tidak ada seorangpun di dunia ini yang dilahirkan untuk sendiri!!
""kaulah yang membunuh kedua orangtuaku. tapi kenapa kau datang mencariku?" tanya Ryan pada Ling yang terlihat menikmati kemarahan Ryan.
"aku ingin melihat sebuah fakta."
"fakta apa?"
"fakta bahwa seorang anak dari hunter hebat seperti ayahmu mempunyai kekuatan yang sama, bahkan lebih." Ryan membisu seketika. apa yang dikatakan Ling begitu mengejutkan. apa katanya? ayahnya...seorang hunter??
"apa...katamu?" Ryan mendekati Ling dan kemudian mencengkeram kerah Ling dengan kuatnya.
"ayahku...seorang apa?" Ling tahu, kemarahan Ryan bisa berarti kebangkitan dari energi yang tersembunyi dalam tubuhnya. energi rahasia. kebangkitan dari takdirnya. dan itu memang harus terjadi.
"ayahmu seorang hunter, sama sepertiku."
"sepertimu?" Ryan menjatuhkan Ling ke tanah lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
"ayahku tidak mirip sama sekali denganmu. dia adalah orang yang baik! dan...dan..." angin mulai berhembus kencang selagi Ryan mulai melepaskan amarahnya. kekesalan dan keinginan untuk membalaskan apa yang ia rasakan memenuhi dirinya. "...dan dia tidak pernah membunuh seekor lalatpun, apalagi membunuh temannya sendiri!!" Ryan melemparkan ayunan tangannya ke samping lalu kemudian seketika angin berhembus kencang, dan mengambil jalur dari hempasan tangan Ryan, memecahkan sebuah kaca kasir taman yang sedang kosong dan membelah dedaunan yang gugur. daun-daun itu tidak terhempas karena anginnya, tapi terbelah.
"KAU BRENGSEK..."
Ling tersenyum. saatnya ia melepaskan kekuatan anak ini. tapi ia khawatir, hawa spiritualnya akan memancing banyak makhluk halus ke arah mereka. maka dari itu ia melakukan tindakan pencegahan. ia melompat cepat ke arah Ryan, lalu melepaskan satu pukulan keras ke perutnya.
"GAHAKKKK!!!" Ryan terkulai lemas, seketika pandanganya menjadi gelap, dan kemudian pingsan.
***
kesadaran Ryan mulai membaik saat ia menyadari bahwa dirinya sedang tertidur lemas di atas sebuah kursi panjang di pinggir taman ia mengusap-usap matanya yang buram sambil sesekali mengurut kepalanya yang sakit dan perutnya yang mulas. sialan, si Ling... gumamnya kesal. tiba-tiba dahinya merasa dingin yang menusuk. ia mengangkat tubuhnya ke atas dengan menyentak, reaksi spontannya.
"DINGGIIIINNN!!!" teriaknya.
"jangan gitu, ah, ini kan cuma es krim." ucap Ling yang ternyata membeli dua buah es krim untuk mereka berdua.
***
Ling dan Ryan duduk di satu bangku yang sama, namun jaraknya agak jauh. mereka saling tidak bicara selama beberapa menit. masing-masing masih menjilat es krim mereka masing-masing. tidak ada yang memulai pembicaraan sehingga keadaan menjadi agak kaku.
"apa kau sudah baikan?" tanya Ling memulai pembicaraan.
"sedikit."
"baguslah"
"ada satu masalah yang menggangguku."
"apa?" Ling menoleh.
"es krim ini seharusnya tak kau beri butiran cokelat, aku tidak suka."
"oh, itu..." balas Ling sambil meregangkan badannya. "aku suka cokelat, sih."
"wajar deh..."
setelah pembicaraan itu, keadaan menjadi kembali hening untuk beberapa saat.
"em..." kali ini Ryan yang memulai pembicaraan. "maaf."
"untuk apa?"
"aku menuduhmu yang bukan-bukan, padahal aku tahu kau tidak bersalah."
