Berusaha menepati janji. Capek banget bikin nih cerita pake hp. App opera mini sony ericsson k530i. Komputerku gak pake internet sich...
Whieldy mirza
"Tanggal 10 agustus. Saat aku tak bisa tahan lagi dengan teror death e-mail. Aku berniat berangkat ke Surabaya. Aku tak dapat tahan lagi. Selama 10 hari, aku diteror bayangan hitam, suara berisik dan ketukan pintu saat malam. Mungkin, Di Surabaya... Aku bisa menenangkan diriku dan berfikir kalau semua ini tidak nyata. Apabila aku terus berada di sini. Mungkin, aku akan semakin menggila.
Sekarang ini, tepatnya jam 8 malam. Sendirian di tempat kost dalam kesunyian, hening, gelap, bayangan hitam kembali menghantuiku. Kini ia berpindah dibelakangku, sesaat ia di depanku dan disampingku. Aku mulai terbiasa dengan bayangan hitam itu. Tok... Tok... Tok... Terdengar lagi suara ketukan pintu. Aku bergegas meraih dompet. Dengan tekad bulat. Aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya.
Di stasiun pun. Bayangan hitam itu terus mengikutiku. Jam 9 malam, stasiun masih buka. Tapi suasana stasiun hening dan sunyi. Begitu pula loketnya. Seorang wanita paruh baya terdiam. Sesaat ia melihatku dan berbincang denganku. Kini, aku telah meraih satu tiket kereta api menuju Surabaya. Kereta api yang akan kunaiki adalah sebuah kereta baru yang akan berangkat tepatnya jam 10 malam.
Mungkin, hanya aku penumpang di kereta api tersebut. Aku sendirian di ruangan tunggu. Menunggu... Tak terdengar satu suara pun di tempatku duduk sekarang ini. Tatapanku kosong.
Aku tersadar dari lamunanku saat wanita paruh baya penjaga loket tadi berjalan menuju rel. Saat tiba di rel, ia tersenyum dingin ke arahku. Sedetik kemudian, ia tertabrak kereta api. Darahnya terciprat ke mana-mana kecuali ke arahku. Aku berteriak histeris. Aku tak mau mengalami kejadian ini lagi! Aku gemetaran. Dengan kusaksikan oleh mata kepalaku sendiri, wanita paruh baya itu remuk. Kepalanya putus. Aku hampir pingsan melihatnya. Aku menutup mata dan telingaku. Saat kubuka, tidak ada setetes pun cairan darah disekitarku. Wanita paruh baya itu juga tetap di ruangan loket dan kereta api yang kelihatan tua tengah berada di hadapanku. Aku lega, ini hanya ilusi.
Sebentar aku terdiam. Tapi tak lama aku masuk ke dalam salah satu gerbong kereta api yang terbuka. Aku memperhatikan penumpang di sekitarku. Seorang bapak yang membaca koran, seluruh wajahnya tertutup koran. Seoramg ibu yang terdiam dan anak perempuannya yang juga terdiam sambil memeluk boneka coklat yang usang. Aku lega, bayangan hitam tak lagi mengikutiku. Tapi kelegaan itu hanya bersifat sementara. Aku mulai kebingungan saat suara rel yang biasanya berisik sama sekali tak terdengar.
Aku segera berangkat ke kursi masinis untuk menanyakan hal ini. Ketika tiba di sana aku mulai panik. Kursi masinisnya KOSONG?
Dengan panik, aku berlarian menuju kursi penumpang untuk memberi tahu 3 penumpang lainnya. Tapi setelah sampai di sana. MEREKA MENGHILANG?
Aku berteriak histeris. Dadaku berdegup kencang. Sosok hitam yang berada di mimpiku kini muncul lagi di hadapanku. Dengan pisau besar dan panjang yang bersiap-siap mencincang tubuhku. Darah keluar dari 2 bola matanya. Pisaunya yang besar diangkatnya. Aku jongkok dan menutup mata serta telingaku. Sosok hitam itu kemudian mengayunkan pisaunya kepadaku. AAAAAAAAAAAA...
" mbak? Mbak? Kenapa mbak?" seorang pedagang asongan tengah menepuk-nepuk pundakku dengan jari telunjuknya. Aku tersadar. Ini telah subuh di stasiun Surabaya. Ternyata aku telah sampai. Pedagang asongan itu heran melihatku. Bagaimana tidak, sekarang mukaku pucat, keringat dinginku mengucur keluar, tanganku dingin sedingin es. Rasanya seperti akan mati saja.
" maaf mas. Kereta yang saya tumpangi tadi dimana ya?" tanyaku ngos-ngosan. Pedagang asongan itu malah tambah heran.
" lha? Mbak ini? Mana ada kereta jam begini? Bukannya sejak tadi... Mbak jalan di atas rel sampai kesini? Lho... Kok mbaknya yang gak ingat?" jelas pedagang asongan itu dengan wajah bingung. Haaah? Aku jalan di atas rel sampai Surabaya?.
Aku memeriksa tiket kereta api yang sembari tadi kusimpan dalam kantongku. TIDAK ADA? Uangku juga tak berkurang sepeser pun. Aku shock... Pikiranku kosong. Kurasa, aku mulai gila. Pikiranku sudah mengada-ada. Aku tertawa sendiri lalu aku menangis.
Hari ini tanggal 12 agustus jam 23.30. Aku terdiam dalam sebuah penginapan tua di Surabaya. Aku tertawa, menertawai diriku yang bodoh telah mempercayai sebuah e-mail. Tapi, kemudian sesaat aku menangis, menangisi diriku yang ketakutan.
Jam 24.00 dia datang lagi!!!! Sosok hitam yang membawa pisau besar dan darah yang keluar dari kedua bola matanya. Seketika... Sekelilingku gelap.
" mau membunuhku?" kataku kepadanya. Ia hanya menyodorkan pisaunya yang tajam. Aku gila, aku pasrah, aku panik, aku takut!!!
"bunuh saja aku!" kataku kepadanya. Sedetik kemudian... Dia menusukkan pisaunya ke perutku. Terasa perih rasanya. Pisau itu menembus perutku. Dan seketika, aku meninggal. Meninggal dengan ditemani heningnya malam pada tanggal 13.
Sampai saat ini... Tidak ada seseorang pun yang menemukanku. Mungkin aku ditemukan pada saat tanggal 13 tahun depan. Di suatu ruangan. Mungkin saja, ruangan tempatku meninggal adalah ruanganmu.
The end
dikirim Whieldy_mirza 16 minggu 3 hari yang laluTag:








