Read more (3405 words) Ranto mengancing jaketnya sembari memojok di bangku angkutan kota jurusan Cicaheum-Ciroyom. Bandung sangat dingin malam ini. Ransel dan tas laptop teronggok di sebelah kaki Ranto. Setelah seorang ibu dan balitanya turun di Simpang Dago, praktis tinggal tiga orang saja yang menumpangi angkutan ini: ia dan sepasang kekasih yang demonstratif. Kenyataan si lelaki jauh lebih menarik daripada si perempuan membuat Ranto merasa Bandung semakin dingin saja. Ia lantas menyumpal telinganya dengan earphone . Ada dua ribu empat ratus enam belas lagu dalam iPod , tetapi Ranto merasa pilihannya tidak banyak. Ia tengah mengubah-ubah setelan lagu ketika merasakan getaran dari dalam celananya. Ponsel Ranto berdering.
"Ya, halo?"
"Dek, sudah sampai mana?" Rupanya dari Mas Guntur, kakak Ranto yang tinggal di Jakarta. Kalau semua lancar maka larut malam nanti Ranto tiba di sana. Untuk semalam, ia akan menginap di apartemen kakaknya itu.
Pandangan Ranto tertuju pada tembok warna-warni suram di balik jendela. "Aku masih di angkot. Sudah sampai Siliwangi. Memangnya kenapa?"
"Cuma mau ngecek saja. Kamu bawa lilin, kan?" tanya Mas Guntur.
Ranto menepuk dahinya. Selalu saja ada hal yang terlupa. Februari lalu lupa bayar premi asuransi. Maret kemarin lupa bikin makalah Organisasi Internasional. Bulan April ini malah lupa beli lilin. "Aduh!"
"Ya sudah nggak apa-apa. Kamu belum naik travel juga, kan? Mampir ke warung dulu saja. Sekarang lagi perlu lilin, di sini sering ada pemadaman listrik."
Ranto menarik napas dalam-dalam. Ia tak habis pikir mengapa banyak orang yang selalu meminta bantuan orang lain untuk hal-hal yang dapat mereka lakukan sendiri. Ada banyak orang, pertama ibunya, kedua kakaknya.
"Tolong, ya. Aku suka lupa terus, Dek. Niatnya sih mau sekalian beli lampu er-e-ce (Rechargeable Emergency Lights ) tetapi ya itu tadi, lupa terus. Sudah dulu, Dek. Ha-pe ku low bat." Sambungan telepon pun diputus.
Kalau sendiri lupa beli, tetapi giliran minta tolong orang lain tidak lupa mengingatkan, Ranto berpikir. Mobil angkutan kota sedang melintasi pasar Gandok saat ia menemukan toko kelontong yang masih buka. "Kiri!" seru Ranto. Mobil angkutan kota berhenti. Ia turun, lalu melangkah ke toko, kemudian membeli lilin.
Sebelum beranjak Ranto sempat melihat jam yang menempel di dinding toko kelontong. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit. Lebih kurang satu jam lagi sebelum angkutan travel Daytrans yang akan ditumpanginya berangkat menuju ke Jakarta. Sebelum bergegas ke pul travel di Cihampelas yang bisa ditempuh hanya dalam lima menit. Ranto memutuskan mampir dulu ke toko buku Reading Lights yang terletak di sebelah pasar Gandok. Ia mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Dengan sinis teman ekspatriat Ranto pernah bilang begini, “Reading Lights is not only a decent used English bookstore but also a coffee shop where the food is too light to be a guilty pleasure and too expensive to be an innocent one .”
“Nggak,” sahut Ranto. “Nggak salah, tapi suasananya enak, kan?”
Cukup sering Ranto berkunjung ke Reading Lights , tetapi tidak seperti saat ini: hari Jum'at malam. Biasanya ia datang Sabtu sore guna mengikuti pertemuan mingguan Kelompok Menulis yang bermarkas di sini. Pada meja bundar dekat pintu masuk, Ranto menemukan Hani, teman satu Kelompok Menulisnya yang juga bekerja di toko buku ini. Dengan wajah kusut dan rambut teriak minta ke salon, gadis itu menyampul setumpukan buku. Bajunya maroon seragam para pegawai Reading Lights . Hani duluan menyapa Ranto, "Ranto! Gua mau cerita sesuatu ke elu!"
Ranto mengangguk dan meletakkan barang bawaannya di sebelah kursi Hani. Akrab dengan tempat ini, ia mengambil sendiri segelas yoghurt lemon beserta sendok tehnya dari dapur. Ranto lantas duduk di sebelah Hani. "Mau cerita apa, Han?" tanyanya.
"Tahu nggak, To?" Hani beretorika sambil menarik gulungan plastik sampul. "Naskah novel gua baru dibantai! Katakanlah, oleh seorang published writer . Gua sekarang paham perasaan elu!"
Ranto meringis. Perasaan yang dimaksud Hani adalah perasaannya beberapa bulan lalu saat cerpen berserinya dikritik habis oleh istri editor penerbitan Jalastocking . Detail kejadian tidak penting, yang jelas semangat menulisnya sempat hancur dan Ranto marah besar. Istri editor itu terus mengritik tanpa terlebih dulu menanyakan latar belakang cerpen berserinya itu. Padahal bukankah akar permasalahan tulisan bisa ditilik dari proses kreatifnya? batin Ranto. Memang apa signifikansinya bersikap jahat ke penulis pemula?
Ranto menyuap yoghurt ke mulutnya. "Ceritanya bagaimana?"
"Jadi kemarin gua membacakan naskah novel gua di forum Writer's Circle in English . Tahu-tahu si pembantai bilang tulisan gua nggak morbid , nggak berplot! Masa dia bilang, 'Hani, lebih baik saya jujur begini daripada tulisan ini saya terima dan saya suruh kamu menulis ulang semua bagian,'" ujar Hani, menempelkan pita perekat asal-asalan. "Lu tahu, Ranto. Gua sudah merasa habis-habisan di naskah novel yang itu. Kalau tulisan itu saja dibantai bagaimana dengan tulisan yang lain?"
"Terus?"
"Gua speechless . Di satu sisi gua mau membantah semua kritik dia yang gua anggap kontraproduktif! Tapi di sisi lain gua nggak mau mengesankan kalau gua nggak terima dikritik," jelas Hani. "Sebetulnya gua suka dikritik, kok! Coba dia bilang, 'Han, karakter kamu kurangnya di sini ...' atau 'Latarnya akan lebih terbayang jika deskripsinya begini-begini-begini.' Menurut gua itu kritik yang membangun. Kemarin dong, 'Tulisan kamu nggak morbid, nggak berplot. Solusinya, ya kamu tulis ulang cerita baru saja.' Ya Tuhan!"
"Oh ya?"
"Ini nggak adil!" Hani menghempaskan buku yang baru disampulnya ke meja bundar: The Secret oleh Rhonda Byrne. "Sewaktu gua merasa bisa mengatur antara skripsi dan menulis fiksi, novel gua malah dibantai. Semangat menulis gua menguap begitu saja! Gua jadi takut menulis. Setiap duduk di depan komputer rasanya ada beban di pundak. Membuka file naskah novel itu saja nggak bisa. Akhirnya gua membombardir si Francis dengan SMS. Gua tanya, 'Tulisan gua sebetulnya berplot atau nggak, sih?'"
"Begitu?" Disebutnya Francis membuat Ranto lebih erat menggenggam gelas yoghurtnya. Francis, nama panggilan Franciscus Giovanni, adalah seorang komikus aspiring yang aktif menjadi fasilitator dalam kegiatan Kelompok Menulis yang ia dan Hani ikuti. Spesialisasi Francis adalah komik strip berhumor sadis.
"Ih, Ranto! Lu nggak mendengarkan ya?" tuduh Hani.
"Mendengarkan.”
“Francis terus balas, ‘Berplot, kok. Berplot.’ Standar, pokoknya. Gua kan semakin nggak percaya kalau tulisan gua memang betul-betul berplot. Jadilah gua marah-marah ke dia.”
Ranto mengaduk-aduk yoghurtnya yang tinggal sedikit. Hani merengut dan berhenti menyampul buku.
"Ranto! Lu betul-betul mendengarkan nggak, sih?”
“Mendengarkan, kok!” jawab Ranto.
“Tapi kok kurang responsif?" protes Hani tidak percaya.
"Francis memang baik. Tapi dia sangat payah dalam comforting people .”
“Padahal gua cuma mau didengarkan dan diperhatikan.” Hani kembali melanjutkan pekerjaan menyampul buku. “Gua curiga semua orang cuma peduli dengan dirinya masing-masing. Elu cuma peduli dengan cerpen berseri lu. Francis cuma peduli dengan komiknya sendiri. Maybe it’s human nature .”
“Atau comforting people memang susah? Lagipula di saat seperti ini semua saran yang keluar dari mulut gua bakal kedengaran klise." Malas-malasan Ranto menyuap sesendok yoghurt terakhirnya. "Satu-satunya yang sekarang buat lu logis adalah pergi ke toko buku dan menyelipkan buku karya pengritik lu di antara tumpukan buku-buku yang lain."
Kontan tawa Hani berderai. "Betul juga! Gua jadi pengen melakukan itu!" Sesaat Ranto dan Hani tenggelam dalam tawa. "Eh, tumben hari ini lu datang ke Reading Lights ," komentar Hani.
Ranto mengeluarkan dompet dan menyerahkan selembar lima puluh ribu untuk pembelian yoghurt kepada Hani. Gadis itu berhenti menyampul, dan melangkah ke belakang meja kasir, lalu mengambil kembalian. Uang kembalian Ranto masukkan ke dalam saku jaketnya.
"Malam ini gua ke Jakarta," jawab Ranto. "Besok mau ke acara World Book Day di Museum Bank Mandiri. Gua ikutan workshop penulisan kreatifnya Carolin Phillips."
"Seru dong!" tukas Hani. "Siapa itu Carolin Phillips?"
"Nggak tahu. Yang jelas workshop ini kelihatan menarik di blog penyelenggaranya."
"Tapi kedengarannya memang seru, kok," ujar Hani. "Tumben lu nggak meng-google dia dulu?" Dia menatap wajah Ranto lama sebelum tersadar ada yang tidak beres pada roman muka anak lelaki itu. "Kok lu nggak kelihatan senang, To?"
Ranto mengangkat bahu. "Han, sekarang ini dua minggu sebelum ujian semesteran," jelasnya. “Di saat seperti ini tugas kuliah muncul sesering batuk di musim pancaroba. Lu tahu kan gua kurang suka kuliah Hubungan Internasional? Tugas bikin gua depresi. Pergi ke Jakarta lebih sebagai pelarian daripada kesempatan mempercanggih teknik penulisan."
Hani menaruh buku-buku yang telah disampulnya di sebelah meja kasir. Dia lantas mengambil setumpuk lagi buku yang belum tersampul. "Tapi Ranto, lu kan sudah dua tahun kuliah, bukannya sebelumnya nggak pernah lari ke Jakarta segala?"
Ranto menaruh dahi di atas lipatan tangannya di atas meja. “Di rumah nyokap sudah malas mengerjakan urusan logistik. Apa-apa diserahin ke gua, mulai beli plat film fax, bayar kartu kredit. Kakak gua juga sama. Dia tinggal di Jakarta tapi kebutuhan pribadinya tetap gua yang beli, mulai dari lilin sampai multivitamin. Bagaimana nggak malas coba?"
Hani tertawa merendahkan. "Kalau malas ya ditolak saja."
"Nggak segampang itu." Ranto membolak-balik halaman buku yang belum disampul Hani. "Gua homo dan belum bilang ke keluarga. Padahal mereka konservatif. Sekarang gua mengalah dalam usaha menyeret mereka sedikit-sedikit jadi kaum progresif."
"Sungguh manipulatif!” Mata Hani berbinar-binar tertarik. “Tapi lu mesti aware juga dengan kemungkinan keluarga lu sudah tahu dan mereka memanfaatkan kebaikan elu." Ranto menjulurkan lidah tidak peduli. "Sebetulnya keluarga juga bukan hal yang baru, kan? Kenapa sekarang lu sampai lari ke Jakarta?"
Ranto tersenyum kecil. "Sebetulnya yang biasanya jadi pelarian itu Kelompok Menulis kita. Setelah satu minggu yang berat, datang ke pertemuan Kelompok Menulis membuat gua berenergi untuk satu minggu berikutnya. Nggak heran pertama kali gua keluar ya di Kelompok Menulis ini," ujarnya. Kepalanya mengulang sebuah Sabtu sore ketika latihan menulis selesai dilakukan, Ranto meminta perhatian teman-teman Kelompok Menulisnya.
"Teman-teman saya ada pengumuman!"
"Elu gay, ya?" sambar Francis dengan nada bergurau.
Sesaat Ranto terdiam, kemudian tertawa geli. Hani dan teman-teman lain yang awalnya diam juga ikut tertawa. Sampai Ranto mengiyakan, "Iya gua homo." Seketika tawa berhenti. Beberapa terbelalak. Wajah Francis pucat pasi. "Sori, gua nggak akan ngomong begitu kalau tahu elu memang betul-betul ...."
Ranto mengibaskan tangannya. "Nggak apa-apa kok, Cis. Nggak masalah siapa yang mengatakannya. Keren ya, gua? Gua mengakuinya di saat umur gua sembilan belas tahun. Gua sukses memenuhi resolusi!"
"Ranto! Kok malah melamun?" Alis Hani terangkat. "Kenapa kali ini kamu mesti ke Jakarta?"
"Jadi dua minggu lalu gua mengobrol sama teman gua yang teman Francis juga,” lanjut Ranto. “Ceritanya dia membuat wawancara iseng tentang seksualitas gua. Begitu gua merekonstruksi pengalaman gua ‘keluar dari lemari’, si teman gua itu malah bilang begini, 'Ih, kok mirip banget ya sama komik stripnya si Francis?'"
Mulut Hani menganga.
"Masa Francis diam-diam bikin komik strip berdasarkan pengalaman itu?!” seru Ranto. “Ketika gua mengonfrontasi ini lewat SMS. Dia seperti nggak peduli. Alasannya, 'Itu nggak diposting di blog, kok.' Dan gua marah." Ia pun tertunduk. “Seharusnya pengalaman ‘keluar’ membanggakan bagi setiap homoseksual, tetapi gara-gara kejadian ini ingatan ‘keluar’ justru membuat gua merasa miris.”
Kening Hani berkedut. "Kenapa?"
“Apa lu nggak paham? Kita bersikap terbuka karena merasa nyaman dengan orang lain. Namun ketika orang lain itu memanfaatkan keterbukaan kita tanpa sepengetahuan kita ....”
“Kita merasa dikhianati!” sambung Hani. “Siapa sangka prinsip Francis adalah bekerja di bawah tanah, kalau nggak ada masalah maka lanjutkanlah pekerjaan itu? Terus elu mengonfrontasi dia?”
Ranto menghela napas. "Itulah. Lu nggak datang Minggu lalu. Tapi kemarin itu gua betul-betul nggak nyaman. Gua mau melakukan konfrontasi tapi kan nggak bisa."
“Nggak bisa?” ulang Hani tak mengerti. “Kenapa nggak bisa? Bukannya Francis progresif dan sudah tahu kalau elu gay?”
“Yah, gua kan nggak mau merusak atmosfer Kelompok Menulis.” Ranto berusaha agar suaranya terdengar biasa. “Apalagi kita bakal ketemu dia terus setiap minggu.”
“Jadi demi atmosfer itu elu rela mengorbankan kenyamanan sendiri?” Hani menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ini alasan lu lari ke Jakarta? Masuk akal! Cerita lu mempertegas teori bahwa setiap orang memang cuma peduli dengan dirinya sendiri!”
Ada getaran dari dalam celana Ranto. Ponselnya berdering lagi.
"Halo." Ranto menjauh dari temannya yang mulai berkhotbah soal bunuh diri para sastrawan. Rupanya telepon dari travel, menanyakan lokasinya saat ini. "Gandok. Sebentar lagi saya ke sana. Ditunggu, ya?" Ia pun memutuskan sambungan dan melirik layar ponselnya. Masih jam tujuh lebih empat puluh menit. Ranto pun berpamitan pada Hani.
"Pergi sekarang?" tanya Hani, tak terima khotbahnya jadi sia-sia.
