Tujuhbelas Tahun ++

Tujuhbelas Tahun ++

Warung makan seberang jalan itu baru buka seminggu lalu. Tapi baru hari ini aku merasa penasaran ingin datang dan mencicipi masakan untuk makan siangku. Kata teman sekantor, masakannya lumayan enak untuk warung sesederhana itu. Pertama aku tak mengiyakan, seenak enaknya Warung nasi pinggir jalan paling menunya begitu begitu saja.
Cuma teman tak mau kalah membujukku untuk inspeksi kesana. Dengan menggebu, dia bilang masakannya boleh biasa biasa saja, tapi pelayannya Bung ! bisa membuat kita makan nambah dua kali. Dia bilang body pelayan itu bikin tangannya gemetar memegang sendok.
Ini menunjukan dan menerbitkan khayalanku tentang gambaran wanita sexy semacam Nafa Urbach atau Dewi Persik. Dan tak sulit bagi lelaki jomblo tiga puluh tiga tahun macam aku untuk sekilas melamun jorok.

“ Terutama ininya… “ (temanku memberi gambaran dengan menggenggam dua tangannya di dada, diiringi siulan nakal).

Tapi aku tak segera mengikuti penasaranku. Entah karena juga tugas kantor yang segera menghapus bayangan Dewi persik,….eh pelayan warung itu dari lamunanku, atau juga aku memang agak apatis untuk urusan perempuan pada saat-saat ini.

Dan siang ini, di udara panas Jakarta yang membakar ubun-ubun hingga tak ada kesempatan kita berkhayal keindahan perempuan yang ada rasa haus dan lapar, aku menyeberang jalan dan masuk ke warung makan tersebut.
Tampak sepi.
Mungkin aku pembeli terakhir karena waktu menjelang jam satu siang, hingga harus mencari pelayan warung. Mata dan kepalaku kekanan kekiri mengintai diantara tumpukan piring hidangan persis serigala hitam mengintai anak kecil bermantel merah diantara rimbun semak dalam dongeng pengantar tidur balita bule.

“ Mau makan, Mas?…” satu suara kecil mengagetkanku karena tepat didepan muka. Satu wajah menyembul dari balik etalase. Aku terkejut. Sungguh terkejut, hingga sekian detik tak berkata.
Temanku tak benar. Aku tak terpesona. Tapi cuma mati suri beberapa saat.

Dihadapanku (sedikit aku gambarkan..) berdiri sosok bidadari dengan tubuh langsat padat dalam balutan kaus ketat hitam dan rok panjang levis membentuk lekuk cello sempurna .Rambut panjangnya di ikat sanggul sembarang terkesan dewasa. Wajahnya oval dengan gondewa bibir membelah dibawah mata indah dan hidung bangir yang juga tampak indah.
Kesimpulannya semua indah dan indah.

“ Mas mau makan, apa minta sumbangan?”
“ Eeee…aku mau ..mau bibir…eh bibir,…aku mau makan” aku gelagapan menjawab karena memperhatikan serius bibirnya. Geblek!
Dengan tenang dia mengambilkan sepiring nasi. Sedetik pun tak beranjak bola mataku mengikuti gerakannya.

“Pakai apa?”
“Apa saja”
“ kok…”
Aku tersadar . lalu meminta padanya beberapa lauk buat nasiku. Dan tak lupa mengikuti anjuran iklan TV, harus minum Teh botolan apapun yang kita makan.

Saat membayar, sengaja aku keluarkan limapuluhan ribu utuk menukar sepiring nasi dan lauk yang hanya tujuh ribu perak. Dalam akal kancilku, waktu beberapa menit dia mencari kembalian uang adalah bonus tersendiri untuk melihat dua gunung kembar yang menggantung erat di dadanya.

