Mawar putih
Bulan purnama
Kulihat patih
Nyatakan cinta
Terjun ke ngarai
Plung…terbuai
Nyawa terurai
***
Ada keinginan menjadikan indah di mata, sepenuh cahaya bulan purnama yang sinari taman-taman bunga di ujung desa. Ada hasrat di dada, yang hendak keluar menjadi kata selayak nafsu pencipta tautan kata -- para pujangga.
Di ujung desa -- di tepi jurang penebus dosa, terlepas seekor kuda dari tangan seorang kesatria.
Tak ada lagi pedang terhunus, tak ada lagi yang harus menderita penyakit tetanus. Karena cinta telah memberangus, duri-duri kaktus.
Kini yang tersisa hanya sebuah rasa, yang menggelora di pelupuk mata. Tenggelamkan nalar di dalam kepala, jadikan nyawa seperti seserahan yang tak perlu dijaga karena sudah milik penambat jiwa -- cinta.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
Ini puisi ya?
hmm juga ^_^
"Satu" as a parent
kamu sedang jatuh cinta ya? biasanya lebih dari itu sampai tak terkatakan
ihihihi
^__^
Puisi yang bagus... Nice
Kenapa tak kau bikin cerita pendek aja, terus ditutup dengan puisi ini..he..he..
puisi yang singkat. tapi kenapa tubuhku yang mungil ini bisa merasakan emosinya ya?
mayan bagus!
ini puisi ya?
kayaknya ini puisi deh!
kok,kayak puisi ya?
bagus ya...'ada plung' nya!!
lw mau mati yach.....
tragis amat endingnya
Coba ceritanya lebih jelas... pasti jadi menarik
. Kata katanya udah bagus, kecuali bagian yang ini :
"Tak ada lagi pedang terhunus, tak ada lagi yang harus menderita penyakit tetanus. Karena cinta telah memberangus, duri-duri kaktus."
Kayaknya dipaksakan untuk berrima. Apa coba hubungannya pedang yang terhunus dan penyakit tetanus?