Tak Ada lagi Romeo

Aku mengenal laki-laki itu yang duduk di depanku. Dia terkenal dengan sebutan Romeo, itu julukan yang tujukan kepadanya di kampungku. Kami memang sekampung, dilahirkan dari tanah yang sama namun dia lebih tua tiga tahun dariku. Ketika dia akan naik kelas 6 SD aku baru naik ke kelas 3 SD. Kami satu sekolahan baik SD, SMP maupun SMA karena hanya sekolah itulah yang menjadi favorite dan satu-satunya di kecamatan kami. Sekolah SD, SMP dan SMA-ku berada tidak berjauhan sehingga kami dapat mengenal semua anak-anak semua sekolah pada masa itu. Persis sebuah kompleks pendidikan namun sekolah kami semuanya berstatus Negeri bukan sebuah kompleks yayasan pendidikan swasta, yang biasanya berdiri dalam satu kompleks.

Banyak sekali perubahan yang ada dalam dirinya. Dahulu dia begitu sederhana dan agamis. Wajah bercahaya penuh dengan maghfirah Illahi. Cara berfikirnya sangat sederhana dan membumi. Namun sekarang aku melihat dia dengan penampilan yang sungguh sangat di luar dugaanku.Bagaikan bumi dengan langit, bagikan tanah dengan awan, bagikan tengah hari dan tengah malam. Dengan baju dan celana yang dikenakan saja orang sudah dapat menilai siapa dia. Boleh dikatakan dia sangat perlente dan flamboyan, jika mengambil istilah saat ini adalah Metrosexual.

Kami sepermainan, satu halaman tempat berlarian dan bermain petak umpet. Namun tentu saja dia dengan anak-anak seusianya dan aku bermain dengan anak-anak seusiaku. Namun kadang kala mereka mengajak kami bermain di dalam kampung maupun menjelajah menelusuri alam yang terhampar di sekeliling kampung kami.

Namanya Dhani, aku memangggilnya Akang Dhani. Berperawakan tinggi besar dengan bulu lebat disekujur tubuhnya, berhidung mancung sekilas mirip dengan orang India, namun kulitnya lebih terang dan bersih. Sedangkan aku walaupun dilahirkan dari tanah dan air yang sama tidaklah seberuntung beliau. Aku berbadan pendek dan kecil dengan wajah yang biasa-biasa saja, yang sama dengannya hanyalah warna kulit kami yang lebih terang daripada mereka, orang-orang sekampungku yang selalu berkubang lumpur di sawah.

Pertama bertemu di Bandar Udara ini aku seakan terkejut melihatnya, seakan-akan aku mengenal wajah itu namun telah banyak berubah, garis wajahnya,jenggotnya, kumisnya dan perubahan di seluruh tubuhnya. Dia pun seakan kaget melihatku yang berdiri mematung mengingat-ingat dejavu pada masa lalu.

“Cecep?” jeritnya seakan meyakinkan dirinya akan pertemuan denganku.

“Kang Dhani, ya?”

“Iya ini Akang, Dhani”

Dia menjabat tanganku dan hampir merangkulnya. Kami terhanyut akan pertemuan yang tidak disengaja itu. Seakan-akan aku tak mempercayai peristiwa ini, kami dipertemukan dalam jarak 300km dari kampung kami. Terpisah selama lebih dari belasan tahun. Kita bertemu di satu tempat,Bandar Udara Soekarno Hatta, tempat menuju negeri antah berantah. Masing-masing dari kami hendak pergi meninggalkan kota Metropolitan ini.

Selama itu aku hanya mendengar kisah cinta akan kesuksesannya di rantau orang. Selebihnya namanya terpatri diseluruh hati orang-orang di kampung kami dengan sebutan Romeo. Dia mendorong kereta troley dengan pelan. Dia memulai percakapan dengan menatap tajam kearahku.

“Sudah berapa lama kita tak bertemu, Cep?”

“Mungkin sudah hampir 13 tahun, Kang?”

“Hmm…..sudah lama juga ya, oh ya bagaimana kabarmu selama ini, wah udah sukses sekarang ya?”

“Ah, Akang bisa aja. Akang lah yang lebih sukses” aku menyela dan membalikan pernyataanku kepadanya.

”Oh, ya kamu mau berangkat kemana?”

“Aku ke Medan Kang, kalo Akang?”

“Wah kebetulan, aku juga ke Medan.Jangan-jangan nomor penerbangan kita sama Cep?”

“Nomorku PQ3452, Gatot Kaca Air yang jam 2 kang!”

“Wah, sama. Semuanya serba kebetulan ya? Wah jadi ada teman sekampung nih. Jadi bisa ngobrol banyak” Dia tersenyum ke arahku.

Kami duduk di ruang tunggu setelah check-in sambil menunggu kedatangan pesawat.Dia duduk didepanku persis menghadap ke arah tempat dudukku. Aku menghela nafas panjang mengingat semua tentangnya. Banyak kisah-kisahnya yang tercecer dan tersebar di kampung kami. Katakanlah dia selebrities kecil yang terkenal sejak dari zaman nenek moyang. Memang dia terkenal sejak kami duduk di bangku sekolah terutama ketika masa SMP. Karena berwajah tampan, pintar dan sopan, dia menjadi rebutan gadis-gadis di sekolah. Bahkan ketika dia menjadi ketua OSIS SMP banyak anak-anak gadis menaksirnya untuk dijadikan pacar. Bukan hanya anak SMP namun sebagian anak SD yang sudah mulai genit-genit dan anak SMA pun suka menggodanya. Kang Dhani yang lugu, makin terpuji dengan tingkah lakunya yang baik dan pandai mengaji.

Aku terbawa lamunanku sendiri tentang Kang Dhani ketika masa kanak-kanak. Dia sering membawa kami bermain bola di lapangan bola atau di kebun bambu, menjelajah kebun tebu, sawah, sungai bahkan menjelajah kawasan-kawasan yang belum pernah kami singgahi. Aku teringat lokasi kuburan penduduk yang kami kunjungi, lokasi kuburan keramat, kuburan orang-orang zaman dahulu kala. Mendaki bukit-bukit di daerah selatan kampung kami yang bertebing curam, pendakian yang sangat melelahkan. Pengalamanan bersamanya sangat mengesankan dan memberikan aku banyak tantangan.

“Oh, ya Kang. Masih ingat semua teman-teman kita yang dulu sering bermain dengan kita?”

“Masih, aku masih contact beberapa teman kita, Cep”

“Kalau inget itu rasanya masih terbayang penjelajahan kita ke tempat-tempat dulu yang kita kunjungi ya, Kang?”

“Iya, Cep. Kadang. Akang pengen kita bersama-sama lagi dan pergi ke tempat-tempat itu lagi ya?”

“Iya Kang”

Aku juga mengingat pertama kali Kang Dhani naksir Neng Imas, adik kelasnya. Ketika itu Kang Dhani kelas 3 SMP dan Neng Imas kelas 2 SMP. Kejadian itu persis aku mengetahuinya karena kepadakulah Kang Dhani curhat tentang gadis itu. Kang Dhani yang menjabat sebagai Ketua OSIS sering mengadakan rapat dan sering bertemu dengan perwakilan setiap kelas. Otomatis Kang Dhani sering bertemu dengan mereka, wajarlah jika diantara mereka tumbuh perasaan kasih dan bibit-bibit cinta.

Ketika itu kami berada di Sungai Nanggewer, sedang berenang di sebuah jeram yang jernih. Kegiatan berenang di jeram telah berlangsung sejak lama. Orang-orang di kampung demikian juga,sering mandi dan mencuci di sungai ini terutama pada sebuah jeram. Jeram itu terbentuk beberapa tahun yang lalu. Jeram-jeram biasanya berpindah-pindah mengikuti aliran dan pola air sungai. Jeram ini sangat bagus lokasinya terbentuk diantara lengkungan sungai yang membelok, dinaungi oleh pohon-pohon yang rindang. Ketika itu musim kemarau tiba keadaan hujan mulai reda dan airnya sungai biasanya mulai jernih dan bening. Kami biasanya datang berombongan dengan teman-teman, ada pula teman kita diantaranya yang memandikan kambing di bagian hilir.

Kami datang berdua menuju jeram ini, sesampainya di tepi jeram kami langsung mencopot pakaian yang kita kenakan tinggal hanya celana dalam saja. Bagiku, saat itu Kang Dhani sangat menakutkan karena mempunyai tbuh seperti monyet. Akhirnya kami asyik berenang berdua di jeram itu sambil menceritakan Neng Imas.

“Cep, kamu tahu Neng Imas?”

“Ya tahu lah Kang. Dia kan paling cantik disekolah.”

“Aku naksir dia, Cep. Gimana ya?”

“Ya, Sudah kang. Gebet aja langsung, pasti dia mau Kang” Aku menyemangati Kang Dhani agar langsung menembak cintanya terhadap Neg Imas.

“Ah, tapi aku malu”

“Kang Dhani kan Ketua OSIS, masa tidak bisa menggunakan kekuasaan?” jawabku menyangsikan.

“Ah, kamu bisa aja. Itulah pikiran kamu, nanti kalo kamu jadi pejabat pasti korupsi melulu, menggunakan kesempatan dalam kesempitan”

“Tapi, kan ini bukan masalah besar, Kang. Hanya urusan Cinta”.

“Iya, saat ini masalah cinta. Lain kali masalah yang lain juga dikorupsi”.

Kami tertawa-tawa dan melanjutkan berenang kami hingga selesai.

Neng Imas adalah gadis paling cantik di SMP, sekolah Kang Dhani. Semua siswa SD, SMP dan SMA itu mengenal siapa Neng Imas. Wajahnya mirip dengan seorang bintang film terkenal, Sherly Malinton. Diam diam aku juga mengaguminya. Tetapi memang Kang Dhani lah yang paling cocok menjadi pacarnya.

Sebulan kemudian, Kang Dhani sudah menggandeng Neng Imas. Aku suka menggodanya ketika mereka jalan berdua, Kang Dhani hanya tersenyum saja. Semakin hari percintaan mereka semakin mesra, bahkan ini berlanjut ketika mereka berada di sekolah menengah atas. Dimana ada Kang Dhani disitulah ada Neng Imas.

Percintaan mereka berlangsung hingga Kang Dhani lulus dari SMA, demikian juga dengan Neng Imas. Pada waktu itulah julukan Romeo dan Juliet disandang oleh mereka. Neng Imas sangat setia menunggu Kang Dhani yang pergi ke kota untuk bekerja. Ibarat Romeo dan Juliet yang ada di film-film itu, mereka saling mencintai dan seakan akan abadi. Aku bahkan mendengar bahwa Kang Dhani bekerja sambil kuliah di kota itu. Sesekali aku melihat mereka masih bersama. Namun aku tidak tahu pasti, mengapa akhirnya Neng Imas menikah dengan pria lain. Aku tidak tahu persis penyebabnya. Karena akupun sibuk dengan urusanku sendiri dan aku mulai jauh dari kampung kami tercinta. Sebuah sistem yang klise yang ada dalam kehidupan di kampung kami. Setelah menyelesaikan sekolah kami pergi ke temapt dimana takdir akan merubah kita untuk mejadi lebih baik.

Aku tidak tahu ada apa di balik itu semua. Bagaimana dengan Kang Dhani yang masih sendiri, bekerja dan melanjutkan kuliah dibandingkan dengan Neng Imas yang telah berkeluarga. Aku pikir kisah cinta Romeo dan Juliet itu telah berakhir dengan sendirinya. Tak ada lagi Romeo dan tak ada lagi Juliet yang siap mengorbankan dirinya demi sebuah cinta abadi. Yang rela melepaskan nyawanya demi seorang kekasih yang tak tergantikan. Melepaskan seluruh egoismenya demi seseorang yang telah lama menjadi bagian hidupnya. Atas nama Cinta yang rela membagi kasihnya diatas kepentingan segalanya. Agar setiap langkah itu tertuju kepada sebuah cinta yang abadi.

Aku bertanya kepada diriku apakah benar ada cinta yang abadi pada diriku? Mungkin ya mungkin juga tidak? Aku tidak yakin akan diriku sendiri yang merupakan seorang manusia yang bisa saja aku hidup dalam sebuah cinta yang abadi namun aku tidak menutup kemungkinan sebuah cinta datang kembali kepada diriku dan aku meninggalkan cinta lama kemudian melabuhkannnya di dalam cinta yang baru. Adakah mungkin ada cinta yang baru untuk diriku setelah sekian lama aku menjomlo setelah aku putus dengan Wati di akhir tahun itu?

Beberapa tahun kemudian aku mendengar bahwa Neng Imas bercerai dengan suaminya. Tak ada reaksi dengan diriku, aku hanya mencatat berita itu seperti aku mendengar berita ibuku sedang pergi ke sawah. Karena memang pekerjaan ibuku setiap hari pergi ke sawah. Namun aku mendapat gosip bahwa tahun-tahun itu Kang Dhani merajut kembali tali cinta dengan Neng Imas. Pendapatku tentang Romeo dan Juliet telah mati ternyata salah total. Kang Dhani masih mempunyai cinta terhadap neng Imas. Aku berharap mereka menjadi sebuah pasangan yang ideal dan contoh bagi diriku.

Kami mengobrol banyak dimulai dari masalah di kampung yang semakin banyak penduduknya. Lingkungan ketika kecil yang selalu ramai dengan tingkah polah kita yang bandel. Pekerjaan kami masing-masing dan keadaan sekarang.

“Kamu masih ingat Si Lemot, Cep?”

“Oh, si Lemot adiknya Borman, Kang?”

“Iya, aku ngak nyangka dia jadi Manager di Perusahaan. Padahal dulu dia lemot banget kan, kita namain itu karena memang dia lemot. Wah sekarang dia sudah kaya”

“Dimana akang ketemu dia?”

“Dia di Jakarta Selatan, daerah Cipete”.

“Ke Medan kamu tinggal lama atau ada urusan Cep?”

“Ada urusan saja dari kantor, Kang. Ini baru pertama kali aku pergi jauh, kebetulan ada akang jadi aku bisa minta bantuan alamat yang akan aku tuju, kalau Akang?”

“Boleh tinggal aja di rumah, kebetulan ada kamar kosong di belakang kamu boleh tinggal selama di Medan. Kalau akang memang udah tinggal di Medan sejak setahun yang lalu Cep, bekerja di sana, ditugasin kantor ”.

“Oh…”

Obrolan kami terhenti oleh pengumuman keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi, kamipun bersiap-siap dengan barang bawaan masing-masing.

Aku meminta pramugari agar dapat duduk dekat dengan tempat duduk dengan Kang Dhani. Akhirnya kami dapat duduk besebelahan setelah seorang pramugari mengatur-ngatur tempat duduk penumpang. Kang Dhani kelihatan bahagia dapat melanjutkan obrolan kami yang terputus karena harus segerea naik ke pesawat.

“Akhirnya kita bisa duduk berdekatan, Cep!” katanya dengan sumringah.

“Iya, untung ada pramugari Enditha yang mau berbaik hati mencarikan kursi yang bersebelahan”.

““Kang kapan mau menikah?” Aku mengalihkan pertanyaan.

“Belum tahu, Cep. Nah kamu sendiri apa sudah menikah Cep?” Jawaban yang sangat singkat aku dapatkan.

“Belum Kang, pacar saya minta putus akhir tahun kemarin. Dia matre Kang! Saya dengar akang nyambung lagi dengan Neng Imas ya?”

“Ya, tiga tahun yang lalu kami bertemu tapi aku telah meninggalkannya setahun ini”

“Kenapa kang? Bukannya akang dan dia pasangan yang cocok dan serasi. Sampai-sampai kita menjuluki Romeo dan Juliet dari Kampung Nanggewer”

“Itu cerita lama, Cep”

“Bukannya akang menjalin kembali cinta itu belakangan ini?”

“Ya, kan akang sudah katain tiga tahun yang lalu kami bertemu. Namun setahun ini aku ingin bebas, bubar”.

“Bukankah dia masih menunggu?

“Tidak tahulah”

”Kenapa, Kang?”

“Ya, merasa ingin bebas saja”

Lama kami terdiam menikmati pesawat yang mulai take off, kami terguncang oleh keadaan yang masih beradaptasi dan menentukan posisi. Aku melihat ke jendela, ke bawah, hamparan daratan yang jauh sampai di ujung mata. Awan-awan mulai menyelimuti badan pesawat, pesawat pun bergetar bak sebuah mobil yang melintas diatas jalan berkerikil. Aku memejamkan mata.

“Cep, nanti kalau sudah di Medan saya bawa kamu main-main, mau?”

“Boleh, Kang”

“Saya ajak kamu ke Distro, wah disana ceweknya bagus-bagus”

Deg, aku serasa menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Inikah yang membuat Kang Dhani berubah? Aku hanya menggangguk saja pelan mendengar ajakannya.

“Cep, kalau kamu mau, akang akan ajak ke Distro, kamu bilang saja mau yang mana. Ada cewek Cokin, ada Padang, ada Batak, ada Jawa, Banjar, Sundapun banyak lah. Kamu tinggal bilang saja ya!Service nya mereka OK-OK Cep!” dia mengacungkan jempolnya dengan semangat.

Kang Dhani seakan menemukan dunia baru yang penuh tantangan baginya. Melupakan dunia yang selama ini menghantarnya kepada kesuksesan. Ketika pesawat mendarat tiba di kota itu aku pamitan kepada Kang Dhani bahwa aku telah dipesankan kamar di sebuah hotel oleh perusahaan.

Pupus sudah sebuah julukan Romeo baginya dalam pandangan mataku. Selama ini aku mengangapnya sebuah kepastian yang akan terjadi selamanya pada dirinya yang absolut dengan julukan itu. Namun aku salah lagi menghakimi sebuah keadaan yang serasa memainkan uang logam. Jika engkau melemparnya maka kemungkinannya akan 2 peristiwa. Aku turun ditangga pesawat itu dan mengucapkan selamat tinggal kepada Kang Dhani yang berarti mengucapkan selamat tinggal kepada Romeo yang telah mati di telan bumi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mahar_fans
mahar_fans at Tak Ada lagi Romeo (8 years 34 weeks ago)
90

Waw, mengalir!

Writer prince-adi
prince-adi at Tak Ada lagi Romeo (8 years 50 weeks ago)
70

deskipsinya rapi