Tidak lega. Celakalah aku. Terik matahari siang jauh lebih menyiksaku dengan tubuh seperti ini. Bulu-bulu yang tadinya menghangatkanku kala aku pergi dari gua itu malah berbalik memanggangku.
Read more (784 words)
Para petualang dan pengembara yang lewat sepanjang jalanku kembali menuju Kota Asrija menjauhiku. Malah yang norak sampai mendekatiku dengan maksud buruk menantangku. Kaget begitu kutunjukkan seringai serigalaku, banyak dari mereka lari terbirit-birit. Hasilnya. Dari karavan milik seorang pedagang yang kabur begitu melihatku, aku banyak mendapatkan perbekalan ditambah makan siangnya. Jadi aku masih sempat beristirahat dan menikmati daging awetan -- makanan pedagang itu.
Dan lagi. Setelah kuobrak-abrik keretanya, aku mendapatkan banyak pakaian yang lebih pantas. Pelindung dada berpelat dari baja, baju lengan panjang bertudung, jubah pinggang, sabuk, sarung tangan, dan sepatu bot. Semua perlengkapan itu kebetulan bisa pas untuk ukuran badanku.
Repotnya tetap sama. Sekali tudungku turun, bersembunyipun percuma.
----------
Aku sampai di Kota Asrija pada sore hari. Kemampuanku berlari cepat meningkat drastis dengan kaki tubuh ini. Kostumku berhasil mengelabui mata setiap orang yang melihatku. Figurku di mata mereka hanya sebatas sosok besar bertudung yang wajahnya tak terlihat.
Kusinggahi bar di sana. Menumpang duduk sebatas memesan sebuah anggur botolan sebagai teman merenung. Saat aku masih manusia, aku bukan seorang pemabuk berat.
"Heeeyy!!"
Ketika ada orang yang menyelak untuk mengobrol, persis di sampingku, rasanya ingin mengamuk gara-gara pengang di telinga segitigaku ini. "Ergh...!"
Ya. Berbeda sekali. Dengan telinga manusia biasa, tak mungkin suasana bar jadi sebising ini! Suara dari sudut bar sampai terdengar jelas. Inderaku terlalu tajam, apalagi hidungku! Aku benar-benar merasa terusik dengan bau-bau yang tak begitu kukenal. Bau manusia -- yang dulu tak pernah kurasakan hingga semenusuk ini.
Kuteguk anggurku. Dengan lidahku yang lain, rasanya agak lebih hambar. Hampir tidak ada pengaruh alkohol yang menerjang kepalaku.
Aku berusaha tenang, mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Terlalu banyak hitam di kejadian-kejadian sebelumnya. Tak ingat pula aku, sudah berapa hari berlalu. Perjalanan rombonganku dari Kota Asrija berakhir dalam terkaman seekor serigala. Berselang hitam yang lama, akupun membuka mata. Keadaanku mengenaskan! Kakek dukun itu lalu melakukan sesuatu. Hitam lagi. Dari saat itulah aku terkurung dalam tubuh ini. Ya. Aku, Dax, manusia dalam tubuh Lycan.
Amukan. Aku telah merenggut setidaknya dua jiwa dengan kedua tangan berkuku tajam ini. Kupandangi tanganku dalam topeng sarung tangan itu. Sembari aku kembali menerawang ingatanku lagi.
Aku berlari menelusuri gua. Kutemukan jalan keluar, rasa kaget menyambar. Di hadapanku terpampang hutan yang aku sama sekali tidak tahu. Lebat, rindang, membuatku tak tahu waktu. Dimanakah matahari pada saat itu? Pertamanya aku tersesat.
Lalu seiring menjelajah, aku kembali teringat. Pohon-pohon yang tadi menyesatkan seperti membuka jalan, cukup dari keberadaan mereka di sekelilingku. Aku mulai mengenali tempat itu. Entah dengan cara apa, aku bisa sampai ke sana.
Batang kayu besar terbaring, mengepung sebuah tumpukan kayu hangus...
Di sana, ada sobekan-sobekan kain. Seperti bagian dari sebuah pakaian...
Dan gitar...
"Kau."
