Hujan, tempo hari aku bertemu dengan seorang sahabat lama yang selama ini terpisah benua. Setelah sejenak saling mengingat masa lalu, dia berkata padaku, “sebenarnya, Lan, aku ingin pulang.”
“Bukankah kau sudah pulang?” tanyaku heran, mengira dirinya tengah bercanda. Dan dia tersenyum, tapi matanya tidak. Belakangan kutahu bahwa yang dirinya maksud dengan pulang adalah kembali ke Inggris, negara yang ditinggali bersama sang kekasih yang telah memutuskan hubungan mereka.
Hal tersebut mengingatkanku akan perkataanmu entah kapan itu – aku lupa tepatnya. “Menurutmu, apa arti rumah sebenarnya, Lan?” Kadang aku tak mengerti kenapa kamu selalu bertanya hal-hal yang tidak biasa. Aneh. Bagian mana yang tidak aneh saat kita sedang asyik membicarakan buku milik temanku, tiba-tiba kamu menanyakan arti rumah?
“Rumah adalah tempat tinggal,” jawabku sekenanya. Dan kamu menghela napas. Aku tahu kamu tidak suka bila aku tidak menganggap serius pertanyaan-pertanyaan anehmu. Tapi aku sedang tidak mood berfilosofi.
Saat aku bertemu dengannya lagi, di bandara, dirinya tengah menenteng dua koper besar. Wajahnya berseri-seri. Aku tahu hubungan dengan kekasihnya pasti telah tersambung kembali.
“Aku akan pulang, Lan.” Serunya riang setelah kami saling mencium pipi.
“Jadi, rumahmu di sana, sekarang?”
Dia tersenyum lagi. Ah, tapi sejak tadi dia memang tersenyum. “Di manapun, Lan, asal bersama dia.”
Hujan, dia begitu bahagia telah mendapatkan kembali rumahnya. Sebenarnya aku sependapat dengannya. Mengutip ucapan seorang teman dalam blog miliknya; rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Dan hati miliknya – sahabat lamaku itu – berada dalam diri kekasihnya di Inggris. Di situlah rumahnya terletak. Bukan di bilangan Dharmawangsa, tempat kedua orangtuanya tinggal. Bukan di Yogyakarta, tempatnya lahir dan bertumbuh.
*
Hujan, sekarang aku tanya padamu, “di mana rumah bagimu?”. Kamu tidak bisa menjawabnya, kan? Karena kamu tidak tahu di mana letak rumahmu. Bukan begitu?
Semula aku yakin betul rumahmu adalah kekasihmu yang putus sambung menjalin hubungan denganmu. Lalu datanglah perempuan itu. Perempuan yang langsung mencuri sebagian hatimu. Perempuan yang dalam hitungan bulan akan melangsungkan pernikahannya dengan lelaki lain. Dan aku tahu bahwa perempuan itu pun mulai kehilangan jalan pulang saat mengenalmu. Semakin hari aku merasa tidak hanya mereka berdua yang membuatmu tersesat mencari jalan pulang. Ada aku, si pendengar sejati.
Boleh, kan, aku geer sedikit saat tahu kamu mempercayakan segalanya di tanganku. Perasaanmu pada kekasihmu, perasaanmu pada perempuan itu. Perasaan mereka yang dikatakan padamu. Semua bentuk hadiah dan saran yang kamu percayakan padaku untuk memilihnya. Saat ini kamu sedang berdiri di sebuah jalan bercabang tiga dan bingung harus memilih jalan mana. Jalan menuju kekasihmu, jalan menuju perempuan itu, atau jalan menujuku.
*
Rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Hatiku, Hujan, berada padamu. Tidak sepertimu yang kebingungan, aku tahu persis di mana rumahku. Sayang, aku terkunci di luar. Pintu gerbangnya tertutup rapat dan aku tidak tahu apakah suatu saat nanti akan terbuka atau tidak sama sekali.
end
Rating
Comments: 16
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
aku suka peputaran kalimat...bikin pembaca jadi aktif
Waaa..
paragraf terakhir adalah bagian yang paling ingin ku-quote, jika boleh ;)
aku bingung baca cerita kamu!
amburadul!
sory yaaaaaaaaaaaaaa!
:)
bagus bgt!
ayu yu yu yuk
klo nurut aku, agak berbelit-belit, maaf ya...
terlalu berputar tu kalimatnya..jadinya malah ga sampai-sampai amanatnya..maaf
ikut ngerasain sakitnya.... hummmm....
semakin lembut saja ;)
maki mantap aja
sukses
waw..
a home..
keinget blognya miss windry :P
dan, ajigile, jadi begini rasanya mencintai seseorang yang telah memberikan tempat tinggalnya pada orang lain?
sarat makna..
ending
yang beraroma
tanya kesima rasa
sep sep !
Ekpetasi bahasanya asyik banget!
iya nih, jadi mikir. kapan ya bisa punya rumah sendiri. SMANGAT!!
aku juga menantikanmu mbak...
ada aroma mikirnya di tiap tulisanmu
sudah lama tidak membaca ceritamu neng ayu..
Seperti biasanya selalu menarik dan berputar2. ha5
Cat selalu harus membaca perlahan-lahan dan memahami setiap baris kalimatnya, sayang untuk dilewatkan ui!
practice makes perfect