Beru Si Beruang Cokelat

Seorang lelaki tua tengah memegang erat pancingannya ketika di kejauhan seekor Beruang Cokelat melangkah gontai di semak-semak di pinggir Danau Biru. Hari menjelang sore dan lelaki itu mulai merasa mengantuk. Ia pun meletakan pancingan di sebelah buntalan kulitnya, lalu merebahkan badannya di atas tanah. Matanya hampir terpejam saat menyaksikan sebuah pemandangan teraneh yang pernah disaksikannya. Sebuah pemandangan yang membuat seorang lelaki tua meragukan penglihatannya sendiri: seekor Beruang Cokelat, berpakaian seperti manusia, membawa keranjang rotan yang berisikan buah-buahan. Lelaki tua terpaku, mulutnya setengah terbuka.

***

Beru Beruang merasakan pening di kepala berbulunya. Rasanya ngilu seperti saat kebanyakan minum Es Mambo. Tangan kanannya mulai memijit-mijit tengkuk, mencoba melancarkan peredaran darah ke kepalanya. Sementara itu tangan kirinya menjinjing keranjang anyaman rotan yang hampir tidak berisi. Hanya ada seikat rambutan yang dikerubungi semut. Baru saja Baru sukses menjual lima sisir pisang kepada Keluarga Simpanse. Sakunya bergemerincing. Di dalamnya tersimpan uang logam yang mencukupi kebutuhannya dan ibunya hingga akhir bulan nanti. Namun kepala Beru terasa pening. Beruang itu tahu persis bukanlah perihal keuangan ataupun kebanyakan minum Es Mambo yang membuat kepalanya begitu pening. Dari pepohonan kediaman Keluarga Simpanse di jantung Hutan Hijau, Beru memutuskan pergi ke tepi Danau Biru sebelum pulang ke rumahnya di hutan pinggiran. Di sana ia akan menunggu kepeningannya mereda, sambil mencari-cari angin sore.

Beru adalah beruang jantan yang berprofesi sebagai pedagang buah keliling. Setiap hari ia bangun pagi-pagi, mengenakan pakaian kerja: sebuah rompi dan celana, lalu berangkat menjemput buah-buahan di kebun buah milik keluarga-keluarga manusia. Ketika keranjangnya penuh, Beru akan mengelilingi hutan hijau mengedarkan barang dagangannya. Pada musim ini, pisanglah komoditi favorit para binatang di tempatnya berdagang. Gajah, Monyet, Simpanse, Orang Utan sampai Babon semuanya berebut pisang, harganya jadi melambung. Sebagai salah satu dari sedikit pedagang buah di hutan hijau, Beru mendapatkan keuntungan besar dari situasi ini. Malam-malam ia pulang ke rumah dengan keranjang kosong dan saku yang menggelembung. Beru akan menanggalkan pakaian dan menyerahkan uang kepada sang ibu. Uang tersebut akan digunakan ibunya untuk berbelanja bahan pangan sehari-hari. Justru keseharian hidup seperti ini yang membuat Beru tidak bahagia.

Bagi kaum beruang, tidak lazim apabila beruang jantan hidup dan berpakaian seperti layaknya manusia. Berpakaian, berjualan, dan melahirkan adalah kodrat para betina, begitu bunyi kalimat pertama kitab suci agama beruang. Sebaliknya para beruang jantan mendapat tugas untuk hidup bebas, tidak terkekang oleh pakaian, dan hidup dengan cara memburu ikan. Entah di sungai atau danau terdekat, pokoknya tempat kerjanya bebas.

Sementara beruang jantan dibiarkan hidup liar, beruang betina tidak boleh kelihatan berpakaian, berbicara, atau bertransaksi di depan manusia. Hal-hal tersebut dianggap sebagai penistaan terhadap agama. Beruang tidak boleh mempertanyakan, ‘Mengapa?’ karena pemikiran seekor beruang tidak akan mampu menjangkau pemikiran Dewa Beruang. Mempertanyakan, ‘Mengapa?’ hanya akan memperlemah iman seekor beruang. Beruang yang imannya lemah tidak akan masuk surga beruang. Agama Beruang mengatur pranata sosial sejak kaum beruang mulai memasuki masa sejarah.

Sambil melangkah menuju Danau Biru, Beru mengasihani dirinya sendiri. Imannya lemah, perbuatannya nista. Ia tak pernah belajar keterampilan dasar beruang jantan. Ayahnya kawin lagi sebelum sempat mengajarkan keterampilan-keterampilan ini kepada Beru. Pada umumnya Beruang Cokelat hidup berkelompok dengan satu pejantan yang menjadi kepala kelompok. Namun ibu Beru tidak terima dimadu. Ia pergi meninggalkan kelompok dengan membawa Beru, satu-satunya anak yang sempat teraih olehnya. Ibunyalah yang mengajari Beru keterampilan hidup yang diajarkan oleh nenek Beru, berdagang buah yang dicuri dari kebun-kebun manusia.