Mataku kembali mendapatkan fokus. Kugeser mataku, hutan itu menghilang. Tempatku kembali kepada tempat duduk yang kupakai dengan aku masih memegang leher botol anggur yang kupesan tadi. Bising-bisingpun kembali. Seorang pria bersosok kekar hadir dengan badannya menghadap meja tempatku duduk. Kami tak saling menatap sehingga tak tahu wajah. Tak bisa. Apa boleh buat! Aku dibuat sibuk oleh tudungku sendiri. Sekali hidungku menyembul, hancur lebur penyamaran yang sudah susah payah kubuat.
Beriringan dengan bunyi berdebam tangannya yang dia letakkan dengan kasar di atas meja, dia berkata, "Semoga kau tidak peduli mau kata kursi ini dipakai."
Aku hanya mendehem pelan. Kelihatannya dia juga tak peduli apa aku menanggapinya atau tidak. "Isi gelas ini dengan yang termahal di sini!" tuturnya kasar pada gadis pelayan yang jauh berada di meja bartender sambil mengangkat mug besar yang digenggamnya.
Tak ada obrolan apa-apa. Kutunggu dari tadi, aku tebak figur barbar seperti dia akan mengumbar pengalamannya bertempur atau mengajakku berkelahi ketika dia sedang duduk di bar seperti sekarang itu. Mungkin baru tadi dia menghadapi beruang? Apa yang ada di pikirannya? Mengapa dia hanya terdiam? Aku tak kunjung selesai menerka.
"Hei," sahutnya sambil menyambut arak yang dinantinya dari si pelayan. "Siapa kau?"
Siapa?
"...D..."
Kuangkat kepalaku sedikit. Tentu itu tanggapan sementara. Kau hebat, pria barbar! Kau bisa membuatku berpikir hingga resah hanya karena dua kata dari pertanyaanmu itu! Hampir saja aku keceplosan menyebutkan namaku sendiri. Dengan tudung ini, kau takkan pernah tahu siapa aku. Menebak hingga kau botak sekalipun juga kau takkan menemukan jawabannya.
"Kau tuli?" tanyanya lagi.
Aku tak menjawab. Agh!! Aku mau apa? Sekarang semua pilihan tindakanku serba salah. Aku tak bisa menatap wajahnya dari balik tudung ini! Sayangnya aku seekor Lycan, jejadian menakutkan yang dikenal sebagai pembunuh. Taringnya begitu berharga, dan kulitnya seharga ratusan keping emas. Siapa sangka kau seorang pemburu? Dan apakah menurutmu kursi-kursi lain tidak mengamati kita? Aku sendiri berada dalam keadaan hidup atau mati!
Akhirnya aku tak menjawab juga.
Dia hanya melenguh kesal. Kecamuk hatiku terhenti sejenak, ingin tahu apa yang dilakukannya selanjutnya. "Kalau begitu, dari tadi Brunus berbicara sendiri. Bodohnya..."
...Apa?
sebagai pembaca aja ya
qu suka dgn ceritanya
Sekarang pake alur flashback ya? Boleh juga, ciman pertanyaannya kenapa dia sampe masuk kedalem bar gitu kalo takut ditangkep? Mending bikin adegan ketemu sama Brunusnya ditempat lain aja.
Waahhh...
saia menganggap ini sebuah kemunduran.
Kamu terlalu asyik dengan tujuan akhir cerita. Tapi, melupakan detil kehidupan yang semestinya kamu rangkaikan.
Fantasinya bakal meningkat dan terbayang di angan pembaca.
Terpikirkah untuk berhenti dan meraung karena keganjilan yang terjadi. Terpikirkah rasa malu dan bahaya jika orang melihat?
Dan, kenapa ia memilih pakaian yang seperti itu?
Tambahan, bagaimana detilnya dia meyembunyikan moncongnya.
Karena kita tahu kalo moncong srigala lebih panjang dibandingkan moncong anjing peliharaan...
--salut-- =D>
Wow. Ini bagus loh kalau kau bisa ngebebasin pikiran dan ngikutin. Hasilnya jadi benar-benar memuaskan.
Cuma masih kurang apa ya? Penarik perhatian? Belum ada daya tarik yang bisa membuat pembaca tertarik di bagian manapun dia baca.
Yah, pokoknya akan terus memantau perkembangannya. berjuanglah!
imajinasinya boljug ^_^ salut deh, saya gak ahli sih mengkreasi cerita imajinasi begini..
salam kenal