06. Sayap Will

Akhirnya, kami keluar dengan rencana sederhana ini.

Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah, Laut menunjukkan karung putih kotor di belakang rumahnya. Dalam radius sekian meter sudah tercium bau busuknya. Karung itu isinya tiga bangkai tikus besar—rats—yang didapat Laut entah darimana.

“Baru mati semalam. Jadi baunya masih mendingan,” katanya bangga.

“Masih mendingan apanya,” kata Wahyu, menahan muntah. “Sialan, gue baru sarapan lagi....”

Will mengikat tali karung itu lagi, siap membawanya ke sekolah. “Good job,” katanya kepada Laut.

“Tapi—Will,” sergahku, “are you sure?”

Why not?” jawab semuanya, yang serta-merta menatapku (pikirku, kenapa jargon ini sekarang jadi dipakai semua orang?).

Aku mencoba membantah. ”Bukan—maksudku—ya ampun, tiga? Pertama, susah bawanya. Berat, tau..., kita bakal lewat koridor itu. Terlalu riskan. Kedua, bau banget—terlalu gampang diidentifikasi. Kalo satu apa dua, mungkin masih mending. Ayolah, coba pikir.”

Mereka saling pandang, mulai merasa aku benar.

Alfan datang, dan kami mematangkan rencana ini sekali lagi di tengah-tengah bau busuk tiga bangkai tikus itu. Wahyu membentangkan denah koridor eksklusif yang kugambarkan.

Aksi ini akan dilancarkan setelah sesi istirahat pagi, karena waktu itu semua orang sibuk. Pak Juandi akan mengajar di kelas dua. Aku akan berjalan di depan Will dan Wahyu menuju ruangan Pak Juandi untuk mengamati situasi. Kemudian, pada saat yang tepat, mereka akan meninggalkan tikus mati itu disana. Alfan dan Laut akan berjaga di kelas, memastikan Pak Juandi tidak ke kantornya. Bila sesuatu terjadi, atau dalam sepuluh menit kami tidak kembali, mereka akan mengalihkan perhatian semua orang dengan membuat keributan (misalnya dengan pura-pura berkelahi).

Untuk menghindari ruang guru, aku, Will dan Wahyu akan keluar lewat lobi eksklusif, melintasi halaman depan, menyeberang taman. Rumput taman ini tidak boleh diinjak, tapi siapa peduli, selama tidak ketahuan tukang kebun sekolah. Kemudian, kami akan menaiki tangga lantai dua dan mengendap-endap di belakang deretan kelas satu. Tangga ini akan berbelok seperti huruf L ke deretan kelas tiga. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit semua akan beres.

Kami akhirnya membawa satu ekor. Will memilihkan satu yang lehernya setengah terpotong—kata Laut itu karena dipukul dengan sekop. Ini sudah cukup untuk membuat Juandi berpikir, kata Wahyu, toh tujuan dari semua ini adalah untuk memberikan efek berpikir—terlalu jauh untuk mendapatkan efek jera. Bila tidak juga ngefek, kami akan lancarkan aksi yang lain.

Robby tidak masuk sekolah, agar Pak Juandi tidak mengira ini ada hubungannya dengan dia (tadinya kami ingin melakukan ini ke rumah Pak Juandi saja, tapi Robby tidak ingin anak-istrinya sampai tahu atau dilibatkan). Lagipula memang dia belum sembuh benar, aku membawa surat keterangan sakit dari dokternya. Kami ke sekolah dengan mobil Robby yang dibawa Alfan. Tikus mati itu sudah dibungkus dengan kertas koran berlapis-lapis untuk mengurangi bau busuknya, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam, lalu ditaruh di bagasi. Baru jam enam pagi waktu itu.

Hari itu cerah. Sekolah berjalan menyenangkan seperti biasa. Piket tertib, semua murid di kelas hadir. Pepsi tidak muncul. Pelajaran pertama bahasa Inggris; kami berdiskusi berkelompok-kelompok, Bu Yuli tidak banyak bicara. Waktu berlari dengan cepat. Saat bel istirahat berbunyi, kami segera keluar untuk mengambil posisi masing-masing—sebelum Bu Yuli tiba-tiba memanggilku dan berkata agar mengikutinya ke kantor.

Aku ditanya beberapa hal tentang kegiatan ekstra-kurikuler murid-murid di kelas dan prestasi-prestasi mereka. Di kantor juga ada ketua kelas dari kelas-kelas yang lain, dan aku sempat melihat Will masuk. Rupanya hari itu ada inspeksi dadakan dari Departemen Pendidikan. Para tamu sudah ada di lobi.

Segera kukumpulkan semua temanku begitu keluar dari kantor. Kami bertemu di semak-semak di belakang kelas.

“Rencana berubah,” kataku.

Will menjelaskan semuanya. Dia sendiri diminta bertemu dengan para tamu itu. Artinya, Wahyu harus membawa tikusnya sendiri atau ada orang yang menggantikan Will.

Semuanya berpikir keras.

“Mungkin, rencananya kita tunda dulu,” kata Alfan.

Tak ada yang berkomentar. Pikirku, tikus mati yang baunya masih mendingan itu sudah bagus. Besok mungkin sudah penuh ulat, dan itu lebih sulit.

“Sebenernya gue bisa kok bawa sendiri,” ujar Wahyu.

Kami masih berpikir.

“Gue bisa ama Way,” kata Laut.

Kata Will, “Gue bisa bikin mereka sibuk.”

Laut tertawa. “Ya. Yang panjang ngocehnya, Will. Palingan juga pada nggak ngerti.”

Tidak ada yang terlihat keberatan dengan prosedur ini. Lalu, ujarku, “Alfan tetap jaga di kelas?”

Alfan mengangguk. Semua setuju. Alfan akan jadi alternatif apabila Will gagal. Jadi, rencana tetap berjalan, meski dengan bahaya lebih besar.

Waktu kami tidak banyak. Situasi inspeksi ini sebenarnya menguntungkan, karena guru-guru yang akan mengajar pasti sedikit terlambat masuk kelas—kami bisa tiba disana lebih dulu. Yang mungkin terlambat adalah aku, Wahyu dan Laut. Tapi, sebagai ketua kelas, aku bisa punya banyak alasan. Wahyu dan Laut akan mencari alasan mereka sendiri. Kami akan masuk kelas sendiri-sendiri. Will mungkin akan kehilangan setengah jam pelajaran—tapi itu pasti dimaklumi. Alfan aman, sampai alternatif terakhir itu digunakan. Yang mengajar 3IPA1 setelah ini adalah Pak Danang, bahasa Indonesia. Pelajaran ini membosankan, dan Pak Danang sudah tua sekali.

Waktu bel masuk berbunyi, Laut dan Wahyu langsung ke parkir dan kembali lagi dengan cepat. Aku berjalan menuju ruang pimpinan—mereka beberapa meter di belakangku, di lobi (tempat ini namanya saja lobi, sebenarnya tidak ada resepsionis atau siapapun di sana, tapi yang terpenting ada banyak meja untuk bersembunyi). Seperti perkiraan, para pemilik ruangan itu tidak ada di tempat. Hanya ada Bu Sri, sekretaris, yang sedang duduk menulis di mejanya. Ia melihatku, tersenyum.

“Selamat siang, Bu,” sapaku.

“Karla. Mau ketemu siapa?”

“Bu Novi,” kataku. Bu Novi itu wakil kepala sekolah yang satu lagi. “Bu Novi-nya ada?”

“Oh, Bu Novi lagi ada tamu.” Aku tahu. Tamu yang dimaksud ini adalah orang-orang dari Departemen Pendidikan itu. “Sudah buat janji, Karla?”

“Sudah. Nggak apa-apa saya tunggu, Bu.”

Dia menyuruhku duduk, lalu selama beberapa menit kami berdiam di dalam ruangan kecil itu. Sedikit obrolan, banyak tersenyum. Perasaanku tegang—tapi aku tahu pasti ada saat dia akan keluar dari ruangan ini.

Benar saja. Aku sudah menunggu hampir lima menit waktu dia berdiri dari kursinya.

Dia keluar, lewat pintu kaca aku tahu dia menuju toilet. Aku segera ke pintu memberi tanda kepada Laut yang sedang mengintip di belokan lobi (sambil berharap semoga ibu sekretaris itu sedang mens atau apa, yang menyebabkan dia harus berlama-lama dalam toilet). Wahyu datang membawa kantong plastik itu. Laut tetap disana untuk mengecek situasi jalan keluar kami.

Aku melihat ke arah toilet. Belum ada tanda-tanda Bu Sri akan kembali, tapi aku berbisik pada Wahyu, “Sini aku aja.”

Wahyu bingung sesaat, tapi tahu tidak ada banyak waktu untuk berpikir. “Aku aja,” kataku, merebut kantong plastik itu. Kusuruh dia sembunyi di lobi. Lalu aku kembali ke ruang pimpinan, langsung mendorong pintu ruangan Pak Juandi.

Ruangan Pak Juandi kecil, hanya sembilan meter persegi dan dilapisi karpet abu-abu. Rak dan meja kerjanya memenuhi hampir separuhnya. Waktu masuk, aku membayangkan peristiwa penganiayaan itu disini dan kemarahanku naik lagi. Kuletakkan kantong plastik itu di bawah mejanya, di atas sandal jepitnya.

Kemudian aku keluar. Terdengar suara langkah. Aku menoleh—lega saat tahu Bu Sri masih beberapa meter di sebelum pintu masuk. Ia mendapatiku duduk manis di atas sofa seperti sedia kala.

“Bu Novi belum kembali?” tanyanya.

Aku menggeleng. Tersenyum lagi.

Ia duduk, dan kembali menulis. Dia belum menyadarinya, tapi aku bisa mencium bau tikus mati itu.

“Mungkin,“ aku berdiri, “saya kembali lagi aja nanti. Pelajarannya udah mulai.”

Ia mengangkat wajah. “Oh, iya. Tidak ada pesan, Karla?”

Aku menggeleng—tak sabar rasanya ingin segera lenyap—lagi-lagi tersenyum, lalu keluar. Lega rasanya sudah terbebas.

Wahyu dan Laut sedang membungkuk-bungkuk di lobi. Laut di pintu depan, melihat ke kiri-kanan dengan tangan di belakang mengarah kepada kami. Tangan itu bergerak ke bawah—kami semua menunduk, dan aku melihat tukang kebun sekolah lewat di halaman depan. Segera setelah itu kami berlari keluar. Melintasi halaman, menyeberang taman dan menaiki tangga kelas satu sesuai rencana. Selintas kudengar suara percakapan, tidak persis dari arah mana, tapi ada suara Will di antaranya. Will terdengar bersemangat, membuatku ingin tersenyum. Kami sudah tiba di atas, mengendap-endap di bawah jendela.

Tiba-tiba, Laut yang berada paling depan berbalik.

“Ada Bu Shanti,” katanya.

“Kesini?”

“Iya, ke arah sini.”

“Ngapain—“

“Nggak ada waktu, Karla, lompat!” Wahyu melangkahi pagar pembatas yang hanya sebatas pinggang itu, dan melompat turun. Dalam sekejap dia sudah berada di semak-semak di bawah sana. Beberapa anak kelas satu pasti sempat melihatnya, tapi dengan cepat dia menghilang di belokan ke ruang kelas tiga.

Laut berikutnya melakukan aksi yang sama. “Cepat, kita tunggu di situ—“ katanya, tidak jelas disitu mana karena dia pun segera berlari begitu sampai di bawah.

Aku pakai rok—mana mungkin bisa memanjati pagar ini secepat itu. Tapi, aku bisa mengandalkan kedua kakiku untuk segera berlari dan menghilang begitu mencapai tanah. Aku teringat Alfan—mana Alfan, harusnya dia melakukan sesuatu saat ini—dan masih terdengar samar-samar Will berbicara dengan para tamu itu, ketika kudengar suara oh Bu Shanti, dan sosoknya hadir di depanku.

Kakiku sudah kuturunkan, namun kedua tanganku masih berpegang erat pada pagar pembatas.

“KARLA!”

Ia menjerit. Begitulah. Kini wajah-wajah para adik kelasku muncul di jendela-jendela. Guru-guru yang mengajar di kelas ikut muncul—satu di antaranya Pak Juandi. Tukang kebun sekolah hadir entah darimana. Ia berteriak, hei. Orang-orang di segala penjuru ber-oh, anak-anak cowok di kelas-kelas bersuit-suit, dan beberapa orang memanggil namaku.

Termasuk Bu Yuli, kepala sekolah, dan para tamu itu, dan Will, yang kini berada di taman (dan menginjak rumput yang tidak boleh diinjak itu), ikut menyaksikanku bergantung di pagar pembatas lantai dua.

Tidak ada pilihan selain melepas pegangan ini.

Harusnya bisa mendarat dengan tepat dan mulus. Tapi ketika itu kedua kaki yang pernah membawaku di berbagai kejuaraan ini tidak dapat menekuk dengan lentur dan kuat seperti biasa. Lututku terluka waktu aku jatuh. Aku sempat melihat kepada Will. Ia maju, aku tahu ia ingin datang sebelum kepala sekolah dan Bu Novi menahannya agar tetap disana. Aku masih melihat sinar cerahnya, dan saat itu—entah kenapa—aku merasa dia sungguh berharga.

Wahyu hadir dan membantuku berdiri. “Nggak apa-apa. Sini kubantu,” ujarnya. Laut menyusul di belakang.

“Way,” kataku, sambil berpegang padanya dan berusaha meluruskan kaki, “Will nggak ada hubungannya dengan ini.”

“Apa?”

“Will enggak ada hubungannya dengan semua ini.”

Ia tertegun sesaat. Kemudian mengangguk.

(Bersambung)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Arie O
Arie O at 06. Sayap Will (5 years 42 weeks ago)

numpang ngelanjutin pengumuman:
anak jogja ya?? mampir ke sini dong:
http://id.kemudian.com/node/226769. tengkyu.
salam.

Writer splinters
splinters at 06. Sayap Will (5 years 50 weeks ago)
100

LANJUUUTKAAAAN. nggak sabaaaarrrr :D you rock, layla! baru sadar betapa gue kangen tulisan-tulisanmu yang orisinil!

Writer FrenZy
FrenZy at 06. Sayap Will (6 years 20 hours ago)
70

masih menunggu serunya berlanjut.