Chapter 3. Save Corazon City
Ketika semua persiapan sudah matang- baik senjata dan pasukan yang berjumlah lima ratus orang- mereka segera menemui Jenderal Morgan, yang kemudian memperkenalkan mereka pada Lord Jean Claude Ruffian. Ketika upacara perkenalan sudah berakhir, Noerze menunjukkan silsilah keluarganya, bahwa ia merupakan keturunan Prince Aslan yang merupakan kaisar terakhir penguasa kerajaan Nifleheim lama, dan Lord Claude merasa senang akan hal itu.
Read more (1086 words)
Keesokan harinya datanglah utusan dari Corazon City, yang terletak di sebelah barat daya Kranenburg Fortress. Ia mengabarkan bahwa keadaan di sana sangatlah gawat, para pemberontak Golden Chimera berjumlah lima legion utama dibawah komando Mirza sang Jenderal Langit menyerang dan menduduki kota. Lord ruffian pun merasa geram karena Corazon merupakan kota tempat supply dan transit bahan makanan yang nantinya akan di kirim ke Istana. Kemudian ia perintahkan Noerze dan dua saudaranya untuk menyerang dan merebut kembali Corazon City. Merekapun merasa senang mendapatkan tugas itu. Lord Claude menambah persenjataan dan pasukan mereka sehingga berjumlah seribu orang. Dengan semangat Noerze dan pasukannya bergerak menuju ke Corazon City, dimana mereka akan segera melaksanakan tugas pertamanya.
Perjalanan menuju Corazon membutuhkan waktu kurang lebih empat hari. Begitu mereka sampai di Corazon City, Noerze kaget karena melihat musuh sudah siap dan terlihat berjaga-jaga dengan ketat. Melihat hal itu Noerze segera memerintahkan anak buahnya untuk membuat perkemahan yang berjarak 300 meter dari gerbang kota. Ia sengaja berbuat begitu, agar para pasukannya bisa istirahat melepas lelah sehabis perjalanan yang sangat jauh.
Noerze dan kedua saudaranya tidak berani langsung menyerang Corazon City, sebab mereka terkenal akan sikapnya yan selalu berhati-hati. Ditambah pula mereka ingin mencari tahu keadaan musuh di dalam kota. Dengan demikian bisa dipastikan serangannya tak akan gagal.
Saat itu Jenderal Mirza sedang sibuk meminum wine favoritnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh laporan seorang anak buahnya.
”Jenderal, Gawat jenderal! Pasukan Kerajaan Nifleheim sudah tiba, dan mereka sekarang berkemah 300 meter dari gerbang kota.”
”Hah...Secepat itu mereka!” Mirza bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia menaiki unicornnya menuju ke gerbang kota. Sesampainya di gerbang kota ia tertawa keras.
”Huahahaha! Ini sebuah lelucon, pasukan Nifleheim hanya berjumlah seribu, mereka tak akan mungkin menembus pertahanan kita,” Mirza berkata dengan pongah. Kemudian ia memerintahkan salah seorang jenderal keercayaannya, Billy Goat untuk menyiapkan penyerangan keesokan harinya.
Esok harinya....
Jenderal Mirza memerintahkan semua legiun pasukannya agar segera membuka gerbang kota dan maju menyerang musuh.
Mendengar pihak musuh sudah mengerahkan bala tentaranya keluar dari gerbang kota Corazon, Noerze segera mengatur pasukannya.
Tak lama kemudian pasukan Mirza sudah sampai. Noerze dan dua saudaranya pun keluar dari dalam barisannya untuk menghadapi mereka.
Sesudah keduanya saling berhadapan, Mirza segera menunjuk kearah Noerze, selaku pemimpin pasukan dengan suara nyaring, ”Hai pasukan Nifleheim, kalian pikir dengan seribu pasukan bisa mengalahkan kami pasukan unggulan Lord Bastion, pemimpin Golden Chimera. Sepertinya kali ini kau mencari ajalmu sendiri.
”Bagi kami jumlah yang sedikit tidaklah menjadi masalah, ketahuilah apa yang kalian lakukan hanya menyengsarakan rakyat! Aku sarankan padamu dan pimpinanmu agar segera menakluk!” Kata Noerze menyambut tantangan Mirza.
Mendengar ucapan Noerze yang demikian menghina, marahlah Mirza. Dengan tidak menyahut lagi, ia segera mengangkat Great Lance, senjata andalannya dan menerjang dengan garang.
Melihat serangan yang begitu tiba-tiba, Franck segera menyambut serangan itu dengan halberd-nya. Tak terasa tiga puluh serangan telah berlalu. Mereka bertempur mati-matian, tapi selama itu belum tampak salah seorang dari mereka akan kalah. Tiba-tiba Franck segera membalikkan Unicornnya dan menarik mundur anak buahnya. Seolah-olah ia sudah tak sanggup lagi menghadapi Mirza yang gagah itu.
Jenderal Mirza bukanlah prajurit kemarin sore yang bisa ditipu dengan trik murahan begitu saja. Ia sudah menyangka bahwa musuh hanya melakukan tipu daya untuk menjebaknya.
Ketika itu Billy Goat berada di dekat Jenderal Mirza. Melihat lawannya kabur, Billy segera memerintahkan pasukannya untuk memburu Franck bersama pasukannya yang kabur itu. Dengan sangat bernafsu dia segera memerintahkan tentaranya maju untuk memburu musuhnya yang kabur.
Melihat Billy hendak mengejar musuh yang sengaja kabur tersebut, Jenderal Mirza segera menghalangi niat anak buahnya itu.
”Tahan, Billy! Aku yakin mereka sebenarnya tidak kalah, mereka hanya berpura-pura. Lebih baik jangan diburu, ini sangat berbahaya. Aku khawatir kita tertipu muslihat mereka.”
”Tapi Jenderal, jika kali ini kita tidak memburu dan menangkapnya, mereka akan menjadi ganjalan berat bagi kita untuk menaklukkan Nifleheim.
Billy memang dikenal sebagai seorang komandan pasukan yang sangat angkuh dan sombong. Dia tidak mau mendengar nasihat dari Jenderal Mirza. Dengan sangat bernafsu dia segera memrintahkan pasukannya untuk memburu Franck bersama pasukannya yang kabur.
Ketika Billy dan pasukannya baru berjalan belum berapa jauh. Tiba-tiba muncullah sepasukan Arbalests yang menghujani mereka dengan anak panah. Pasukannya kocar-kacir bahkan ia sendiri terluka. Franck tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan secepat kilat ia merangsek ke arah Billy dan menghujamkan Halberd ke arah dada lawannya itu. Seketika itu pula Billy meregang nyawa.
Melihat anak buahnya tewas, Jenderal Mirza naik pitam ia segera memacu Unicornnya untuk menyerang Franck yang sedang tidak terjaga.
Melihat kesempatan itu Noerze dan Zuffrey segera mengerahkan bala tentara mereka untuk menyerbu dan bertarung hebat melawan pasukan Jenderal Mirza. Dalam pertempuran mati-matian itu, karena pihak Mirza tidak menyangka akan diserang secar mendadak dari dua arah. Jenderal Mirza pun jadi kelabakan. Tentaranya diobrak-abrik oleh pasukan Noerze dengan mudah. Pasukan Mirza cerai berai dan berantakan.
Melihat kesempatan ini Zuffrey segera menantang Duel Jenderal Mirza, ”Hai Jenderal pemberontak, Akulah lawanmu!”
“Ha…Ha…Ha! Inilah saat yang kutunggu-tunggu, bersiaplah menghadap Iblis di Neraka!” Jenderal Mirza pun segera menghampiri Zufrey untuk berduel dengannya. Duelpun tak terhindarkan, keduanya sama-sama kuat bahkan Zufrey agak kewalahan.
Melihat saudaranya terdesak oleh serangan lawan, Franck segera menantang Sang jenderal.
”Hai Komandan Pemberontak, saatnya kau hadapi aku, Franck van der Ooze the Dragoon!” Franck berteriak sambil melakukan gerakan Jump andalan para Dragoon dari unicornnya. Ia melompat tinggi dan berputar seperti sebuah bor yang siap menembus bumi.
”Spinning Halberd!” Franck meneriakkan nama jurus andalannya, yang siap mengarah kearah Jenderal Mirza. Tanpa sempat menghindar sang Jenderal terkena serangan tersebut, dan terlempar dari Unicornnya. Ia terluka parah.
Kemudian Jenderal Mirza pun segera berdiri sambil menahan luka di sekujur tubuhnya akibat serangan Franck tadi. Tanpa ia sadari darah mengalir dari dadanya. Tanpa ia sadari ternyata dengan sigap Zufrey telah berhasil menusukkan ujung tajam musketnya ke arah sang Jenderal.
Jenderal Mirza pun tertawa, ”Ha…Ha…Ha! Deus Aku siap bertemu denganmu di Valhalla.”
Sang Jenderal pemberontak pun menghembuskan nafas terakhirnya. Melihat pimpinannya telah gugur para pasukan menjadi kalang kabut, bingung tak tentu arah. Melihat kondisi itu Noerze segera memerintahkan semua pasukan untuk mengepung musuh. Pasukan pemberontak yang sudah terpojok dan jatuh Moral bertempurnya hanya bisa pasrah.
”Wahai para pasukan pemberontak...menyerahlah dan bergabunglah dengan pasukan ini maka kalian kami ampuni!” Noerze berteriak memaksa para pemberontak untuk menyerah.
Mendengar nyawa mereka akan diampuni, para pemberontak tadi segera menyerah dan bersumpah setia menggabungkan diri dengan pasukan Noerze. Noerze dan kedua saudara angkatnya berhasil melaksanakan tugas pertama, yaitu merebut kembali Corazon City. Namun itu baru sebuah awal, takdir yang lebih besar menanti mereka.
thanks atas komennya...billy goat emang tak sengaja krn kambing biasa kan punya watak sok. n golden chimera emang terinspirasi dari sejarah invasi mongol golden horde kalo ga salah pimpinannya timurlenk. menakluk tu maksudnya menyerahkan diri tanpa perlawanan yah pakai bahasanya pak nio joe lan.
Golden Chimera -> Jadi ingat dengan Golden Horde yang ada di sejarahnya Rusia. Mereka adalah sempalan Mongolia yang menjadi tuan di awal-awal Rusia terbentuk.
Supply-> suplai
Wine->anggur
Goat-> kambing...Billy Goat...Ini sengaja ya? :)
Boleh juga soal 300 meter. Kalau kamu ketik 200 meter sudah pasti kupanah pakai longbownya Inggris hehehe, SAVE.
Menakluk? takluk maksudmu?
okeeeeee....baguss