The Knight: Bab 19. Konfirmasi Tugas Kelompok

Bab 19. Konfirmasi Tugas Kelompok

‘Aku takut,’ Kata Renna,’ Aku tidak bisa menghadapi hewan itu, Joe. Jangankan kita yang masih calon Trainee bahkan Knight Level A pun belum tentu dapat menghadapi hewan sebuas itu’

‘Apa maksudmu, Renna? Mutamander pastilah tidak sebuas itu. Mana mungkin Instuktur di KTC memberi tugas yang sampai membahayakan jiwa kita, iya, kan?’ Hibur Joe.

‘Belum tentu juga, sih karena kudengar ada rumor yang mengatakan pernah ada calon trainee yang tewas ketika melakukan tugas di ujian namun beritanya selalu dirahasiakan,’ Sahut Warren namun lagi – lagi ia harus meringis kesakitan karena kakinya ditendang oleh Wanda.

‘Yah, menurutku, tugas ini memang agak keterlaluan. Menyuruh kita pergi ke Australia dan berburu Mutamander sama seperti menyuruh anak umur lima tahun pergi ke Gurun Arab Saudi dan berburu singa di sana. Kita harus melakukan protes untuk tugas gila ini,’ sahut Wanda.

‘Oh, usul bagus, adikku. Protes sebuah penugasan dan menunjukkan betapa lemahnya kita. Setelah protes, apa kau berharap mereka akan memberi kita tugas baru yang lebih ringan? Kemungkinan besar kita akan ditendang keluar oleh si Gorran,’ Jawab Warren.

‘Hei, panggil dia, Pak Gorran atau kau akan beneran ditendang olehnya karena tidak sopan,’ Kata Joe memperingatkan,’ Baiklah, kalau begitu mari kita menghadap kepada Kepala Instuktur, ehm, siapa namanya tadi?’

‘Kepala Instruktur Hans Wijaya,’ Jawab Wanda cepat.

‘Okay, kalo begitu, ayo kita pergi ke kantornya. Ada bagusnya tadi kita disuruh menghadap kesana jadi sekarang kita tidak perlu susah – susah cari tahu di mana tempatnya,’ Kata Warren yang bergegas pergi. Dan yang lainnya pun segera mengikuti.

***

‘Wah, kita bertemu lagi, anak – anak,’ Kata Hans Wijaya, Kepala Instruktur KTC yang kebetulan baru saja keluar dari kantornya,’ Jangan katakan kalian disuruh menghadapku karena membuat keributan lagi.’

‘Bukan, pak,’ Kata Joe gugup,’ Kami hanya... ehm... hanya...’

‘Mau protes tugas tidak manusiawi yang diberikan KTC,’ Pak,’ Kata Wanda yang langsung namun terdengar agak ‘menusuk jantung’.

‘Bukan protes, pak. Kami tidak bermaksud begitu. Hanya konfirmasi,’ Timpal Warren yang entah kenapa bisa bersikap sopan dan ramah jika berada di hadapan orang yang lebih berkuasa.

Bapak Kepala Instruktur merenung sebentar dan mengangguk – anggukkan kepalanya,’ Jadi menurut kalian pergi ke Australia dan berburu Mutamander bukan suatu hal yang menyenangkan, kelompok pemenang?’ Nada pada kata kelompok pemenang agak ditekankan oleh Kepala Instruktur untuk mengingatkan bahwa mereka berhasil memenangkan ujian lari keliling KTC dan hal ini berakibat sangat positif bagi kepercayaan diri Warren. ‘Jika kalian bisa bekerja sama tentu tugas ini cukup mudah apalagi kalian tentu akan diperlengkapi dengan persenjataan yang sesuai.’

‘Baik, pak. Kami pasti akan kembali dengan membawa kepala si Mutamander itu bahkan jika perlu kami bawakan bayinya juga,’ sahut Warren dengan sikap percaya diri yang amat berlebihan.

Pak Kepala Instruktur hanya tertawa kecil. ‘Baiklah, kalau begitu tidak ada persoalan lagi, bukan? Bapak mau mencari sedikit makanan di kantin.’ Dan Pak Kepala Instruktur pun berlalu dari hadapan mereka.

‘Tuh kan, apa kubilang. Tugas ini mudah. Kita pasti akan diberi perlengkapan perang muktahir dan paling canggih,’ Sahut Warren gembira.

‘Emangnya kau tahu cara menggunakan senjata itu?’ Tanya Joe bingung mengingat kemampuan minimalis yang dimiliki dirinya berkaitan dengan teknologi.

‘Tenang, kita punya Wanda yang pernah membaca semua buku tentang teknologi jenis apapun. Iya, kan, dik?’ Tanya Warren. Namun orang yang ditanya tidak menyahut karena sedang sibuk berpikir. ‘Hei, apa yang kau pikirkan, dik?’
‘Heran. Bukankah Pak Kepala itu bisa teleport, mengapa dia harus repot – repot berjalan kaki untuk menuju kantin di lantai dasar?’ Tanya Wanda.

‘Mungkin karena dia capek teleport melulu atau tidak mau menarik perhatian yang lainnya. Emangnya kenapa?’ Balas Warren. Wanda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian sekilas melirik kepada Renna yang masih terus membisu walau telah mendapat penjelasan dari Kepala Instruktur.

Sementara itu di tempat yang berbeda. Kepala Instruktur yang tua itu berjalan menuju lorong gelap dan tidak menuju ke kantin. Dalam kegelapan, tubuhnya yang tua berubah bentuk menjadi pemuda tegap namun wajahnya kosong, tanpa mata, mulut ataupun hidung. Dalam sekejap kemudian, tubuhnya berubah lagi menjadi seorang wanita seksi berusia dua puluh tahunan dengan wajah yang sangat cantik. ‘Mau sampai kapan kau terus bersembunyi di sana, Shadowku yang tampan,’ Kata si wanita cantik itu, tertawa kecil.

Lalu dari kegelapan, muncullah The Shadow. ‘Apakah mereka tidak curiga, X-Face?’

Si wanita cantik telah lenyap dan berganti dengan pemuda berkulit hitam, menjawab,’ Mereka sama sekali tidak curiga. Mereka cukup pintar tetapi kau lebih licik, Shadow dan memang tidak ada yang sanggup menandingimu untuk hal yang satu itu.’ Pemuda hitam itu pun tertawa. Shadow tidak menjawab dan kembali menghilang dalam kegelapan lorong. Hanya tawa pemuda itu yang masih terdengar sebelum suasana kembali menjadi hening. Mencekam.

***

‘Wow, lihat ini, Plasma Canon, Thunder Bomb, Laser Gun,’ Seru Warren,’ Dan kita juga bisa memakai kendaraan lapis baja yang dilengkapi dengan Missile Launcher itu.’

‘Ehm, Warren, apa tidak apa – apa kita masuk sendiri ke dalam ruangan persenjataan KTC seperti ini?’ Tanya Joe yang merasa heran karena tidak ada satu penjaga atau bahkan satu tukang sapu pun di tempat yang seharusnya dijaga super ketat itu.

‘Kita kan diberi kunci dan disuruh memilih sendiri senjata maupun kendaraan yang akan digunakan sesuai keterangan di dalam amplop,’ Kata Warren,’ Jadi sepertinya tidak masalah.’

‘Tapi sepertinya misi kita ini agak mencurigakan,’ Kata Wanda.

‘Aku tidak mau ikut, teman – teman,’ Kata Renna gemetar setelah demikian alam terdiam.

‘Jangan takut, Renna. Kita akan membawa peralatan tempur yang banyak agar dapat menyelesaikan misi ini,’ sahut Joe berusaha menenangkan.

‘Bukan itu, Joe tapi... aku sungguh – sungguh tidak bisa... aku...,’ Kata Renna terpututs – putus dengan wajah pucat.

‘Sudahlah, Renna, aku jamin tidak akan terjadi apa – apa. Nah, dik, sekarang giliranmu untk memilih senjata mana saja yang perlu kita bawa,’ Kata Warren.

Maka sepanjang hari itu Kelompok Z yang dipimpin Joe mulai memilih dan mengangkut senjata ke dalam Multi – Trans, kendaraan terbaik yang dapat mereka temukan di sana. Kendaraan ini mirip seperti tank mini yang dibuat dari kerangka titanium padat dan dilapisi baja 5 lapis untuk bagian mesin dan tangki bahan bakarnya. Bahan bakarnya sendiri menggunakan energy cell (tenaga surya yang dikemas ke dalam tabung kecil dan dapat diisi ulang dengan tenaga matahari pada siang hari. Satu tabung energi dapat dipakai selama 3 hari untuk kendaraan jenis ini). Multi – Trans juga sangat efektif karena selain dapat digunakan di darat juga dapat menyelam ke dalam laut.

‘Baiklah, semua peralatan sudah selesai dimuat,’ Kata Budi,’ dan sekarang waktunya makan malam.’

‘Tidak ada waktu untuk itu, Bud. Kita hanya punya waktu seminggu. Jadi sebaiknya semuanya langsung naik ke dalam Multi – Trans dan kita segera berangkat. Di dalam sudah ada makanan lebih dari cukup untuk dua minggu,’ Kata Warren memberi perintah. Namun yang lainnya tidak ada yang bergerak dan memandang kepada Joe.

Merasa risih diperhatikan terus, termasuk dipelototi oleh Warren dengan tatapan kesal, maka Joe pun menganggukan kepala tanda setuju.

‘Oke. Ketua berkata naik, yah, naik,’ Kata Budi dengan sedikit nada kecewa karena tentunya dia lebih senang bisa makan domba panggang di kantin KTC daripada sekedar makanan kaleng. Hanya Renna yang tidak mau naik sehingga harus ditarik paksa oleh Joe dan Warren selama 15 menit hingga akhirnya menangis karena kesal dan takut.

Setelah Multi – Trans yang dikendarai Joe dan teman – temannya pergi, di sudut gudang senjata yang paling gelap, muncullah The Shadow yang kehadirannya tidak dapat dirasakan oleh Joe dan teman - temannya. Ia tersenyum jahat dan licik. Sementara di dalam lemari pendingin terdapat tumpukan mayat delapan orang penjaga gudang senjata yang tewas menggenaskan. Tubuh mereka terjerat kawat baja hingga terbelah – belah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

battle, yah... sepertinya masih lama tuh, bu. Belom sempet nulis lagi soalnya... he..he..he...

100

Ayo, teruskan lagi. Aku mau lihat battlenya Joe seperti apa.

90

hi makin seru aja,

90

hhhh.... terbelah-belah... s-sadis amat...
keren bo!!