Monolog

"Hai, apa kabar? Aku ingin tahu tentangmu, disaat gelap menguasai hari dimana kita tak bertemu, dan gelap telah memisahkan kita selama 6666 hari, batas wajar bagi kita untuk bertemu pertama kali.
Aku tahu, perjalanan kita terlampau panjang, bahkan mungkin masih akan bertambah, namun aku merasa terlalu lelah untuk ditertawai, oleh para mimpi yang memancing hasrat. Mereka selalu puas melayani hari-hariku, melemahkan tubuhku, mematikan akalku. Mereka selalu membuatku bersedih, menangis hingga tertidur menahan siksa yang terlalu manis.

Dan kini tanpamu disini, aku hanya memakan sesuap rasa yang oleh lidahku dinamakan basi, karena terlalu lama ditelantarkan oleh kecupan hangatmu, yang sampai sekarang tak tersentuh. Tiap aku mendengar bisik yang merayuku, aku ingin mencoba merasakan getaran yang mereka bisikkan, apakah benar mereka akan memuaskan hariku yang akan berlanjut, namun aku teringat penantianmu, yang mungkin menungguku di suatu tempat.

Ketika saatnya kita bertemu, aku tidak akan mau mengatakan kamu yang terbaik bagiku, ataupun mengatakan kamu satu-satunya yang mengisi hidupku. Aku tidak seromantis itu. Sebelum kita bertemu, banyak hal yang menghantui jalanku hingga kita berjumpa, dan hal-hal tersebut yang terbaik bagiku. Sebelum kita bertemu, banyak orang hebat mengakali martabatku hingga aku mengenalimu, dan orang-orang tersebut yang mengisi hidupku. Tetapi aku akan selalu menghargaimu seperti aku menghargai diriku, karena kita berbeda, perbedaan yang saling mengisi.

Aku akan selalu bertanya ke nuranimu, sambil menanti jawaban yang aku mengerti, jawaban dari sisi terangmu yang menahan sisi gelapku menuju nyala yang berarti. Hina tubuhku, suatu kebanggaan yang aku persembahkan untuk hidup, tanpa memihak kesucian yang aku persembahkan untuk kamu. Namun, kecemasanku ini yang menunda sang detik mempertemukan kita, menggoda kesabaranku bermandi kejenuhan di dunia kata.

Aku berkata jenuh, tapi hidupku ada untuk menikmati. Aku telah terkurung di dunia hampa yang hanya dikelilingi kata, tanpamu di sisiku. Sendiri, seindah sekuntum bunga tumbuh di rerumputan.

Sudah berakhir, pikirku. Dirimu selalu kuanggap mimpi, yang selalu menertawai, mengundang hasrat, tanpa mampu aku menyentuhmu dan melihatmu.

Tanpa ucapan berarti, aku akan selalu menunggu kehadiranmu di dunia nyata, lebih bermakna dari kumpulan kata yang terangkai, kata yang menyakitkan. Keberadaanmu, lebih berarti bagiku, hingga aku menyadari kesendirianku yang selalu mencari dirimu dalam kegelapan, dimana sang detik merelakan pertemuan rindu kita pada dunia."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nadhnadh
nadhnadh at Monolog (10 years 51 weeks ago)
80

sedih.... :(
sabar ya....

Writer nice_dreamer
nice_dreamer at Monolog (10 years 51 weeks ago)
90

Sedih bgt poem'a...
jd t'haru ne :(

Writer d757439
d757439 at Monolog (10 years 51 weeks ago)
50

berapa tahun tuh....
sedih banget

Writer Arra
Arra at Monolog (10 years 51 weeks ago)
60

memang hanya sebuah monolog...