Berikanlah pipi kananmu, selanjutnya………Ehem.

Dua anak, Arid an Dira sedang berdebat mengenai apa yang telah diajari guru mereka dalam perjalanan pulang mereka dari sekolah.

“Hei tadi itu kan ibu buru bilang ‘jika pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu’. Kamu setuju nggak dengan apa yang dikatakan ibu guru itu?” Kata Arid mengawali percakapan.

“Aku sih setuju, setuju saja. Bukankah itu tandanya kita ini baik hati?”

“Ow…. Gitu ya.”

“Ya iya. Emang kenapa kamu nanyain hal tu? Apa kamu nggak setuju sama ibu guru?”

“Ah, nggak. Aku juga setuju kok.”

Melihat ekspresi wajah Arid ketika mengatakan hal itu Dira nggak percaya kalau Arid setuju dengan apa yang dikatakan ibu guru. Karena mereka berdua sudah saling mengenal sejak kecil mereka sudah saling mengenal karakteristik masing – masing, dan yang Dira tahu, Arid itu anaknya suka berkelahi dan memperbesar masalah. Pokoknya dia itu biang keributan.

“Napa kamu ngeliatin sampai kayak gitu?” Tanya Arid merasakan tatapan curiga Dira.

“Ah, nggak papa. Kamu ganteng juga ya kalau dilihat – lihat dengan seksama.” Kata Dira mengalihkan percakapan.

“Eh??? Jangan ngomong yang aneh – aneh ya. Kalau pujian itu dari cewek aku senang mendengarnya, tap kalau dari kamu nggak banget. Jangan bikin aku lari ketakutan ya!!! Kamu masih normal kan?”

“Sialan, dipuji kok malah balik ngeledek gitu, yo udah mukamu itu yang terjelek diantara kaum kita”

“Nggak papa, itu tandanya kamu normal.”

“Normal apaan!!?? Asem kamu, sini pala’mu aku ketok biar normal.”

Arid berlari dan mereka berduapun tertawa bersama – sama.

Tak lama setelah itu muncul seorang anak seumuran mereka yang menghalangi jalan mereka. Raid namanya.

“Hei!!! Kalian berdua kalau mau lewati jalan ini harus bayar dulu!!!” Bentak Raid.

“Bayar apaan? Mangnya ni jalan kamu yang buat?” Timpal Arid.

“Iya, enak saja kamu maintain kami uang. Minta saja sama bapakmu sana.” Sahut Dira.

“Sudah aku minta tau’, tapi kata bapakku dia nggak punya uang.” Balas Raid.

“Yah, kalo kayak gitu urusanmu ndiri. Kenapa malah minta uang sama kami.” Kata Dira.

“Aku nggak mau tahu, pokoknya kalian musti bayar!!!” Bentak Raid lagi, kali ini sambil berjalan mendekati Arid.

“Sudah kubilang berulang kali kan, aku nggak” (PLAK!!!)
Perkataan Arid terhenti dengn tamparan keras Raid di pipi kirinya. Arid kelihatan marah sekali diperlakukan seperti itu.

“Sudah Rid, jangan kamu tanggapi. Ingat nggak sama apa yang tadi kamu dengar dari ibu guru? Sudah biarin saja, nggak usah dibalas.” Dira berusaha menenangkan Arid yang mulai memanas.

Arid seperti tidak mempedulikan apa yang dikatakan Dira. Dia melangkah maju ke Raid. Dan tanpa diduga Arid menawarkan pipi kanannya ke Raid.
Dira nampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat, apakah ini yang namanya mukjizat kebesaran Tuhan yang mengubah perilaku seseorang? Pikirnya dalam hati.

Raid yang melihat hal itu malah merasa ditantang dan dianggap remeh, dia merasa anak ini meremehkan kekuatan tamparannya sehingga mau memberikan pipinya yang satu lagi untuk ditampar.

“Sialan nih anak!!!” (PLAK)
Kembali tamparan keras mendarat di pipi kanan Arid.

“Kamu hebat Rid kamu sudah bisa mengontrol emosi diri.” Puji Dira.
“Aku bang”
(BUAK!!!!!) belum sempat Dira meneruskan pujiannya dilihatnya Raid terkapar pingsan karena satu pukulan telah di dagunya yang ternyata dilakukan Arid.

“Kenapa kamu pukul Rid?” Tanya Dira bingung.

“Memangnya kenapa?” Arid malah balik bertanya.

“Aku kira kamu sudah berubah dengan memberikan pipi kananmu untuk ditampar, tapi kok?”

“Aku kan sudah melakukan seperti yang dikatakan ibu guru. Aku sudah membiarkannya menampar kedua pipiku.”

“Kenapa kamu balas?”

“Aku nggak mendengar ada perintah nggak boleh membalas dari apa yang dikatakan ibu guru. Jadi ya kuberi saja satu pukulan, satu saja sudah untung baginya.”

“Ah, kamu ini. Paling bisa kalau yang namanya mencari – cari alasan.”

“Sudahlah. Sekarang lebih baik kita kabur sebelum dia bangun dan memanggil teman – temannya yang lain. Tapi sebelum itu mari kita pindahkan dia ke tempat yang rindang di sebelah sana itu.”
“Iya.“

Kedua anak itupun kembai melanjutkan perjalanan pulang mereka meninggalkan Raid yang pingsan di bawah pohon.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

keputusan yg bagus. ikuti kata bu guru trus ikuti kata hati. anak pinteeer...

lucu y

70

hje he..
lucu

80

kata bu guru "Anak baik udah melaksanakanapa yang dikatakan ibu..."

Kata mamanya "Dasar anak nakal cari masalah aja..!!!!!"

hehehe

makasih untuk semua komentarnya.
jadi senang karena ada yang mau memberi komentar.
terlebih lagi jiwaku terbakar!!!! akan ku tulis karya yang buanyak lagi.
khu...khu...khu...khu...

kata buguru "Anak baik..mendengarkan omongan guru...."

kata mama "Dasar anak nakal kerjanya cari masalah aja!!!!"

hehehehe

70

wakakakakakakakaka ada ada aja, aja-aja ada... :D
menghibur......

60

ahak...hak...hak...

ada-ada aja

70

Mana penyimpangannya? kurang... hehehe. Gara-gara 'Ehem' aku nyariin itu. Wah, aku jadi korban 'tag'tik Yashimori nih...