Fullmoon In The Crimson ( 2 of 3 )

Jika ada suatu emosi yang benar-benar dirasakan manusia, maka itu adalah perasaan takut. Mula-mula pada kegelapan, kemudian rasa sakit, lalu pada hal-hal lain yang merepresentasikan kedua hal tersebut.

Ilmu pengetahuan sendiri, hanya mampu meningkatkan pemahaman manusia terhadap sesuatu. Kadang mereka bisa membebaskan manusia dari rasa takut, namun di saat yang sama menggantikannya dengan rasa takut yang baru.

***

Pagi.

"Belasan orang tewas terbakar pada kasus kebakaran gedung aula..."

"Berikut ini nama-nama korban yang berhasil diidentifikasi..."

"Menurut kepala tim investigasi penyebab kebakaran kali ini...."

"Keluarga korban sangat terpukul...."

"Kebanyakan mereka yang tewas adalah anggota klub paduan suara..."

"Pihak kepolisian menolak mengembalikan jasad para korban...."

Entah sudah berapa kali Nua mengganti channel televisinya, tapi tak satupun memberitakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ha ha ha... ha... ha..."

Nua mulai menangis.

"Nua! Nua! Buka pintu!"

Ketukan di pintu kamar Nua terdengar makin nyaring. Itu suara Joshua.

"Hei, aku sudah lihat apa yang terjadi! Ayolah jangan bodoh, buka pintumu!"

"Aku takkan tertipu..."

Sambil bergumam Nua memandangi pintu kamarnya dengan tatapan kosong.

"Nua! Nua!"

"Pergi..."

"Apa? Aku tak bisa mendengarmu? Ayolah buka pintu..."

"PERGI !!!"

Nua mengambil gelas disampingnya lalu melemparkannya ke arah pintu.

"... baiklah ..."

"PERGI !!!"

"Aku akan kembali lagi besok, jangan lakukan hal bodoh..."

"PERGI !!!"

***

Siang.

Mula-mula sesosok tubuh. Lalu sosok-sosok lainnya bemunculan. Makhluk-makhluk telanjang yang sepintas menyerupai manusia.

Kulit mereka putih pucat. Tungkai lengan dengan panjang tak normal, menjuntai menyentuh lantai, terseret ketika mereka melangkahkan kaki-kaki kurus mereka. Leher mereka kaku dan panjang dan walaupun terdistorsi Nua masih mengenali wajah-wajah di hadapannya sebagai wajah orang-orang yang ia lihat di klub paduan suara.

"Elina..."

Salah satu makhluk yang tampaknya pimpinan mereka berjalan, lambat-lambat menghampiri Nua yang entah kenapa hanya bisa berdiri mematung. Ia bisa merasakan tangan dingin makhluk itu menyentuh pipinya.

Makhluk itu, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Nua. Sesaat Nua terkesiap. Senyuman itu milik Elina.

Tapi itu hanya sekejap. Senyuman itu seketika berubah menjadi seringai lalu terbuka begitu lebarnya sampai-sampai kulit wajah makhluk itu sobek di bagian bibirnya.

Dan saat mulut sang makhluk sudah cukup lebar dengan tenang ia menelan kepala Nua.

...

...

...

Nua kembali terjaga.

Mimpi itu berulang dan terus berulang hampir setiap kali Nua tertidur. Ia kini bahkan ketakutan hanya untuk sekedar memejamkan kedua matanya. Sungguh ironis, karena disaat yang sama tubuhnya, melawan kehendaknya, menuntutnya untuk beristirahat.

"Aaahhh..."

Berkali-kali Nua menjerit tertahan saat darah mengucur dari lengannya. Namun setidaknya, rasa sakit saat jarum yang dibawanya menusuk kulitnya mencegahnya kembali tertidur.

Lagi-lagi terdengar suara ketukan di pintu.

Joshuakah? Tapi Nua sudah mengusirnya tadi.

Lalu dengan satu tendangan pintu itu terbuka.

Nua masih bisa mengenali pria yang baru saja masuk. Tidak mudah melupakan seseorang yang berkesan, terutama jika dia melakukan pembantain di depan kedua matamu.

"Hei... apa yang kau lakukan?"

Pria itu tampak panik saat melihat kondisi Nua. Tapi tepat saat itu Nua kehilangan kesadarannya.

***

Senja.

Ketika Nua kembali sadar, pria itu telah membalut luka-luka di tangannya. Duduk di samping tempat tidur Nua, ia dengan tenang terlelap.

Lama Nua terdiam, dengan tatapan kosong ia memandangi kipas angin yang berputar perlahan. Tiba-tiba saja ia merasa kehidupannya selama ini sama sekali tidak terasa nyata. Masa lalu hanyalah sekumpulan neuron pada otaknya. Sementara masa depan, ia sama sekali tak tertarik memikirkannya. Hanya saat ini yang ada.

Entah mengapa ia baru memikirkan hal itu sekarang, tepat saat dunia kecilnya yang nyaman hancur begitu saja. Mungkin juga karena kemarin tiba-tiba saja ia melihat, juga merasakan, begitu banyaknya kematian. Dengan terpukul ia terpaksa mengakui bahwa ia begitu takut pada kematian.

"Oh... kau sudah sadar?"

Dari dekat Nua baru menyadari kalau pria dihadapannya, dari penampilannya mungkin hanya setahun lebih tua dari dirinya. Kedua mata sang pria berwarna kelabu, rambutnya yang ikal meskipun dari kejauhan terlihat hitam, sebenarnya sedikit kecoklatan. Dan meskipun ia berusaha keras ia tak bisa menemukan tanda-tanda kebencian pada wajah sang pria.

"Kurasa kau orang baik..."

"Tidak, tidak tepat begitu. Tapi aku senang kau melihatku seperti itu."

Pria itu tersenyum. Nua pun membalasnya.

"Setidaknya kau membiarkanku hidup."

"Itu karena saat ini tidak ada alasan bagiku untuk membunuhmu."

Tiba-tiba saja Nua teringat mimpinya.

"Orang-orang itu... yang kalian berdua bunuh di aula..."

"Mereka, sebagian besar dari mereka, bukan manusia."

"Begitukah?"

Pria itu mengangkat bahunya.

"Meskipun penampilan kami seperti ini, tapi sedikit banyak pekerjaan kami mirip MIB, kau tahu orang-orang hitam dalam film itu?"

Nua hanya bisa tersenyum.Kalaupun itu hanya lelucon itu sama sekali tidak lucu. Pria itu menatap tajam Nua.

"Kau pikir aku bercanda?"

"Maksudmu, kalian berburu Alien?"

Pria itu diam sejenak sebelum melanjutkan.

"Kami lebih suka menyebut makhluk ini, Urban Legend."

"Ya ya ya... Uhh boleh tahu namamu?"

"Teman-temanku memanggilku Levi."

"Levi... Levi... kurasa aku pernah membacanya di suatu tempat. Itu nama asli?"

Tapi pria itu hanya diam.

"Lupakan... apa yang kau inginkan dariku? Kurasa jika kondisiku memungkinkan aku pasti melarikan diri darimu..."

"Sejujurnya aku menunggu..."

Tatapan mata sang pria berubah sedih.

"Menunggu?"

"Ya, menunggu apa yang akan terjadi padamu."

"Apa? Apa yang akan terjadi padaku?"

"Kurasa kau bisa menduganya..."

Mimpi itu. Tubuh Nua bergetar hebat. Ia tahu itu hanya mimpi, tapi nalurinya mengatakan sesuatu sedang mengancamnya. Dan sesuatu itu perlahan-lahan memakannya. Nua kembali terisak.

***

Malam.

Bulan purnama kemerahan mendaki cakrawala. Di antara kabut asap, bintang-bintang berkelip muram. Dan meskipun kota dipenuhi cahaya, entah bagiamana kegelapan terasa begitu mencekam.

Di luar dugaan, Levi bisa dikatakan cukup ahli memasak. Saat ini dengan sabar ia menyuapi Nua yang enggan meninggalkan tempat tidurnya dengan bubur yang tadi ia siapkan.

"Kuharap kau menyukainya, ini bisa dibilang hobiku jika jadwalku memungkinkan."

Perlahan-lahan Nua mengunyah makanan itu. Enak memang, tapi saat itu pikirannya sama sekali tak berada disana.

"..."

Levi menarik napas panjang.

"Biasanya kami membunuh semua yang berada di dalam area."

"Mungkin sebaiknya waktu itu kau membunuhku."

Levi kembali menyuapkan buburnya.

"Kau mau minum?"

Nua menggelengkan kepalanya. Ia juga menolak ketika Levi menyuapkan bubur itu padanya.

"Katakan padaku kalau kau membutuhkan sesuatu, buku ini boleh kupinjam? Hei mengapa kau tertawa?"

Nua sendiri heran bagaimana ia bisa memiliki selera humor disaat seperti ini.

"Buku itu... 'Through the Looking Glass'aku tak tahu kau juga menyukai dongeng untuk anak-anak, dan gaya bicaramu kau membuatku seolah-olah seorang tersangka kriminal."

Levi tersenyum kecil.

"Bisakah kau membacakannya juga untukku?"

...

...

...


"In a Wonderland they lie,
Dreaming as the days go by,
Dreaming as the summers die;"

"Ever drifting down the stream --
Lingering in the golden gleam --
Life, what is it but a dream?"

Entah sudah berapa jam berlalu, cerita itu pun berakhir sudah. Levi menutup buku itu lalu meletakkannya di atas meja. Nua tahu waktunya sudah tiba.

Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu panas, seolah-olah bara api menyala disana. Nua mulai menjerit mengacak-ngacak selimut dan semua barang di sekitarnya. Ia sama sekali tak bisa menahan dirinya. Saat ini satu-satunya hal yang benar-benar nyata adalah keberadaan dirinya yang tampaknya tak lama lagi tampaknya akan memudar.

"Levi... levi..."

"Aku disini..."

"Tolong aku... kumohon..."

Levi mengambil senjatanya lalu mengarahkannya pada Nua.

Rasa sakit yang amat sangat menjalari sekujur tubuh Nua. Perutnya terasa begitu mual seakan-akan sesuatu berusaha keluar dari sana. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang terakhir Nua memasukkan tangannya kemulutnya mencoba memuntahkan apapun yang berada di dalam tubuhnya.

Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Nua bergidik ngeri, ia tak pernah membayangkan ada makhluk lain yang berada di dalam tubuhnya.

Diantara lendir dan makanan yang ia muntahkan, sesosok makhluk yang tampak sangat mirip dengan janin berumur lima sampai enam bulan sedang menggeliat. Kulit makhluk itu berwarna merah pucat, dengan tungkai yang belum sempurna. Dan wajah itu, Nua bisa melihat dirinya disana.

Dengan bola matanya yang hitam dan lebar makhluk itu menatap Nua yang hanya bisa diam terduduk. Merayap perlahan mendekati Nua, makhluk itu mengeluarkan ocehan-ocehan lirih. Nua tahu makhluk itu merasa kesakitan. Tepat saat itu senjata Levi menyalak.

***

note: kutipan puisi berasal dari "through The Looking Glass" karangan Lewis Carroll

Read previous post:  
16
points
(1348 words) posted by 145 11 years 2 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | lain - lain | 145 | anima
Read next post:  
Writer angel16
angel16 at Fullmoon In The Crimson ( 2 of 3 ) (10 years 3 weeks ago)
80

cerita2 tipikal komik ya. wkwkwk. tapi dgn penceritaan novel. keren abis!!

Writer Alfare
Alfare at Fullmoon In The Crimson ( 2 of 3 ) (11 years 2 weeks ago)
90

Keren. Super keren. Perkembangan yang enggak diduga, enggak bisa dibilang terlalu asli, tapi tetap keren.

Hoo. Aku masih akan terus mengikutinya.