Perselingkuhan

Cerita ini aku mulai dari kampungku yang jauh di sana, pada sebuah bukit kecil yang berada di tepi sungai Cihonje. Sebuah rumah yang berada di kampungku, kampung yang dikelilingi oleh sawah yang menghampar sepanjang sungai itu. Aku melihat bekas-bekas semua daerah itu yang kini sepi bahkan sangat sunyi. Bukan hanya pada rumah itu sebagai tempat bekas-bekas perselingkuhan namun hampir semua rumah disekitarnya kosong seperti daerah yang mati. Membiaskan satu kesan yang sangat dalam bagiku akan kisah perselingkuhan itu. Bahwa perselingkuhan membawa satu pengaruh yang sangat pekat dalam kehidupan dan lingkungan dimana terjadi peristiwa itu.

Aku tak pernah sungguh-sungguh mengetahui kejadian perselingkuhan itu secara nyata di depan mataku. Aku hanya mendengarkan kisah mereka dari para tetanggaku, hanya jauh melihat dan lewat di depan rumahnya ketika mereka bahagia. Rumah itu yang berada di tepi sebuah jurang kecil, namun kau akan menemukan hamparan kebun dan sawah dibaliknya, sungguh indah. Kontras dengan tingkah laku orang-orang yang berada menempatinya.

Aku mengenal keluarga itu sebagai satu keluarga yang bahagia pada akhir tahun 80-an, keluarga Kang Sastra berumur 40-an. Kang Sastra berasal dari kota kecamatan yang berjarak 4 kilometer dari kampung kami. Kang Sastra seorang yang berperawakan sedang saja. Dengan jenggotnya yang lebat dan kepalan sedikit botak, saya pikir dia cukup tampan untuk ukuran di kampung. Saya melihat Kang Sastra adalah seorang laki-laki yang baik, bertanggungjawab dan mereka sebelumnya sangat bahagia.

Istrinya bernama Ceu Cicih berumur 35-an, nama dan orangnya tipikal sangat Sunda sekali. Dengan wajah yang pas-pasan dan rambut keriting menghiasi seluruh penampilannya. Saya tidak persis mengetahui lebih banyak lagi tentang Bu Cicih. Namun aku pernah bermain dengan anak-anaknya yang usianya dibawah usiaku 6 sampai 10 tahun lebih muda dariku. Dia hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Aku bermain bersama mereka di rumahnya yang berbentuk panggung. Walaupun berbentuk panggung namun Kang Sastra sebagai kepala keluarga sangat memperhatikan kebersihan rumah itu. Aku sering melihatnya dia membersihkan rumah dan seluruh areal pekarangan rumah itu.

Kalau tidak salah mereka mempunyai beberapa anak mungkin tiga atau empat, persisnya saya lupa. Anak adalah hasil kolaborasi, tiga atau empat anak menunjukan sebuah keluarga yang bahagia. Karena anak menunjukan produktifitas kemesraan sepasang suami istri. Tapi apakah ini ini sebuah ukuran kelanggengan sebuah rumah tangga. Orang tidak akan tahu bahwa bahaya itu akan datang dan akan meporakporandakan seluruh naluri terdalam. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa kelurga itu yang kelihatan bahagia akan dimangsa oleh sebuah mulut harimau yang mencabik-cabik bagian-bagian kemesraan rumahtangga. Aku merasakan itu ketika aku bertemu dengan anaknya akhir tahun kemarin, ketika sudah lama tak bertemu. Aku mengenalnya ketika kecil kini mereka sudah besar walau aku masih mengenal wajahnya. Dari wajahnya aku melihat satu awan hitam yang mengelayut di matanya. Aku memahaminya dan aku mengerti dengan arti terdalam yang dapat menggambarkan keadaan hatinya. Dia pandai memijat dan aku sengaja mengurut badanku setelah sekian lama tak pernah diurut selama aku bekerja di Jakarta.

