Bunyi hujan. Butir-butir air hujan menghantam kaca jendela.
Aku menggeliat di balik selimut tebal, menariknya hingga dagu. Kesadaran perlahan merayap, dan aku membuka mata. Ruangan dengan wallpaper putih. Sebentuk lukisan di seberang tempat tidur. Meja bundar di sampingku. Jam digital di atasnya berkedip, jam enam dua puluh.
Aku tidak kenal tempat ini.
Read more (720 words)
Sesaat aku teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Mabukkah aku? Sedikit, dengan wine yang kami pesan, masih setengah penuh di atas meja. Gilakah aku? Migrain kembali menyerang, aku berdiri dan berjalan tertatih-tatih ke arah kamar mandi. Tidak ingin melihat sosok tubuh yang terlelap di sampingku tadi, seseorang yang bahkan tidak kukenal. Semalam.. aku dengan dia..?
Aku membasuh muka dengan air dingin, memakai bedak dan mengoleskan lipstick seadanya. Mengenakan cepat-cepat gaun biru yang kupakai semalam, bau rokok dan parfum berbau maskulin yang menempel di fabriknya membuatku bergidik. Aku ingin mandi, tapi aku tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi di kamar ini.
Aku beranjak menuju pintu, menutupnya pelan dan setengah berlari ke arah lift. Memanggil taksi dari depan lobby hotel, membanting pintunya dan merasa sedikit lebih lega telah pergi dari tempat itu.
Kopi. Aku butuh kopi.
Ah. Kenangan semalam terulang lagi, bagai kaset rusak di memori otakku.
**
Tok. Tok. Aku berulang kali mengetukkan ujung jariku di atas meja. Sekali lagi melirik jam kulit yang terbelit di pergelangan tanganku. Sudah tiga jam aku duduk di sudut Starbucks yang mulai sepi pengunjung menjelang tengah malam, namun aku masih belum bisa pulang juga.
Mataku perih oleh radiasi. Tapi kursor masih berkedip di posisi yang sama, di halaman kosong Microsoft Word yang terpampang di layar laptopku. Aku mendesah lagi, mengusap mata yang lelah, dan menguap sekali, dua kali. Aku ingin pulang. Duduk di atas kasurku yang empuk, nonton Sex and the City sambil makan snack. Tapi sebelum menggapai kasur berselimut hangat, aku harus menyelesaikan artikel ini dulu.
Sebetulnya harusnya sangat mudah bagiku untuk menyelesaikan artikel ini. Aku adalah Rei Irawan, yang disebut-sebut sebagai penulis terkenal. Akulah alasan tingkat penjualan majalah A-Lister meroket tajam sejak setahun lalu aku bergabung dengan tim penulis mereka, dan dalam beberapa bulan aku sudah menjadi senior features writer. Tapi kenapa aku masih juga mandek di sini?
Aku meraih handphone yang tergeletak di meja dan menekan speed dial. “Harvey, gue brain freeze.”
Harvey tergelak kecil, suaranya berbisik karena takut membangunkan sang suami yang tertidur di sampingnya. “Tumben. Maybe you just need a man.”
“Sial.” Aku butuh es krim, butuh kopi yang paling pahit supaya tetap terjaga, butuh inspirasi, butuh satu sesi belanja seharian di Seibu, tapi bukan pria. Aku tidak butuh pria mana pun.
“Why not find a cute guy, though?” Harvey terkikik. “Sumber inspirasi adalah cinta, loh.”
“Jangan berfilosofi deh,” aku berkilah cepat. “Artikel sialan ini belum selesai juga, mana deadline besok pagi.”
“Seriously, Rei,” Harvey masih kukuh dengan pendapatnya. “Selama ini loe nulis tentang cinta seperti seorang pro, yet you don’t even have a man.”
“Love is for desperate people,” aku melengos. “Saran gue berhasil karena gue mengerti kenaifan para desperados itu, yang berharap mereka bakal ketemu cowok ganteng yang kaya dan live happily ever after.”
“You’re such a cynic.” Terdengar suara ribut dan tangisan bayi, dan Harvey kembali berbisik di telepon dengan terburu-buru, “Baby gue bangun. Gotta go.”
Aku memutuskan percakapan dengan gundah. Satu jam lagi, aku berjanji pada diri sendiri, dan aku akan langsung pulang untuk tidur. Aku meraih cangkir kopiku dan baru tersadar bahwa isinya telah tandas.
Dengan malas aku bangkit untuk memesan caramel macchiato yang keempat malam ini, berjalan menghampiri barista yang tampak mengantuk.
“Caramel Macchiato satu, Mas.”
Aku menoleh kaget. Seorang pria yang tadi menyuarakan pesanan yang sama berdiri di sebelahku. Dia mengenakan kemeja putih dengan dasi yang dikendurkan, lelah yang sama terpancar di matanya.
And my heart skips a beat.
**
Aku meremas gagang tasku, ingin memukul kepalaku kuat-kuat karena ketololan semalam. Apa yang telah kulakukan? Aku hanya ingat pertemuan kami di Starbucks. Oh ya, aku mengajaknya duduk di mejaku. Dia memperkenalkan diri, tapi aku tidak ingat namanya.
Lalu aku tidak terlalu ingat lagi.
Sebotol anggur merah yang kami letakkan di atas meja di kamar hotel. Gelas-gelas yang penuh terisi, derai tawa dan obrolan rancu. Tangannya yang hangat di wajahku.
Aku ingat kecupannya. Bau tubuhnya yang masih melekat di badanku.
Aku menutup mata, berusaha supaya tidak mengingatnya lagi. Ini semua sebuah kesalahan. Bukan salahku kan kalau aku mabuk dan tidak bisa pulang? Ini bukan apa-apa. Aku tidak mengenal pria itu. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Anggap saja di antara kami tidak terjadi apa-apa. Memang tidak ada apa-apa.
Beres, kan?
**
Be the first person to continue this post
^^ another colaboration! lanjutt
seperti yang lainnya..lanjut!
..hmm...ya, lanjuttt
^_^
I will waiting the continue...;)
9w juga slalu suka cerita winna..
bikin pnasaran dan slalu 'beda'.
ditunggu ya lanjutannya..
interesting.. gue selalu suka cerita2nya winna.. gue nunggu kelanjutannya dari neko ni.. btw, neko lanjutannya angganya mana ? kok ngilang ?
gassss
can't wait for more!!!!
Lanjuttt...ga komen apa2..nunggu lanjutan.
tarik maaanggg!
Sesuai dengan harapan. Lanjutannya sabar yaa....
Suka dugem yah... lanjut!!