Sampai dua musim yang lalu, Beru cukup puas dengan keterampilannya hidup. Taringnya menumpul karena sering makan buah. Tubuhnya tetap membesar meskipun ia tidak makan ikan mentah. Kehidupan berbudaya yang tak berpindah-pindah membuat Beru cukup tenang untuk menciptakan alat-alat yang menunjang pekerjaannya. Ia menganyam keranjang rotannya sendiri sebagai tempat penyimpanan buah-buahan. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ia sampai pada musim yang berbeda dari musim-musim sebelumnya. Sebuah musim semi yang sama tetapi dilaluinya dengan perasaan yang berbeda, musim kawin beruang. Libido Beru melonjak. Sayangnya libido ini tidak tersalurkan. Beruang betina tidak ada yang mau kawin dengannya. Beru aneh, berjualan buah seperti beruang-beruang betina. Beruang betina tidak mau menistakan agama dan menginginkan beruang yang sesekali pulang dan membawa ikan. Tinggallah Beru sendirian di rumah bersama ibunya. Pada malam-malam tertentu Beru Beruang akan membentur-benturkan kepalanya ke dinding untuk melawan libidonya.

Kemarin malam adalah salah satu dari malam-malam itu, tidak heran bila kini Beru merasakan pening di kepalanya. Ia merasa tidak bahagia. Meskipun Danau Biru sudah membentang di pandangannya. Beru berjalan tanpa arah di tepi danau. Angin bertiup semilir tidak dirasakan Beru yang bulu tebalnya dilapisi oleh rompi. Beru tenggelam dalam kedukaannya tanpa menyadari kehadiran seorang manusia tua sampai mata mereka saling bertemu.

***

Pandangan kaget Beru bertemu dengan pandangan lelaki tua yang tak kalah kagetnya. Sementara lelaki itu gemetaran, Beru lebih gemetar lagi. Menurut agama beruang, hukum apabila terlihat berpakaian di depan manusia adalah membunuh manusia itu. Namun Beru tidak tega.

“Hai Manusia! Bunuhlah aku!” pinta Beru, yang merasa hidupnya penuh kesia-siaan.

Ketakutan, lelaki tua bergegas bangkit dan berlari menjauhi Beru.

“Hai Manusia!” panggil Beru. “Bunuhlah aku atau aku harus membunuhmu!”

Beru segera mengejar lelaki tua itu. Tangannya coba menggapai punggung laki-laki tua. Tanpa Beru sadari cakarnya sudah berdiri tegak. Dalam segapaian saja, cakar yang tak pernah digunakan itu merenggut pakaian dan nyawa si lelaki tua.

Beru meraung ketika menyadari perbuatannya. Ini adalah kali pertamanya. Suaranya tinggi menghentak. Ia melompat-lompat menginjaki tanah. Semut-semut berhenti bergerak, burung-burung yang berterbangan melambatkan lajunya. Semua penasaran apa penyebab dari raungan itu. Semua diam sampai tikus tanah muncul ke permukaan dan membantu Beru Beruang menguburkan lelaki bernasib naas itu.

Ketika hendak pulang, Beru tersandung buntalan kulit di sebelah pancingan lelaki tua. Ia membuka simpulnya. Ternyata di sanalah lelaki tua menyimpan ikan-ikan hasil pancingannya. Beru menggigit seekor. Sontak otot-ototnya meregang, taringnya memanjang, dan pakaiannya robek. Beru pun beranjak pergi. Sisa ikan akan ia serahkan kepada ibu dan beruang betina yang bersedia kawin dengannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer chrischemslover93
chrischemslover93 at Beru Si Beruang Cokelat (6 years 1 week ago)
90

mantapppp..... XDDDDDDDDDDDD

Writer chrischemslover93
chrischemslover93 at Beru Si Beruang Cokelat (6 years 1 week ago)
90

mantapppp..... XDDDDDDDDDDDDd

Writer Ijonk
Ijonk at Beru Si Beruang Cokelat (6 years 18 weeks ago)
80

K E R E E E E Nnnnnnnn......
Abbbbiissss.... =D> =D> =D> =D>
Cerita binatang (fabel) yg good bgt...
minta cerita fabel kmu yg lain duuunnkkk... :P

Writer mocca_chi
mocca_chi at Beru Si Beruang Cokelat (6 years 18 weeks ago)
70

hee..sepertinya pesannya memang begitu. namun aku rasa, cerita terlalu didominasi oleh asal-usul sang beruang yang seperti dimanusiakan. hiiii........

menunggu fabelmu yang lain :D

Writer x_zombie
x_zombie at Beru Si Beruang Cokelat (6 years 18 weeks ago)
90

pesan yg ingin disampiakan : jangan menantang kodrat, begitu ya bro..?

ah ga tau lagi deh..

bagus bro..