Ketika rentang menegak lantun simfoni
Sepenggalah menapak, hmm...terbentanglah hamparan penat
Jika sesaat asa terantuk pijak berduri
sebait pun menguncup, mematut kelopak pada hingar hayat
Ahh.., paut selalu melekat tak seiring rautan
Walau tlah menyemai seribu untai pendakian
Beribu tajuk berdekap erat, meniti rajuk di tepian
Akankah senjang...teguh menemu gayuh dalam perapian?
Yaahhh.., semisal sepunguk yang memucuk cemara
Dan keping-keping masaku menampar sepanas bara
Raga melata, pun lenguh bergemuruh radangkan kembara
: biarlah darah memerah buncah menjerang warna telaga
Selalu ada, walau hanya setitik pendar merentan bias
Membawa langkah pada liku segemulai tarian kebas
Hingga merapat peraduan gaduh dalam jejakan lepas
Ilalang tinggi, menutup mata kaburkan ufuk bianglala
Anggap saja separuh rona menyusup patrian dengung petala
Sangka menduga hingga memejam mata telinga pada bejana kala
Sengketa bicara pada nada, mendurjana masa meraut asa kuala
Kaki-kaki merumput..., melenggang, berlari, menggilas, basuh muka
: biarlah terurai riak-riak waktu, dan pudarkan warna jelaga
============
Aug0108, sby
*menjejak rentang-fana#
-------------------------------------------------------------
*..kebas = penat, lumpuh, kaku (dari kelelahan)
*..petala = lapisan, strata lapisan2 sosial
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
bagus mbah
Assalamualaikum Mbah?
Karya yang indah dan sangat mendayu-daya.
Ze tunggu kamusnya Mbah..
gegap gempita
dendang segenap tembang
melanglang buana melayang rasa
seeep !
WOW!!!!!
Saya ndak berani komment ah
hiks,,, bahasa na tinggi,, sbenernya krg ngti maksudna tp suka rima na
mau dunk d'ajarin mbah ^_^
keburu ze minta tuh...
(
ga mau aku terus2an meraba2 kosamu mbah...hiks hiks...
aduhai....nikmatnya kata-katamu mbah...!
salut!
apek Mbah.. biarlah darah memerah buncah menjerang warna telaga.. selalu ada setitik pendar yang merentas bias.. biarlah terurai riak-riak waktu dan pudarkan warna jelaga.. saya minta maaf kl salah dalam mengapresiasikan puisi tingkat tingginya Mbah Yus..
sprti biasa...
sll bagus mbah...
salut ^^
Yus, manis gulanya sudah terasa, tapi sajakmu ini genitnya masih kemayu. piye nek kata-katane lebih diperas lagi lebih sederhana? kurasa akan lebih menohok uluhati!
Thank's mbahMar...
Daku mengerti maksudnya...^^
Syip mbah..huehehe^_*
si penyair... tak ada kata untuk menggambarkan
Asooyyy....kok bisa lepas gini mbah?
Tipe sanguin populer ya mbah?
Bagus.. Sepertinya saya harus belajar banyak dari mbahYus.
jadi ya kalo puisi kae gini nih musti dibawa pulang dulu, dibaca, dianalisa, baru diinterpretasi...
jadi diterbitkan saja jadi buku ya Pak..
hehehehe...
mbahYus,puisi ini aku suka....bener!!
sederhana dan penuh makna,aku harus baca berulang-ulang ni >.<
mbah,rasa2nya gayanya berpuisine kok sama kayak aku ya,walau sudah pasti kerenan mbahYus,oleh karena itu aku mohon bimbingannya nih.......
salam ^_^
padahal suara jerang mbukuthuk-blukuthuk
padahal blukuthuk identik omong tok
padahal mesti omong tok
pastilah penuh semangat
lha si YUS kok malah nglokro
hajar aja MBAH
duri, karang, kerikil, hujan, panas
bodo amat gitu
gak usah glawer-glawer
ben mampat, padat, dan tandas
hayo...laju perahu melaju
masih mendayu dengan kembangan metafor yg anak-beranak.. terlalu enak juga tidak enak kawan..
Terlalu centil bahasanya, ga garang sama sekali.
Mbah Merdeka! Daku sudah bisa kasih comment untuk puisi-puisimu.
mbaaahh...
hidup terkala memamng memenatkan jiwa ya?
wihhh......asli ga nangkep euy...harus ada translet nya kale yah hahhaha