Personality Upgrade --- Bab VI Kelahiran Phoenix

Bab 6

Kelahiran Phoenix

Bel Istirahat.

“Wah, tidak bisa dipercaya!” gumam seorang cewek yang duduk di belakang Roosiana. Roosiana menengok ke belakang. “Apanya yang tidak bisa dipercaya?” tanya Roosiana pada cewek itu. Cewek itu baru saja akan menyahut tapi keburu disela oleh cowok yang ada di sebelahnya. “Karena orang yang secerewet Rebecca saja tidak bisa membuat cowok yang ada di sebelahmu tadi untuk mengucapkan sepatah kata pun, makanya Rebecca tidak bisa percaya kalau kau yang pendiam ini dapat membuatnya berbicara”

Rebecca menelengkan kepalanya dengan cepat. “Apa katamu Tom?” sergah Rebecca. Tom buru-buru mengunyah makanannya.
“Nyam-nyam-nyam. Gluk, gluk, gluk. Hah..... e --- ng, maksud gue memang mengejutkan kalau Roosiana dapat membuat cowok tadi berbicara, tapi bagaimana pun juga, *Arthur* memang lebih tertarik pada orang yang sejenisnya daripada pada orang yang aktif berbicara.”

“Jadi maksud elu, gue ini cerewet, gitu?” seru Rebecca ketus. Tom hanya mengangkat kedua bahunya sambil melanjutkan makannya. Tangan Rebecca yang gatal terpaksa harus bersabar sedikit. Dia tidak mau harus berbuat kasar di depan Roosiana dan Tom tahu akan hal ini.

Roosiana merasa geli melihat kegeraman Rebecca dan keacuhan Tom. Tom dan Rebecca menatapnya dengan tatapan memprotes. “Maaf, maaf! aku cuman merasa kalau kalian terlihat akrab sekali!” ujar Roosiana

“Akrab?!” seru Tom dan Rebecca bersamaan. “Oh, sori aja, ya... Roo! entah dosa apa yang gue perbuat sampai gue ketemu -- dia” ejek Rebecca dengan delikan dan nada menghina. “Eh, eh tunggu dulu ya! mestinya gue yang bilang, karma apa yang gue perbuat sehingga dicubitin di pertemuan pertama” kata Tom sambil menunjukkan memar-memar di lengan kanannya pada Roosiana.

“Kalian baru berkenalan?” sahut Roosiana tidak percaya. Tom dan Rebecca menatapnya dengan pandangan memprotes lagi sehingga Roosiana tidak menindaklanjuti keheranannya ini.

Rebecca berpaling pada Roosiana.
“Hai, Roo! maaf kalau kau perlu menyaksikan kejadian yang tidak enak ini. Namaku Rebecca -- kenalkan.”
Rebecca menjulurkan tangannya dan disambut Roosiana. “Dan maaf juga atas orang di sebelah gue yang suka nguping” lanjutnya sarkastis.

Tom menurunkan sendoknya. “Oi! apa maksud elu kalau gue suka nguping?” protes Tom. Rebecca memberinya senyum sinis. “Kau mengetahui nama Roosiana sebelum dia memperkenalkan diri, itu berarti kau mendengar pembicaraan Roosiana dengan Arthur, khan? -- kalau nggak darimana kau bisa mengetahui namanya? dan kalau hal itu bukan nguping lalu apa namanya?”

“Hey, hey, hey! tunggu dulu! elu sendiri juga mendengar percakapan mereka, kan? Apa itu bukan berarti kalau elu ikut nguping?” balas Tom. “Eh, yang namanya cewek itu kalau telinganya lebih panjang daripada cowok -- itu wajar. Tapi kalau cowok juga mempunyai telinga yang tajam, itu nggak wajar!” kata Rebecca.

“Oh.... sori aja, yah.... gue punya telinga memang buat mendengar, kok. Kalau gue sudah tahu nama Roosiana masa gue perlu pura-pura menanyakan namanya lagi? itu munafik namanya! Lagian setidaknya khan gue memanggil nama Roosiana dengan jelas dan lengkap daripada orang yang sok akrab dengan menyebut Roo--saja, padahal baru berkenalan!”

Perkataan itu mengena di hati Rebecca. “Maaf saja ya, Tom! kalau kata-kata tadi bermaksud buat menyindir gue, gue rasa elu lupa kalau Arthur yang pertama menyebut Roosiana dengan sebutan Roo”. (Nah, hayo siapa yang nguping sekarang?)

Tom menjawab, “Kalau *Arthur* merasa pantas untuk menyebutnya begitu, maka dia bebas memanggil Roosiana dengan Roo saja. Perkataan gue cuman ditujukan pada orang yang merasa risih dan terganggu sehingga perlu mendebat soal panggilan nama ini”

Telinga Rebecca sudah memerah dan memanas mendengar selera sindiran Tom. “Kalau begitu, kenapa kau tidak menyatakan keberatanmu atas panggilan nama Roosiana kepada Arthur? -- supaya kita tahu apa Arthur akan risih atau tidak?”. tantang Rebecca dengan nada sedikit mengejek.

“Oooh..... gue cuman memulai masalah pada orang yang memulainya duluan dengan gue” jawab Tom.

Rebecca mencibir. “Alahhhh..... banyak alasan. Katakan saja yang sebenarnya kalau elu memang takut pada Arthur!”.

Tom tertegun dan tidak menjawab. Mimik wajahnya berubah serius. Roosiana dan Rebecca memperhatikan perubahan itu. Tom menatap Rebecca dengan sungguh-sungguh. “Apa alasan elu berkata seperti itu?”

Rebecca menjawab dengan hati-hati tanpa mengurangi kesinisannya. “Alasan? Oh, tentu saja ada alasannya. Alasannya adalah, karena setiap kali kau menyebut nama Arthur, kau menyebutnya dengan bergetar -- *Arthur*”

Tom terpana. Rebecca dan Roosiana cukup peka untuk tidak mengusiknya. Rebecca dapat merasakannya! Dia dapat merasakannya! Tidak mungkin. Orang dengan kepribadian Rebecca seharusnya tidak cukup sensitif untuk merasakan emosi orang lain. Apalagi emosi yang kurasakan. Tom tersenyum pada dirinya sendiri. Menarik. Ini menarik, batin Tom. Selama hidupnya hanya beberapa orang yang berpengaruh terhadap dirinya. Dan kata-kata Rebecca yang barusan, membuktikan kalau Arthur memang mempunyai pengaruh pada dirinya sehingga perasaannya yang mudah dimanipulir agar tidak bisa dibaca orang lain, dapat dibaca oleh Rebecca -- yang menurut Tom, kepribadian yang terlalu blak-blakkan.

“Orang yang mempunyai rasa takut pada Arthur adalah orang yang sehat jiwanya” jawab Tom berfilosofis. Rebecca dan Roosiana tersentak mendengarnya. Oh! pekik Roosiana dalam batin. Entah bagaimana, dia dapat merasakan kebenaran kata-kata itu walaupun dia sendiri tidak bisa dibilang takut pada Arthur melainkan lebih tepat dibilang segan. “Apa maksud kata-katamu itu, Tom?” tanya Roosiana.

Di luar dugaan Roosiana, Rebecca-lah yang menjawab pertanyaan itu. “Karena dia dapat menebarkan perasaannya pada keadaaan di sekelilingnya. Sebelum dia masuk ke kelas ini, dia sempat berhenti di pintu kelas, membaca daftar nama-nama siswa di kelas ini. Entah apa yang dia cari, yang pasti tampangnya sangat pesimis dan tidak bersemangat. Sifatnya yang pesimis itu, entah bagaimana, secara sadar atau tidak sadar -- mempengaruhiku (dan beberapa siswa lainnya) sehingga kami tidak berani ketawa atau menunjukkan kebahagiaan kami jika memang hal itu yang sedang kami rasakan. Hingga akhirnya kau datang -- aku baru dapat merasakan keoptimisannya seolah matahari yang bebas dari awan.”

Roosiana tenggelam dalam lamunannya. Siapa Arthur sebenarnya? Mengapa dia tiba-tiba muncul dalam hidupnya? Mengapa mereka merasa saling mengenal satu sama lain? Darimana Arthur mengetahui namanya? dan Bagaimana cara Arthur
‘meramal’ kalau mereka akan sekelas? Tunggu! pikir Roosiana. Bukankah seharusnya Roosiana sudah terdaftar di kelas I-4 bersama Yuliana dan Yohana? Lalu mengapa hanya gara-gara masalah teknis yang kecil dapat merubah semuanya? Bu Nella! Ya, benar. Karena dia, Roosiana jadi berada di kelas I-7. Padahal seandainya kelas I-4 kelebihan murid pun, kecil kemungkinannya yang dapat membuat Arthur dan Roosiana menjadi sekelas. Mengapa Bu Nella memilihnya? Mengapa Bu Nella tetap bersikeras walaupun mendapat perlawanan dari Yuliana? Oh..... Apakah Bu Nella dan Arthur saling mengenal? Tidak mungkin. Tapi secara logis, hanya itu penjelasannya! Penjelasan yang sederhana dan masuk akal adalah jika Arthur meminta Bu Nella untuk memilih dirinya! Ya. Lagipula tadi Bu Nella bersikap biasa saja walaupun Arthur tidak bangkit berdiri. Padahal Bu Nella terkenal sebagai orang yang keras dan menyeramkan! Apa sikap Arthur tadi tidak masuk hitungan? Apa Bu Nella mengira Arthur sedang ketiduran?

“Roosiana?” panggil Tom dari dimensi keempat. “Ya?” jawab Roosiana tersadarkan. Tom memberinya beberapa detik untuk bernafas dan kembali seutuhnya. “Ada satu hal yang perlu kau tahu tentang Arthur, Roo!” kata Tom serius. “Arthur adalah orang yang termasuk tipe kepribadian ‘jangan ganggu aku dan aku tidak akan mengganggumu’. Dan biasanya, orang yang dengan tipe kepribadian ini -- jarang atau tidak pernah sama sekali memulai pembicaraan dengan orang asing. Jika ternyata hal itu menyimpang, maka benar-benar ada suatu hal yang khusus atau istimewa pada diri orang itu. Mungkin saja kesamaan minat atau hobi. Dan terus terang, aku terkejut sekali sewaktu Arthur menyapamu. Bagiku, hal itu terlihat seperti kupu-kupu yang sedang bermetamorfosis atau ular yang berganti kulit. Atau juga seperti..... seperti---”

“Seperti apa?” desak Roosiana. Tom memejamkan matanya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Seperti..... Kelahiran Phoenix” ujar Tom senang.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

bagus, mestinya masih panjang nih cerita yah? ok kulanjutkan baca

100

lastwriter berhasil mengemas dinamika masa SMU menjadi lebih 'berat'

80

lanjut ya... ditunggu

90

ada phoenix-nya segala. cara menuturkan yang mantap. bahasa yang mudah dipahami. kalo kemampuan ini diasah terus, bisa jadi J.K. Rowling kedua, nih

Terus menulis ya!