"aku? tidak bersalah? jangan bercanda...aku dicari di negaraku sebagai buronan. sedangkan pekerjaanku adalah menolong orang dengan melukai orang lain. jadi..." Ryan memperhatikan Ling dengan seksama, menunggu perkataan yang akan ia keluarkan selanjutnya. "...menurutmu, apa deskripsi tentang 'bersalah'? jika kau menganggap 'bersalah' adalah rasa menyesal yang ditunjukkan orang lain saat ia melakukan suatu kesalahan, maka pasti 'bersalah' menurut deskripsimu adalah rasa benci kepada diri sendiri. lalu bagaimana dengan orang yang dipenjara? apa mereka membenci diri mereka sendiri? apa mereka berusaha untuk menebus dosa mereka? pernahkah kau membayangkan ada narapidana yang menangis histeris karena esoknya ia akan digantung? bukan. jangan bicara soal 'bersalah' padaku. aku bukanlah orang yang selalu benar, dan aku bukanlah orang yang bisa dianggap bersalah. aku ini orang yang ingin bebas. ingin melakukan apa yang aku inginkan. hanya itu." Ryan terdia menanggapi penjelasan Ling. baginya itu adalah hal yang cocok untuk ia dengarkan dalam saat ini.
"tapi aku telah..."
"jangan salahkan dirimu atas kematian orangtuamu. di dunia ini tidak ada orang yang ditakdirkan untuk selalu sendiri. kau tidak sendirian.
***
di sekolah yang tenang, sudah sore. para murid telah pulang ke rumahnya masing-masing. namun Vivian dan dua temannya belum juga pulang. ada yang sedang mereka lakukan di jam pulang ini. mereka melakukan permainan jelangkung sebuah kertas bertuliskan huruf a sampai z, nomor 1-10, dilengkapi dengan sebuah koin yang nantinya diatasnya akan ditaruh jari telunjuk masing-masing dari para peserta permainan, sambil membacakan mantera.
"Jelangkung,jelangkung datanglah. Jelangkung, Jelangkung, datanglah." tiba-tiba koinnya bergerak tidak menentu diatas kertas. para gadis itu bersorak gembira. terlabih Vivian. ia tak pernah memainkan permainan ini dan ia merasa senang. meskipun berbahaya...
"Vi, ayo tanya!" ucap seorang temannya kepada Vivian. Vivian mengangguk.
"jelangkung, jelangkung, ayo jawab aku. siapakah orang yang akan jadian sama Jenny?" tanya Vivian sambil sesekali tersenyum manis menahan tawanya. koin mulai bergerak. dan tangan mereka mengikutinya.
"kyaaa, bergerak! bergerak!" teriak mereka kegirangan.
"ssstt...jangan ribut!" ucap seorang dari mereka berempat....
koin itu mulai menunjuk ke huruf-huruf, dan kemudian menjadi sebuah nama...
H-E-N-D-R-I-K
"kyaaaa, ternyata kamu suka sama Hendrik, ya Jen! teriak salah satu dari mereka. Jenny meringis malu. mukanya merah padam.
***
setelah mereka berempat selesai bermain, mereka langsung mengambil kertasnya dan membuangnya ke bak sampah yang ada di depan kelas. koin mereka simpan, dan kemudian mereka berjalan keluar kelas dengan hati senang. namun masih ada satu yang mengganjal pikiran Vivian.
"Vi..kamu kenapa?"
"nggak, kayaknya masih ada yang mengganggu pikiranku, deh!"
"apaan tuh? pasti cowok, ya! ayo ngakuuu...."
"nggak, kok! aku cuma kepikiran, diantara kita berempat, siapa yang pulangnya bisa lebih dulu? ntar aku ikutan, biar sama-sama." mendengar perkataan Vivian barusan, kedua temannya menghentikan langkahnya.
"oh iya, Vi..."
"apa?"
"tadi kita masuk ke kelas bertiga aja, kan?"
Vivian mengangguk.
"Vi, kamu nyadar, nggak kalau tadi kita main jelangkungnya berempat!" ujar Jenny histeris. Vivian terkejut. iya juga, ya! jika mereka masuk bertiga, harusnya tidak ada orang yang tiba-tiba bergabung dengan mereka dan bermain tanpa mereka sadari! tapi ini....kok..
"KYAAAAA!!!! HANTUUUU!!!!"
~TO BE CONTINUED~
dikirim hirokakkuen 16 minggu 5 hari yang laluTag:








