“ Setting ¬-nya, tentu saja diambil pada masa dua puluh tahun kemudian.. It’s a special birthday present for my older sister.. Happy Birthday, sist.. Get marry soon, yaah.. ”
Sebuah kondominium kecil yang tidak mewah dibangun di sana, di tempat pertemuannya dengan suaminya dulu. Dua puluh tahun silam. Dulu tempat itu adalah sebuah warnet, tempat suaminya mendapatkan shift jaga malam.
Read more (995 words)
Mobil dan motor lalu lalang di sekitarnya, betapa jalanan kota sudah menjadi begitu runyam selama sekian tahun berlalu. Dia dan suaminya berdiri di ruang tamu di lantai dua, sementara anak-anak mereka sedang mengerjakan tugas sekolah di ruangan yang sama, semua pemandangan dapat mereka lihat dari dalam sana, hanya dibatasi kaca.
Dulu suaminya bersikeras untuk membeli lahan luas di depan tempat kerjanya itu, dan kini mereka sudah tinggal di sana, rumah seluas enam acre yang cukup nyaman ditempati, dengan dua buah hati mereka.
“Mau ke mana nanti malam, Ma?” tanya suaminya padanya, dia hanya tersenyum.
“Kita makan-makan aja, Ma..” ujar anak-anaknya, “aku kangen sama makanan di luar. Sudah lama nggak makan-makan keluar..”
“Memang Bapak nggak ada acara?” tanyanya pada suaminya. Setahunya baru kemarin malam, suaminya menggambar beberapa sketsa model perhiasan untuk dibuat dan dijual oleh anak buah perusahaannya di Gianyar, “sekalian saja kita antar sketsa Bapak kemarin ke perusahaan? Kita ke Gianyar saja?”
“Hari ini Bapak free , Ma. Kita makan-makan saja, ya?” lanjut suaminya.
“Mama, kan, bisa masak sendiri di rumah, Pak.” Jawabnya cepat. Dilihatnya suaminya mengerutkan dahi.
“Hari ini, kan, hari spesial, Ma. Ulang tahun Mama..” keluh suaminya.
“Iya, Ma.. jarang, kan, Bapak bareng kita? Biasanya sibuk kerja sama novel-novelnya, atau malah sketsa perhiasannya..” ujar putri sulungnya.
“Mau makan di mana, Pak?” tanyanya kemudian.
“Di genteng biru ya, Ma.” Ujar suaminya.
“Genteng biru? Memang masih ada?” tanyanya.
Dia tersenyum, “Masih, hanya untuk Mama.”
Dahi Arcani berkerut, rahasia apa lagi yang disembunyikan suaminya itu?
--
Malam itu mereka berempat keluar untuk makan malam. Tidak ada tart, karena dia tidak menyukai keberadaan benda satu itu di hari ulang tahunnya, terkesan kekanak-kanakan, begitu dia biasa berkomentar.
“Memang genteng biru masih buka, Pak? Bukannya sudah nggak ada sejak lima belas tahun yang lalu?” tanyanya pada suaminya yang sedang menyetir, suaminya hanya membalasnya dengan seulas senyum.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah tempat, ada beberapa rangkaian bunga berisi ucapan selamat atas dibukanya sebuah restoran baru, Resto Genteng Biru . Mata Arcani terpaku pada senyum suaminya juga senyum beberapa orang yang menyambut mereka di restoran itu. Pita merah untuk masuk ke dalam restoran belum dipotong, sementara itu salah seorang yang berdiri di depan restoran itu menyerahkan sebuah gunting kepadanya. Arcani heran, hal istimewa apa yang sedang berlangsung?
“Resto Genteng Biru ini milik suami Ibu.” Ujar orang itu. Dia menatap suaminya yang membalasnya dengan senyuman.
“Bapak?” sementara pertanyaannya tidak bisa dia selesaikan, dia akhirnya memotong pita merah itu. Beberapa orang bertepuk tangan, tapi hanya mereka berempat yang masuk ke dalam restoran baru itu.
Di dalamnya sudah disediakan sebuah meja khusus dengan lampu sorot senada dengan warna kerlap-kerlip peri biru dalam dongeng. Sebuah lilin juga menyala dengan damai. Mereka berempat duduk berhadap-hadapan. Beberapa saat kemudian makanan dibawakan oleh beberapa pelayan. Restoran mulai bekerja.
“Bapak membuat restoran ini? Dari mana Bapak dapat uang?” tanyanya pada suaminya.
“Seharusnya yang Mama tanya, dari mana aku dapat ide, Ma..” jawab suaminya.
“Iya, dari mana Bapak dapat ide?” tanyanya.
“Ulang tahun pertama yang Mama rayakan bersama Bapak. Di Genteng Biru. Mama ingat?” tanya suaminya.
Dia tersenyum, tentu saja dia ingat.
“Dan satu lagi, ini hadiah Bapak untuk Mama.” Ujar suaminya seraya menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya.
“Apa ini, Pak?” tanyanya bingung.
“Buka saja, Ma.” Jawab suaminya itu.
Sementara anak-anaknya sedang menikmati makanan, suaminya membantunya mengenakan kalung pemberian suaminya. Kalung yang didesain sendiri oleh suaminya.
“Ini spesial, Ma. Tiap detil dari kalung ini bermakna sebuah cinta sejati. Bapak harap kita bisa langgeng untuk selamanya.” Ujar suaminya lirih di telinganya.
“Selamat ulang tahun ke-43, Ma. Dan selamat karena Mama masih tetap muda di mata Bapak..” lanjut suaminya dan kemudian mencium keningnya.
Telinganya menjadi tidak peka, pipinya memanas, sementara tak disadarinya sebuah lagu menghiasi indahnya malam itu.
There is no one else I’d rather see than you Than you There is no where else I’d rather be than here Me too
What’s your favourite season?
Spring
What’s your favourite color?
Blue
If I have a secret
You know that I can keep it
We’re royal through and through
We’re best friends
Best friends
Makes me feel so good I gotta say it again
Best friends
We’re best friends
With who the party never ends
When I bake a cake and there’s just one piece left
To share
And when my sleepover party needs a guest
I’m there
What’s your favourite candy?
Fudge
What’s your favourite ice cream?
Mint
Everyday’s a good day
A feeling-like-it should day
I guess you get the hint
We’re best friends
Best friends
Makes me feel so good I wanna say it again
Best friends
We’re best friends
We’ll be here together
Having fun forever
With who the party never ends
Best friends
Dan lalu sebuah lagu kenangan terlantun,
I remember your mouth, what it said, how it kissed me, And how it was burdened, not like anyone else And I remember your feet, I saw them dance to the new beat And When I asked you to, they walked a mile in my shoes.
We were best friends,
more than best friends
That's too little again...
I remember your hands,
I heard them clap for my encore
Felt them pull me back,
As I tried to break loose
And I remember your eyes,
How they saw right through me
And how that made me feel..
so sick and bored with myself.
We were best friends,
more than best friends
That's too little again
We were best friends,
more than best friends
thats too little again,
Now I know that I loved her
and I wish I had told her
But I was too slow it was already over
yeah I was too slow it was already over.
ooooh
Let's do it all again
Dan suaminya mengecup bibirnya, “ We were best friend. ” Begitu ucapnya.
Ah demi Tuhan, sudah setahun lebih.
:)
ada beberapa perkataan zu nga ngerti, tapi sip lah. masih bisa menikmat aja nih... :p
hwah.. keren banget....
ihh si potta pelit nilai :D
hrsnya 0
kok nama saya ikud nongol tuh, jangan bilang mau diplagiatin juga :P
rebeh rebehh... :))
ih plagiat aja bisa dapet 10.. ckckck..
tobat toh, mas-mas..
plagiat tow.... nice lah
:)) http://dewikharismamichellia.blogspot.com/2008/08/cerpen-sebuah-pesta-du... Komentnya ntar aja ya mas. Dah pagi buta banget inih :D
Mata dibalas mata
Plagiat dibalas plagiat
hehehehe
hehehehe
loh siapa bilang saya plagiat?
itu... anjing peliharaan saya yang mlagiat :D *aduh mana sih tu gukguk..
wuahh..
karya siapa, sih, ini?
romantissss sekaliiiii... :X
(hahahaha, narsis sedikit tiada salahnya, kan? :D)
cerpen plagiat ter-romantis yang pernah saya baca! :D
terima kasih telah menjiplak semuanya (ihh, gayanya, saya yang ngusul, yah? :D)
hahaha..
*kabuuuur