Ranto tersenyum. Ia mengangkut tasnya dan keluar dari toko. Di malam yang dingin ini langit tak terlalu kelam, warnanya kemerahan, bintang-bintang tak kelihatan. Ranto berlari, lajunya tidak cepat karena bawaannya terlalu berat. Namun ia tetap berlari, menghindari semua masalah yang ikut lari mengejarnya di belakang. Samar-samar matanya menangkap sekumpulan bapak-bapak yang sedang minum kopi sambil makan gorengan. Berturut-turut ia berpapasan dengan kerumunan tukang ojek asyik bermain karambol, tukang fotokopi yang belum tutup, ibu-ibu penjaga warung jamu. Mereka semua yang tak sempat dan tak mau disapanya. Sampai pandangannya terarah pada pul travel Daytrans dan langkahnya pun melambat.
Ranto memasuki pul dan meletakan barang-barangnya di atas jejeran kursi. Ia menghampiri mas-mas customer service travel Daytrans. “Saya Ranto,” ujarnya. Tangannya masuk ke celana saat customer service menanyakan kartu mahasiswanya. Setelah beberapa saat merogoh-rogoh saku, Ranto baru sadar dompetnya tidak ada di tempat. Matanya melotot. Customer service pun bingung karena tiba-tiba dipelototi.
"Sebentar, Mas. Saya lupa di mana dompet saya," ujar Ranto.
Jemari Ranto merogoh saku depan dan saku belakang celananya. Tidak ada dompet, yang ada hanya ponselnya. Ia membongkar tas, nihil. Tangannya berpindah ke dalam saku jaket. Juga tidak ada dompet, yang ada hanya uang kembalian tadi beli yoghurt. Ranto menepuk dahinya. Ia teringat dompetnya sempat keluar dari saku demi keperluan membeli yoghurt. Ranto pun berlari kembali ke toko buku Reading Lights .
"Kok balik lagi?" tanya Hani.
"Di sini ketemu dompet, nggak?" Ranto balik bertanya.
Hani menggeleng dan menoleh ke arah pegawai Reading Lights lainnya, yang juga ikut menggeleng.
"Tadi pas elu pergi gua lihat dompet lu di saku celana. Cuma posisinya agak keluar," ujar Hani.
Ranto merasa mual dan tercekik. Cepat-cepat ia keluar dan menyusuri rute berlarinya. Tak ada dompet apapun yang ketemu meskipun ia sudah sampai di pul travel Daytrans . Customer service menghampirinya. "Kenapa, Mas?"
"Dompet saya hilang," jawab Ranto.
"Hilang di mana?" tanya si customer service . Ranto menggeleng. "Tenang, Mas. Dicari dulu saja."
Sekali lagi Ranto kembali menyusur rute berlarinya secara mundur. Di depan Reading Lights ia dikejutkan Hani yang tiba-tiba membuka pintu. "Ranto, gua sudah cari-cari dompet lu di dapur, di belakang meja kasir, di meja bundar tempat kita bicara. Semuanya nggak ada."
Ranto berpaling acuh. Ia mulai bertanya-tanya kepada para bapak warung kopi, tukang ojeg bermain karambol, tukang fotokopi belum tutup, hingga ibu warung jamu. Ranto terseret dialog tipikal yang terus berulang 'dompet saya hilang'-'di mana?'-'nggak tahu, anda lihat?'-'nggak, maaf'-'dompet saya hilang'-'di mana?'-'nggak tahu, anda lihat?'-'nggak, maaf'. Hampir sepuluh kali berdialog seperti itu, Ranto berteriak-teriak, ‘Ya Tuhan! YA TUHAN!’ lalu tersadar ia jarang mengucapkan kata Tuhan bila tidak kesusahan. Ranto terdiam. Ia muak dengan dirinya. Ranto kembali ke pul travel Daytrans dan mengambil barang bawaannya.
"Mas bisa naik yang jam sepuluh, kok," tawar customer service dengan ramah. "Bayarnya sih bisa kapan saja."
Ranto menggeleng dan memaksakan senyum. Setelah menitipkan barang bawaannya di Reading Lights ia langsung melapor ke pos polisi Gandok.
"Saya mau bikin surat keterangan kehilangan, Pak," ujar Ranto kepada petugas jaga yang sedang menonton sinetron laga. Laki-laki setengah baya gemuk itu sempat mendesah sebelum menyiapkan kertas dan mesin tiknya.
"Nama lengkap?"
"Ranto Prawirodirjo."
"Apa yang hilang?"
