Fullmoon In The Crimson ( 1 of 3 )

Entah kapan hal ini bermula, tapi berita-berita tentang pembunuhan yang hampir setiap hari muncul di koran dan televisi bahkan membuat Nua yang biasanya tidak tertarik dengan apa yang terjadi di sekitarnya sekalipun menyadari bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Ia tahu dan kepeduliannya terhadap kejadian itu pun hanya sebatas itu. Lagipula sampai saat ini, hal tersebut hampir sama sekali tidak membawa pengaruh apapun pada dunia kecil yang ia tinggali. Sempat sekali topik itu mencuat dalam percakapan yang ia lakukan bersama teman-temannya, tapi seperti manusia lainnya yang mudah sekali terbiasa dengan apapaun, segera saja topik itu ditinggalkan.

Sampai hari ini, Nua masih menganggap ketidakpedulian adalah salah satu alasana dibalik kebahagiaan manusia.

***

Pagi.

Sama sekali tak ada yang aneh dalam perjalanannya ke kampus pagi ini, yang mana hal itu sudah ia perkirakan. Bukankah tak terhitung sudah berapa kali ia melewati jalan itu, setiap kalinya tak satupun kejadian yang dapat dikategorikan 'aneh' terjadi. Jadi tak berlebihan rasanya jika ia mengeneralisasikan hal tersebut.

Tidak, ia tak pernah berharap menemui suatu kondisi yang tidak biasa ia temui. Ia juga sama sekali tak ingin merusak rutinitas yang ia jalani setiap harinya. Rasanya ia sudah cukup berbahagia.

Seorang gadis menyapanya. Ia tersenyum. Baru beberapa hari lalu ia meminta sang gadis menjadi pacarnya dan seperti harapannya ia tak menemui penolakan yang seandainya terjadi pun sama sekali tak membawa dampak yang terlalu besar bagi dunia kecil yang ia tempati. Sudah lama ia ketahui bahwa konsep Cinta, Benci, Kesedihan semuanya hanya perasaan semu yang timbul akibat kebudayaan yang telah menjadi kesepakatan umum dalam masyarakat.

"Pagi seperti biasa, Nua?"

Ia menganggukkan kepalanya lalu balik bertanya pada sang gadis.

"Kau juga pagi hari ini, Elina..."

"Umm, kukira jika aku berangkat pagi aku bisa bertemu denganmu."

Dengan malu-malu Elina menjelaskan alasannya. Nua balik tersenyum. Sedikit ragu-ragu, ia masih belum terbiasa dengan hal ini, ia menggandeng lengan sang gadis lalu berjalan di sebelahnya.

"Sayang sekali tempat tinggal kita berada diarah yang berlawanan. Kadang aku ingin berjalan bersamamu kemari. Kau sudah sarapan?"

Sampai beberapa saat kemudian, mereka berdua terlibat dalam percakapan standar, dalam artian entah sudah berapa kali Nua menyaksikan percakapan serupa dalam kisah percintaan di televisi dan buku. Lalu ketika tiba waktunya kuliah pertama dimulai, sang gadis berpamitan padanya.

Sudah lebih dari dua tahun sejak Nua berkuliah. Nilai-nilainya bisa dikatakan cukup bagus, setidaknya ia masih berada di atas nilai rata-rata mahasiswa seangkatannya. Tinggal dua tahun lagi, dan ia bisa lulus dengan predikat memuaskan. Tapi untuk apa, ia sama sekali tak terlalu peduli, paling tidak ia sudah merencanakan melamar menjadi pegawai di salah satu perusahaan di sana. Dengan pamannya sebagai General Manager, ijazah yang ia miliki hanya sekedar formalitas belaka.

Berpura-pura mendengarkan dan sesekali mencatat, lalu kadang-kadang ia mengajukan pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya .Itulah yang Nua kerjakan hampir sepanjang hari. Bukankah dosen-dosen itu hanya mengulangi apa yang telah tertulis di berbagai literatur.

Tugas dan ujian, itulah yang menentukan nilai yang akan ia peroleh. Dan selama ia tak terlibat masalah dengan dosen pengajar, C adalah seburuk-buruknya nilai yang akan ia terima.

***

Siang.

Biasanya Elina berlari menghampirinya kemudian mengajaknya makan siang bersama. Tapi ada pula saat-saat dimana Nua menghabiskan istirahat siangnya bersama teman-temannya yang lain. Seperti yang terjadi hari ini.

Setelah membeli makan siang dan minuman dingin biasanya mereka akan berkumpul, duduk bersama di kursi-kursi yang disediakan di bawah bayang-bayang pohon. Kemudian bergantian mereka akan bercerita tentang banyak hal. Film yang mereka tonton di telivisi atau bioskop, pertandingan olahraga, berita-berita yang sedang hangat sampai kisah-kisah keseharian mereka yang sama sekali tidak terlalu penting. Mereka akan tertawa bersama saat salah seorang menceritakan peristiwa yang sebenarnya tak terlalu lucu atau ketika beberapa orang yang jahil mulai menggoda kawan mereka yang lain.

Nua tidak pernah benar-benar yakin seberapa baik ia mengenal teman-temannya itu pun sebaliknya ia berani bertaruh tak seorang pun diantara teman-temannya mngenal dengan baik siapa dirinya. Ia tak peduli begitupun juga sebaliknya.

Namun jika ada yang mengenal dirinya lebih baik dibandingkan yang lain, maka Joshua lah orangnya. Mungkin karena mereka telah berteman sejak beberapa tahun yang lalu ketika mereka berdua duduk di sekolah menengah. Tapi sebatas apa mereka saling mengenal ia sama sekali tak punya petunjuk walaupun ia mengakui ia akan sedikit kehilangan jika seandainya Joshua tiba-tiba saja menghilang.

