Ini hanya sekedar cerita fiksi.
"Dulu aku bukan orang kaya. Rara namaku. Aku sarjana sastra lulusan universitas swasta yang terletak di pinggiran Jakarta. Kemampuan bahasa Inggris dan Mandarinku baik. Aku membiayai sendiri kuliahku karena ayahku cuma wiraswasta yang membuka usaha konveksi di rumah. Begitu bahasa keren untuk seorang penjahit.
Ya, ayahku penjahit yang menerima pesanan membuat baju dari para tetangga. Tapi mana mau aku mengaku pada teman-temanku kalau ayahku penjahit. Aku bilang ayahku punya usaha konveksi di rumah. Penjahit dan konveksi sama-sama menjahit baju kan? Ayahku pandai membuat berbagai macam model baju sampai yang aneh sekalipun. Hanya saja tidak setiap hari ada orang yang minta dibuatkan baju pada ayahku. Apalagi kini semakin banyak butik murah yang sekaligus menawarkan jasa menjahit baju.
Ibuku berjualan nasi uduk dan gorengan tiap pagi dan mie rebus tiap malam di depan rumah. Selain sebagai ibu rumah tangga ibuku juga mengurus adikku yang masih kelas lima SD. Ia juga kadang membantu ayah menjahit pakaian.
Sebenarnya aku tak miskin-miskin amat. Setidaknya itu yang dikatakan teman-temanku selama aku sekolah.
Dulu sewaktu aku masih di SMU aku tak pernah menunggak uang sekolah, uang jajanku cukup dan setiap kali sekolah minta sumbangan aku selalu membayar tepat waktu.
Tapi aku tetap merasa miskin dibanding dengan teman-temanku. Maklum, aku sekolah di sekolah negeri favorit yang kebanyakan muridnya, selain pintar, juga kaya.
Bila teman-temanku mengajak jalan-jalan ke bioskop atau makan di restoran fast food, pakaianku tidak sementereng mereka, uang yang kubawa pun tak melimpah seperti mereka. Teman-temanku memang tidak mempermasalahkan, bahkan mereka kadang mentraktirku makan. Namun aku malu dan risih. Jika aku minta uang untuk membeli baju atau sekedar uang saku jalan-jalan, orang tuaku bukannya memberi malah menasehatiku agar mencari teman pergaulan yang sebanding.
Sahabat yang juga tetanggaku sering mengatakan kalau aku tidak menerima kenyataan dan keadaan diriku yang sebenarnya. Dia bilang aku salah pergaulan. Harusnya aku tidak sering bergaul dengan anak-anak orang kaya. Aku harusnya banyak bersyukur masih bisa sekolah dan punya orang tua yang selalu mencukupi kebutuhanku. Tapi aku balas menjawab, “Aku selalu bersyukur diberi teman-teman yang baik, gaya, trendi dan cantik-cantik. Aku jadi bisa meniru mereka supaya terlihat lebih baik. Iya kan?!” jawabku kala itu.
Kata siapa aku tidak menyukuri karunia Tuhan? Aku justru bersyukur dengan segenap hati. Buktinya aku bisa berteman dengan siapa saja. Orang-orang kampung di lingkungan rumahku, pemuda pengangguran, pemakai narkoba, ibu-ibu sampai anak kecil. Di sekolah aku berteman dengan anak yatim sampai anak orang kaya. Tapi tentu aku lebih senang berteman dengan Sonya, Sari, Valen atau Ajeng yang selalu terlihat cantik, modis dan anggun dengan handphone berkamera, jam tangan, anting lucu, bando dan selalu pulang dijemput sopir.
Aku senang jika keempat temanku itu mengenalkan aku pada teman-teman mereka yang lain sekolah. Temanku jadi tambah banyak. Kadang aku diajak Ajeng menghabiskan waktu di sebuah arena olahraga. Disana aku banyak berkenalan dengan cowok-cowok gaul yang hobi berskate-board, main biliar, menarikan break dance dan bermain basket.
Aku menemukan cara mendapatkan uang banyak agar terlihat cantik dan modis saat aku kelas tiga SMU dan akan menghadapi ujian. Ketika itu aku dikenalkan Sari pada temannya yang bernama Alvin. Alvin pernah satu klub beladiri bersama Sari. Wajah Alvin tidak tampan, namun penampilan dan gayanya selalu membuatnya terlihat menarik dan trendi.