Sebagai kepala keluarga, Kang Sastra tentu saja harus menghidupi keluarganya. Kampung kami adalah kampung petani, pedagang kecil, yang paling sukses dan terpandang adalah Pegawai Negeri Sipil. Tak ada pekerjaan lain karena di kampung karena hanya ada ladang dan sawah. Tradisi kami adalah pergi merantau jauh kemanapun asal dapat pergi. Kebanyakan dari mereka pergi ke Betawi (begitu orang tua zaman dahulu memanggil Jakarta) untuk bekerja atau berdagang. Sebab itulah salah satu jalan untuk bertahan hidup, menghidupi keluarga. Jakarta sebagai satu kota Metropolitan ibarat sebuah daerah yang penuh dengan gula yang siap menghantarkan mimpi-mimpi seperti kami orang yang berasal dari kampung. Kota lain adalah Bandung sebagai alternatif tujuan untuk mencari nafkah.

Itu terjadi kepada kelurga Kang Sastra, untuk menghidupi keluarga tak mungkin menunggu selama padi sedang tumbuh yang membutuhkan waktu 3 bulan. Padi ditanam sejak berasal dari benih ditabur yang membutuhkan waktu 10 hari, setelah itu ditanam pada setiap areal sawah. Padi akan tumbuh sesuai dengan fase-fase padi. Ketika sedang tumbuh memerlukan perawatan yang seksama hingga panen tiba. Fase 10 hari pertama sejak ditanam di areal pesawahan rumput-rumput harus disiangi hingga berumur satu bulan. Selama itu harus memperhatikan pula bahaya hama yang akan menyerang padi, ketinggian curah hujan juga mempengaruhi akan kualitas padi yang akan menghasilkan bulir padi yang kosong.

Tak mungkin menunggu selama itu untuk memberi makan anak-anaknya yang masih kecil sedangkan makan setiap hari. Maka alternatif pertama Kang Sastra pergi berdagang ke Betawi untuk berdagang. Setiap satu atau dua bulan Kang Sastra pulang dari Betawi, dengan membawa oleh-oleh dan uang, itu terjadi bertahun-tahun lamanya. Hingga peristiwa-peristiwa lain siap menunggu untuk menguji ketabahan hati Kang Sastra. Aku menuliskannya dalam hati dan mengingatnya sebagai satu pertanda bahwa manusia akan menemukan satu kekosongan jiwa yang harus diisi dengan cinta dan kasih yang abadi.

Hari itu, aku bertemu dengan seseorang yang akan mengobati tetanggaku yang terkilir. Aku melihat pengobatan itu. Entahlah dia seorang dukun, dokter atau tabib. Mungkin juga ahli urut karena dia pandai mengurut. Dia seorang laki-laki berumur 40-an atau hampir 50-an, dengan muka yang berwibawa, berjenggot, sedikit cambang dan memakai kopiah. Wajahnya memang sangat tampan, bersih dan tenang dengan sorot mata yang tajam dan menghanyutkan. Tak ada di kampung ini pria setengah baya seperti beliau, yang mampu mempunyai kharisma seperti itu. Siapapun yang berhadapan dengannya akan merasa terhanyut, teduh dan sebuah perasaan yang hangat.

Aku tidak tahu namanya, namun aku mengetahui bahwa dia saudara jauh dari Pak Karya, mertuanya Kang Sastra. Dia tinggal di kota lain di sebelah selatan kabupatenku, melewati bukit, sungai dan membutuhkan waktu satu setengah jam menuju tempat itu. Dia tinggal di kota yang berjulukan ”Swiss van Java”. Memang kota itu sangat indah setelah aku mengunjunginya. Dengan panorama yang permai sangat menghanyutkan aku terpukau akan kemolekannya. Seperti sebuah daerah yang berada jauh di alam mimpiku. Daerah itu berbukit, dengan banyak kolam ikan, pesawahan, sungai, langit yang membiru dan awan-awan putih yang menggantung di angkasa. Menambah keindahan akan imajinasiku yang terobsesi dengan menguak rahasia alam. Rahasia alam yang telah diciptakan oleh Tuhan, dan aku mencarinya lewat keindahan ini. Aku tak akan sangsi akan julukan ini karena aku telah melihat keindahan Swiss walau hanya dari kalender yang bergambar pemandangan. Aku sering menemukan Swiss sebagai salah satu tempat yang paling indah pada kalender itu selain Jepang dengan taman runcingnya, Selandia Baru, Kanada atau Alaska di Amerika Serikat. Swiss selalu digambarkan dengan alam yang hijau seperti sebuah savana tempat sapi-sapi merumput, rumah-rumah type tradisional kampung di Eropa. Di belakang kampung-kampung itu adalah hutan berdaun runcing atau hutan Pinuss Mercussi. Dengan kehijauannya menyiratkan kesuburan tanah Swiss dan terakhir adalah gunung-gunung batu yang runcing berwarna kelabu yang di selimuti oleh salju.