“ Kembaliannya kurang tiga ribu, Mas…”
“ Nggak usahlah, buat kamu aja..”
“ Nggak mau, ntar saya hutang budi, lagi…”
“ Masa sih budi harganya tiga ribu…”

Dia tertawa polos. Duh Gusti! aku suka sekali tawa itu. Dan tiga ribu perak itu kuanggap lunas demi tawa indah itu. Kalau aku sih maunya nungguin dia mencari tiga ribu perak itu biar tambah lama di sini (sungguh jomblo yang tak tahu malu !), tapi buat dia, mata liarku adalah serangga yang membuatnya risih .

Dan genderang perburuan mulai aku tabuh sendiri. Mulai hari itu, pagi sebelum absen kantor, siang usai teman-teman kantorku makan dan sore usai absen pulang, aku tak melewatkan untuk duduk manis di kursi plastik warung nasi itu,berlama-lama untuk mencari celah yang membuatnya sadar akan arti kehadiranku ( mirip syair lagu ? ). Dan dengan percaya diri, aku berkenalan dengannya lebih dekat saat waktu menginjak minggu ketiga sejak makan pertama kali dulu.

“ Nama saya Endah…” dia menyebutkan nama sambil menunduk.
“ Aku Prasetya…” aku menyebut nama pantang menunduk. Dan bukan suatu hal yang disengaja bagai episode sinetron TV yang basi , adegan perkenalan kami diiringi hujan gerimis cengeng menyiram angkot-angkot yang bersliweran (tentu saja tak romantis).
“terus terang, Ndah…aku sepertinya pernah melihat kamu”
“ Iya , kemaren, kemarennya juga..”
“ aku serius,…aku pernah melihat kamu kok,…tapi dimana, ya…?
“ Eh, mas Pras…(dia mulai berani)…itu rayuan gombal jaman dulu lagiie, pernah melihat, lah..wajahnya mirip pacarnya yang dulu, lah..inget sama seseorang lah,…basi! “

Wow! Ternyata pelayan Warung ini tendensius juga bicaranya. Aku tak membantahnya lagi. Tapi terus terang aku memang pernah bertemu dengan Endah dulunya. Tapi aku lupa dimana.
Dari sini oblrolan yang terkadang nggak nyambung antara aku dan dia berlanjut. Aku maklum. Sebagai pelayan warung, paling banter gadis ini berpendidikan SMP. Itu juga sekolah Yayasan pinggiran. Beda denganku yang S2 di kampus ternama di jakarta ini. Walau nilai pas-pas an, setidaknya aku sampai bosen kuliah.
Jadi kami ngobrol yang umum umum saja. Soal harga sayuran pasar, soal grup musik yang timbul tenggelam ( untuk ini, dalam upaya merebut simpatinya, aku membelikan beberapa CD musik grup yang terkenal sekarang). Dan soal film, selera kami memang lebih jauh lagi. Dia suka film horor lokal murahan yang selalu digembar gemborkan amat seram. Dan aku (bukan sombong) , bahkan untuk menonton cinema Hollywood pun memilih dulu siapa sutradara yang menggarap film tersebut.

Dan yang lebih mengejutkan, diminggu keenam rajutan kisah asmara kami, dimana telah mengobrol ke hal yang lebih pribadi, aku kembali melongo.

“ Umur kamu berapa sih, Ndah…?”
“ Kalo menurut mas, berapa?….” balik bertanya manja.
“ Menurutku, kamu itu dua dua, ya..”
Dia tersenyum kecil.
“ salah…”
“ Dua puluh..”
“ salah ! “
“ ah, bohong !…”
Melihat fisik sempurna nya, aku memang menaksir usia Endah duapuluh tahun. Wajah yang keibuan, tingkah kalem dewasa walau samar keluguan, dan tubuhnya ( ini terutama) begitu matang untuk dihidangkan….

