Fullmoon In The Crimson ( 3 of 3 )

Mula-mula bangkai, lalu ikan-ikan di lautan, kemudian binatang-binatang yang merayap di atas tanah, kemudian burung-burung yang berterbangan di angkasa, tapi bahkan setelah tak ada satupun yang tersisa rasa laparnya belum sedikitpun terpuaskan.

Leviathan, binatang terbesar yang pernah diciptakan. Yang kebangkitannya menandakan akhir dari dunia.

***

Pagi

Hujan masih gerimis ketika Levi meninggalkan restaurant cepat saji tempat ia baru saja makan pagi. Udara masih sangat dingin. Sambil merapatkan jaketnya, cepat-cepat ia berjalan menuju mobil miliknya.

"Kau lama sekali!" Wanita yang sejak tadi duduk di samping tempat duduk supir terlihat kesal.

Tapi Levi sama sekali tak berminat berdebat saat itu, maka tanpa mempedulikan keluhan sang wanita ia pun menghidupkan mesin mobilnya. Tak lama kemudian mereka berdua telah melaju melalui jalan yang hari itu terlihat lebih sepi dari biasanya.

"Baru saja ada berita dari pusat."

"Begitukah?"

"Ayolah! Ada apa denganmu?" Sang wanita nyaris berteriak.

Levi seketika menghentikan mobilnya.

"Dengar, tidak ada yang memaksamu menjadi partnerku, kalau kau tak suka kau bisa pergi kapan saja."

"Baiklah!" Sang wanita turun dari mobil tersebut dan sebelum membanting pintu depan mobil ia berseru, "Oh ya! Dia akan muncul malam ini!"

***

siang

Tidak ada yang berubah di kamar itu kecuali lapisan debu yang semakin hari semakin bertambah. Di atas meja di samping tempat tidur sebuah buku terbuka.

...


‘Beware the Jabberwock, my son!
The jaws that bite, the claws that catch!
Beware the Jujub bird, and shun
The frumious Bandersnatch!’


He took his vorpal sword in hand:
Long time the manxome foe he sought --
So rested he by the Tumtum tree,
And stood awhile in thought.


And as in uffish thought he stood,
The Jabberwock, with eyes of flame,
Came whiffling through the tulgey wood,
And burbled as it came!


One, two!! One, two!! And through and through
The vorpal blade went snicker-snack!
He left it dead, and with its head
He went galumphing back.

...

Levi menghela napas panjang kemudian mengeluarkan sekotak rokok dari dalam saku bajunya. Ia tak bisa mengingat kapan terakhir kali ia merokok, tapi hari ini rasanya beberapa batang rokok bisa membantunya berpikir jernih. Menyedihkan memang, tapi toh bagaimanapun juga ia masih seorang manusia bahkan ketika ia bisa dengan tenang membunuh, bukan hanya apa yang mereka buru, tetapi juga manusia lain.

Penghuni kamar ini pasti marah kalau tahu dirinya kembali merokok setelah semua usaha keras yang ia lakukan untuk membuatnya berhenti merokok.

Levi tertawa kecil.

Mengedarkan pandangannya, ia baru sadar betapa kecilnya kamar tersebut, tipikal kamar apartemen seseorang yang masih sibuk dengan kuliahnya. Walaupun demikian ia selalu merasa nyaman berada di sana.

Sambil menghabiskan rokoknya Levi kembali berpikir, apa yang akan terjadi pada dunia ini ketika semua manusia telah tiada. Mungkin akan dipenuhi debu, seperti kamar ini.

***

Senja

Dari tempatnya duduk meringkuk, cakrawala terlihat bagaikan sebuah lukisan abstrak dengan bercak oranye, biru, ungu berpadu dengan indahnya, sementara matahari yang membara terlihat seperti noda merah, besar, jelek yang tidak seharusnya berada di sana.

Tapi tak apa, karena malam akan segera tiba.

***

"Kukira kau tak akan hadir?" sang wanita tersenyum melihat kedatangan Levi. Levi balas tersenyum.

"Maafkan aku, tindakanku pagi tadi, kurasa aku sedang tidak menjadi diriku."

"Tidak masalah."

"Jadi... Dia ada di atas sana?" sang wanita menganggukkan kepalanya.

Di hadapan mereka berdua sebuah gedung menjulang tinggi. Bagaikan sebuah menara, lampu-lampu kamar gedung itu yang sebagian menyala tampak seperti corak aneh jika dilihat dari kejauhan.

"Baiklah, ayo masuk dan kita selesaikan."

"Ah Luna, tunggu sebentar!"

"Ya?" Luna membalikkan badannya, dan seketika itu pula ia tak sadarkan diri.

"Maafkan aku, tapi aku harus menyelesaikannya sendiri."

Pelan-pelan diangkatnya tubuh sang wanita masuk ke dalam mobil.

***

Malam

Tergeletak di kamar itu, tiga sosok tubuh telanjang berlumuran darah. Dua orang wanita, mungkin pelacur, dan seorang pria yang jika ingatan Levi benar, adalah salah satu pejabat berpengaruh di kota itu, masing-masing dengan lubang menganga di dadanya.

"To..to-long aku..."

Dari bagian kamar yang sama sekali gelap. Terdengar rintih wanita ketiga. Namun meskipun rintihannya terdengar begitu memilukan, Levi sama sekali tak merasa kasihan. Tak lama kemudian terdengar suara, daging yang terkoyak dan tulang yang patah.

"Sudah selesai?"

Levi bertanya sambil mengelap percikan darah yang menempel di wajahnya.

"Dengan ini sudah 83 orang yang mati ditanganmu."

Terdengar suara tawa terkekeh.

"Orang? Yang kubunuh bukan orang. Tapi ini..."

Sebuah tangan kurus pucat menjulur dari kegelapan. Di dalam cengkramannya tampak sesosok makhluk mirip manusia meronta-ronta gelisah. Walau samar, Levi bisa mendengar jeritan makhluk itu. Dengan satu cengkraman keras, makhluk itu remuk, darahnya yang hitam menetes dari sela-sela jari jemari.

"..."

"Dalam kegelapan aku bisa melihatnya... makhluk itu ada dimana-mana..."

"..."

"Ah... aku bisa melihatnya... di dalam dadamu... makhluk yang sama... "

"Kau akan membunuhku juga?"

Makhluk itu diam sesaat, "Aku... tidak akan melakukannya... "

Wajah Levi kembali muram.

"Levi... aku takut... mereka ada dimana-mana... mereka... "

"Itu tidak benar. Apa yang kaulihat hanyalah kegelapan yang ada di dalam hati manusia. Kaulah yang merubahnya menjadi makhluk itu."

"Itu... tidak benar... mereka akan membunuhku... mereka marah... karena aku tidak menjadi salah satu dari mereka..."

Bulan pernama kemerahan perlahan mulai mendaki angkasa. Sinarnya yang lembut menerobos jendela kamar. Kegelapan menghilang. Duduk meringkuk di sudut kamar yang tadi berada di dalam kegelapan, seseorang yang selama ini Levi cari.

"Nua."

Levi berjalan menghampiri Nua yang duduk gemetaran di samping mayat wanita yang baru saja mati. Kulitnya pucat, rambutnya acak-acakan dan kedua tangannya berlumuran darah. Walaupun begitu Levi masih bisa mengenali Nua.

"Levi... aku takut..."

"Tenanglah aku disini."

Levi membungkukkan badannya lalu pelan-pelan memeluk Nua.

***

Epilog.

Orang-orang berlalu-lalang. Beberapa tampak tertawa bergembira, beberapa tampak muram menggerutu, yang lainnya hanya diam membisu.

Tapi tak seorangpun yang melihatnya.

Atau mungkin mereka melihatnya, karena tak satupun yang berjalan menabraknya.

Entah sudah berapa lama ia duduk di sana. Kegelapan dan cahaya, sudah ratusan kali bergantian menutupi bumi. Tapi selama itu pula ia sendirian di sana.

Sampai hari itu tiba...

"Kau disini rupanya."

Seorang wanita menghampirinya.

"Umm, aku sedang menunggu seseorang."

"Berdirilah, aku tak punya banyak waktu."

"Tapi aku sedang menunggu seseorang."

"Dia tak akan datang. Aku yang menggantikannya."

Ia menggelengkan kepalanya.

"Levi bilang ia akan datang menjemputku."

Wajah sang wanita berubah muram, kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Ia tidak akan datang."

"Umm, ia pasti datang, ia berjanji padaku."

"IA TIDAK AKAN DATANG! KAU TELAH MEMBUNUHNYA!"

Sang wanita menjerit. Tapi tak seorangpun yang tampak memperhatikan hal itu.

"Aku... membunuhnya?"

"Tidak, maafkan aku, tapi kau benar-benar mirip orang itu."

"Orang itu?"

"Ya, tapi sudahlah. Kumohon percayalah padaku... Levi mentipkanmu padaku."

"Umm baiklah."

Sang wanita mencoba tersenyum...

"Namaku Luna, mulai sekarang kita adalah partner kau mengerti?"

Ia menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mengerti, tapi kalau Levi bilang begitu aku akan melakukannya."

"Baguslah."

"Oh ya namaku..."

"Nua kan?"

-- END --

NB: Puisi berasal dari "Through The Looking Glass" karangan Lewis Carroll

Read previous post:  
17
points
(1303 words) posted by 145 11 years 2 weeks ago
56.6667
Tags: Cerita | lain - lain | 145 | anima
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Alfare
Alfare at Fullmoon In The Crimson ( 3 of 3 ) (10 years 51 weeks ago)
90

Kurasa ada beberapa kalimat yang terasa agak rancu. Beberapa adegan menurutku agak terlalu seketika.

Penuturan dan akhirnya seperti biasa enggak jelas.