05. Sayap Bintang William Hakim

Robby ketahuan merokok.

Itu terjadi sore hari setelah mereka berkumpul di lapangan itu, hari kami berbagi coklat untuk merayakan Will. Robby mengakui ketidakhati-hatiannya waktu itu—disana ada banyak orang, anak-anak yang tidak biasanya berkumpul dengan mereka. Tidak semua anak sekolahan bisa selalu punya rokok dengan uang saku mereka sendiri, tapi Robby bisa. Dan dia selalu berbagi. Itulah yang terakhir kali kulihat sebelum pulang hari itu.

Salah satu dari anak yang berkumpul sore itu ketahuan oleh Pak Juandi. Lalu Robby dipanggil. Pak Juandi sudah bicara dengan beberapa anak sebelumnya.

Dia ditanya berbagai hal. Seperti, sudah berapa kali ini terjadi. Siapa saja yang kamu libatkan (padahal, Robby berbagi, bukan melibatkan). Berapa uang sakumu. Robby enggan menjawab pertanyaan terakhir ini. Pak Juandi mengulanginya. Robby tetap tidak mau menjawab. Lalu, Pak Juandi marah dan keluar dengan kalimat ini, “Memangnya orangtuamu kerja dimana? Ibumu melacur dimana?”

Robby tidak berpikir dua kali untuk melayangkan tinjunya ke wajah Pak Juandi setelah mendengar kalimat ini.

Dalam sekejap, interogasi itu berubah jadi penganiayaan fisik.

Sekarang dia duduk di antara kami, dengan barut-barut dan memar-memar itu.

“Itu udah kelewatan. Lo bisa laporin dia, John,” kata Alfan.

“Lapor kemana?” kata Robby, malas.

“Polisi lah. Lo bisa pake pengacara.”

Robby menggeleng. “Bayar pake apa? Gue nggak mau bawa-bawa orangtua. Jangan sampe mereka tau. Apalagi nyokap.”

Lalu kami diam. Semua berpikir. Hanya terdengar suara air es yang kuperas dari kain, dan es batu yang kukumpulkan di dalamnya.

“Sialan Juandi,” kata Wahyu.

“Sebenarnya...,” kataku, menggenggam es batu dalam kain itu dengan kedua tanganku, lalu menempelkannya ke memar di wajah Robby. Ada yang tidak matching dalam semua detail ini. Entahlah, aku pun tak yakin. Aku tidak menyaksikan semuanya, dan masih ingin berpikir yang baik-baik tentang teman-temanku.

“Sebenarnya apa?” tanya Alfan.

Aku tak ingin mengatakannya. Aku masih merasakan emosi yang tersisa sejak dari garasi Wahyu tadi. Pada orang ini, dan yang satunya lagi. Will.

Will bicara. Katanya, “Apa, La?”

Is it just some cigarette?!” kataku. Dapat kudengar volume suaraku sendiri. Tinggi dan tidak biasa.

Kutatap Will dan Alfan. Aku tahu cerita-cerita tentang peredaran psikotropika di antara anak-anak sekolah, dan aku tidak bodoh. Pak Juandi itu Wakil Kepala Sekolah. Dia mungkin sialan, tapi dia pasti punya perhitungan. Tidak akan sampai seperti itu kalau itu cuma rokok.

“Sebenarnya, apa ini cuma soal rokok?” ulangku. Kali ini lebih pelan, dan kuperhatikan raut muka setiap orang disana. Wahyu duduk di meja belajar Robby, Alfan di kursinya. Laut di sisi lain tempat tidur. Will bersandar di dinding.

“Ya. Cuma soal rokok,” kata Wahyu, membalas tatapanku yakin.

Berarti bukan itu yang membuatnya tidak matching, pikirku. Aku mulai memikirkan kemungkinan lain, sampai Robby menjawab, “Bukan. Bukan cuma rokok.”

Kutumpahkan semua es batu kembali ke dalam mangkuk.

“Rokok itu isinya bukan tembakau biasa. Dicampur.”

“Marijuana?” kataku.

Robby menjawab pelan, “Ya.”

“Kalian, semuanya, pada hari itu, setelah aku pulang, semuanya, menghisap rokok ini?” Kembali kutatap wajah-wajah itu satu per satu.

Laut mengangguk.

Alfan mengaku, “Pada hari itu, ya.”

Wahyu mengiyakan.

Besar harapanku Will akan mengeluarkan jawaban yang berbeda. Aku tak tahu betapa itu terlihat saat aku menatapnya—tapi Will mengangguk, menjawab pelan, “Ya.”

Kurasakan separuh diriku hancur.

“Memang iya, semuanya, pada hari itu, La,” ujar Wahyu, “tapi apa itu penting sekarang?”

Robby menggenggam tanganku yang kini sedingin es dalam mangkuk itu. “Maaf, ya.”

Luka di sudut bibirnya sudah mulai menutup, lekas sembuhnya kalau dia tidak banyak bicara. Mata kirinya hanya mampu membuka separuh, tapi ia menatapku. Rasanya seperti teriris. Aku teringat Leyla di bawah, gambar dan krayon-krayonnya. Aku ingin menangis—tapi tidak mau mereka melihatku menangis.

Aku mengambil handuk kering. “Nggak. Nggak penting,” kataku lirih.

Laut mengulurkan padaku kapas dan obat merah. Kukeringkan luka-luka Robby. Dalam beberapa detik itu kami kembali diam. Aku mulai mengerti, kami begitu berbeda. Memang tidak mudah untuk berada dalam satu ide dengan kumpulan ini. Karena itu aku sering dikeluarkan.

Will lalu memecah keheningan itu, “Juandi bakal dapat hadiah yang setimpal.”

Itu sebuah rencana. Aku mendengar beberapa gumam persetujuan.

Aku tidak suka melanggar peraturan sekolah. Aku ingin teman-temanku pun begitu. Saat ini, aku dapat memilih untuk ikut atau tidak ikut rencana itu. Tapi tidak membatalkannya, meski tak ada gambaran dalam benakku seperti apa hadiah setimpal yang akan diterima Pak Juandi.

Tapi, rasanya, aku ingin dia mendapatkannya.

“Ya,” aku berkata, pelan. Kurasakan beberapa orang melihat ke arahku.

Will berkata lagi, “Gue janji, John.”

Terdengar lagi gumam persetujuan.

“Ya—“ kataku lagi, sambil membubuhkan obat merah pada luka Robby yang membangkitkan kemarahanku, “—hadiah yang setimpal.”

“Aah...!” dia tiba-tiba menjerit dan menjauhkan tubuhnya. “Pelan-pelan, La!”

“Sini,” Will maju menggantikan tempatku. Aku menyingkir sambil sibuk minta maaf. “Dia emosian.”

Mereka tersenyum dan tertawa geli. Aku berdiri di samping Alfan, kubiarkan dia melingkarkan lengannya di pinggangku. Ketika itu sempat kudapati sekilas tatapan Will. Will punya tatapan yang cerah, tapi kali ini berbeda.

Dan hanya sekilas. Tidak kumengerti apa maksudnya.

***

Di kamar Will ada dua tempat tidur. Salah satunya miliknya sendiri, dan yang satu lagi ditempati oleh kakaknya, Nicolas, yang saat ini tinggal di Massachusetts. Sekarang, Wahyu sering tidur disana dan sudah mengklaim tempat itu sebagai tempat tidurnya. Dia yang paling sering main game semalaman dengan Will. Aku jarang melihat orangtua Will di rumah ini. Keduanya bekerja di Bandung. Kata Will mereka memang jarang pulang.

Dinding kamar ini ditempeli berbagai rumus yang ditulis Will di kertas-kertas kecil, selalu baru setiap minggunya. Saat aku datang, Alfan sedang memperhatikan tulisan-tulisan itu. Laut mengutak-ngatik adaptor yang sedang dirakit Will di bawah meja belajarnya. Wahyu tiduran di tempat tidurnya, membaca MIT Technology Review yang sesekali didapat Will dari Nicolas lewat FedEx. Mereka masih pakai seragam sekolah. Aku masih pakai rok abu-abuku, tapi sudah mengganti seragam dengan sehelai t-shirt. Untuk itulah aku pulang ke rumah dulu. Aku tidak suka berkeliaran kemana-mana dengan label sekolah tertulis di lengan kanan.

Alfan membuka langsung membuka rapat. “Oke. Sekarang kita punya apa?”

“Kita punya Karla Amoy,” kata Wahyu sambil menepuk bahuku, diikuti derai tawa yang lain. Wahyu tersenyum sambil mengangkat-angkat alis saat aku mendeliknya. “Jarang-jarang dia mau ikut proyek beginian.”

Will masuk, membawakan secangkir kopi untuk masing-masing kami. Dia datang paling akhir, masih mengenakan seragam sekolah dengan kancing-kancing yang sudah dilepas. Will baru kembali dari lab, dia sangat sibuk belakangan ini untuk persiapan olimpiade itu. Praktikum setiap hari, tetap main bola, dan bersama kami dalam proyek ini—entah bagaimana membagi waktunya. Pepsi hampir tidak pernah terlihat lagi. Tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan itu. Will tidak pernah cerita—aku pun tak ingin tahu. Aku hanya tahu, dengan popularitasnya Will bisa mendapatkan gadis manapun di sekolah saat ini.

“Kemarin katanya Laut cari info soal keluarga Juandi,” kata Will.

“Ya,” kata Laut. “Anaknya dua. Yang satu cewek. Lidya, kelas tiga SMP 3, pemain voli. Yang cowok, Bagas, masih SD. Juara matematika. Istrinya, Hana, juga guru. Reputasinya bagus. Semua perfect.”

“Nggak mungkin,” kata Alfan. “Pasti ada celahnya. Everyone’s got something to hide, Man.”

“Misalnya hutang-hutang,” kata Wahyu.

“Ya tapi masa iya lo mau cari tau soal utang-piutang keluarga Juandi,” kataku.

“Barangkali kita bisa bayar orang buat nyelingkuhin istrinya,” kata Laut.

“Emang siapa yang mau?”

“Pincut,” kata Wahyu. Tertawa lagi (“Kalo istrinya cantik, why not,” kata Will—belakangan dia suka sekali bilang jargon why not ini).

“Ayolah,” Laut kembali, “pasti ada hal tentang dia yang bisa dipermalukan.”

Di tahun itu, reformasi belum terjadi. Demokrasi dan persamaan hak di Indonesia belum tumbuh seperti beberapa tahun setelahnya. Bila proyek ini gagal, tak akan pernah ada yang berpihak kepada kami. Aku tidak berpikir sejauh itu. Yang kutahu hanya merancangnya serapi mungkin agar berhasil.

Will menghirup kopinya. “Karla tau denah lengkap semua ruangan di koridor ekslusif?”

“Ya....”

Will meletakkan sehelai kertas kosong dan pensil di hadapanku.

Dalam setiap tugas tertulisnya, presentasinya di depan kelas, semua orang tahu kemampuan analisa Will. Tajam, komprehensif, sistematik, hampir tanpa cela. Aku tidak meragukan hipotesa yang ia punya. Bahkan untuk proyek ini. Tapi, ada sesuatu di antara semua itu yang membuatku merasa bahwa ia berbahaya.

Ia memiliki sesuatu, semacam senjata dalam dirinya, yang amat membahayakan.

“Coba gambar," ujarnya padaku, tenang.

Yang amat membahayakan. Yang lama setelah waktu itu, lama, baru aku sadari.

***

Read previous post:  
35
points
(877 words) posted by w1tch 5 years 46 weeks ago
70
Tags: Cerita | cinta | fisika | Novel | persahabatan | prodigy | USA Massachussetts
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer splinters
splinters at 05. Sayap Bintang William Hakim (5 years 38 weeks ago)
100

laylaaaa! aku sukaaaa banget bagian ini! perfect! ga sabar lanjut! anyway, I love the title CHAMPAGNE SUPERNOVA ;) hehehe.

Writer FrenZy
FrenZy at 05. Sayap Bintang William Hakim (5 years 40 weeks ago)
80

aku suka cerita remaja yang cerdas :)

Writer Super x
Super x at 05. Sayap Bintang William Hakim (5 years 44 weeks ago)
90

Asyik... sudah pra-konflik nih. Makin memanazzhh. :D Kalo yang chapter inih, no comment dah... Sudah ada bayangan karena dikasih petunjuk 'peta' ituh kekeke :D

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at 05. Sayap Bintang William Hakim (5 years 44 weeks ago)
90

Nyembah, deh.. Bagus nih gaya berceritanya. cuma ini settingnya di mana ya?

100

bagus komen juga skenario saya ya