“Saya baru enambelas tahun, Mas..”
“Ah, bohong kamu…”
“Bener..”
“ Sumpah ! “ ujarku antara tak percaya dan merasa dipermainkan.
“Buat apa sih saya bohong. KTP aja belum punya.”
“ Masa sih…”

Dia tersenyum sambil mengangguk.aku masih melongo.
“ Mas sendiri, berapa?”
“Aku…aku dua kali lipat umurmu”
“ Sama umur ibu saya, dong…” agak terpekik.

Tapi aku tak peduli dengan usia. Aku sudah terlanjur terpesona pada pandang pertama (mirip syair lagu lagi) Endah. Dan takut didahului orang lain, kuberanikan diri menyatakan kesukaanku pada dirinya.
Dia tertawa. Apalagi waktu beberapa pegawai kantor bawahanku memanggilku dengan sebutan “Pak” di warungnya. Salah satu menggodaku dengan berkata nggak salah pak Manager biasa makan di level restoran yang direkomendsikan salah satu TV swasta, ngejogrok makan di warung jalanan seperti ini.
Aku nggak peduli, walau sampai di kantor aku menegur ucapannya yang memang benar. Yang pasti aku akan melabuhkan cinta ini di bandara hati Endah yang memang terkagum saat tahu jabatanku di perusahaan ini.
Dan bukan dengan ucapan dia menerima cintaku. Tapi dengan berdiam diri tak menolak, tatakala jemari tangannya yang tergeletak di etalase ku genggam dengan perlahan. Sedikit dalam hati, kutebak dia mungkin takut tercebur dirawa asmara yang dihuni buaya birahi bernama Prasetyo.

Akhirnya memang pasrah Endah menyerah.
Aku menang.
Aku menang untuk mendekati lebih jauh gadis belasan tahun itu. Aku menang untuk berlama-lama diwarung itu tanpa harus dicurigai si pemilik warung (mungkin melihat jabatanku yang tidak main-main). Aku menang untuk bisa berkencan mengajaknya nonton bioskop ( walau harus mengalah mengikuti seleranya menonton “Kuntilanak” yang cuma hi..hi..hi…tak berhenti, padahal aku ingin memuaskan diri melihat kedahsyatan Wolfgang Petterson meluluh lantakkan “Poseidon” ditelan gelombang, yang kebetulan diputar bersamaan ) . Dan terakhir, kemenangan itu untuk aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku…..( kalau yang ini memang syair lagu Risalah Hati nya, DEWA)

“Mas, …mas nggak serius kan, senang sama saya” ujarnya di minggu ke delapan kami merajut kasih. Kalimatnya berbaur diantara kepolosan gadis belia yang mencoba berpantas untuk dewasa.
“Kok kamu ngomong begitu. Kalo aku nggak serius, buat apa aku deketin kamu, buat apa aku ngajak nonton kamu, buat apa aku bilang…” aku memang belum pernah mengungkapkan cinta untuknya. Bagiku itu terlalu kampungan. Dan cinta, kata orang tak perlu selalu diungkapkan lewat kata. Karena cinta mempunyai bahasa sendiri yang tak ada di kamus, di enslikopedia, dibuku guiness book record atau juga –bahkan- di syair indah pujangga.

“Bukan itu maksud saya,…saya kan masih ABG. KTP aja belum punya. Tingkah saya masih nggak karuan. Nanti malah nyebelin, dan Mas Pras nyesel lagi…” kata-katanya berusaha menyadarkan aku kalau ternyata aku memang salah sasaran dalam memburu asmara. Tapi gairah cinta dengan bersemangat mengusir omongannya agar tak sempat merasuk mengganggu benakku.
Ajaib! Aku jadi tuli. Dan tak peduli dengan kata-kata polosnya untuk memintaku mundur sebelum melangkah lebih jauh. Aku maju terus pantang mundur karena aku membela yang benar . Yaitu hasratku sebagai lelaki normal.