"Dompet warna coklat. Isinya uang lima ratus ribu. KTP, STNK, KTM Unpar, ATM Bank Mandiri, SIM A, dan SIM B."
"Pelan-pelan," pinta polisi. Ranto mengulangi.
"Hilang di mana?"
"Di suatu tempat di Gandok," jawab Ranto, skeptis. Namun ia tetap mengucap terima kasih saat polisi menyerahkan surat keterangan kehilangan.
Ranto melangkah pelan kembali ke toko buku Reading Lights . Mulutnya membungkam menatapi malam, bapak peminum kopi, tukang ojeg main karambol, dan lain-lain-lainnya. Bandung sangat dingin tetapi Ranto tidak lagi peduli. Lama ia mondar-mandir di halaman parkir Reading Lights . Saat kakinya mulai pegal dan titik-titik keringat bermunculan di keningnya, barulah Ranto masuk ke dalam. Hani dan anak-anak Reading Lights yang lain cepat mengerumuninya.
"Ranto kamu punya ongkos pulang, kan?" tanya A.
"Punya." Ranto mengeluarkan uang dari saku jaketnya.
"Diikhlaskan ya?" ujar I memijat-mijat bahu Ranto. Ranto senyum dan mengangguk.
"Dompet hilang itu bikin malas," sabda R. "Kita kehilangan dua kali. Satu, kehilangan dompet. Dua, jiwa kita dihisap birokrasi surat-surat berharga."
Lagi-lagi kepala Ranto terangguk. Orang-orang bubar setelah ia menunjukkan surat kehilangannya. Di meja bundar hanya ada tinggal Ranto, Hani, bawaan Ranto, dan buku-buku yang setengah tersampul. Hani yang pertama memecah keheningan, "Ranto, elu sial banget sih! Gua nggak kebayang. Di saat kita mau lari, tapi jalan larinya malah tertutup!"
Ranto tertawa. Awalnya pelan, perlahan menjadi nyaring. Hani menatapnya dengan pandangan prihatin seakan ia telah hilang akal sehat.
"Han, gua malah kepikiran bahwa ini pertanda biar gua nggak lari dari masalah. Sekarang gua nggak takut kehilangan apa-apa lagi."
"Tapi lu tuh sial banget, Ranto!" seru Hani." Sial banget! Nggak mungkin elu bisa lebih sial lagi!"
Blip, satu kerjapan mata saja tiba-tiba semuanya menjadi hitam. Yang tinggal hanya gemerisik tidak jelas, seperti suara televisi menyala yang belum tersambung ke antena. Sayup-sayup terdengar suara berat laki-laki, "Hani! Kayaknya ada pemadaman! Kita punya lilin nggak, ya?"
"Nggak!" seru Hani. “Paling senter, sebentar ya?” Gadis itu lantas menyalakan lampu jam tangannya.
“Han, ini lebih sial daripada semenit yang lalu,” ujar Ranto. Mereka mulai terbahak. "Aku punya lilin, kok." Ranto meraih tasnya dan memberikan sebungkus lilin yang sebetulnya dibeli buat kakaknya. Beberapa menit kemudian semua tersadar ruang baca Reading Lights justru terasa lebih hangat lagi dengan cahaya lilin yang seadanya. Ranto pun meraih ponselnya dan menelepon Mas Guntur.
"Aku nggak jadi ke Jakarta, Mas. Dompetku hilang."
"Apa?" Mas Guntur tak mempercayai telinganya.
"Dompetku hilang,” ulang Ranto. “Sepertinya Mas harus beli lilin sendiri."
Tawa Mas Guntur bergemuruh. "Lilinku nggak penting. Tapi kamu mau ikut workshop menulis itu, kan?"
"Iya sih."
"Ke Jakarta saja," saran kakaknya. "Kita beruntung, uang bukan masalah yang terlalu berat. Rezeki sih selalu ada. Kamu naik kereta pagi saja."
"Begitu, ya? Aku pikirkan, deh."
"Aku tunggu kamu besok, Dek." Mas Guntur mengakhiri pembicaraan.
Ranto termenung menatap ponsel yang masih ada dalam genggamannya. Pandangannya beralih kepada Hani. Ia tersenyum kikuk. "Sepertinya gua masih bisa ke Jakarta," ujar Ranto. “And I feel like confronting Francis .”
Hani menyeringai. “Just confront him .”
Jemari Ranto menekan nomor telepon Francis. Perlu beberapa nada tunggu, sebelum telepon diangkat, "Halo, ada apa?" tanya suara laki-laki di seberang.
"Dompet gua hilang," Ranto menjawab pertanyaan Francis.
Hening sejenak. "Oh, ya? Terus gimana? Lu lagi di mana?"
"Kemungkinan besar hilang di Gandok," sahut Ranto. "Sekarang gua ada di Reading Lights , di sini juga ada Hani. Mau ngobrol?"
"Mmh, oke."
Ranto menyerahkan ponselnya ke tangan Hani. Gadis itu langsung melenguh, "Francis, novel gua dibantai! Jujur, menurut lu novel gua berplot atau nggak?"
Hani tak bisa mendengar tanggapan Francis karena ponsel segera kembali ke tangan Ranto. "Francis, ini gua lagi ...."
"Kenapa? Masih jangar?"
"Nggak," jawab Ranto. "Gua malah merasa ... bebas. Entah apakah bebas adalah kata yang tepat. Yang jelas kehilangan dompet ini bikin gua nggak peduli lagi apa yang mungkin hilang. Dan sekarang gua mau menyampaikan sesuatu, dan gua nggak peduli lagi reaksi elu."
"Maksudnya?" Francis terdengar bingung dan tak nyaman.
Ranto menarik napas panjang sebelum berbicara. "Gua mau bilang, gua benci banget sama komik yang lu buat berdasarkan hidup gua."
"Eh, tunggu dulu. Komik yang mana, nih?" tanya Francis.
Menyedihkan, pikir Ranto. Saat kita tahu hal yang bagi kita signifikan ternyata tak sama signifikannya bagi orang lain. "Yang gua keluar dari lemari! Memang yang mana lagi?"
"Oh ...."
"Itu kehidupan pribadi gua! Lu nggak boleh dong buat komik berdasarkan kisah itu! Copyright-nya ada di tangan gua!"
"Tapi itu nggak di-posting ke blog, kok," ujar Francis.
Ranto tertawa gugup. "Apa bedanya di-posting sama nggak di-posting?"
"Tujuan gua bikin itu lebih ke arah graphic diary," jelas Francis. "Sifatnya buat diri sendiri saja. Eh, Reading Lights bukanya masih lama nggak sih?"
"Francis lu nggak mesti datang ke sini.” Ranto menggeleng. “Tapi lu mesti tahu bahwa konsep diary itu tentang kehidupan lu sendiri. Bukan kehidupan orang lain! Lagipula apa juga pentingnya memasukkan pengalaman orang lain ke dalam diary lu sendiri?"
Francis terdiam sejenak. “Tapi kalau pengalaman orang lain itu membuat gua terinspirasi?”
"Alasan,” bantah Ranto. “Pokoknya nggak boleh. Apalagi lu nggak lebih dulu memberi tahu orang itu.” Ia terdiam. “GUA!"
"Maaf."
Mata Ranto membasah. Telapak tangannya menepuki dahi. "Elu nggak perlu minta maaf, bukan itu,” ujar Ranto. Ia pun memutuskan sambungan telepon.
lebih rapi. tp untuk seorang dikadiman terlalu biasa kli yah ^_^.
wah...alurnya smooth ... cuma endingnya aku ga paham T_T
cerita yang light tapi kena. belum terlalu nangkep karakter masing-masing, tapi untuk sebuah cerpen mungkin tidak terlalu perlu karena uda ngebentuk plot yang enak. betewe, masi nyambung ga sih? terakhirnya itu ya?
thanks ya, lam kenal
Dari segi thema mungkin tidak terlalu istimewa, tetapi cara penulisan yang maju ke depan mampu menggiring pembaca (terutama aku) untuk menuntaskan cerita. Bahasa yang dipakai cukup sederhana dan tidak berbelit. Menurutku sempurna!
wah asik banget nih cerita. seru.... gue jadi sampe ngebayangin dia turun dimana, jalan dimana... edun lah pkokna mah....
Ceritanya ngalir banget, jadi kebawa arus..hehehe.. maksudnya sampe kebayang di Simpang Dago, di Gandok, Jadi serasa di Bandung euy..
Thx yah udah comment.. salam kenal