Apakah imajinasi Swiss sama dengan kota ”Swiss van Java” itu? Entahlah, mereka yang mengatakan. Bukan aku, tetapi aku meraskan benang merah antara Swiss di Eropa dan Swiss van Java. Apalagi jika kamu pergi ke satu tempat di kota itu yang bernama Ngamplang maka kamu akan berdecak kagum akan keindahannya. Beritanya, Charlie Chaplin telah mengunjungi tempat itu pada zamannya. Aku hanya dapat membayangkan Charlie Chaplin berada di tempat itu dengan jalannya yang khas. Aku hanya bisa tersenyum geli.

Pak Tabib itu, aku menyebutkan. Dia sering datang ke kampung kami. Kami menganggapnya wajar karena Pak Tabib itu adalah saudara Pak Karya. Sebagai saudara memang harus saling berkunjung dan bersilaturahmi. Kami menganggapnya sebagai sesuatu yang positif, karena bukankan manusia datang dengan niatnya dan kelakuannya?

Namun apa lacur?

Ternyata selama Kang Sastra pergi ke Jakarta, Ceu Cicih memerlukan sesuatu yang bersifat rohaniah yang tak dapat dilakukan selama Kang Sastra merantau. Dan peristiwa itu terjadi dengan Pak Tabib itu. Aku hanya mendengar pula tak melihat dengan kepala sendiri namun aku menyimpannya dalam hati sebagai satu catatan yang terpenting dalam hidup. Sebagaimana akan ketakutanku kepada semua kejadian di kampungku yang menyiratkan begitu banyak ketidakcocokan akan sebuah rumah tangga.Tak hanya terjadi pada tetanggaku disebelah kiri dan kana namun itu terjadi pada kakakku Mereka pun berpisah, aku tak sanggup melakukan ini. Aku tak sanggup melewatkan saat-saat seperti ini dimana perpisahan adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan dan kita harus merasakanya. Aku menghindari, aku tidak ingin merasakanya. Sungguh, mengapa mesti keinginan kita berubah ditengah jalan ketika kita telah melewati titik yang jauh, seperti aku yang kini merasakan jatuh cinta lagi. Aku kehilangan arah. Bayang-bayang itu menghantuiku dan merasa bersalah telah mencintai, salah memilih dan salah jalan. Aku tidak tahu, karena cinta itu telah pupus dan hilang.

Sore itu aku dipijit kembali oleh anaknya Pak Sastra, aku menanyakan dimana dia tinggal. Dia menjawab bahwa dia tinggal di rumah kakeknya Pak Karya, namun kadang-kadang dia berkunjung ke kota Swiss van Java itu untuk bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Baik adik sekandung maupun adik satu ibu. Aku bertanya pula dimana sekarang ayah kandungnya, dia menjawab telah menikah lagi dengan wanita lain dan tinggal jauh dari kampung kami. Aku makin merasakan satu perasaan kosong dan tak berarti. Apakah dunia masih menyisakan kebahagiaan buatku? Apakah Ceu Cicih puas dengan pilihannya menikah dengan saudara jauh, Pak Tabib itu? Apakah dia mendapatkan kepuasan seumur hidupnya dengan cinta? Mengapa cinta itu datang tiba-tiba ketika telah mempunyai cinta lain dan mempertaruhkan seluruh hidupnya demi cinta yang baru ? Apakah hampa perasaan itu kini telah terisi dengan sebuah keindahan yang akan kau jelang seumur hidupmu? Mengapa cinta dapat men-drive manusia begitu ekstrim untuk memberontak? Aku tak dapat mengerti.