Dan tuliku kebablasan. Cuek sasja saat temanku mengomentari kegilaanku. Acuh saja saat kedua orang tua prihatin melihat aku pulang kerja bukannya membawa bungkusan bermerk hypermarket buat oleh oleh, tapi menenteng gadis ABG yang aku kenalkan pada mereka sebagai kekasih baruku. Beliau dengan sedih menasehati bahwa aku bukan saatnya lagi bermain sok imut pacaran yang tak menentu. Kau harusnya sudah menikah. Ajaklah seorang wanita yang siap untuk di nikahi, bukan gadis bau kencur dan minyak telon. Kau buang-buang waktu.
Tapi tetap saja aku tuli. Persis si Bolot yang pura-pura budek. Bedanya, dia pura-pura budek untuk cari uang, sedang aku budek untuk cinta.

“Tujuh belas tahun, mas…jauh banget umur kita”
“Biarin”
“ Mas Pras itu pantasnya jadi bapak saya “
“Biarin”
“Kok biarin, sih…”
“Aku cinta kamu Ndah…sungguh cinta kamu! “
Akhirnya keluar juga ungkapan kampungan itu. Ku genggam tangannya di dadaku sepenuh hati menirukan adegan Al Pacino dan Michele Pfeiffer dalam Franky and Jhony. Dan anehnya kata- kata itu membuatnya terdiam dalam tenang. Kok gitu ya wanita, pikirku. Suka dengan kata kampungan pasaran yang semua orang gombal sering katakan.
Melihatnya diam, aku kasihan.

“Oke sekarang begini…. Kita jalani saja. Kalau benar kita saling nggak cocok, ya sudah kita bisa pisah baik-baik. Gimana?
“ Sampai kapan itu, Mas?”
“ Ya sampai ketemu nggak cocoknya. “ aku menjawab asal-asalan.

Dan itulah komitment kami di sela pesimisnya aku yang semula bergairah. Aku memang bergairah. Aku seperti anak sekolah yang baru mengenal cinta. Dan itu telah lama sekali. Bahkan jauh sebelum gadis yang bernama Endah itu lahir. Tujuh belas tahun yang lalu, aku tengah dimabuk cinta. Seperti saat ini. Sedangkan Endah mungkin entah ada dimana, entah ada di dimensi dunia mana.
Dan kami kembali meniti keseharian kami. Sambil mencari kecocokan, mencari apa yang bisa kian menyatukan kami dan tentunya juga mencari ketidakcocokan diantara kami.Dan itu susahnya. Sepertinya segalanya kami cocok. Segalanya kami saling suka. Berusaha keras kami mencari ketidakcocokan, tapi tak pernah ada. Kalau ada ya itu tadi, usianya yang memang jauh dariku, dan (ini sih tak masuk hitungan) soal selera menonton film tadi.

“ Ibu buka jahitan dirumah. Adikku masih dua. Yang satu sekolah kelas satu SMP. Dan satunya kelas empat SD. Aku lulus SMP tahun kemarin, langsung kerja buat nambah biaya hidup. Kasihan ibu. “
“lha Bapak mu?”
“ Bapak meninggal dua tahun lalu. Kena stroke,…habis di PHK.”
“Oooo….”
Hanya vokal itu yang keluar ditengah rasa ibaku. Mendadak aku seperti merasa ikut berdosa karena memacarinya, sementara dia bekerja keras membantu keluarga.

*****

Telephone berdering di mejaku.

“Mas,…nanti malam kerumah ya. “ suara manja belasan tahun terdengar diseberang telephone. Aku berhenti mengoreksi tugasku yang menumpuk siang ini.
“ Wah ada apa sih, Manis?…kok kamu nggak di Warung?..”
“ Aku nggak kerja. Aku lagi di kelurahan. Bikin KTP. Hari ini aku tujuh belas tahun. Mas datang ya. Aku mau bikin bakwan kesukaan Mas….pokoknya harus datang”

Tak terasa lima bulan aku jalani dengannya. Tak terasa kini dia (baru) berumur tujuh belas. Tak terasa, aku sadar selama ini aku belum pernah kerumahnya. Pertemuan kami hanya sebatas kantorku dan warung makan nya. Memang ada rasa segan bila harus kerumah Endah. Pertama, apa kata tetangga bila aku yang tua bangka ini bermalam minggu ‘ngapel’ kerumah gadis pra remaja yang KTP saja baru punya. Dan yang kedua, aku segan bertemu dengan ibunya yang sebaya denganku karena bingung harus menyapa dengan panggilan apa? Bu, Mbak, Tante, atau ‘situ’ ? walaupun nantinya (ini kalau jadi) wanita itu akan jadi mertuaku.