Sejak perkenalan pertama Alvin rajin meneleponku. Pada telepon Alvin yang pertama, kedua, ketiga dan keempat, aku selalu bilang pada Sari untuk menceritakan percakapan aku dan Alvin. Lama-lama setiap Alvin menelepon aku tidak lagi harus menceritakannya pada Sari. Sari toh tidak keberatan jika pada akhirnya aku dan Alvin saling menyukai.
Beberapa minggu kenal dengan Alvin, ia mengatakan menyukaiku. Meski wajahku tidak cantik tapi katanya aku bisa diajak berdiskusi apapun, dan ia merasa nyaman tiap bersamaku. Aku juga menyukai Alvin. Siapa yang tidak senang disukai cowok modis, gaul dan kemana-mana selalu mengendarai sedan berwarna cerah.
Sejak itu kami pacaran. Terus terang aku bangga. Aku bangga bisa memamerkan Alvin pada tetangga-tetanggaku yang orang kampung. Apalagi jika Alvin mengantarku pulang. Mobil merah Alvin selalu terlihat mencolok jika melewati jalan kampung yang penuh anak kecil berlarian, anak-anak muda nongkrong sambil main gitar di pinggir jalan, dan ibu-ibu bergosip di sudut gang. Tentu saja hal ini membuat aku yang berada dalam mobil merasa senang dilihat dengan tatapan iri, cemburu dan kagum.
Tentu perkara pacaran aku dengan Alvin ini tak membuat orangtuaku senang. Hampir setiap hari aku disuguhi nasehat agar tidak lagi bergaul dengan Alvin atau dengan anak-anak orang kaya. Hal itu bisa membuatku lupa diri, kata mereka. Aku membela diri. Kukatakan bahwa Alvin orang baik. Ia bisa menerima bahwa aku bukan orang kaya, ia maklum dengan pekerjaan ayah, dan ia bersedia mengantarku pulang jika aku habis bepergian.
Ibuku pernah berkata,”Kamu jauh berbeda dengan Alvin. Kita tinggal di kampung kumuh, sering banjir, rumahnya dempet-dempet lagi. Dia tinggal di rumah bagus, punya banyak pembantu, orangtuanya bukan sembarangan. Kamu harus punya harga diri. Nanti suatu saat kamu bisa diinjak-injak karena beda kelas sosial, kamu bakal dianggap remeh sama orangtua dan teman-temannya,"
Kubantah,”Kita bukan tinggal di negara yang menganut kasta kan? Alasan ibu gak masuk akal melarang Rara bergaul dengan Alvin dan teman-temannya,”
“Lebih baik kamu sibuk belajar untuk ujian daripada sibuk pacaran!” nada bicara ibu meninggi. “Ibu tidak mau punya anak berotak pas-pasan yang cuma bisa pacaran!”
Karena tidak ingin bertengkar, aku langsung masuk kamar dan mengusir adikku yang telah lebih dulu berada disana. Kusetel kaset keras-keras sampai tidak terdengar suara ibu yang memanggilku.
Dari hari ke hari aku semakin akrab dengan Alvin, meski aku tak pernah dikenalkan pada orangtuanya atau kakak-adiknya. Pernah suatu hari aku diajak kerumahnya tapi ia tidak memperkenalkan aku pada kedua kakaknya. Aku sih tidak ambil pusing.
Aku makin merasa Alvin semakin sayang padaku. Aku dibelikan baju, tas, cincin, aksesori dan banyak lagi. Aku mendapatkan yang kumau dari Alvin. Selama ini aku hanya bisa iri melihat teman-teman sekolahku. Sekarang aku bisa membuat iri teman-teman di sekitar rumahku.
Tiba-tiba di hari Minggu yang cerah, Sari meneleponku, “Kamu sudah putus sama Alvin?” tanya Sari. Aku menjawab belum.
Sari menceritakan bahwa saat ini ia sedang lmelihat Alvin berdua dengan gadis lain di sebuah kafe di mall terkenal. Ketika aku menanyakan seperti apa gadis itu, Sari menjawab,”Rambutnya panjang warna coklat, lumayan cantik, kurus banget kayak lidi, eh mereka lagi peluk-pelukan tuh!”
Lumayan lama aku berbicara dengan Sari. Sari menutup teleponnya karena baterai handphonenya habis. Sama sekali aku tidak merasa cemburu atau sakit hati mengetahui kenyataan kalau Alvin pacaran dengan orang lain. Aku sendiri heran. Dalam pikiranku selama Alvin baik padaku, aku tak melarang dia melakukan apapun. Termasuk berapa banyak pacarnya selain aku.
Mungkin aku bisa disebut cewek matre. Tapi aku menganggap tak sepenuhnya aku materialistis. Aku memang mendapatkan apa yang kuinginkan dari Alvin, tapi ia juga mendapatkan keinginannya dariku. Adil kan? Ia boleh meminta hubungan intim denganku kapan saja ia mau. Di rumahnya, di tempat kos temannya, di mobil, bahkan di basement gedung perkantoran. Aku tidak menyesalinya karena aku merasa hal itu merupakan timbal balik dari apa yang Alvin berikan padaku.
Hubunganku dengan Alvin yang kelewat batas itu membuatku jauh dari keempat sahabatku. Sari yang mengenalkanku pada Alvin merasa bersalah dan selalu menyuruhku putus dengan Alvin. Ajeng, Valen dan Sonya masih berteman baik denganku meski aku tahu dalam hati mereka menganggapku murahan.
Hubungan itu juga membuahkan hasil pada diriku. Aku sering mual, pusing, pegal dan cepat marah. Alvin membelikan test pack, ketika kucoba ternyata aku positif hamil. Kembali kucoba test pack yang kedua, hasilnya aku tetap positif hamil.
Aku panik. Apa kata orangtua dan teman-temanku kalau tahu aku hamil? Mendesak Alvin menikahiku tak mungkin. Aku masih sekolah dan akan ujian dua bulan lagi. Alvin juga masih kuliah dan memang ia tidak ingin menikah.
Alvin menyuruhku menggugurkan kehamilanku. Ia memberikan alamat sebuah klinik dan uang tiga juta rupiah.
“Bagaimana kalau aborsi ini gagal?” tanyaku cemas.
“Gagal apanya? Tidak akan gagal. klinik itu selalu berhasil menolong orang yang ingin aborsi. Kamu tidak akan merasa sakit sedikitpun,” Alvin meyakinkanku.
“Darimana kamu tahu klinik itu selalu berhasil? Kamu selalu membawa pacar-pacarmu aborsi disana,ya?” aku mencecar dengan ketus.
“Jangan ribut! Kamu mau punya anak tanpa nikah? Silakan pertahankan kehamilanmu tapi jangan tuntut aku macam-macam! Aku belum mau dan tidak akan nikah sama kamu. Jadi kamu harus aborsi! Kamu hamil baru sebulan, masih gampang untuk aborsi!” Alvin hampir marah.
Akhirnya aku mengalah dan memutuskan mengunjungi klinik itu esok lusa. Alvin menolak menemaniku dengan macam-macam alasan. Sambil merenung aku menatap tumpukan uang ditempat tidurku. Baru kali ini aku melihat uang jutaan didepanku.
Tiba-tiba tercetus pikiran nakal. Aku tidak usah ke klinik. Aku aborsi saja di dukun paraji atau bidan. Resikonya memang sangat besar karena mempertaruhkan nyawaku. Tapi uang yang akan kukeluarkan untuk dukun atau bidan pasti lebih sedikit dibanding klinik. Bila biaya di klinik tiga juta rupiah, pasti di dukun paraji atau bidan tak sampai dua juta. Dengan begitu aku masih punya sisa uang. Kuputuskan untuk menanggung resiko itu.
Beruntung hari itu Sari dan Sonya mau menemaniku dengan syarat aku harus bertobat dan tidak mengulanginya lagi. Aku menjalani aborsi disebuah rumah kecil dipinggir kota kecil dekat Jakarta milik dukun paraji. Aku diberi minum jamu-jamuan yang rasanya sangat pahit. Perutku diurut menggunakan minyak kelapa. Sakitnya minta ampun. Setiap kali perutku ditekan aku menjerit dan menangis. Aku serasa ingin pingsan. Sari dan Sonya juga ikut menangis mendengar kesakitanku. Akhirnya mereka tak tahan dan memilih menunggu di mobil.
Aku berhasil menjalani proses aborsi yang sangat menyakitkan dengan selamat. Dan Alvin? Sejak memberiku alamat klinik dan uang, Alvin tak pernah menemuiku. Setiap kutelepon ke rumahnya, ia selalu tak ada. Ia juga telah berganti nomor handphone. Ia pun tak pernah di rumah setiap kali kudatangi. Aku sudah putus asa untuk bertemu dengannya.
Peristiwa aborsi itu rupanya membawa gaya hidup baru untukku. Aku sempat bingung mendapatkan apa yang selama ini diberikan Alvin untukku. Aku terbiasa beli baju tiap minggu, makan di restoran enak, dan bergaya didepan teman-temanku. Aku segera mencari cara mendapatkan uang. Bekerja? Aku bahkan belum mengantongi ijazah SMU. Kerja apa? Lalu aku teringat para ABG yang biasa mangkal di mal-mal atau cafe untuk menemani om senang. Ya itu cara termudah mendapat uang. Tak ada ruginya bagiku. Toh aku sudah biasa melayani Alvin, jadi aku tahu bagaimana membuat para lelaki tua itu senang. Itulah ‘karirku’ yang baru. Menemani para pria tua yang ingin kencan.
Lalu setelah aku kuliahpun aku tetap menjalani ‘karir’ itu. Kampusku jauh dari rumah agar aku bisa kos dan leluasa mencari uang. Kubiayai kuliah dari hasil menemani pria-pria tua di mal atau dimanapun. Bekas teman sekolahku juga pernah merasakan layananku.
Walau punya banyak uang, teman-temanku kini benar-benar meninggalkanku. Sejak peristiwa aborsi beberapa waktu lalu, Sari dan Sonya jarang menghubungiku. Mereka kuliah di luar negeri. Ajeng kuliah di universitas negeri di kota lain dan Valen di universitas swasta di kota ini. Tak satupun dari mereka yang menganggapku teman lagi.
Aku mengikuti kuliah dengan baik pada kelas sore. Aku tetap menjalani pekerjaan haramku sambil sesekali menjadi penyalur antara para gadis yang butuh uang dengan para pria yang membutuhkan wanita. Mucikari kecil-kecilan.
Di tempat kos-ku tentu tak ada yang tahu pekerjaan asliku. Aku pintar menyembunyikannya. Pagi aku ‘berangkat kerja’, malamnya kuliah. Jam kerjaku kuatur agar tepat dengan jam kerja karyawati yang merangkap kuliah malam. Untunglah para ‘klien’ku memang senang ‘berbisnis’ pada siang hari.
Setelah menyelesaikan kuliah dengan susah payah akhirnya aku menjadi sarjana sastra. Orang tuaku bangga bukan kepalang. Aku menjadi sarjana tanpa meminta uang sepeserpun pada orang tuaku untuk membiayainya. Setelah menjadi sarjana aku mengaku pada keluargaku bekerja di perusahaan minyak asing di Bekasi sebagai humas, maka mereka mengerti jika aku harus kos lagi. Padahal aku tinggal di rumah kontrakan yang lumayan mewah di Jakarta.
Seiring itu aku telah menjadi mucikari kelas menengah keatas. Berkat kemahiranku berbahasa asing aku bisa melayani pesanan turis asing atau pesanan bos-bos untuk menemani rekan bisnis mereka. Aku bahkan menjadi simpanan seorang anggota parlemen. Anggota parlemen itu masih membiarkanku menjadi penyalur gadis muda namun tidak memperbolehkanku melayani laki-laki lain selain dirinya.
Sekarang aku orang kaya. Uang bukan masalah buatku. Aku bisa memakai pakaian apapun yang kumau, ke salon mahal, membeli sepatu mahal, barang elektronik canggih atau sekedar jalan-jalan.
Sialnya, sepandai-pandai tupai melompat pasti terjatuh juga. Ya, itu kualami. Suatu pagi aku didatangi wanita separuh baya. Ia datang bersama dua lelaki. Wanita itu tiba-tiba mencaki maki aku dengan kata-kata kasar. Ia juga berteriak-teriak mengeluarkan sumpah serapah. Aku tanya siapa dia, wanita itu malah menyuruh dua lelaki itu untuk mengancamku. Rupanya ia adalah istri si anggota parlemen. Ia memarahiku tanpa henti. Aku tak takut.
Sejak hari itu si anggota parlemen tidak pernah mendatangiku lagi. Istrinya hampir tiap pagi mendatangi rumahku sambil mengancam dan mencaki maki. Hal itu amat mengganggu kegiatanku sehari-hari. Aku berusaha tak ambil pusing dan tak menggubris perlakuan wanita itu. Kalau ia mau marah, marah saja pada suaminya. Toh bukan aku yang memaksa jadi istri simpanan. Suaminya yang memaksa dan memintaku. Ancaman dan caci maki itu terus berlangsung tiap pagi sampai satu bulan. Batas toleransiku habis. Jika wanita itu ingin ribut, aku layani. Bahkan akan kutantang ia untuk melaporkanku ke polisi.
Pagi hari aku didatangi lagi oleh istri anggota parlemen. Kali ini ia membawa tiga lelaki. Aku siap membalas jika ia mencaci maki dan megancamku. Ternyata wanita itu tidak banyak omong. Tiba-tiba ia memerintahkan tiga lelaki itu untuk memperkosaku. Aku kaget. Aku tak menduga sama sekali. Wanita itu tersenyum melihat aku mencoba membujuknya. Ketiga lelaki itu maju dan menyeretku ke kamar depan. Aku berontak sekuat tenaga. Tidak berhasil. Tenaga mereka kuat. Kucoba berteriak tapi mereka membekap mulutku.
“Perkosa dia sesuka kalian! Kalau perlu sampai dia mati! Tapi lakukan dengan cepat. Saya tunggu kalian di mobil!” katanya sambil menatapku dengan bengis. “Bagaimana perempuan binal? Kamu suka bila ada yang menyetubuhimu kan? Nih, kuberi kau tiga lelaki sekaligus supaya kau tidak mengganggu suami orang lagi!”
Bedebah! Wanita itu benar-benar sialan! Aku memaki dalam hati. Aku tidak boleh menyerah pada wanita tua itu. Ugh! Para lelaki ini juga sialan. Darahku mendidih. Aku terus merutuk.
Tiba-tiba aku merasa energiku terkumpul. Keberanianku bangkit. Aku diam saja ketika tiga lelaki itu membuka dan menggerayangi tubuhku. Ketika mereka lengah kutendang kemaluan mereka sekuat tenaga lalu aku lari menuju dapur dan mengambil pisau.
Satu lelaki berusaha mengejarku. Ia kalah cepat. Segera kutusukkan pisau ketubuhnya berkali-kali. Dua lelaki yang masih kesakitan menghampiriku karena mendengar teriakan temannya. Tak pikir panjang segera kutusukkan dua pisau yang ada ditanganku ke tubuh dua lelaki itu secara bertubi-tubi. Mereka terkapar di dapur. Segera saja aku keluar dan mencari wanita itu di dalam mobilnya.
Tetangga-tetangga yang melihatku berlumuran darah segera berkerumun dan berusaha mencegahku membunuh istri anggota parlemen. Aku tak peduli. Segera saja kuseret tubuh wanita itu keluar dari mobil. Sempat kutusukkan pisau dua kali sebelum orang-orang membekapku dan mengurungku dalam kamar.
Sekarang aku ada di penjara. Aku akan berada di penjara selama 10 tahun. Aku dituduh membunuh empat orang. Media massa ramai memberitakan kasusku. Bahkan ada koran dan televisi yang membuat investigasi sendiri. Seorang perempuan membunuh tiga lelaki dan satu wanita hanya dengan pisau daging? Ah, tak kusangka aku bisa melakukannya. Aku memang sakit hati dan dendam pada wanita itu. Hidupku jadi tak tenang dan pekerjaanku terganggu. Padahal aku tak pernah mengganggunya.
Anggota parlemen sibuk membantah hubungannya denganku. Dia bahkan akan menuntut aku karena mencemarkan nama baiknya.
Keluargaku pasti malu bukan kepalang. Sampai saat ini mereka belum menjengukku di penjara. Mungkin keluargaku pindah keluar kota karena tak tahan gunjingan tetangga.
Tiga teman sekamarku di penjara segan kepadaku karena aku pembunuh berdarah dingin, kata mereka. Ada-ada saja. Aku kan normal. Aku cuma tak suka ada yang menghinaku. Aku sudah sabar. Kalau orang-orang itu kubunuh itu salah mereka yang menyepelekanku bahkan mau memperkosaku. Aku kan cuma membela diri.
Dan, aku puas telah membunuh orang-orang yang melecehkan, menghina, mengancam, dan merendahkan harga diriku. Itulah ganjaran yang pantas mereka terima dariku. Tapi uangku yang banyak itu siapa yang mengurusnya ya?
dikirim tiyan 16 minggu 5 hari yang laluTag:








