Yang Terindah

“… Haruskah ku bertahan, demi cinta ini, yang tak mungkin… Dan tak mungkin untuk kita bersama, diatas perbedaan yang selamanya mengingkari… Dan tak mungkin bila ku melepasmu, sungguh hati tak mampu… Mengertilah cintaku… “ (a song by Dygta feat. Andina)

Satria menggandeng tanganku ketika kami keluar dari dalam studio sebuah bioskop, yang malam itu ramai sekali. Antrian di loket suatu film horor tampak panjang, begitu kontras dengan loket – loket film lain yang hanya disambangi beberapa orang.

“Gila’, masih aja pada demen ditakut – takutin ya? Aku nggak habis pikir, fenomena film horor ini bener – bener menyedot animo orang.” Dia membuka pembicaraan.

“Iya tuh, kita tadi ngantri film kita aja sepi ya… Masa’ film sekeren itu peminatnya sedikit.” Ucapku menimpalinya.

“Adegan waktu si Colin Farrell memberi pertanyaan ke saksi di pengadilan hebat banget ya! Dia pintar memainkan ekspresi wajahnya, terus kalimat – kalimat nya cerdas pula. Ending nya pun nggak bisa ditebak. Top deh!”

Aroma popcorn di gerai penjual makanan kecil terasa merasuk di hidung. Kurasakan Satria kini melingkarkan lengannya di bahuku.
“Aku suka banget sama Colin Farrell, aktingnya bagus, film – filmnya menarik, ganteng pula, hehehe…” kataku.

“Kamu tahu nggak, kalau Colin Farrell mau merokok, tapi ada anaknya, dia bakal ngerokok sejauh sepuluh meter, pokoknya jauh dari anaknya…”

“Oh ya??” Obrolan menyenangkan antara aku dan dia pun kembali mengalir. Lancar, tanpa jeda. Selalu saja ada yang bisa kami bahas, dan kami benar – benar nyambung, apalagi kalau sedang membicarakan tentang film. Tak ada nama aktor yang ingin kubicarakan tidak diketahuinya. Begitu pula jika dia membicarakan tentang film yang pernah dia tonton, aku pasti sudah pernah menontonnya juga.

“Kita makan yuk, Sayang,” ajaknya membawaku berbelok ke sebuah restoran di mal itu. Saraf-saraf di kulitku masih saja tergetar tiap kali dia memanggilku seperti itu. Seolah aku adalah kekasihnya. Sudah lama ingin sekali kutanyakan hal yang mengganjal di pikiranku ini tentang kami kepadanya.

Sebuah alunan musik terdengar ketika kami sudah duduk di salah satu meja di dalam restoran itu.
“Dan, denger deh…” ucap Satria mengetuk – ngetukkan jarinya di meja sambil mulai mengikuti bait pertama lagu dari Good Charlotte yang mulai mengalun, “… I need an alarm system in my house…”

Aku tersenyum, kemudian ikut bernyanyi bersamanya,”So I know when people are creepin’ about, this people are freakin’ me out…”

Begitu asyik kami mengikuti lirik lagu itu hingga mencapai reff, kami hampir berteriak,”… I Just Wanna Live!! Don’t really care about the things that they say!...” Menyadari orang – orang jadi melihat kami, kami pun berhenti lalu tertawa, hingga membuatku hampir berkaca-kaca. Aku begitu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama cowok yang punya banyak kesamaan denganku, yang sangat connect, dan yang terpenting, sangat kucintai. Karena selama ini aku belum pernah bisa bersama cowok yang kucintai, cintaku sering bertepuk sebelah tangan. Namun kini, di hadapanku, ada seorang cowok yang notabene relatif jauh lebih cakep dibanding cowok – cowok yang pernah ada di hatiku, mau bersamaku. Meski tidak dapat dideklarasikan sebagai suatu kebersamaan sesungguhnya.

“Dear, aku mau ngomong,” ucapku ketika kami sudah selesai makan.

“Ada apa… Dania sayang?”

Aku terdiam sebentar sebelum kemudian berkata,”Mmm… kamu…” aku terdiam lagi,”… kamu tahu buku motivator yang…” kuurungkan niatku untuk membicarakan hal yang masih mengganjal itu. Aku takut kehilangan dia. Aku hanya menatapnya menimpali kalimatku yang lagi – lagi, dia nyambung banget.

*-*-*-*

Malam itu ketika kami bertemu lagi, kuputuskan untuk membicarakan hubungan kami.

“I miss you,” ucapnya pertama kali, sudah dua minggu kami tak bertemu.

“I miss you too… tapi… Satria…”

“Apa?”

“Yang kurasakan ke kamu lebih dari itu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan?”

Satria terdiam sejenak, dia menatapku,”Perasaan cinta maksudmu?”

Aku mengangguk.

“Iya, Dania… I love you... Kamu juga kan?...”

Aku mengangguk lagi, “I love you too,”

“… tapi kita beda, Sayang… karena itu aku meragukan tentang cinta kita…” ucap Satria melanjutkan kalimatnya.

“Tapi sampai kapan kita begini?”

“Kamu ingin kita benar – benar saling memiliki?”

Kami duduk di sebuah sitting ground di taman kota. Angin malam terasa dingin menyergap tubuhku ketika dia menanyakan pertanyaan itu. Aku merasakan ada keraguan di pertanyaannya, dan aku mengerti akan hal itu.

“Aku tahu kok, aku ngerti kalau itu nggak mungkin…”

“Keyakinan kita berbeda… Orang tuamu bahkan para pemuka agama, dan aku…”

“Iya, Sat, aku ngerti.” ucapku cepat – cepat, aku tidak ingin mendengar kenyataan itu dijelaskannya. Kenyataan bahwa sampai kapanpun hubungan kami nggak akan bisa bersatu. Walaupun ingin sekali aku bisa bersamanya tanpa harus diam – diam bersembunyi dari keluarga kami, aku sadar, bahwa cepat atau lambat pasti akan ada yang lelah dengan hubungan semacam ini.

“Kalau saja kita bertemu saat kita masih remaja, mungkin kita masih bisa meresmikan hubungan kita, kita masih bisa bersama lebih lama. Tapi kita udah sama – sama dewasa, Dan… Kita sudah harus memikirkan masa depan… Cinta nggak harus selalu bersatu, Dan… Kita masih bisa tetap saling menyayangi kok.” Ucapnya lalu menggenggam tanganku. Aku hanya bisa terdiam. Dalam hati aku menyesalkan adanya perbedaan diantara kami, mengapa di saat aku merasa sudah menemukan seseorang, harus terpisah oleh tembok tinggi yang takkan rubuh itu. Aku nggak bisa terus begini, sekarang atau nanti pun ujung – ujungnya pasti aku akan terluka.

“Sat, aku ingin kamu janji satu hal padaku.”

“Anything, dear.”

“Kalau nanti… kamu sudah menemukan seseorang… yang sejalan denganmu…” kurasakan mataku berkaca – kaca, “… aku ingin kamu bilang padaku. Jadi aku bisa mulai mencoba melupakanmu… Jangan tiba – tiba pergi ya… “ setetes air mata pun mengalir, lolos dari penguasaanku.

Satria terdiam sejenak sebelum berkata,”Iya,”

*-*-*-*

Hubungan indah ini pun terus berjalan, namun aku terus khawatir apakah aku bisa menghadapi kenyataan nantinya jika dia sudah menemukan cewek lain. Sudah hampir sebulan intensitas komunikasi dan pertemuan kami berkurang. Sampai suatu hari, ketika dia bilang akan datang ke rumahku, entah kenapa aku merasa bahwa saat itu akan menjadi saat terakhir aku bertemu dengannya.

“Dan, sudah ada seseorang… yang sejalan denganku…” ucapnya membenarkan firasatku.

Aku tak tahan lagi, air mataku pun deras mengalir.
“… hari ini aku milikmu, Dan… hari ini hari kita…” lanjutnya.

“Maksudmu… hari ini hari terakhir kita bersama kan?... “ aku menggeleng – geleng, hari ini akhirnya tiba juga. Hari dimana aku harus rela mengakhiri hubungan kami.

“Maafkan aku…”

Aku tidak ingin hari ini cepat berakhir. Aku ingin waktu terhenti. Aku tidak tahu bagaimana aku menjalani hari – hariku setelah hari ini. Dia sudah banyak memberi pengaruh pada kehidupanku, menjadi semangat untukku, memberikanku hal – hal indah yang belum pernah kurasakan sebelumnya, menjadi hal yang paling berkesan buatku. Aku akan selalu menyimpan dia di hatiku, sampai kapanpun…

“Sendiri resapi, heningnya malam ini… Tanpamu disini, hatiku sunyi… Berharap engkau kembali… Mengisi hari bersama lagi… Segala perbedaan itu, membuatmu jauh dariku…” (a song by Ari Lasso)

TRUE LOVE STORIES NEVER HAVE ENDINGS

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer radysha
radysha at Yang Terindah (10 years 47 weeks ago)
80

Cerita ini .. ihiks ...

Q, ini mah bukan oneshot story ya ... coba baca ceritaku yang "Karena Dia Jawa dan Aku Tionghoa" ...

Hehehe ... tpi overall bagus kok ...

Semangat :d

Writer edeluwis
edeluwis at Yang Terindah (10 years 48 weeks ago)
80

kata orng cinta itu penuh pengorbanan
mungkin salh satuny ini mungkin tembok penghalang yng paling utama adalh perbedaan keyakinan ,pas bangt!

Writer chuitraa
chuitraa at Yang Terindah (10 years 48 weeks ago)
100

mba' crita ini kok malah ngingetin aQ ma seseorang yg pernah singgah di hati Q

persis bgt hikz hikz

keep writing yaa...