Pasti heboh nanti.

Aku berpikir tentang bagaimana sikapku di depan ibunya, adiknya dan tetangganya, juga tentang hadiah yang akan aku berikan pada seorang gadis yang menginjak tujuh belas tahun. Aku ingat-ingat semua kenangan waktu SMA dulu.
Aku pernah memberikan hadiah pada teman wanita bila berulang tahun. Terutama pada pacar pertamaku. Semua sederhana. Hadiah yang kuberikan paling-paling berupa bros, cangkir , atau hiasan tas bergambar Zodiak. Tapi untuk Endah aku berikan spesial. Seuntai kalung mungil duapuluh empat karat. Murni. Gambaran cintaku padanya.
Ah, tak tahu diri benar aku ini. Seorang pria berumur menghadiri ulang tahun kekasihnya yang ke sweet seventeen.

Dan nyatanya kehebohan memang terjadi.

Cinta dengan kuasanya menjadi kusir memecut kakiku untuk tetap menginjak pedal memacu mobil yang memang terasa lambat. Sabtu ini aku lembur dan langsung dari kantor menuju rumahnya. Kupikir, biarlah dia merayakan ultah nya dulu dengan teman sebayanya. Nggak lucu kalau aku berdiri diantara teman ABG nya.

Dan waktuku tepat.
Aku sampai di gang rumah kontrakan tempat tinggalnya , dimana dia telah berdiri di situ menunggu.

“ Kok baru dateng, Mas…malu ya ketemu temen temenku”
“ Nggak….tadi dikantor ada rapat mendadak. Jadi baru bisa keluar habis maghrib.Bakwannya masih ada?”
“Masih dong, tadi aku goreng lagi.”

Dia tahu keraguanku mengiringi langkahnya menuju rumahnya yang memang ada di sudut. Mata tetangga kontrakan seolah mendakwaku yang bukan-bukan. Sesekali ada yng berbisik.
“ Pasti nanti mas kaget ketemu ibu ku”
“ Masa sih…”
“Pasti deh….”
Ah, sebodo amat. Suasana nggak enakpun paling juga cuma sebentar. Setelah itu, cerita indah kami akan berlanjut.

Ciluuuk baaa!!
Seorang wanita berpakaian sederhana namun tak meninggalkan sisi kejelitaan masa gadisnya - dengan raut wajah amat kembar dengan Endah – menyambutku di pintu rumah.

Ini ibunya?
Ini pacar Endah?
Aku kaget setengah hidup.Dia juga kaget setengah mati.

Dan Endah merasa menang. Karena yakin aku akan terkejut melihat ibunya yang memang seusia denganku.Tapi dia tak menyangka kalau ibunya juga akan sekaget aku.

Wanita itu gelagapan berpegangan daun pintu. Aku mencengkeram bahu Endah. Lututku gemetar. Sesaat kami terpaku tak bergerak dibumi bagai ditotok pendekar Shaolin dengan jurus naganya.
Ibunya terduduk perlahan di lantai, sementara aku dipapah Endah untuk bisa duduk di kursi. Sekarang giliran Endah yang panik membawakan dua gelas air putih untuk diberikan pada ku dan ibunya. Kekagetan merasuk tak kunjung usai. Tyada kata.

Bayangan dua dunia ada dipelupuk mataku. Ya Endah, ya ibunya.