Dan aku memikirkan Kang Sastra yang menjadi korban. Bagaimana perasaannya, mungkin dunia serasa runtuh dan menimpa beliau. Mungkin dunia tidak berpihak kepadanya, apa yang ada dalam lubuk hatinya yang terdalam ketika dia jungkir balik untuk menafkahi istri dan anaknya. Apakah masih ada dunia yang dapat ditempati untuk dia? Sembilu mungkin tajam tapi mungkin lebih tajam peristiwa ini hingga memudarkan keinginannya untuk hidup. Aku menjerit kesakitan ketika tangan-tangan kekar itu memijit keras otot-otot bisepku. Bukan hanya kesakitan karena pijitan itu, juga dikarenakan kesakitan oleh luka dalam diri Kang Sastra.

Dan banyak pertanyaan disini dalam hatiku untuk peristiwa ini? Mesti aku menyadari bahwa ini adalah suratan. Aku tercenung pada cinta baru yang telah datang dan aku tak dapat menghindari tarikannya. Aku seperti Ceu Cicih itu yang telah mendapat tenaga baru untuk berjalan di atas dunia ini. Aku perlu bertahan untuk melangkah, aku perlu semangat untuk bertahan.

Aku merasa hampa melewati rumah bekas Pak Sastra tinggal.

Aku ingin....

aku melihat cahaya kilatan samurai itu yang tajam...

Aku ingin.....aku dapat terbang

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ampas
ampas at Perselingkuhan (35 weeks 4 days ago)
100

Aku suka judulnya, hahaha. Menantang, berani. Keseluruhan sudah oke, Mas Sahman. Cuma, aku mau kata-kata, haha, kata kata yang menyingkap emosi, membawa derita *halah.

Writer mr.jay
mr.jay at Perselingkuhan (5 years 39 weeks ago)
70

bagus kok. Aku suka karyanya.

Writer asyahrin
asyahrin at Perselingkuhan (5 years 51 weeks ago)
70

uhmm. . .
ko selingkuh c tema nya?? itu kan hal yang paling kejam di dunia ini.
but its great :)

Writer erurinneko
erurinneko at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
100

eit jgn ke GR an dloe nilai 10 dsene bkn poinx yg u dpt dri isi critax...
mlainkn ini cuman poin jumlah hruf yx udah susah2 u kluarin dlm crita ne.duh,.... gmn c bang bkn x apa2 y, mgkin ne jg dh bs d sebut crita ,,... tp lbh poas lge klo djulukin puisi bjibun. abizz.... deskripsi x kbanyakan, isi nnya ya. g brujung.kyak x u lbh pntes jd plukis dech...., y maap ya tu kyataannya . wlaupun q ndere jg g pinter2 amt bkin crita. tp plus buat lw yg dah bsa publikasiin karya orisinil u. key ganbatte

Writer dikadiman
dikadiman at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
80

Cepat capek baca cerita ini, mungkin kalau diselingi aksi akan jadi lebih komunikatif?

Writer senja_saujana
senja_saujana at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
90

bagus,
kelebihannya; nuansa naturalnya bisa benarbenar terasa
kekurangannya; cerita jadi terkesan berteletele
gaya ini mirip novelnovel lama (bener ga ya? baru sedikit novel lama yang aku baca)
terimakasih telah menyuguhkan sepenggal pelajaran hidup.

Writer sahman
sahman at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
50

memang aku suka yg naratif...susah buat cerita yang dialog dialog bagiku. Krn aku suka tulisan Orhan Pamuk dan Elfriede Jelinek yang jarang dialog

Writer Azzurri
Azzurri at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
60

Yahh..
ini cenderung naratif.
tanpa dialog satupun.

Writer Youlee
Youlee at Perselingkuhan (6 years 12 weeks ago)
70

Sepertinya kalau dikemas jadi cerita yang komunikatif lebih bagus deh kang, duh.. sok tau banget yah aku.
Beda sama waktu baca Cinta di Lamping Gunung Cakrabuana mah meuni terhanyut euy.. hehe.. punteun yah kang dikritik, padahal aku juga masih oon.. hehe