Finally, You're My Destiny!

Vine benar-benar tidak menyangka dengan siapa dia berjalan sekarang. Seorang cowok dengan tinggi yang bisa dibilang pendek bagi ukuran tinggi cowok, hanya berbeda kira-kira 10 cm dari tinggi Vine. Rambutnya jabrik hitam dengan mata sayu yang sangat digila-gilai Vine. Mereka berdua tengah mengelilingi area taman hiburan Dunia Fantasi Ancol. Vine sangat bahagia bisa menghabiskan hari ulang tahunnya bersama cowok yang sangat dicintainya itu, meski hingga kini cowok itu belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Vine tersenyum ketika sekelebat memori menyapanya.
“Wah, kamu repot-repot banget, kamu habis dari mana sih?” tanya Damar ketika menerima bingkisan dari Vine.
“Dari Bandung. Yah… oleh-oleh aja.”
Damar mengeluarkan sepasang sandal berwarna hitam dari dalam bingkisan itu. Dia mencoba memakainya, “Nice… makasih ya… kok kamu tahu ukuran kakiku?”
“Yah… tau aja.” Vine tersenyum.
Suara gemuruh di luar meruntuhkan tetes-tetes air hujan yang makin deras.
“Hujan deh…” ucap Vine sambil memandang keluar pintu kamar kos Damar yang dibiarkan terbuka.
“Aku anterin aja pulangnya.”
Menyembunyikan muka yang memerah, Vine mengalihkan perhatian ke arah sebuah sarung yang tersampir di sandaran kursi belajar di dalam kamar itu sambil berpikir,”Hmm.. sarung, jadi punya ide lagi kalau mau kasih dia hadiah..”
“Nggak usah, kan kos ku cuma berjarak tiga rumah dari sini.”
“Tapi kan hujan deres, Ne. Kamu nggak bawa payung kan?”
Vine paling senang mendengar Damar memanggilnya dengan suku kata belakang namanya, bukan ‘Vin’, seperti kebanyakan orang memanggilnya.
“Hmm.. ya udah.. mending aku pulang sekarang aja. Udah malem.” Vine berdiri dari ubin keramik lantai kamar Damar yang terasa makin dingin. Damar mengikutinya sambil meraih jaket berwarna hijau tua di gantungan jaket yang terpasang di belakang pintu.
“Ini pakai aja,” Damar menyodorkan jaket itu pada Vine. Vine terkejut, dia memandang jaket itu, jaket yang bagi Vine sangat menawan ketika seringkali dipakai Damar. Sebuah cara berpakaian Damar yang paling Vine suka. Saking senangnya Vine tak ragu menerima jaket hijau itu dan memakainya. Damar mengambil sebuah payung dan membukanya di luar kamar. “Yuk,” ucapnya.
Vine sempat bengong sebentar sebelum kemudian menjajarkan dirinya disamping Damar di bawah payung yang dipegang cowok idamannya itu. Perasaan Vine meluap-luap, sepayung berdua dengan cowok yang dicintainya merupakan lamunan paling romantis bagi Vine. Mereka berdua berjalan melewati tepi jalan raya yang merupakan tanah becek. Vine sudah merasa sangat tersanjung ketika Damar menukar posisi untuk berjalan di tepi luar dekat jalan raya, sementara Vine berjalan di tepi dalam. Dia merasa terlindungi dan hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan. Damar pun sama sekali tidak membuka pembicaraan hingga mereka berdua sampai di depan pintu depan kos Vine. Namun bagi Vine, sekitar lima puluh meter mereka berdua berjalan merupakan perjalanan paling indah.
“Makasih ya,” Vine melepas jaket hijau itu dan memberikannya pada Damar. Damar yang saat itu hanya mengenakan kaos kemudian memakai jaket itu.
“Aku juga makasih buat yang tadi.”
Vine menatap senyum Damar. Hatinya terasa sangat berbunga-bunga.
“Aku balik dulu ya,” ucap Damar.
“Iya, hati-hati ya,”

Vine dan Damar berdiri di antrian wahana rollercoaster.
“Kamu yakin mau naik ini?” tanya Damar.
Vine mengangguk,”Aku senang kalau bisa naik rollercoaster sama kamu.” Dia masih tidak percaya saat ini dia dan Damar sudah bersama, mengingat apa yang telah terjadi enam tahun lalu.
Damar duduk di sebuah kursi plastik di depan kamar kos nya sambil membaca tiga lembar kertas berwarna biru di tangannya. Adit, sahabat Damar yang berdiri di depannya bersandar pada pilar tembok berkata,”Gimana, Dam?”
Damar hanya menggeleng-geleng sambil mengusap keningnya,”Aku nggak nyangka dia sampai segininya.”
“Dia udah tahu kalau kamu nggak punya perasaan yang sama seperti yang dia punya ke kamu. Tapi dia hanya ingin mengungkapkan semuanya.”
“Tapi…”
“Tapi dia pasti tahu betul kalau kamu juga udah tahu bagaimana perasaan dia meski nggak perlu disampaikan kan? Sebenarnya dia ingin ngomong langsung, tapi kamu selalu mengelak kalau dia mau ketemu kan?” potong Adit.
“Iya.. Oh God… Dia terlalu baik padaku selama ini. Dia bawain aku oleh-oleh, dia selalu perhatian, dia kasih kue waktu ulang tahunku… apa aku terlihat memberi harapan ke dia ya?”
“Kayaknya sih,”
Damar menghela nafas,”Tolong sampaikan ke Vine ya, aku minta maaf banget, kamu tahu kan Dit, aku lagi ngejar cewek. Dan tolong bilang ke dia, aku nggak akan menjauhi dia karena surat ini. Jadi jangan khawatir.”

“Kamu pasti merem terus kan diatas tadi?” tanya Damar lalu merangkulkan tangan kanannya di pundak Vine begitu mereka berjalan meninggalkan wahana rollercoaster.
“Hehehe… iya, seram sih.”
“Udah gitu kamu sama sekali nggak teriak.” Damar tertawa.
“Habisnya aku nggak pengen ngerasain, pengen cepetan turun aja.”
“Vine.. Vine… “ kini Damar menggandeng tangan Vine menjalarkan getaran ke saraf-saraf Vine. Vine masih bertanya-tanya kenapa hingga saat ini Damar masih belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Mereka berdua melanjutkan dari satu wahana ke wahana lain. Vine makin mengabaikan ucapan ulang tahun yan gdiharapkannya itu, dia merasa sudah bahagia mempunyai Damar di sisinya.
Bagaikan sebuah keajaiban terindah bagi Vine ketika bertemu kembali dengan Damar di acara ulang tahun jurusan kampus sekaligus reuni untuk alumni kampus tempat Vine dan Damar dulu sama-sama kuliah. Saat itu mereka berdua sudah sama-sama lulus. Vine sempat merasa sangat kehilangan ketika Damar lulus terlebih dahulu mengingat dia adalah senior Vine beda satu angkatan.
Sejak jatuh cinta pada Damar, Vine sudah melakukan segala yang dia mampu untuk mencintai Damar, meski Damar tak pernah membalas cintanya. Berulang kali Damar berpacaran dan putus, Vine masih tetap menjaga cintanya. Sempat lelah, Vine pun jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan cowok lain. Namun hubungan itu kandas.
Sudah lima tahun sejak Vine pertama kali mengenal Damar ketika mereka dipertemukan kembali malam itu.
“Hai Ne,” sapa Damar di tengah hingar bingar musik live band yang sedang bermain di panggung, membuat Vine terkejut.
“Damar… em… apa kabar?” tanya Vine gugup, dan tanpa disadari, rasa cintanya yang masih tersimpan rapat di dalam hatinya untuk Damar, terpicu kembali.
“Baik.. kamu dimana sekarang?”
“Aku kerja di Jakarta.” Jawab Vine lalu meneguk sekaleng minuman soda yang sedari tadi di tangannya untuk menutupi kegugupannya.
“Oh ya??! Aku juga kerja di Jakarta!”
Vine terkejut hingga hampir tersedak, “Uhm… oh.. em… oh ya? Kamu nggak di Surabaya?”
“Aku sempat kerja di kampung halamanku itu setahunan lah, terus aku pindah ke Jakarta.”
“Kamu kerja sebagai apa, dimana?” Vine menyembunyikan rasa penasaran dan ketertarikannya dengan mengalihkan pandangan ke panggung. Damar tersenyum menatap Vine, dia seperti tahu lawan bicaranya itu jadi salah tingkah. Belum terdengar jawaban, Vine menatap Damar kembali. Dia merasa wajahnya memanas karena bersemu merah ketika melihat senyum Damar yang sangat dirindukannya.
“Kok nggak dijawab?”
“Cerita tentang kamu dulu deh. Kita… menepi yuk,” Damar mengajak Vine keluar dari keramaian.
“Kamu sendiri, Ne?” Mereka berdua duduk di sebuah sitting ground kampus.
“Tadi ketemu anak-anak tapi udah pada nyebar. Adit mana? Nggak datang?”
“Nggak. Dia kan sekarang kerja di Batang. Kamu mau di Jogja berapa hari?”
“Aku ambil cuti sehari. Jadi hari Senin aku balik ke Jakarta… hmm… untung hujan sudah berhenti ya jadi acara malam ini bisa jalan…” Vine menghirup udara segar malam itu,”… kamu tahu nggak? Aku suka banget aroma tanah setelah tersiram air hujan…”
“You’re kidding me! Aku juga suka!” ucap Damar spontan. Jantung Vine berdebar semakin kencang. Mereka berdua mulai ngobrol banyak tentang semua yang sudah terlewati.
Tiba-tiba Vine tersenyum,”Dam, kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Ingat nggak waktu dulu Adit pernah ngebocorin bola basketmu waktu kalian sering main basket kalau sore di kampus?”
“Hmm… bentar…” Damar tampak mengingat-ingat,”.. oh iya bener, sebel banget waktu itu… kenapa?”
“Kira-kira seminggu kemudian kan dia mengganti bola mu itu… Sebenarnya bola itu dariku. Cuma aku pesen sama Adit supaya nggak bilang ke kamu kalau itu dariku. Aku nggak pengen kamu jadi ngerasa nggak enak waktu itu. Yah… apalagi setelah surat itu.”
Damar terdiam sebentar,”Kamu tahu banget aku suka sekali main basket dan kamu…” dia menatap Vine membuat Vine takut sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan hal itu tadi.
Sementara itu Damar merasakan perasaannya berubah. Sejak detik itu, ia ingin menyayangi Vine.
“… Ne, kamu cantik banget malam ini…”

Mereka berdua sudah menikmati banyak wahana hingga matahari sudah condong ke barat. Vine melihat jam tangannya dan mendapati jarum panjang pada angka tiga dan jarum pendek pada angka empat. Sampai detik itu juga, Damar tidak menyinggung soal ulang tahun Vine.
“Mungkin beginilah cara dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Nggak perlu dengan kata-kata tapi dengan membahagiakanku seperti ini… Ya… ini sudah cukup sebagai ucapan selamat ulang tahun.” batin Vine.
“Kita naik bianglala yuk,” ajak Damar.
“Nggak ah… nggak… aku takut tinggi, honey..”
“Ayolah, kan ada aku. Lagipula tadi rollercoaster juga tinggi tapi kamu tetap naik kan?”
“Kan beda, tadi nggak terasa, langsung naik turun… tapi kalau bianglala kan jalannya lambat, apalagi kalau sampai di atas… hiiihh… nggak deh.”
“Ayo dong, pokoknya harus mau. Kan sama aku. Nggak akan menakutkan deh. Aku janji di atas sana pasti indah. Mau ya, my lady?”
Vine selalu takluk tiap kali Damar memanggilnya dengan panggilan sayang favoritnya itu.”Iya deh,”
“Nah gitu dong…” Damar menggandeng tangan Vine dan mengajaknya berlari kecil.
“Kenapa harus lari sih, hon?”
“Nggak apa-apa, biar bisa ikut putaran yang sekarang, tuh lagi kosong… daripada nanti ngantri.”
Vine hanya menurut dan sesaat kemudian mereka berdua sudah berada dalam satu kereta bianglala yang pelan-pelan menanjak naik. Vine langsung memejamkan mata. Kedua tangannya memegang erat plat besi yang melingkar di bagian tengah kereta.
“Jangan merem dong. View nya bagus lho.”
Vine hanya menggeleng, terdengar tawa kecil Damar. Ketika satu putaran selesai, dan kereta itu hendak menanjak naik lagi, Damar merapatkan tubuhnya disamping Vine, dia melingkarkan tangan kirinya pada pundak Vine, Sesaat dia melirik jam tangan di pergelangan tangan Vine.
“Ne, buka mata dong.”
“Nggak mau!”
“Ayo dong…” Damar meraih tangan kanan Vine yang masih menempel erat di plat besi kemudian menggenggamnya dia tas pangkuan Vine. Refleks Vine membuka matanya.
“Tanganmu dingin banget,” ucap Damar.
“Aku mau turun, hon.. aku mau turun…” Vine merasakan saraf-saraf di kakinya bergetar karena efek ketinggian.
“Ne, kan ada aku…” Damar menggenggam tangan Vine lebih erat.
“Tapi…”
“Ne, my lady… “ Damar menatap Vine lekat-lekat,”… aku tahu ini telat banget… tapi, aku ingat kamu pernah cerita kalau kamu lahir sekitar jam setengah lima sore… jadi… aku sengaja nunggu sampai sekarang… Hari ini, jam ini, dua puluh lima tahun lalu, kamu lahir… Selamat ulang tahun ya my lady… Aku pasti akan selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu… dan untuk kita…”
Jantung Vine berdetak sangat kencang. Dia terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Dia tidak menyangka masih ada yang lebih romantis daripada sepayung berdua dengan Damar. Matanya tidak lepas dari Damar. Cowok yang ditatapnya itu pun mengunci pandangannya pada Vine. Getaran di kaki Vine karena takut ketinggian tak lagi terasa. Vine sudah lupa dia sedang berada di bianglala.
“Kok diam? Kamu marah ya aku telat ngucapin? Maaf ya… seharusnya jam dua belas malam tadi aku mengucapkannya…”
Vine langsung memotong,”Nggak!...” dia menggeleng,”… aku nggak marah, aku merasa ini semua sangat spesial…” Vine sampai tak mampu berkata-kata.
“Sekarang, kamu boleh tutup mata lagi, waktunya make a wish.”
“Make a wish ya… “ Vine tampak berpikir. Damar masin menggenggam tangannya. Sementara kereta bianglala masih pelan-pelan berputar. Vine kemudian memejamkan matanya sambil berucap syukur, dia merasa tidak ingin meminta macam-macam lagi, dia sudah sangat bahagia sekarang, dia hanya ingin bisa disamping Damar selamanya.
Tiba-tiba Vine merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Matanya masih terpejam, jantungnya serasa berjenti berdetak saking terkejutnya. Dia merasakan bibir Damar menyatu dengan bibirnya. Vine benar-benar merasa sedang mengambang di angkasa. Desir angin sore terasa menyapu wajahnya yang terasa hangat merona merah. Cukup lama Damar menyapukan bibirnya pada bibir Vine sebelum kemudian berucap pelan,”I love you,”
Vine membuka matanya dan menatap Damar,”I love you too,”
“Tadi aku sudah bilang kan? Aku sudah janji kalau di atas sini bakal indah…”

THE END

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Finally, You're My Destiny! (8 years 36 weeks ago)
90

nice...happy ending :) Like Like Like Like again

Writer lavender
lavender at Finally, You're My Destiny! (8 years 36 weeks ago)

wew.. karya usangku dibaca.. hehe..
thanks..

Writer imoets
imoets at Finally, You're My Destiny! (10 years 25 weeks ago)
80

sweet banget...
suka dengan cerita yang modelnya lompat2 waktu gini..

Writer radysha
radysha at Finally, You're My Destiny! (10 years 49 weeks ago)
80

wahh manis banget adegan di atas bianglalanya ... bener damar nggak boong ...

yup, sama seperti mel .. walau aku jga nggak tau bagaimana baiknya tapi mungkin diberi tanda (***) akan lebih baik ... nggak bikin pusing ...

Writer mel
mel at Finally, You're My Destiny! (11 years 1 week ago)
80

waah, cerita yang manis.. ending yang bahagia.. saia sukaa!
tapi pergantian antara bayangan masa lalu dan saat ini masih terasa kasar..
tapi, saia suka banget ama ceritanya.. penantian yang tidak sia-sia. =)