Endah, Endah…ibumu itu bernama Wulandari. Teman SMA ku. Bukan sekedar teman, tapi pakai mesra dan istimewa.
Endah, Endah….ibumu adalah wanita yang pernah aku pacari dulu sebelum kamu lahir.Dia keluar sekolah untuk dinikahkan orang tuanya karena untuk menebus hutang.

Pantas dia seumur denganku.
Pantas aku ngotot berkata kalau aku seperti pernah bertemu Endah di masa lalu.

Pantas, kalau kini mataku berkunang gelap.

TAMMAT

Read previous post:  
Read next post:  
Writer dnkurniawan
dnkurniawan at Tujuhbelas Tahun ++ (4 years 37 weeks ago)

Keren ceritanya.. bikin gak ngantuk saat jam kantor.. hehe..
berarti Endah = Wulandari Junior
Hehe...

Writer Fikrie_Terpadu
Fikrie_Terpadu at Tujuhbelas Tahun ++ (5 years 43 weeks ago)
80

nice stories.....

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 34 weeks ago)
90

keren keren uy... bikin fresh gw yang lagi suntuk

Writer anty
anty at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 40 weeks ago)
60

awalnya biasa sih ??? but,endingnya bagus

Writer blackjackd
blackjackd at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 43 weeks ago)
50

Ceritanya biasa, idenya fresh, klo boleh gw bilang judulnya yg agak menyesatkan...

wkwkwkwkwk

Writer Acip S
Acip S at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 43 weeks ago)
80

Top banget menaut kata merangkai cerita. Bikin aku terbuai mengikutinya. Cuma benar kata teman2 di bawah, kisahnya kurang tragis. Harusnya bisa dibikin lebih menggugah hati, gitu lo...
Tapi jujur, keren banget neh...

Writer brown
brown at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 43 weeks ago)
60

hehehe, pria hidung belang cerita ttg wanita. ya pastinya ga jauh dari phisical identifying-lah. tapi gaya bertuturnya ok, cerita mengalir dan mudah dicerna.

Writer megaloman2002
megaloman2002 at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
50

Betul kata krittopher! ayo bikin lebih tragis lagi!

Writer KD
KD at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
100

Hayo...pilih ibu atau anaknya.

Disambung ya, bikin yang tragis sekalian, misalnya Endah ketabrak truk yang nyelonong ke warungnya. Trus akhirnya Pras dan Wulan jadi suami istri.

Yah...pokoknya yang semacam gitu deh

Writer -riNa-
-riNa- at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
60

bahasanya asik, lancar n gampang dicerna. tapi kayaknya kok Pras ini dibutakan cinta cuma gara2 sosok cantik aja ya. cuma gara2 bodi kayak Dewi Persik, langsung fall in love, masih kurang diterima nalar (walaupun ada yang bilang cinta itu (bikin) buta).
rada kurang greget, tapi endingnya oke juga.

Writer evillya
evillya at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
70

awalnya agak pesimis sih, secara bahasanya agak2 gimana gitu, tapi di akhir aku cukup puas sama endingnya :)

Writer ichenzr
ichenzr at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
70

mmm....gimana ya comentnya?
menurutku tulisannya bagus koq walau bahasanya agak nakal ya awalnya...!
Tapi endingnya itu loh kaya dipaksakan (Endah ternyata anaknya Pras).
itu aja yaa.

Writer w1tch
w1tch at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
50

setuju ma FrenZy. mungkin deskripsi si perempuan bisa disederhanakan lagi.

bahasanya tinggi amat.
capek naik tangganya...hehe...

Writer FrenZy
FrenZy at Tujuhbelas Tahun ++ (7 years 44 weeks ago)
50

aku ga suka awalnya, karena terlalu memuja keindahan wanita yang sifatnya fisik saja.. sebenernya kan ga begitu.. trs akhirnya memang menarik.. tp keseluruhan... maaf ya, aku kurang merasa tersentuh :)