Task Force : Stradivarius (Episode Sembilan-Lima)

10
points
"

Bingung dengan istilah yang ada??.. ?_?

Mungkin wikipedia bisa membantu!.. ^_^

"

Kapten McKnight terus memikirkan apa yang dikatakan oleh wakilnya itu, rekornya—empat menit lima puluh detik—mulai dirongrong oleh rekor Ames—lima menit nol detik, pas!

“Keparat itu boleh juga.”

“Bagaimana kalau kita membuat sedikit turnamen kecil-kecilan?” tawar Letnan Cox.

Kapten McKnight memandangi Letnan Cox, ia bisa mencium niatan wakilnya yang tidak simpatik dengan unit tak dikenal itu mau mengadunya dengan Ames.

“Kau mau mengaduku dengannya?” tanya Kapten McKnight.

“Daripada kau mati kebosanan di tempat pelatihan seperti ini?.. Kompetisi adalah solusi yang bagus untuk membuatmu kembali bersemangat untuk berlatih, kan?” jawab Letnan Cox.

Alasan yang masuk akal, ia juga mulai bosan dengan latihan yang ada di Area-49, darah dan dagingnya penuh dengan kompetisi internal SOLDR yang terkenal buas dan tanpa ampun yang merupakan tradisi yang tetap dipertahankan dalam satuan mereka semenjak SOLDR didirikan.

Terbaik di antara prajurit SOLDR terbaik adalah motivasi utama dalam kompetisi internal, itu yang membuat orang-orang seperti Kapten McKnight terus memacu dirinya untuk terus melatih kemampuan tempurnya untuk bisa menjadi nomer satu di satuannya.

Dan itulah yang membuat dirinya dikenal sebagai prajurit SOLDR terbaik, bahkan orang-orang di Angkatan Bersenjata memujinya sebagai—Anak Emas Angkatan Bersenjata—dan merasa yakin kalau karirnya akan cemerlang bak bintang di luar angkasa sana.

Latihan di Area-49 yang kurang menggigit dan muncul orang yang “berani” mencoba menggeser dominasinya selama ini, membuatnya ia memikirkan apa yang ditawarkan oleh Letnan Cox.

“Bagaimana kau mengurusnya?” tanya Kapten McKnight penasaran.

Sukses! Kapten McKnight akhirnya menerima tantangannya.

“Tenang saja, aku yang akan mengurusnya!” jawab Letnan Cox yakin.

Kapten McKnight menganggukkan kepalanya, “Baiklah..” jawab sang kapten.

Letnan Cox langsung bergegas menghampiri instrukturnya yang sedang berbincang dengan Sersan Pelatih Johanson dan Kolonel Wilkinson, meminta ijin untuk membuat kompetisi kecil-kecilan itu.

Awalnya sang instruktur menolaknya, namun Kolonel Wilkinson tertarik dengan penjelasan yang diberikan oleh Letnan Cox, mau tak mau Sersan Pelatih Johanson mematuhi sang komandan, mereka setuju dan mengijinkan kompetisi itu ketika sesi latihan menembak nanti.


“Hai, Unit Tak Bernama!” sapa Letnan Cox.

Semua anggota Stradivarius terdiam dan memandangi Letnan Cox yang mendatangi meja mereka.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Oist berang.

“Whoa, kau mabuk kawan. Jangan terlalu banyak minum, nanti pagi kau akan bangun pusing-pusing dan akan semakin pusing melihat komandanmu dikalahkan oleh komandanku nanti.” Ujar Letnan Cox dengan nada provokatif.

“Apa maksudmu?!” Oist semakin kesal, namun Lamoreux buru-buru menahannya.

“Apa maksudmu dengan aku dikalahkan oleh komandanmu nanti?” tanya Ames penasaran.

“Besok, sesi latihan menembak, kita akan mengadakan kompetisi tembak reaksi. Yaa, kompetisi kecil-kecilan, lah!.. Untung penyegaran latihan yang membosankan ini.” Jawab Letnan Cox.

Ames memandangi Kapten McKnight yang juga memandanginya dari kejauhan, sepertinya informasi bahwa ia—nyaris—berhasil menyaingi rekor tercepat komandan Kompi A, Kapten Billy Josh McKnight, mulai sampai di telinga si pemegang rekor tembak reaksi tercepat se-Angkatan Bersenjata itu.

“Para pelatih mengijinkan?” tanya Ames.

Letnan Cox tersenyum lebar, Ames juga tertarik untuk ikut.

“Tentu, jagoan!” jawab Letnan Cox.

“Sedikit kompetisi bagus juga... Aku terima tantangannya.” Putus Ames.


Suasana berbeda terasa di lapangan tembak, biasanya pada siang hari terdengar suara tembakan yang bersahut-sahutan, tapi untuk hari ini tak ada suara letusan peluru pistol pun yang terdengar di lapangan itu.

Hanya ada suara tiupan angin kencang, dan dua orang dengan seragam berbeda di tengah-tengah lapangan tembak yang sudah disusun sedemikian rupa untuk latihan tembak reaksi.

Ames dengan seragam hijau zaitun—dan hanya bersarungkan pistol M1911A3—sedang berdiri menunggu Sersan Pelatih Johanson yang sedang sibuk mempersiapkan duel maut ini.

Pikirannya terus mengingat-ingat dan memproses apa yang dijelaskan oleh Sersan Pelatih Johanson.

Dalam pertandingan ini ada lima tingkatan, tiap satu tingkatan terdapat lima sasaran tembak yang harus mereka lumpuhkan, berarti total sasaran tembak pada pertandingan mini ini adalah limabelas sasaran.

Kapasitas amunisi pistol M1911A3-nya—dan M93F saingannya—adalah limabelas peluru, dengan kata lain, ia harus berhasil menjatuhkan setiap satu sasaran tembak dengan tiga tembakan dan dalam satu tingkatan, magazen harus kosong.

Sedangkan magazen cadangan ada empat buah, keempat magazen cadangan itu harus dihabisi sesuai dengan perhitungannya, kehabisan amunisi di saat yang tidak tepat—habis lebih dini—akan memberikan point yang buruk.


Ia memandangi Kapten McKnight—lengkap dengan seragam ACU dan sarung pistol Serpa sebagai standar Angkatan Darat—mengatur napasnya yang mulai tak beraturan karena exited akan aroma kompetisi ini sembari mengelus-elus sarung pistol yang menyelimuti pistol M93F andalannya itu.

“M1911, heh?” tanya Kapten McKnight.

Ames memandangi pistolnya yang masih berada di sarung pistolnya, “Ya.” Jawab Ames.

“Kaliber 45, gaya lama.” Gumam Kapten McKnight.

Ames bisa mencium aroma cibiran dari sang jawara tembak reaksi itu, walaupun hanya tercium samar-samar.

“Setiap orang memiliki pertimbangan masing-masing, Kapten..” jawab Ames enteng.

Sersan Pelatih Johanson berjalan menghampiri Ames dan Kapten McKnight, ia memandangi dua komandan dalam satuan yang berbeda itu.

“Kalian siap, anak-anak?” tanya Sersan Pelatih Johanson.

“Siap, Pak!” jawab Kapten McKnight mantap.

“Oke, langsung saja.” Jawab Ames.

Sersan Pelatih Johanson mengangguk, “Posisi siaga!”

Kapten McKnight dan Ames langsung bersiap pada kuda-kuda masing-masing yang menurut mereka bisa diandalkan.

Kapten McKnight langsung mencabut pistol M93F-nya, kedua tangannya menggenggam erat gagang pistolnya, bersiap untuk langsung melepaskan tembakan pertamanya ketika sang wasit menyilakannya untuk menembak.

