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus kulakukan"
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku menghilang meninggalkan jejak belerang.
.........................................................
Tag:









