*****
Ruangan itu dipenuhi cermin. Kemanapun mata memandang, di situ ada bayanganku. Hanya saja, ekspresi di balik cermin itu seolah ketakutan. Aku mencoba tersenyum namun pantulan di cermin tetap menampakkan ketakutan. Mereka menggigil gemetar dengan kedua belah tangan di dada. Aku bingung, apa yang bayanganku takutkan?
“Sak! Bangun cuy, sudah jam sembilan nih. Cepetan!”
Kali ini aku tak lekas terkejut. Mimpi itu kembali nanggung. Sudah kesembilan kalinya dan entah sampai kapan akan berakhir. Duduk ku terdiam dengan mata menerawang.
“Oyy! Cepetan dong. Niat jumpain Mister Jack nggak?”
Kupandangi Ezra yang kini membuka laci mejaku. Diambilnya CD berisi lagu demo kami di dalamnya. Dia menginap di rumahku. Akhir-akhir ini aku sering telat. Insomnia, itulah yang menjangkitiku. Semua gara-gara mimpi sialan itu.
Handuk yang dilemparkan Ezra segera kuambil. Dengan gontai aku menuju kamar mandi. Shower kembali ngadat setelah kemarin baru saja diperbaiki, aku menggurutuk.
“Let’s go!!!” ucapku setelah selesai mandi. Dan Ezra hanya diam tak percaya, memandangi tubuhku yang hanya terbalut handuk setengah paha, beranjak keluar rumah menuju motor Ninjaku. Aku baru tersadar akan hal ini, setelah Arra, kucing putih yang baru kupelihara seminggu yang lalu, wajahnya bersemu merah.
“Ezraaa! Loe kok kaga bilang-bilang kalo gue belon pake bajuuu!!”
bersambung...
*****
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
Tambah hancur nih orang bikin cerita, serius dikit napa? heheheheehe, seru bung!kapan munculnya johan?!
kucingna ngerti yak, Om?
ahak...hak...hak...
Arra yg sebenerna dah liat blom?
kaaabbbooorrrr
halahh Om'aMri segtunya....

Hmmm, terlalu singkat. Sayang sekali, padahal suasana yang telah dicipatakan pagi itu deskripsinya sudah sangat menghibur, bagus.
Kalau aku sarankan, insomnia, bisa menjadi bagian yang dirimu bisa ceritakan.