Entah sejak kapan namanya tiba-tiba saja menghuni hatiku. Aku sama sekali tak pernah punya rencana untuk itu.
Bayangkan saja, hampir lima tahun kami tidak pernah bertemu. Jangankan bicara, nomor telepon yang bisa dihubungi pun tak ada. Jadi jangan heran kalau selama aku kuliah, tak sedetik pun terlintas bayangannya di benakku.
Read more (818 words)
Ehm, aku bohong. Bukan tidak pernah sih, hanya kadang-kadang saja. Mungkin setahun sekali, kalau Lebaran tiba. Aku sering berpikir dia merayakannya di mana, apakah ia akan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah kuperbuat kalau saja saat itu kami punya kesempatan untuk berbincang.
Atau setiap ulang tahunnya, yang sebenarnya aku ingin sekali mengucapkan selamat. Memberinya sebuah kado mungil. Mungkin sebuah jam tangan? Ah, tidak. Lebih baik sebuah kue tart mungil yang kubuat sendiri. Bukankah kado buatan sendiri lebih bermakna? Tapi.. kalau makanan takkan tahan lama. Hei, bagaimana kalau sweater rajutan sendiri? Hihihi.. dia pasti terharu kalau menerima benda seperti itu. Karena, dibutuhkan waktu yang lama sekali untuk membuatnya. Lagipula dalam setiap rajutannya turut serta pula perasaanku untuknya.
Uh! Perasaan? Memangnya siapa yang punya perasaan untuk laki-laki seperti dia?
Tak usah ya! Bukan sekali dua aku bertengkar dengannya, dan biasanya gara-gara masalah sepele. Buku PR-ku yang menghilang setelah ia meminjam dariku, meminjamkannya lagi pada Budi, dan Budi meminjamkannya lagi pada Arya, dan Arya meminjamkannya lagi pada Tiara, dan Tiara... ugh!
Hari itu berakhir dengan aku yang berdiri di depan kelas karena dikira tidak mengerjakan PR dan berpura-pura kehilangan buku. Padahal aku benar-benar kehilangan buku itu! Tapi dia, kemudian bergabung denganku, berdiri di depan kelas sampai sekolah hari itu berakhir, tanpa peduli pada pandang heran Bu Guru dan ledekan teman-teman sekelas.
Esoknya dia mengembalikan bukuku yang ternyata dipinjam kelas sebelah. Setelah itu, aku puaskan diriku untuk memarahinya—pertama karena ia menghilangkan bukuku dan kedua karena perbuatan bodohnya ikut berdiri denganku menerima hukuman—tapi dia hanya tersenyum dan berkata kalau dia sudah membayar keduanya, lalu meninggalkanku dalam bingung sambil mengedipkan sebelah mata. Lama setelah itu aku menyadari kalau dia benar. Dia tak punya hutang apa pun lagi padaku.
Tunggu dulu. Peristiwa itu sama sekali tidak mengubah apa pun, ya! Dia tetap menyebalkan seperti biasanya.
Aku masih ingat waktu pelajaran olah raga, di tengah terik matahari ia dan teman-temannya bermain bola sementara aku berteduh di bawah pohon dengan kipas di tangan. Aku tak suka olah raga, dan lebih tak suka berolahraga di bawah matahari yang tidak mau redup barang sekejap pun. Tanpa aba-aba sebuah bola menghambur keras padaku, dan tanganku secara refleks menangkapnya.
Ketika mataku mengikuti arah datangnya bola sialan itu, pandanganku beradu dengannya. Dengan tubuh basah oleh keringat, rambut tebalnya yang berantakan, ia tertawa dan mengejekku yang lemah oleh terik matahari. Ketika aku omeli dia karena membuat kipasku patah lantaran tendangan bolanya, dia cuma tertawa dan bilang kalau matahari terlalu sayang untuk dilewatkan. Aku tanya kenapa dia bisa seceria itu di hari yang seterik ini, dia menjawab, dengan sedikit membungkuk ke arahku, kalau matahari adalah dirinya. Huh! Sok amat dia! Kulempar saja bola itu ke pagar sebelah, dan dia pontang-panting mengejarnya, berlomba dengan anjing pudel tetangga yang berubah sangar setelah tak sengaja ekornya terinjak olehnya. Sampai menangis aku tertawa melihatnya.
Kebalikannya, dia mengkerut di bawah hujan. Ada satu kesempatan aku dan dia terlambat keluar kelas setelah jam bubar, karena harus menyelesaikan sisa tugas kelompok. Kami berdiri di koridor kelas, menatap tetesan hujan yang turun dengan deras, dan dia menyesal mengapa kami tidak buru-buru menyelesaikan tugas itu sebelum terjebak hujan. Pukul setengah empat sore, sekolah sudah amat sepi, dan yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu sampai hujan reda. Kubilang aku membawa payung, tapi dia cuma menatapku dengan ekspresi ngeri seperti anak kecil yang sedang ditawari untuk disuntik vaksin, menolak untuk pulang di bawah payung yang sama, dan mengeluarkan keputusan sepihak bahwa kami akan pulang setelah hujan reda. Ketika melihatku bersandar di tiang dan menutup mata untuk mendengarkan suara air, dia menanyakan apa yang sedang kulakukan. Kujawab, aku sedang menikmati hujan. Berani taruhan pasti dia terperangah mendengar jawabanku. Dan itu terbukti benar. Ketika kemudian aku bilang padanya bahwa aku suka sekali bau hujan, dia mengangkat sebelah alisnya tanda heran. Akhirnya kami terdiam dan hanyut dalam benak masing-masing, dan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya apakah saat itu ia ikut menikmati hujan seperti yang aku lakukan atau tidak.
Kalau kupikir-pikir, rasanya aku memikirkan dia lebih sering dari kadang-kadang. Setiap kali matahari membakar bumi dengan garangnya, aku teringat anak laki-laki yang berlari ceria di bawah siraman sinar matahari dengan tawa cerah di wajahnya. Dan rintik hujan sehalus apa pun membuatku memikirkan koridor sekolah tempat kami berdiri menanti langit berhenti mencurahkan air.
Ada kalanya, ketika aku menyadari betapa pusaran waktu telah membawaku terlalu jauh dari dia, aku menyesal. Sesal yang muncul karena aku, atau dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Entah malu, atau mungkin gengsi. Tapi rasa itu ada, aku yakin, dan rasa itu pasti ada juga padanya. Dan rasa itu masih ada sampai saat ini, menemaniku menatap jendela di penghujung sore ini. Seandainya saja matahari dan hujan beriringan bersama, yang muncul adalah pelangi, bukan? Bisa saja kisah yang indah seharusnya mengakhiri pertemuan kami. Walaupun pelangi itu takkan pernah menyentuh bumi. Walaupun pelangi itu hanya dapat membingkai langit sekejap saja....
hiduuuup hujaaaaaan.....
nice writing...
sesuatu akan terasa berharga sat dia sudah tidak ada
cuma butuh satu siang_berdiri bareng di luar kelas_untuk mencintainya
tp,,butuh seumur hdp u/mlupakannya
halo dian...
Its about friendship, rite?
Well gudluck.
Seperti kata Gibran "Jika tiba saat berpisah, janganlah engkau bersedih. karena apa yang paling kaukasihi darinya akan nampak lebih nyata dari kejauhan. seperti gunung yang terlihat lebih agung dari padang luas"
Well...
aku suka cerita yang menyentuh ini. terutama tentang matahari dan hujan, serta pelangi.
Setuju sama miss worm.
Aku suka cerita ini,sungguh menyentuh.
Jika bersama tak terlalu menghiraukannya.Tapi setelah berpisah baru merindukannya.
Memang,Cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar.
...hampir, hampir membuat saya terbuai dengan alur ceritamu...sedikit lagi...;)
dan saya setuju dengan worm ttg pendapatnya mengenai penempatan sebuah dialog :)
^_^
..alur dan penulisannya cukup rapih. saya salut kamu bisa menulis in all description without dialog.. saya jadi bertanya-tanya bagaimana efeknya jika ditambah sedikit dialog. kekuatan dialog jika ditempatkan dengan pas di tengah2 deskripsi bisa dahsyat ^^
hm.. ingat Nh.Dini yang jarang sekali memunculkan dialog.. tapi beliau cara deskripsinya beda. temponya sangat cepat dan tempomu ini tidak secepat itu