"Kau bauk-baik saja? Akhir-akhir ini rasanya kau sering sekali melamun."

Sementara teman-temannya yang lain kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Joshua duduk disampingnya lalu mulai mengajaknya berbicara. Dengannya ia tak perlu berpura-pura bahwa ia tertarik pada sesuatu atau pun berpura-pura seakan-akan ia sedang bergembira.

"Kebahagian... kadang aku berpikir tentang arti kebahagian itu."

Joshua tertawa kecil.

"Apa kau tidak bahagia saat ini? Rasanya aneh mendengarnya dari seseorang yang baru saja mendapatkan pacar."

"Kau pernah berpikir betapa membosankannya kehidupan kita?"

"Umm, kadang-kadang, tapi apa yang bisa kita harapkan dari kondisi kita saat ini. Maksudku sebagian besar orang baik sadar ataupun tidak pasti merasa bosan dengan kehidupannya."

"Apa maksudmu dengan sebagian besar?"

"Hmm tentu saja ada sebagian kecil yang sungguh-sungguh menikmati kehidupannya."

"Kurasa aku menikmati hidupku."

Joshua menggelengkan kepalanya.

"Tak perlu berpura-pura, kurasa kau pun tahu bahwa hal itu terjadi karena secara sadar kau mengabaikan rasa bosan itu. Tapi itu sama sekali bukanlah hal yang buruk, setidaknya beberapa orang melampiasakan kebosanannya dengan melakukan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak berguna. Kau tahu, obat-obatan, berkeliaran di jalan, olahraga ekstrim, padahal mereka hanya menipu diri ereka sendiri."

"Lalu bagaiamana denganmu,?"

Joshua hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya. Melihat hal itu Nua balik tersenyum lalu menepuk pundak sahabatnya itu.

"Kau tahu, mendengar ceramahmu tadi, kini aku gantian khawatir padamu."

Mereka berdua tertawa bersamaan.

***

Senja.

Hanya sedikit orang yang masih betah berkeliaran di kampus. Jika biasanya Nua langsung kembali pulang, hari ini duduk di salah satu bangku yang disediakan di aula ia menyaksikan bagaimana Elina dan kawan-kawannya yang lain menyanyikan hymne almameter mereka dengan suara yang membahana.

Sejujurnya Nua sama sekali tak tertarik dengan paduan suara maupun kegiatan klub lainnya, tapi tak banyak yang bisa ia lakukan ketika Elina mati-matian memintanya menunggu dirinya sampai kegiatan klubnya selesai sehingga mereka bisa pulang bersama-sama.

Dan mau tak mau Nua harus berubah pikiran terutama tentang paduan suara. Setelah mendengar lagu pertama, ia terpaksa mengakui bahwa ia mulai tertarik dengan hal tersebut.

Lagu kedua dimulai. Nada-nada merdu bergantian memasuki alam bawah sadarnya. Sesaat kemudian, Nua seolah-olah memasuki alam mimpi dalam keadaan terjaga.

...

...

...

Entah darimana, dua orang, satu pria satu wanita memasuki aula.Sepintas tak ada yang aneh dari mereka berdua. Sang lelaki mengenakan kaos merah bertuliskan 'No Fear' dan celana jeans kelabu. Sementara sang wanita mengenakan celana buggy sampai di bawah lututnya, kaos putih lengan panjang dan rompi hijau.

Nua tak tahu mengapa tapi semuanya terlihat lucu baginya. Bahkan ketika kedua orang yang baru saja masuk mengeluarkan senjata, yang tampak sangat mirip dengan Podsenkowsky MCEM 2 Pistol, lalu mulai menembaki para anggota klub dengan membabi buta, ia hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

Suara letupan senjata, teriakan-teriakan tanpa arti, percikan darah, Nua terus tertawa seolah-olah ia sedang menyaksikan pertunjukan. Di saat itu Elina berlari kearahnya dengan wajah sangat ketakutan. Lalu tepat ketika Elina berada di sampingnya, sebutir peluru menembus kepalanya kemudian memecahkannya. Tubuh tanpa kepala itu terjatuh, darahnya mengenai wajah Nua. Kesadaran Nua kembali.

Ia seolah-olah terbangun dari mimpi buruk yang panjang hanya untuk melihat kenyataan yang mengerikan. Wanita yang mengenakan rompi tadi kini mengarahkan senjatanya padanya.

"Tunggu!"

Nua mendengar suara sang pria. Ia tampaknya mencegah sang wanita menembakkan senjatanya.

Tapi hal semacam itu sama sekali tak masuk dalam benak Nua. Dan meskipun rasa takut yang amat sangat mencengkramnya, ia masih bisa menguasai tubuhnya. Sekuat tenaga ia bangkit dari duduknya, sepintas ia melihat jasad Elina, lalu ia pun mulai berlari.

***

Malam.

Nua membiarkan tetesan air membersihan bercak-bercak darah di baju dan kulitnya. Ia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.

Dunia kecil tempat ia tinggal selama ini perlahan mulai runtuh. Ia tahu malam ini mungkin ia tak akan bisa memejamkan matanya. Dari jendela kamarnya ia bisa melhat bulan purnama yang terbit bersinar kemerahan.

Read previous post:  
Read next post:  
90

Menurutku cerita ini akan lebih sempurna apabila deskripsi tentang kengerian yang di eksploitasi. Mudah-mudahan aku mendapatinya di bagian selanjutnya. :)

70

ide ceritanya menarik.
namun terdapat beberapa salah eja dan kalimat yang redudansi. bisa dilihat di pembukaan cerita.
tapi untuk penuturannya sudah oke.
salam kenal.