Namun berbeda dengan Kapten McKnight, tangan kiri Ames malah mengambil tiga magazen pistol kaliber 45. Setiap magazen ia selipkan di setiap jari-jemari tangan kirinya.

Ames hanya tersenyum penuh arti ketika rivalnya itu memandangi gaya menembaknya yang nyeleneh itu dengan tatapan tak biasa.

“YAK!!..” buka Sersan Pelatih Johanson.

Dua orang jagoan tembak reaksi itu langsung melepaskan tembakan pertama ke arah sasaran tembak yang ada di depan mereka, waktu pun mulai berputar dengan cepat dan sistematis.

Sedangkan para suporter hanya bisa menahan napas panjang, terus memandangi jagoan masing-masing sedang bermanuver dengan lincahnya tanpa harus memecahkan konsentrasi mengakuisisi sasaran masing-masing.

Tiga tembakan Ames dan Kapten McKnight berhasil menjatuhkan papan sasaran tembak yang terbuat dari lempengan besi tipis masing-masing.

Tembak reaksi memang bukan Cuma menjatuhkan sasaran sebaik mungkin, tetapi juga menuntut manuver dan kecepatan bereaksi secepat dan seefektif mungkin, yang tak lain adalah juga tuntutan untuk seorang pasukan khusus.

Sasaran kelima sudah berhasil dijatuhkan, magazen tiap peserta sudah kosong, saatnya untuk segera mengisi kembali pistol mereka dengan amunisi yang baru, disinilah saat untuk membuktikan siapa yang paling efektif memanfaatkan waktu yang ada.

Magazen kosong pistol M93F Kapten McKnight jatuh ke tanah ketika jempol kanannya memencet tombol pengunci magazen. Tangannya yang terlatih itu dengan gesitnya merogoh kantong amunisi yang menyatu dengan sarung pistolnya.

Berbeda dengan Ames, setelah M1911A3-nya kosong, magazen cadangan yang terselip di jari tangan kirinya dengan gesit langsung memasukkan magazen cadangan itu, Letnan Cox bisa melihat keuntungan dari taktik aneh Ames.

“Komandan sialan itu memang pintar..” gumam Oist sembari meringis senang.

“Dalam tembak reaksi, waktu adalah kuncinya, dengan teknik seperti itu, dia bisa menghemat waktu seperempat detik.” Ujar Collosus datar.

Sial untuk Kapten McKnight, ia mendengar pistol rivalnya yang beraksi di samping kirinya itu meletus terlebih dahulu daripada pistolnya.

Suara letusan pistol itu mulai memecah konsentrasinya, tembakan lawan yang lebih cepat darinya berarti lawannya lebih cepat dari dirinya, lawan lebih cepat dari dirinya berarti waktu yang diperoleh lawannya lebih singkat dari dirinya, waktu lebih singkat berarti menang, menang berarti mimpi buruk baginya.

Kapten McKnight terus berusaha memacu kecepatannya, namun ketika ia mulai menyeimbangi kecepatan Ames, rivalnya itu berhasil mendahuluinya ketika pindah tahapan, kesal bercampur sesal meracuni konsentrasinya.

Meremehkan dan menganggap teknik lawannya yang keluar pakem itu adalah kesalah besar yang berujung tahtanya sebagai raja tembak reaksi harus direbut oleh Ames.

Letnan Cox hanya bisa gigit jari melihat jagonya berhasil dipecundangi oleh pendatang baru itu, ia harus kembali menjilat ludahnya yang sudah ia ludahkan di atas tanah.


Bunyi peluit tanda pertandingan kecil-kecilan itu selesai terdengar nyaring, Ames dan Kapten McKnight langsung menurunkan bidikannya dan kembali menyarungkan kembali pistol andalan mereka masing-masing dalam keadaan terkunci.

Your rating: None Average: 5 (2 votes)
dikirim AkangYamato 16 minggu 3 hari yang lalu
Tag: